Love Never End – part 2

Author : Amelchun
Main cast : Kim Bum, Kim So Eun.
Cast : Wu Chun dan Lee Donghae.
Genre : Romantic, Friendship dan Angst.
Type : Sequel


Warning : Alur flashback yang berkepanjangan.
“…” Adalah ucapan seseorang secara real..
‘…’ Adalah ucapan dalam hati.

Disclaimer : Mereka jelas bukan punya gw.
Kim Bum milik So Eun; So Eun milik Kim Bum.
Chun punya gw dan Donghae adalah punya ELF! #plak

LOVE NEVER END-Part Two.


‘Aku ingin memperkenalkanmu sekali lagi pada Ibuku.’
Perkataan Kim Bum masih terngiang-ngiang jelas di kepala So Eun. Membuat wanita muda itu jadi sedikit berpikir, “Kira-kira apa yang mau dibicarakan oleh Kim Bum? bukankah ibunya juga sudah pernah bertemu denganku?”

Alunan lagu ‘Touch Your Heart’ kembali terdengar. Berhasil membuat wanita berambut panjang itu tersentak kaget. Dengan sedikit kesal So Eun berjalan kearah meja kecil dipojokan tempat untuk mengambil ponselnya. Lagi-lagi sebuah pesan dari nomor yang sama dengan sebelumnya.
Kali ini kata-kata di pesannya tidaklah pendek, melainkan berupa ucapan. Namun sebenarnya, bukan itu yang membuat kening So Eun berkedut karna bingung. Karena nampaknya, si pengirim pesan memang berniat untuk mengirimkan pesan yang memang sebenarnya tertuju pada dirinya-yang berbanding terbalik dengan asumsinya terdahulu.
“So Eun, untukku semua kekurangan yang dimilikimu, adalah murni kelebihanmu. Biarkan aku untuk mencoba dekat denganmu, karna aku sadar, kalau kau adalah kekuatanku. – LDH -“

“LDH? Siapa dia?”
Tanpa buang waktu, So Eun kemudian menghapus semua isi pesan dari ‘LDH’ tersebut. Sebelum ia mematikan ponselnya, ia memperhatikan tampilan layar dari ponsel samsung miliknya itu. Foto Kim Bum dengan dirinya saat mereka berada ditaman ria. So Eun ingat, foto itu di ambil oleh Wu Chun sahabat Kim Bum saat ulangtahun Kim Bum tahun Lalu. Sebelum mengenal baik dengan Kim Bum, So Eun lebih dulu kenal dengan Wu Chun. Wu Chun-yang akrab disapa Chun-adalah teman sekolah So Eun dulu. So Eun selalu bersama dengan lelaki asal Brunei itu. Pokoknya, ada Chun pasti ada So Eun. Sosok Chun memang sangat menyenangkan. Chun memiliki karakter yang unik, dia bukan warga keturunan Korea jelasnya. Dengan berbekal bahasa Korea seadanya, Chun bisa menciptakan hubungan yang baik bersama dengan So Eun. So Eun senang bersama dengan Chun. Bersama dengan Chun membuat So Eun merasa nyaman. Ditambah lagi, Chun selalu melindungi So Eun, karna kekurangan yang di milikinya, banyak orang
memandang So Eun dengan sebelah mata. So Eun sebenarnya merasa sangat risih, ketika orang lain melihatnya dengan tatapan seperti jangan-dekati-aku atau kau-aneh-jangan-mendekat. Itulah yang membuat So Eun kerap memasukkan tangan kirinya kedalam saku celana. So Eun tersenyum sangat mengingat semua kenangannya bersama Chun. Dan cerita pun berbalik kebeberapa tahun yang Lalu.

—–

“Chun~ tunggu aku! Aku tak bisa mengejarmu, langkah kakimu terlalu cepat.” Seru So Eun dengan nafas yang tersengal-sengal.
Chun yang memang gemar berolahraga, tentu menganggap acara lari pagi itu menyenangkan. Beda dengan So Eun, hampir setiap pelajaran olahraga dikelasnya ia selalu absen. Lalu Chun berhenti berlari untuk menunggu So Eun yang sekarang jaraknya sudah tak terlalu jauh.
“Bukan langkah kakiku yang terlalu cepat, tapi itu karna panjang kakimu yang terlalu pendek! Kau harus melenturkan sedikit tubuh kakumu itu.” ujar Chun begitu jarak So Eun dengannya sudah dekat.
So Eun terliat susah mengatur nafasnya, lalu Chun menarik So Eun untuk duduk di bangku taman.
“Ka.. Kau.. ingin membunuhku ya! Su.. Sudah tahu aku tak pandai berolahraga, tapi kau masih…” nafas So Eun yang terputus-putus membuatnya malas untuk melanjutkan kata-katanya.
Chun yang melihat wajah pucat So Eun pun buru-buru menawarinya sebotol berisi air mineral. Dan tanpa membuang waktu, So Eun langsung menerima dan meneguknya sampai habis. Chun kontan tertawa dengan sedikit iseng lelaki bertubuh tegap itu melempar handuk kecil ke wajah So Eun. So Eun yang tak terima dengan sikap Chun, langsung memberinya sedikit hadiah berupa pukulan keras di lengan Chun yang berbentuk.

—–

Keesokan harinya saat pulang dari sekolah, So Eun kembali bersama dengan Chun. Namun, kali ini sikap Chun terlihat aneh dan sedikit berbeda. So Eun merasa ada yang lain dari sikap Chun hari ini. Karena setahu So Eun, lelaki yang disebelahnya ini di kenal cukup iseng. Biasanya begitu So Eun lengah, Chun langsung berbuat iseng dengannya. Tapi kali ini beda, tidak ada tanda-tanda kalau Chun akan berbuat iseng dengannya.
Akhirnya So Eun memulai lebih dulu. Wanita berambut panjang itu menyikut lengan Chun kuat-kuat. Hampir saja tas yang dikenakan Chun terjatuh-karna dia melingkarkan tas ke pundaknya begitu saja. Chun memandang langsung kedalam mata hitam milik So Eun. So Eun merasa tatapan itu kosong, meski lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya-menatap lurus kearah jalan berbatuan-seperti menganggap dirinya hanya berupa bayangan saja. Alis mata So Eun terangkat setengahnya, tak biasanya Chun bersikap seperti ini, ‘ada apa dengan Chun?’
So Eun kemudian mengejar langkah Chun dan menarik kerah kemejanya dengan kasar-membuat tubuh Chun reflek terdorong kebelakang.
“Chun! Kau kenapa?” tanya So Eun serius.
Chun hanya diam. Mata sipitnya menatap So Eun tak bergairah. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, membuat So Eun kembali bingung.
“Mungkin sebaiknya kita tak usah bertemu lagi.” jawab Chun datar.
Jawaban yang terlontar barusan terdengar aneh di telinganya. Chun memutuskan persahabatan mereka? Kenapa? So Eun terlihat bingung untuk berucap.
Dia terdiam cukup lama.. Sampai akhirnya, ia mendorong tubuh Chun kuat-kuat dan berlari meninggalkan sahabatnya sendirian.

—-

Sore telah berganti malam. Bintang-bintang berkelip seakan malu untuk menampakkan diri. Seorang wanita muda terlihat sedang duduk diteras rumah sambil memandang kearah langit. Kata-kata dari sahabatnya jelas masih terngiang-ngiang di telinganya.
Walaupun wanita yang kita tahu bernama lengkap Kim So Eun itu berusaha tak mau memikirkannya, tapi dia sepertinya sudah terlanjur menyimpan semuanya di memory ingatannya. ‘bagaimana mungkin Chun begitu? Pasti ada masalah. Atau ada seseorang yang menghasutnya untuk menjauh dariku?’ pikir So Eun semakin tak jelas.
Semakin berpikir semakin membuat hatinya sakit. Dia tak pernah berharap kalau persahabatan mereka akan berakhir seperti itu. So Eun pun menangis. Airmatanya jatuh, dia tak sanggup lagi membendungnya. Hingga akhirnya So Eun memutuskan untuk melupakan sahabatnya,  karna itu yang memang Chun inginkan. Lalu So Eun menghapus airmatanya. Dia berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah mengingatnya lagi.

Seperti janji So Eun dan seperti keinginan Chun. Ketika mereka bertemu di koridor sekolah, mereka berdua pun tak saling sapa seperti biasanya. Jujur saja, So Eun merasa hatinya sakit, saat harus bersikap acuh pada sahabatnya itu. Namun, rasa egois yang besar, telah membunuh perasaan hatinya sendiri. Sampai akhirnya bel sekolah berbunyi, So Eun pun kembali sendirian. Ia melangkah pulang menuju kerumahnya, tanpa ada Chun yang biasanya setia menemani So Eun.

Ketika arah menuju pulang, tahu-tahu saja, ada sekelompok lelaki yang melihat kearah So Eun dengan tatapan yang-err..terbilang mesum. Dan So Eun sadar, bahwa lelaki itu melihat tangan kirinya yang cacat. Buru-buru, So Eun memasukkan jari-jari tangannya ke dalam saku. Namun sepertinya terlambat, salah satu dari mereka telah melihatnya, dan segera menggodanya.
“Ada apa dengan tangan kirimu, gadis cantik? Apa tidak bisa di gunakan untuk mencatat nomor pribadiku?” tanya si lelaki pertama.
Yang langsung di lanjutkan dengan lelaki yang berdiri di sebelahnya.
“Aigo, apa kau tidak lihat? Tangan kirinya nyaris seperti monster laut.  Terlalu kecil dan mungil, mungkin bisa di gunakan unt-”
BRUK!
Belum selesai lelaki itu bicara, tiba-tiba saja sebuah tinju melayang tepat di wajahnya.
Chun muncul dan memukulnya. Wajah Chun memerah karna marah. Kemungkinan besar, lelaki bertubuh tinggi tegap itu mengikuti So Eun diam-diam, dan mendapati sahabat wanitanya itu dihina oleh sekelompok preman-gak-jelas. Si lelaki kedua mencoba bangkit untuk membalas, tapi lelaki yang pertama menahannya, dan kemudian membawanya pergi, begitu melihat Chun membulatkan matanya tanda mengancam.

So Eun yang melihatnya hanya diam karna shock. Kata-kata tajam dari dua lelaki mesum membuatnya benar-benar terpukul. Di tambah lagi dengan kehadiran Chun sebagai pahlawan. Bukankah, Chun telah memutuskan persahabatan mereka? Namun, kenapa ia bisa sampai di sini dan membantunya tiba-tiba? Entahlah, yang jelas So Eun masih belum bisa berfikir dengan jernih, akan kejadian yang baru di alaminya beberapa menit lalu.
Selagi pikirannya kosong, tiba-tiba tangan yang kuat mencengkramnya dan langsung memeluknya. So Eun terdiam. Chun memeluknya, sangat kuat. Jantung So Eun berdegup kencang, dia tak yakin kalau sahabatnya tidak dapat  mendengar degup jantungnya.
“Mianhae So Eun a~ seharusnya aku tidak perlu bicara begitu padamu. Saat itu, aku benar-benar bingung. Bagaimana cara untuk mengutarakannya padmau. Tapi kau harus tahu, kalau tidak lama lagi kami akan pindah. Dan itu berarti, aku tak akan bisa lagi menjagamu. Hal itu yang membuatku takut.” kata Chun panjang lebar berusaha menjelaskan. Tangannya dengan terampil mengusap rambut So Eun yang panjang.
Perlakuan Chun yang begitu lembut, membuat So Eun terhanyut. Ia menangis. Hatinya sakit memikirkan Chun yang akan pindah. Chun, sahabat satu-satunya yang ia miliki, akan pergi darinya. Ia tak mau. Maka dengan kasar ia melepaskan pelukan Chun, dan berlari menjauh dari sosok Chun yang memandangnya dengan sedih.

“So Eun, ada apa denganmu nak?” tanya seorang wanita yang adalah ibunda So Eun.
So Eun menoleh kearah suara dan mendapati sang ibu memandangnya dengan cemas. So Eun pun bangkit dan memeluk tubuh renta sang ibu yang tak lagi muda.
“Ada apa denganmu, nak? Kau bisa cerita pada ibumu ini, sayang.” ulang sang ibu dengan penuh kasih sayang.
So Eun menggeleng pelan. Ia memandang kedalam mata kelam milik sang ibu. “Aku tidak apa-apa bu. Jangan khawatir.” katanya sambil tersenyum.
“Benarkah?” sang ibu gantian memandang putri tunggalnya lekat-lekat. “Kau tidak membohongi ibumu, nak?”
“Hanya sedikit masalah yang tak begitu penting. Ibu tak usah mencemaskanku yah.” So Eun tersenyum tipis dan mengecup pipi kanan ibunya.
“Baiklah sayang, kalau kau tak mau menjelaskannya pada Ibu. Oh iah, Chun mencarimu So Eun. Dia ada di teras rumah. Cobalah kau keluar, dan temui dia. Chun terlihat sama buruknya denganmu.”
So Eun terpaku mendengar perkataan terakhir dari sang bunda. ‘Chun terlihat sama buruknya denganmu.’ maka dengan cepat, ia pun beranjak dari tempatnya, dan segera menemui Chun. Dan di lihatnya sosok Chun yang tengah duduk di sofa tamu menunggunya. Ekspresi wajahnya terlihat kusut, seperti orang yang tengah dilanda stres berat.

Jauh di lubuk hati So Eun, sejujurnya ia merasa iba melihat sahabatnya seperti itu. Bagaimanapun juga, Wu Chun adalah sahabatnya. Sahabat satu-satunya yang ia miliki. So Eun bingung, tanpa Chun, siapa lagi yang rela membantu dan melindunginya. Yah, So Eun menyadari, kalau selama ini, ia terlalu ‘memanfaatkan’ sahabatnya itu. Tanpa So Eun sadar, tahu-tahu ia sudah melangkah dan berdiri di sisi Chun, lalu ia pun duduk bersebelahan dengannya. Chun masih terdiam. Walaupun dia menyadari bahwa jarak So Eun dengannya teramat dekat. Tak ada percakapan diantara mereka selama beberapa menit. Sampai So Eun akhirnya kesal, dan ketika ia mencoba beranjak dari duduknya, tiba-tiba Chun menarik tangan So Eun-yang ternyata dia juga sudah berdiri- untuk mengikutinya. Sampai didepan rumah, Chun menyuruhnya untuk naik keatas motor sport miliknya, dan So Eun pun kembali menurutinya. Entah mau di bawa kemana arah motor itu, yang pastinya, Chun membawa laju motornya dengan
sangat cepat.

—-

Beberapa menit kemudian mereka pun sampai. Chun membawa So Eun kesebuah pantai-yang entah apa namanya. So Eun melihat sekeliling pantai yang masih terlihat ramai-padahal hari sudah cukup malam. Di sekeliling jalan terlihat banyak pasangan yang asyik memadu kasih di pojokan. So Eun tertunduk, wajahnya memerah-entah karena apa. Pikiran So Eun akhirnya terputus oleh sentuhan dirusuknya dari Chun. Di lihatnya wajah Chun masih terlihat kusut. Chun memandang wajah sahabat wanitanya itu lekat-lekat. Ditatap seperti itu oleh sahabatnya, So Eun pun kembali tertunduk, dia tidak berani membalas tatapan mata dari Chun.
“So Eun, dengar.” katanya sangat pelan, sementara dengung percakapan semakin keras di hadapan mereka. Orang-orang mulai beranjak bangun dari tempat mereka. “Aku tak bisa lagi menjagamu. Kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik. Kita tak bisa bersama lagi.“
So Eun mendongakkan wajahnya berkata dengan senyum janggal. “Untuk alasan apa kau pergi?”
“Rasanya memang aneh, selama beberapa tahun ini kita selalu bersama.“ kata Chun pelan. “Tapi Aku tak bisa. Kita tak bisa. Ada hal-hal lain yang harus kulakukan sekarang.“
So Eun terdiam, dia hanya menatap sahabatnya dan berusaha mencerna semua perkataannya.
“Aku akan pindah ke Brunei lusa depan. Ibu ingin aku melanjutkan study di sana. Dan, maksudku bicara padamu kemarin, agar membiasakan dirimu tanpa aku.“
“Bagaimana kalau aku tidak mengijinkanmu pergi?“ tanya So Eun berusaha tegar walaupun itu rasanya percuma.
“Tapi aku harus.“ kata Chun. “Kau kuat Kim So Eun. Aku tahu itu. Kau pasti bisa. Aku berjanji, kalau aku pasti akan kembali.“
So Eun memalingkan wajah, memandang keatas laut.
“Aku tak pernah benar-benar bisa berpikir Chun.“ kata So Eun dengan suara yang mulai serak. “Tak pernah. Orang lain selalu menganggapku aneh. Dan cuman kau lah yang menawarkan dirimu untuk jadi temanku. Karena dulu tak pernah selama ini, kau ingat kan, sewaktu aku memukul bocah pecundang itu! Itu mungkin karena aku terbiasa ada kau.“
Chun langsung memeluk tubuh mungil So Eun, kali ini So Eun membiarkan Chun memeluknya dengan erat. Airmata pun telah menetes jatuh kepipinya. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya gemuruh ombak yang besar seakan menjadi saksi pergulatan batin antar dua sahabat itu.

Sebelum kembali kerumah, Chun sempat mengajaknya besok hari untuk menemui temannya yang datang dari Singapore. Chun sempat  bergurau, kalau temannya itu memiliki sense humor yang tipis. Dia kembali menambahkan. “Pasti kau akan cepat akrab dengannya. Aku jamin.“

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Chun datang untuk menjemputnya. Awalnya, So Eun mengira kalau mereka akan berangkat sekolah bersama-sama seperti biasanya. Dia tak berpikir, kalau ajakan Chun-soal menemui temannya-kemarin benar-benar terjadi. Namun dia segera sadar, saat Chun memutar jalan yang berbeda dari arah sekolah mereka.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai ke sebuah rumah-yang menurut So Eun-nyaris seperti Istana besar. Ketika Chun menarik tangannya, kontan So Eun langsung menolak.
”Kau gila Chun? Mengajakku bolos dan tiba-tiba mengajakku kesini.”
“Nanti kau juga paham akan maksudku. Ayo, jangan buat orang itu menunggu kita.“
Chun kembali menarik tangan So Eun tanpa memberikan penjelasan yang lebih detail. Dan, So Eun sendiri? Ia hanya bisa mengumpat dirinya, yang tak bisa menolak ajakan Chun dari awal.

Chun menekan sebuah tombol bel di pinggir pintu sebanyak tiga kali.  Sampai bel yang ke-lima barulah pintu besar itu terbuka, dan muncullah seorang wanita paruh baya yang keluar dengan wajah yang-errr, tanpa senyum itu.
“Loh, Chun, kau kah itu nak?” tanya wanita itu memandang Chun lekat-lekat dari celah pintu gerbang.
“Apa kabar Bi?” kata Chun sopan. “Aku kemari, karna rindu dengan Bibi.“ Chun tersenyum ketika wanita paruh baya itu memeluknya. “Kau rindu denganku, atau dengan masakanku?” tanya wanita yang di panggil Bibi oleh Chun yang sepertinya tepat sasaran-terlihat dari tawa Chun yang terdengar di paksakan.
“Haha.. Jelas aku rindu dengan Bibi dan masakannya juga.“ Chun reflek menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Dasar kau. Haha~ Tak pernah berubah. Ayo, masuk.. Dia sudah menunggumu sejak tadi. Dan…” ekspresi wajah nyonya besar-panggilan reflek dari So Eun untuknya-berubah ketika ia menyadari sosok wanita muda berdiri di belakang Chun.
“Oh, aku lupa mengenalkan sahabatku ini pada Bibi. Dia, Kim So Eun. Dia sahabatku.“ kata Chun dengan bangga.
Dan So Eun yang tiba-tiba namanya di sebut tak bisa menutupi kegugupannya. Ia pun membalasnya dengan senyuman yang di paksakan. Ia benar-benar merasa aneh dengan kehadirannya disini. Sebenarnya, tanpa kehadiran So Eun pun, Chun bisa saja menemui sahabatnya itu-apalagi di tambah dengan keluarga sahabatnya yang senang padanya. “Annyeong haseyo~ Kim So Eun imnida.“ So Eun membungkukkan tubuhnya sekedar memberi hormat pada wanita itu. Tapi wanita itu terlihat dingin. Bibi itu hanya melihat So Eun seakan dia hanyalah onggokan benda yang tak penting, tak ada reaksi hangat dari sang nyonya besar.
“Baiklah, Chun. Ayo masuk, biar Bibi panggilkan anak itu. Dia mungkin masih asik dengan gitar kesayangannya.“ ujar wanita itu seraya mengajak Chun untuk masuk kedalam rumah besarnya.

Hanya satu pemikiran dalam benak So Eun saat mereka memasuki rumah sang nyonya besar itu. ‘Bagaimana bisa mereka menciptakan rumah sebesar ini?’
Kolam renang dalam rumah yang biasa ia lihat dalam acara tivi membuatnya benar-benar takjub. Design rumah bergaya Eropa dengan tekstur yang di gabungkan dengan ala Korea membuatnya berpikir, kalau ternyata sang pemilik rumah masih memiliki daya cinta akan negaranya sendiri.
Belum pernah ia masuk kerumah besar seperti ini, terlihat udik memang. So Eun bergumam tak jelas sambil matanya melirik hiasan-hiasan yang menurutnya mahal. Dan perhatiannya berhenti saat ia melihat sebuah foto keluarga yang di gantung dekat dengan lukisan naga. Di pandanginya lekat-lekat pigura foto tersebut dan ternyata Chun pun tengah memperhatikan hal yang sama dengannya. Di foto itu terlihat seorang wanita paruh baya-yang adalah Bibi tadi-lalu seorang lelaki yang sudah berumur dengan rambut nyaris botak, dan seorang lelaki muda yang usianya mungkin sepantaran dengan Chun. Selagi mereka memperhatikan foto tersebut, sebuah derap langkah seseorang yang makin dekat, membuyarkan perhatian mereka.

Chun tersenyum lebar ketika melihat sosok lelaki tinggi yang adalah sosok dalam foto berjalan menghampirinya.
“Hei.“ Lelaki itu menepuk pundak Chun ketika mereka bertemu.
“Kim Bum, apa kabarmu?“ Chun mengulurkan tangannya yang di sambut baik oleh lelaki bernama Kim Bum itu.
So Eun yang melihatnya, hanya bisa diam, ia benar-benar tidak mengerti. Terlalu banyak kejutan yang di dapatnya hari ini. Pertama; hari membolos pertamanya, kedua; bertamu di sebuah rumah yang besar, dan ketiga; bertemu dengan lelaki tampan yang tak pernah di pikirkannya. ‘Jadi ini, sahabat yang kemarin di bicarakan Chun.’ katanya dalam hati. So Eun pun mundur beberapa langkah, dan lebih memilih untuk berdiri tepat di belakang Chun.

“Yah, ini So Eun, Kim So Eun. Teman yang selalu kuceritakan padamu itu.“ Chun tiba-tiba saja menarik tangan So Eun untuk maju.
Kim Bum terdiam beberapa saat. Ia memperhatikan So Eun secara keseluruhan-dan itu sedikit membuat So Eun jengah. Secara otomatis, So Eun memasukkan tangan kirinya kedalam saku celana.
Kim Bum yang melihat itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk menyapa So Eun. Tapi So Eun, masih enggan menyambutnya.
”Annyeong~ Kim Bum imnida. Senang bertemu denganmu So Eun.“ Kim Bum tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam. Melihat senyumannya yang tulus, So Eun pun membalas uluran tangannya yang masih tersulur. “Senang bertemu denganmu juga, Kim Bum-ssi.”

###

Setelah cukup lama mereka berbicara-tentunya hanya Chun dan Kim Bum, karna So Eun hanya sebagai objek pendengar-So Eun sadar, kalau ternyata Chun terlalu banyak cerita tentangnya pada Kim Bum. Salah satunya, Kim Bum sudah tahu perihal tangan kiri So Eun yang tidak normal. Dan hal lain yang sebenarnya tak perlu di jelaskan-seperti hal pribadi So Eun yang menyukai sepakbola, ini membuat So Eun terpaksa mengutuk Chun dengan mantra patronusnya(?).
“Apa kau sibuk Kim Bum?” Kim Bum menggeleng pelan begitu Chun bertanya padanya. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” ajak Chun menyeringai.
“Ehm, tidak buruk. Biar kuambilkan kunci mobilku dulu. Kalian berdua menunggu di luar saja.“ Kim Bum tersenyum, lalu ia berbalik, dan kemudian akhirnya menghilang dari balik tembok.

Setelah Kim Bum pergi, otomatis hanya tinggal mereka berdua saja dalam ruangan itu. So Eun yang dari-tadi merasa sebagai obyek yang tertindas, melirik ke arah Chun minta pertanggung-jawaban. Namun perasaan kesalnya segera lenyap begitu mendapati perubahan sikap Chun yang berubah diam.
“Chun a~ kau kenapa?“ tanya So Eun pelan.
Chun menoleh kearah So Eun dan kemudian tersenyum tipis setelah menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa. Ayo, kita menunggu Kim Bum di tempat perjanjian kita.” ajaknya dan kembali menggeret So Eun untuk kembali mengikutinya.

“Astaga~“ So Eun terpekik kaget begitu melihat garasi rumah Kim Bum yang besarnya tiga kali dari ruangan makan di rumahnya.
Chun hanya tersenyum geli melihat ekspresi So Eun-yang kesekian kalinya. Di lihatnya Kim Bum melaju mobil Porsche-nya mendekat kearah mereka.
“Ayo.“ seru Kim Bum dari dalam.
“Mbum, biar aku saja yang membawa mobilmu. Boleh tidak?“ tanya Chun menawarkan.
Kim Bum tertawa, ia mengangguk, dan berpindah duduk di sebelah bangku pengemudi. Chun pun tersenyum lebar dan tak butuh waktu lama ia telah duduk di bagian kemudi. Hanya tinggal So Eun yang masih bingung. Bagaimana caranya ia untuk menaiki mobil yang hanya memiliki dua pintu, di tambah lagi dengan langit-langit atap yang terbuka.
Mungkin, Kim Bum menyadari kesulitan yang di hadapi oleh So Eun. Ia tersenyum dan kemudian mengulurkan tangannya untuk membantunya naik. Dengan malu-malu, So Eun pun menyambut uluran tangannya untuk naik kedalam mobil dengan sekali loncatan yang sempurna. Ahh, Kim So Eun memang terlalu polos.

—-

Selama perjalanan, Chun menyetel musik dengan volume yang gila-gila an. Chun dan Kim Bum terdengar seperti saling menunjukkan kebolehan suara mereka. So Eun yang mendengarnya ingin sekali berkomentar. Karna jujur saja, suara mereka berdua cukup bagus. Kim Bum yang melihat So Eun dari kaca spion mobilnya tengah tersenyum, sedikit mengusik perhatiannya.
“So Eun, kau kenapa? Apa suara kami begitu jelek?“ tanya Kim Bum tersenyum.
So Eun kontan menggelengkan kepalanya. “Aniyo, justru sebaliknya. Suara kalian berdua bagus. Aku tak menyangka saja, kalau ternyata, Chun pandai bernyanyi jg.“ Liang tertawa pelan, tapi kali ini suara tawanya terdengar seperti di paksakan. Ia tak menyangka bahwa Kim Bum memperhatikannya.
“Benarkah? Apa Chun tak pernah cerita, bahwa ia pernah memenangkan sebuah lomba menyanyi saat di Taiwan dulu?” “Tidak.” So Eun menggeleng kepalanya cepat dan melirik Chun yang wajahnya memerah karna aibnya di umbar oleh sahabat kecilnya itu.
Ketika Kim Bum bermaksud ingin menjelaskan, Chun menyelanya, hingga Kim Bum hanya menyeringai karna merasa menang.
“Mbum, jangan di jelaskan lagi. Kalian berdua diam saja. Aku malu mendengar pujian dari kalian, karna sepertinya, aku belum smpat membubuhkan tanda tangan ku di foto untuk kalian berdua.“
Mendengar selaan Chun yang terlalu narsis, So Eun yang duduk di bangku belakang, otomatis menoyor kepala Chun hingga tertunduk ke bawah. Kim Bum yang melihat itu tertawa. Mendadak suasana di dalam mobil menjadi hangat, So Eun sendiri tidak sadar entah sejak kapan, ia mulai merasa enjoy dengan teman barunya itu.

Ternyata Chun membawa mereka ke sebuah taman dimana mereka bisa melihat danau di tengah-tengahnya. So Eun sendiri cukup terkesima melihat tempat indah itu. Sinar matahari yang terpantul indah menembus ke riak-riak air di dalam danau. Di lihatnya kesekeliling tempat, tidak terlalu banyak orang. Mungkin hanya ada beberapa orang saja yang ada di tempat itu. So Eun kontan menyenggol lengan Chun. “Kau selalu tahu tempat-tempat yang bagus yah.“ Chun hanya tertawa mendengarnya. Mereka bertiga berjalan menyusuri tempat tersebut dan akhirnya memilih sebuah bangku taman yang memang sengaja di sediakan.
“Mbum.. bagaimana, apa di singapura, kau telah menemukan seorang gadis yang kau suka?“ tanya Chun yang spontan membuat Kim Bum menggeleng kepalanya dengan cepat.
“Belum, aku terlalu sibuk untuk berpikir kearah sana. Lagipula, aku lebih suka dengan gadis Korea.“
Chun menyeringai mendengar jawaban sahabatnya. “Kau jangan membuatku tertawa Kim Sang Bum. Ayolah, lagipula kau sibuk? Alasan apa itu! Aku yakin ada beberapa gadis Korea di sana. Apa jangan-jangan…” Chun menyipitkan sebelah matanya mencurigai Kim Bum yang kini memandangnya bingung. “Karna gadis yang kau cari itu ada di sekitar sini. Jadi kau dapat berpikir demikian?“ lanjut Chun yang di sambut manis oleh batuknya So Eun yang tiba-tiba.
“Kau kenapa?” tanya Chun sambil tertawa tanpa dosa pada So Eun. Sedangkan So Eun? Ahh~ andai ini dalam komik, pasti akan ada dua tanduk ‘evil’ yang menempel di kepalanya sekarang.

Setelah itu, Chun pun pamit meninggalkan mereka berdua dengan alasan ‘pergi mencari toilet’.. Sepeninggal Chun, mereka berdua hanya diam sambil memperhatikan orang-orang di seberang yang naik perahu kayuh.
“Kau sudah lama bersahabat dengan Chun, Kim Bum-ssi?“ tanya So Eun membuka percakapan. Bagaimanapun juga, ia paling tidak suka dengan suasana hening seperti ini, terpaksa ia membuka topic percakapan-karna sepertinya tak ada tanda-tanda, Kim Bum akan melakukan pembicaraan dengannya.
“Hah? Aku dengan Wu Chun? Mungkin nyaris seumur hidup kita berteman. Kau tahu, jarak lahir kami hanya berbeda empat bulan. Kami adalah sahabat dari kecil.“ jelas Kim Bum sembari tersenyum simpul.
So Eun hanya manggut-manggut, lalu kembali melihat kumpulan orang yang tengah sibuk mendayung di tengah danau sana.
“Bagaimana menurutmu tentang Chun?” tanya Kim Bum tiba-tiba dan tanpa melihat kearah So Eun.
“Chun?” So Eun sedikit kaget begitu mendengar pertanyaan Kim Bum. Namun rasa keterkejutannya segera berganti dengan senyuman begitu membayangkan sosok sahabatnya. “Chun, Ia lelaki yang aneh dan bertanggung jawab. Ia lelaki yang selalu melindungiku. Ia sangat penting untukku, Chun adalah sahabatku-setidaknya itu adalah pemikiranku.”
Reflek Kim Bum langsung menoleh kearah So Eun dan memandangnya lekat-lekat begitu mendengar jawaban polos akan sosok Wu Chun menurut So Eun. “Sepertinya Chun sangat penting yah untukmu. Kau tahu kan, kalau esok ia akan kembali ke Brunei?” Kim Bum masih  memandangnya.
“Aniyo~ Chun memang sangat penting untukku, karna ia adalah sahabat satu-satunya yang ku miliki.” tiba-tiba saja So Eun tak ingin, kalau lelaki di sebelahnya itu salah paham akan hubungannya dengan Chun-yang di anggapnya murni sebagai sahabat. Namun semenit kemudian ia sadar akan kalimat akhir dari Kim Bum. Gantian ia menatap Kim Bum kaget. “Besok lusa? Apa itu tidak terlalu cepat? Ahh~ ia tidak memberitahuku akan waktunya. Aku.. Sulit untuk melepasnya pergi meninggalkanku.“
“Apa kau merasa dia pergi bertarung dan akan kalah perang? Hei! Chun hanya melanjutkan study-nya di Brunei selama dua-atau-tiga-tahun bukan untuk pergi berperang.” sindir Kim Bum yang membuat wajah So Eun merona merah. Dan ia kembali menambahkan. “Apa karna kekuranganmu itu hingga kau merasa terlalu bergantungan pada seorang sahabat?”
Rasa malu So Eun berubah menjadi marah. Gantian So Eun memandangnya kesal. “Sepertinya Chun terlalu banyak cerita padamu. Sampai-sampai kau begitu tahu detail tentangku, tuan muda Kim.”
“Mianhae So Eun~ bukan begitu maksudku. Yah, sedikit banyak Chun memang telah menceritakanmu padaku-termasuk kekuranganmu itu. Namun kau jangan salah paham, sejak awal ia menceritakanmu, aku telah tertarik. Dan pandanganku kepadamu pun tak jauh beda seperti Chun. ”
“Apa maksudmu?” So Eun mengerlingkan matanya tak mengerti.
“Apa itu kurang jelas?“ tanya Kim Bum tersenyum tipis. “Mungkin aku memang sebagai tuan muda Kim-seperti yang kau sebutkan-namun aku tetaplah manusia biasa yang dapat bersosialisasi dengan baik.” jelas Kim Bum yang senyumannya semakin terlihat tulus di mata So Eun.
So Eun sendiri hanya dapat diam setelah mendengar penjelasan Kim Bum yang masuk akal. Entah ia harus marah atau malah senang mendengar penjelasan Kim Bum barusan. Setidaknya ada satu perasaan baru di hatinya, ia merasa sedikit lega mendengarnya.
“Tenang So Eun, aku paham perasaanmu. Itu mungkin karna kau sudah terbiasa bersama dengannya.” Kim Bum kembali menambahkan. “Namun setidaknya sekarang, kau harus membiasakan dirimu tanpa ada Chun di sampingmu.“
So Eun menarik nafas panjang. Yah, memang ada benarnya perkataan Kim Bum mengenai ia harus membiasakan diri tanpa Chun bersamanya. Tak mungkin ia melarang sahabatnya pergi akan keegoisannya sendiri. So Eun terdiam lalu mengangguk pelan. “Kau benar. Setidaknya, aku tak boleh egois. Gomawoyo~“ So Eun tersenyum untuk pertamakalinya pada Kim Bum dan di balas senyuman terbaik yang di miliki lelaki yang duduk di sebelahnya. So Eun sadar betul bahwa lelaki di sebelahnya itu memang tampan. Terbukti dari banyaknya wanita-wanita lain yang lalu-lalang melewati mereka dan bergumam tak jelas ketika melihat sosok Kim Bum. Oke, mari kita mereview sedikit tentang sosok Kim Bum melalui kacamata So Eun-atau author #plak- lelaki itu memang terlihat perfect; bertubuh tinggi; berkulit putih dan halus seperti bayi(?); berwajah tampan; baik hati; senyumannya yang menawan dengan lesung pipi yang dalam; dan seperti bonus, Kim Bum adalah calon penerus dari perusahaan Shinhwa
corporation yang memiliki banyak anak cabang perusahaan-setidaknya itu yang So Eun dengar dari Chun. Dengan kelebihan itu semua, tentu dengan mudahnya Kim Bum dapat mendapatkan seorang gadis-atau berpuluh-puluh gadis-yang ia mau. So Eun seperti kembali menginjak bumi ketika sebuah suara yang di kenalnya memanggil namanya dari belakang. So Eun dan Kim Bum reflek menoleh kearah suara. Ternyata Chun, ia muncul dengan tangan yang memegang dua alat untuk mendayung perahu.

Langit mulai gelap, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Kali ini Kim Bum yang mengemudikan mobilnya, Chun duduk di bangku sebelahnya dan So Eun tetap duduk di belakang.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah So Eun. Suasana mendadak sunyi, sampai akhirnya Chun memutuskan turun dari mobil dan bersandar di sisi mobil.
“So Eun.“ panggil Chun pelan.
So Eun tidak menjawab, ia tetap memilih diam. Chun pun berpaling menghadap ke arah So Eun. Di lihat, sahabatnya itu menundukan wajahnya dalam-dalam. Chun menghampirinya.
“Ayo turun, kau tidak lupa dengan rumahmu kan?“ gurau Chun tak tepat waktu.
So Eun tak bereaksi untuk melawan gurauan Chun. Kim Bum yang-entah sejak kapan-telah turun dari mobilnya pun ikut menghampiri So Eun tangannya kembali terulur, dan So Eun menengadahkan kepalanya dan kembali melihat senyuman Kim Bum, lalu meraih tangannya tanpa ragu.

Suasana menjadi benar-benar tak enak. So Eun tahu, kalau ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Chun, sahabatnya. Ia sungguh ingin menangis sekarang, ia enggan untuk melihat wajah konyol Chun yang seakan tak menyadari perasaan takutnya-takut kehilangan. Tiba-tiba Chun meraih tangannya dengan kuat, di peluknya So Eun dengan erat, dada So Eun terasa sakit. Airmata yang di bendungnya sedari-tadi pun jebol sudah. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sahabatnya-tak mempedulikan akan pikiran Kim Bum yang melihatnya.
“Ben dan (bodoh)! Sudah jangan menangis, kalau begitu terus, kau membuatku jadi tak tenang.“ kata Chun pelan.
Chun terus mengusap-ngusap punggung So Eun. Perlahan, So Eun mulai kembali tenang, meski sisa airmata masih tergantung di pelupuk matanya. Dan Chun tersenyum seraya menghapus sisa airmatanya dengan ibu jari.
“Aku beranji, sesampainya di sana, orang pertama yang kuhubungi adalah kau.” janji Chun.
So Eun mengangguk pelan. Kemudian ia mencubit lengan Chun gemas.
“Berjanjilah padaku, kau harus menjaga kesehatanmu. Dan jangan kembali, kalau kau tidak membawa apapun untukku.” gurau So Eun.
Chun tertawa keras mendengar gurauan So Eun, ia kembali mengusap rambut So Eun lembut.
“Aku janji, tak akan pernah melupakanmu. Sekarang kembalilah, ibumu pasti tengah menunggumu.
So Eun tersenyum manis sebelum ia berbalik dan masuk kedalam rumahnya. Setelah melihat punggung So Eun yang menghilang dalam balik pintu, mereka berdua pun pergi menuju kearah mobil.

Saat perjalanan menuju pulang, tiba-tiba saja, Chun meminta Kim Bum untuk menghentikan laju mobilnya.
“Ada apa?” tanya Kim Bum bingung.
“Menurutmu, bagaimana dengan So Eun? Maksudku.. Kau telah bertemu dengannya. Setidaknya, kau dapat membedakan So Eun dalam ceritaku dengan realita.” Chun memandang Kim Bum tajam.
Kim Bum mendesah pelan. “Tak jauh berbeda dengan ceritamu. So Eun adalah gadis yang manis dan kuat. Lantas, apa maksudmu?”
“Kau tahu, ini pertama-kalinya aku merasa sulit untuk melepaskan sesuatu. So Eun sudah benar-benar ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Setiap hari, kami selalu bersama. Rasanya ada yang aneh, kalau tiba-tiba saja harus mengalami perpisahan seperti ini.” suara Chun terdengar serak. “Tolong jaga So Eun untukku. Kau mau?“
Kim Bum terdiam sesaat, ia melihat kearah Chun, selama ini yang ia tau, bahwa Chun adalah lelaki yang tak pernah terlihat mellow. Wajah Chun terlihat sangat memelas, hingga membuat Kim Bum sadar akan sesuatu. Kim So Eun dengan kepolosannya, telah berhasil mengubah kepribadian sahabatnya itu. Lama Kim Bum berpikir, sampai akhirnya ia mengangguk sehingga membuat sedikit senyum di wajah Chun muncul.
“Xie-xie ni Kim Sang Bum, kau memang sahabatku.” ucap Chun.

—-

Keesokan harinya, seperti biasa, So Eun sudah berada di sekolahnya tepat waktu. Hatinya mencelos begitu mendapati sebuah kursi kayu di deretan belakang kiri terlihat kosong. Itu adalah tempat duduk yang biasa Chun tempati.  Kali ini tanpa sahabatnya, tentu semua akan berbeda. So Eun segera memalingkan wajahnya-menganggap selama ini kursi itu memanglah kosong. Tidak, seharus ia tak boleh sedih dan egois, karena bagaimanapun Chun adalah sahabatnya. Tidak dengan cara menghindar, ia harusnya memberikan Chun sebuah dukungan. Seperti mendapati sesuatu ingatan, So Eun langsung melirik jam di tangannya. Nyaris pukul delapan, itu berarti, masih tersisa waktu sepuluh menit untuk Chun menghirup udara Korea. So Eun langsung meraih tas-yang sempat ia letakkan di tempat duduknya, dan berlari keluar kelas. Dengan segera ia mencoba menghubungi Chun melalui ponselnya.
“Yob-“
“CHUN!” potong So Eun begitu mendengar suara Chun yang mengangkat panggilannya.
“Ada apa, So Eun?“ terdengar suara Chun dari jaringan seberang.
“Dimana kau sekarang?“
“Di bandara, ada apa?“ tanya Chun penasaran.
“Tunggu aku! Dan jangan pergi.“ So Eun langsung mematikan panggilan di ponselnya dan segera berlari menuju pintu gerbang sekolah. Tak mengindahkan beberapa orang yang memanggil namanya termasuk beberapa guru yang di tabraknya.

Beruntunglah bahwa jarak antara sekolahnya menuju bandara tidak terlalu jauh. Cukup dengan tiga kali naik-turun bis akhirnya sampai juga ia di bandara Incheon-Seoul. Sesampainya di bandara, So Eun kembali mencoba untuk menghubungi Chun, namun jaringan selalu sibuk. So Eun nyaris putus asa, takut kalau Chun telah pergi tanpa menunggunya. Tangannya gemetar ketika mencoba menghubungi Chun untuk kesekian kalinya. Selagi ia mencoba, tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
“Membolos lagi, nona So Eun?”
So Eun otomatis menoleh dan reflek menangis haru begitu melihat sosok Chun telah berdiri di hadapannya dengan senyumannya yang khas-dan segera berubah menjadi panik begitu menyadari sahabatnya menangis..
“Ahhh~ kupikir kau telah pergi meninggalkanku……” kata So Eun sambil terisak saat Chun memeluknya.
“Bodoh, tentu saja tidak. Aku tahu kalau kau akan menemuiku.” ujar Chun lembut sembari mengusap-ngusap rambut So Eun yang panjang.
So Eun melepas pelukannya begitu merasa lebih tenang. Dan ia menyadari sesuatu. Penampilan Chun kali ini cukup berbeda, tidak terlihat seperti Chun yang biasa. Ada yang berubah dari penampilannya, ia telah merubah stylenya. Chun terlihat lebih rapi dengan kemeja putih dengan celana panjang.
“Tapi kau terlalu lama membuatku menunggu, Kim So Eun. Dan, astaga~ kau kembali membolos? Tak bisa kuduga.” Chun kembali menggoda So Eun.
Dan kali ini So Eun tertawa mendengarnya, ia tidak merasakan sesuatu yang menusuk ulu hatinya. Ia jauh lebih tenang sekarang. Dan baru ia sadari, ternyata selain Chun, sudah ada Kim Bum yang berdiri di belakang Chun dan tersenyum kearahnya.
Tak lama kemudian terdengar pengumuman keberangkatan bergema di ruangan itu, Chun pun menghampiri So Eun dan memeluknya lagi.
“Aku harus pergi sekarang. So Eun, jangan pernah tunjukkan pada dunia, bahwa kau lemah. Karena kau adalah gadis yang kuat.” Chun melepas pelukannya.
So Eun mengangguk dan tersenyum kepada Chun. “Jaga dirimu baik-baik. Ingat, segera kabari aku begitu kau sampai di Brunei.”
“Tenang saja.” Chun membalas senyuman So Eun.
Kim Bum menepuk punggung Chun. Dan mereka berpelukan antar lelaki. Setelah mengucapkan salam  perpisahan, Chun pun pergi meninggalkan mereka berdua.
So Eun terus memandangi sosok Chun dari belakang, sebenarnya hatinya sakit begitu memikirkan tak akan ada lagi orang yang biasa mengganggunya, tak akan ada lagi orang yang bisa mendengar semua keluh kesahnya. Sampai akhirnya ia melihat sosok Chun berbalik menghadap mereka sekedar untuk melambaikan tangan dan kemudian menghilang di balik koridor. So Eun merasa lega, setidaknya itu semua jauh lebih membahagiakan-karena ia dapat melepas keberangkatan Chun dengan senyum dan dukungan yang penuh untuk sahabatnya.

Setelah itu mereka berdua pun pergi meninggalkan bandara. So Eun membiarkan Kim Bum jalan lebih dulu dari dirinya, pikirannya masih penuh dengan Chun. ‘Semoga ia sampai di Brunei dengan selamat.“ kata So Eun dalam hati.
Karena ia berjalan tanpa melihat arah, So Eun akhirnya menubruk tubuh Kim Bum yang ternyata menunggunya.
“Maaf.. Maaf..“ kata So Eun sambil memegang hidungnya yang sakit karena membentur dada bidang Kim Bum.
Kim Bum menggelengkan kepalanya, ia menundukkan tubuhnya untuk melihat wajah So Eun lebih dekat. Dengan reflek, So Eun mundur beberapa langkah, tapi di tahan oleh Kim Bum. Kim Bum meraih tangannya, lalu perlahan memegang hidung So Eun yang memerah. So Eun meringis menahan sakit. “Apa tubuhku begitu tinggi, sampai-sampai kau tak melihatnya?“ tanya Kim Bum pelan.
So Eun menggeleng. “Mianhae, aku..“
Belum selesai So Eun bicara, Kim Bum telah memotongnya. “Ehm, aku sangat lapar. Ayo, kita pergi makan!“ ajak Kim Bum yang tak mau tahu dengan penolakan keras dari So Eun.

TBC~


Errr.. gheje parah yah ceritanya chingu -_-”
Dan hanya untuk mengucapkan, “Say goodbye for GKC, and say welcome for Bumsso Couple.”
Karna di sini, adalah part perpisahan untuk GKC-Goh Kiat Chun, alias Wu Chun- dan perkembangan hubungan untuk Bumsso Couple😀
I need a comment chingu, gomawo🙂
Last, add my twitter account: @amelemon_

Tags: , , ,

13 responses to “Love Never End – part 2”

  1. dini ramadhani says :

    sedih bgd soeun ma chun hrs berpisah,tp ada kim bum tg jd pelindungnya
    hoho ternyata kim bum ud tertarik ma so eun sblm bertem dgnnya jd inget laguna Savage garden I KNOW I LOVE YOU BEFORE I MEET YOU ya gak?
    keren deh,dtunggu lanjutannya!

  2. Meika says :

    Duch cpat dlnjutkan y…

  3. merli rosyana kim sang eun says :

    Kerreennn aku suka , sedih ya di tinggal sahabat !!
    Soeun beruntung punya teman kaya wu chun tapi yang paling beruntung dia punya pacar kaya kim bum hahaha

  4. Amalia'SoEul'Lova says :

    hhuhuhu..
    Sedih,..
    Ngebayangin Gimana rasa.a ditinggal ma Sahabat t.sayang T-T ,..
    Ayo,. Lanjutkan cerita.a ,.😀

  5. 라미 'Rahmi' says :

    Disclaimer : Mereka jelas bukan punya gw.
    Kim Bum milik So Eun; So Eun milik Kim Bum. ==> setuju BGT saya… LOL

    huaaaaaaaaaaaa huaaaaaaaaaaaaaaa sedih rasanya ditinggal sama sahabat yg deketttttttttttttt bgt m kita.. huhuhuhuhuhu

    “Say goodbye for GKC, and say welcome for Bumsso Couple.” ==> ya ya ya

    tp gimana itu lee dong hae??? org ketiga tuh… hmhmhmhhm

    ditunggu lanjutannya

  6. citra anisa aprilia says :

    :’) semoga so eun ketemu lagi sama chun
    ayo next deh ! haha

    @ dini : aku tau aku tau! (lagu i knew i love you) itu romantis bgt lagunya dan fav aku! cerita ttg jodoh (soulmates)🙂

  7. enno says :

    bguuzz . . . .🙂
    ouh jd gt toh awal mula kse knal ma kb.
    Penasaran nui ma klnjutanNa.

  8. RiriAngels says :

    Kyaaaaaaa
    Saya suka saya suka😄
    So Sweeeeeeet!
    Di Tunggu PART SELANJUUUUUUUUUUUT_A XDDD
    Jangan lamalama ya hahahaha

  9. Lewi Chitra says :

    sedih bngt hampir nangis…..
    emg persahabat gag mengenal orng kaya atw miskin,pinter atw bodoh,cantik atw jelek,…..
    lnjtn ya kak,…….:)

  10. puchaabyzone says :

    annyong author….
    wuaaaaaaaaa akhirnya datang juga lanjutannya…..
    puchaaby likes this pokoknya🙂

    “So Eun, untukku semua kekurangan yang dimilikimu, adalah murni kelebihanmu. Biarkan aku untuk mencoba dekat denganmu, karna aku sadar, kalau kau adalah kekuatanku. – LDH -”——>>>kyaaaa sapa tuh????penasaran tingkat tinggi

    kyaaaaaaaa ada wu chun,sukaaaaaaaaaaa,,,tapi kok cuma di part ini ajah…huhuhuhu *nangis di pojokan bareng yesung

    ayo update ASAP…
    ditunggu next partnya yah
    kamsahmnida
    _bow_

  11. Meika says :

    Ych mna nch lnjtanx,lma bnget seh…

  12. rosiyani 'oci' says :

    wahhhh ini part buat flashback doang….
    bagusss onn, ayooo lanjutkan.. kok lama ga ngpost2 part selanjutnya ????
    kisahkan kembali kisah bumsso , hhe🙂

  13. chintami says :

    lnjt kn donk untk part slnjt ny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: