[edited] My Love Never Die (one shoot)

Author :  nuri “ bumsso”

Main Cast: Kim Bum dan Kim So Eun

Cast: Kang Nam gil as so eun uncle dan Im Ye Jin as so eun aunt

Genre: Friendship, Romance

Type: One-shoot

Annyeong…. Mates… Kali ini aku datang dengan ff oneshoot. Sebelumnya saya minta maaf  kalau ceritanya aneh, gaje dan gak karuan.. L  Happy reading… ^.^

N buat k’ endang q minta pictnya.. buat os ku…hehehehe

So Eun POV

“So eun.,, kankermu sudah masuk stadium akhir. Kamu harus segera menjalankan kemoterapi lagi so eun kalau tidak….” Kang Nam Gil  ahjussi tidak melanjutkan kata-katanya, matanya menatapku dengan putus asa.

“Ne ahjussi.. tapi aku sudah lelah ahjussi dengan semua pengobatan ini. Aku hanya ingin menikmati waktu terakhirku dengan tenang.” kataku tenahg sambil tersenyum, membalas tatapan nam gil  ahjussi. “Aku permisi dulu ahjussi.” Aku segera berdiri dan berjalan keluar ruangan dokter. Kuputuskan untuk pergi ke taman, menikmati kesendirianku dan menenangkan pikiranku.

Bukannya aku tidak mau terus hidup, tapi aku sudah benar-benar lelah dengan semua pengobatan yang sia-sia ini. Apalagi pengobatan seperti ini membutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku tau Nam gil ahjussi dan Ye jin ahjumma tidak keberatan mengeluarkan uang demi kesembuhanku, tapi aku tidak mau membebani mereka terus dengan penyakit yang tak mungkin bisa disembuhkan ini.

Sejak appa dan omma meninggal 3 tahun yang lalu, aku tinggal dengan Nam gil ahjussi dan sarang ahjumma. Semuanya terasa berat untukku sejak kematian mereka. Aku mengurung diri di kamar seharian, menangis hingga mataku sembab. Tapi mereka sangat baik dan perhatian padaku bahkan menganggapku seperti anak mereka sendiri. Aku mulai membuka hatiku dan menikmati kasih sayang mereka. Aku merasa seperti memiliki lagi keluarga yang utuh meskipun dengan sosok appa dan omma yang berbeda, itu sudah membuatku bahagia.

Awalnya semua terasa mulai membaik. Hidupku mulai kembali normal. Aku kembali kuliah, menikmati hidupku dengan teman-teman, dan menikmati limpahan kasih sayang dari ahjussi serta ahjumma. Tapi semuanya berubah sejak malam 1 tahun yang lalu.

Malam itu aku sedang di meja makan bersama Nam gil ahjussi dan Ye jin ahjumma, tiba-tiba saja kepalaku mengalami sakit yang luar biasa. Aku kejang-kejang dan pingsan seketika. Ahjussi yang seorang dokter segera membawaku ke rumah sakit dan melakukan scan. Malam itulah aku divonis menderita kanker otak stadium 2.

Pertama kali menerima berita itu, aku stress berat. Aku berubah menjadi pemurung. Aku menolak kuliah bahkan bertemu dengan teman-temanku. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku akan meninggal. Aku takut itu semua akan terjadi padaku

Ahjussi dan ahjumma berusaha keras membujukku agar aku mengikuti kemoterapi. Melihat mereka yang begitu menginginkan kesembuhanku, aku merasa semakin memiliki harapan. Aku mengikuti kemoterapi hampir setengah tahun, tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Aku mulai menyerah dengan keadaanku dan menolak kemoterapi lebih lanjut. Dan baru saja ahjussi mengatakan bahwa kankerku sudah masuk stadium akhir.

Itu berarti waktuku tinggal sedikit lagi. Aku sudah pasrah, aku hanya ingin menikmati waktu terakhirku dengan tenang bersama orang-orang yang ku sayangi

BUKK…

Sebuah bola basket mengenai tepat di wajahku, menyadarkanku dari lamunanku. Aku langsung jatuh terduduk sambil meringis kesakitan memegangi wajahku.

“Jeongmal mianhae… Gwenchana?? Aku benar-benar tidak sengaja nona.” Aku mendongak dan mendepati sesosok pria berdiri di hadapanku dengan wajah khawatir.

“Ne.. gwenchana??” kataku menenangkan dan berdiri. Sepertinya aku berdiri terlalu cepat karena badanku hampir jatuh lagi, jika pria itu tidak menahanku. Dia memapahku ke kursi terdekat.

“Gwenchana?? Wajahmu pucat sekali nona.” tanyanya dengan khawatir, matanya menatapku lekat. Aku menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pusing yang tiba-tiba menderaku. Kuambil bola yang ada di dekat kakiku dan menyerahkan padanya. “Ini bolamu kan?? Lebih baik kamu kembali. Sepertinya teman-temanmu sudah menunggu.” kataku sambil tersenyum, menunjuk sekumpulan pria yang tampak memanggil pria itu dari lapangan seberang.

Dia mengerjapkan mata dan menoleh ke lapangan. “Ah ne.. hajiman, apa nona baik-baik saja??” Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan wajah khawatir. “Tidak apa-apa, ppalli .. . Nanti teman-temanmu menunggu.”

Dia menatapku ragu, akhirnya diapun berlari pergi menuju lapangan seberang. Aku hanya memandang kepergiannya dengan diam. Merasa iri dengan pria yang tidak kukenal itu. Betapa beruntungnya dia bisa menikmati hidupnya tanpa penyakit apapun. Seandainya aku juga bisa seperti itu. Kembali ke masa di mana aku bisa menikmati hidupku tanpa penyakit ini.

Aku memukul kepalaku perlahan. Aishh!! Apa yang kamu pikirkan So eun?? Sadarlah!! Bukankah kamu sudah berjanji untuk menerima takdirmu sendiri. Jangan lemah!! Hwaiting So Eun..!!! ucap ku, menyemangati diri.

Tuhan, aku sudah berjanji untuk menerima takdirku. Jangan biarkan aku melemah dan terpuruk. Berikanlah aku kekuatan untuk menerima semua kenyataan ini. Bantulah aku untuk menjalani sisa waktuku ini dengan tenang.

 

 

 

Aku tidak tau berapa lama aku duduk di luar, tapi sepertinya sudah cukup lama karena rasanya udara mulai dingin. Aku berdiri dan berjalan pergi ketika tiba-tiba rasa pusing ini menyerangku kembali. Aku terhuyung dan hampir jatuh ke tanah jika seseorang tidak menangkapku cepat. Aku tidak tau siapa dia karena pandanganku mengabur dan tidak sadarkan diri.

——————

Aku membuka mataku perlahan, berusaha bangun. “Akhh…” Kepalaku pusing sekali. igeon eodie.?? Ucapku lemah.

Kulihat seorang namja duduk di sebelahku, kepalanya tertunduk di kasur. Siapa dia??

“Emm..” Namja itu mengucek matanya dan mendongak menghadapku. “Nona sudah bangun?? Gwenchana??” tanyanya dengan khawatir melihatku yang tampak kesakitan. Bukankah itu namja yang tadi??

“Ini dimana??” Aku menyenderkan tubuhku, menatap sekelilingku. Aku ada di sebuah kamar yang tidak kukenal. Kamar ini tidak begitu besar tapi sangat rapi dan nyaman.

“Nona tadi tiba-tiba pingsan, jadi kubawa ke apartemenku. Aku tidak tau alamat nona. Apa nona baik-baik saja??” Namja itu menatapku khawatir. “Aku tidak apa-apa. Mian sudah merepotkan.” kataku dengan penuh terimakasih. Aku bangun dari tempat tidur dan berjalan pergi.

“Nona mau kemana?? Ini sudah malam sekali.” Namja itu memegang tanganku, mencegahku pergi. Aku menatap jam yang ada di meja. Pukul 10 malam. MWOO!!! Gawat ahjussi dan ahjumma pasti sangat khawatir. Aku tidak membawa handphone. Ottokhae??

“Lebih baik malam ini nona menginap saja. Ini..” tawar namja itu sambil menyerahkan handphone padaku. “Nona pakai handphoneku saja untuk menelepon orang rumah. Besok akan kuantar nona pulang. Bagaimana??”

Aku menatapnya ragu, akhirnya mengangguk. Sepertinya aku benar-benar gila karena menerima tawaran namja itu. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi sepertinya dia orang yang baik. Kuambil handphone itu dan menelepon ahjussi.

“So eun!!! Kamu dimana???” kata ahjussi dengan khawatir bahkan sebelum aku mengatakan apapun.

“Hari ini aku tidak pulang ahjussi. Aku menginap di rumah teman. Jangan khawatir.”

“Chingu??” Kudengar nada ragu di sana. Aku tau ahjussi pasti ragu karena sudah lama aku tidak mempunyai teman. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan seseorang karena suatu saat nanti pasti aku akan kehilangan mereka. Bukankah waktuku tinggal sebentar lagi.

“Ne ahjussi.. tenang saja. Besok aku akan pulang. Sudah ya ahjussi.” Kututup handphone itu sebelum ahjussi bertanya lebih lanjut. “Gomawoyo.” kataku sambil tersenyum, mengembalikan handphonenya. Sekarang apa yang harus kulakukan??

Aku menatap sekeliling ruangan. Di salah satu sudut ada rak yang berisi berbagai macam cd. Kudekati rak itu. “Kamu suka menyanyi??” tanyaku, menatap salah satu cd yang betuliskan golden voice. Kutatap seluruh cd yang ada di rak itu. Rata-rata semuanya berhubungan dengan musik dan bernyanyi. Namja itu mendekat, matanya menatapku. “Ne.. aku suka sekali menyanyi. Aku ingin  suatu saat bisa memperdengarkan suaraku pada seluruh dunia.”

Aku membalas tatapannya dan tersenyum tulus. “Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa. Aku belum tau namamu. Kim So Eun imnida.” Aku mengulurkan tanganku ke arahnya.

“Kim Sang Bum imnida.” Dia menjabat tanganku dengan senyum manisnya

“Boleh aku mendengarmu bernyanyi. Anggap saja aku penonton pertamamu.”, pintaku padanya

“Baiklah. Aku akan memperdengarkan suara terbaikku. Aku yakin nona pasti terpesona.” katanya bersemangat.

”Kamu jangan panggil aku nona terus dong..! ucapku

”Ne,,, nona,,upss maksudku so eun….hehehe”

Dia pun mulai bernyanyi.

———————-

Hari itu adalah hari pertamaku mengenalnya. Kim bum anak yang menyenangkan. Dia selalu positive thinking dalam menjalankan hidup, tidak pernah sekalipun ia putus asa. Dia yang mengajarkan banyak hal padaku. Dia membuatku merasa utuh, seakan tidak ada yang salah denganku. Didekatnya membuatku merasa hidup kembali.

Sudah 3 bulan sejak perkenalanku dengannya. Sekarang kami menjadi sahabat. Dia adalah sahabat pertamaku. Kami banyak membagi cerita tentang apapun, kecuali tentang penyakitku. Aku tidak ingin dia menjauhiku karena penyakitku ini. Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah dia mau berteman denganku jika tau tentang penyakitku in??

“So eun…” Seseorang menepuk pundakku pelan, dan berhasil membuyarkan dari lamunanku. “Kamu melamun lagi ya. Kamu hobi sekali melamun.” Kim bum mengambil tempat duduk di hadapanku.

“Aku melamun karena terlalu lama menunggumu tau. Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah telat hampir setengah jam??” kataku pura-pura kesal, dan menjitaknya pelan. Dia tersenyum penuh rahasia. “Aku punya sesuatu untukmu.”

Kim Bum mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyerahkan padaku. “Tiket seoul voice.” Aku mendongak, menatapnya tidak percaya. “Kamu berhasil lolos audisi!!! Chukkae!!!” teriakku keras sambil memeluknya.

Dia tertawa pelan, membalas pelukanku. “Ini berkatmu So eun. Seandainya kamu tidak terus menyemangatiku, aku pasti sudah menyerah.

Aku melepas pelukanku, menatapnya senang. “Berkatku?? Ini berkat usahamu sendiri. Aku kan hanya sebagai penontonmu.” candaku.

“Kamu akan datang kan??” tanyanya, menatapku lekat.

Aku mengangguk mantap. “Tentu saja aku akan datang, rugi sekali kalau aku sampai tidak datang menonton sahabatku tampil.”

“Baguslah. Kalau begitu sebagai permohonan maaf karena sudah telat, aku akan mentraktirmu.”

“Jeongmal…?Wah~itu yang kutunggu dari tadi.” Kuambil buku menu dan mulai memilih makanan.

——————–

Aku menatap bayanganku di cermin, memastikan penampilanku sekali lagi. Malam ini adalah penampilan perdana bagi Kim bum. Entah kenapa, aku ingin sekali tampil istimewa dihadapannya. “Wah….cantiknya..” Aku menoleh dan mendapati Ye jin ahjumma berdiri di depan pintu, menatapku penuh sayang.

“Tapi masih kalah dengan ahjumma.” candaku sambil tertawa. Ahjumma mendekat dan memelukku erat. “Ahjumma senang akhirnya melihatmu bisa tertawa seperti ini. Rasanya sudah lama sekali tidak melihatmu tertawa seperti sekarang ini.”

Aku membalas pelukan ahjumma. “Sekarang aku akan terus tertawa ahjumma. Tenang saja.” kataku sambil tersenyum. “Sekarang aku akan pergi.” Kulepaskan pelukanku dan berjalan menuju pintu, tapi tiba-tiba badanku limbung. Kepalaku pusing.

“So eun… Gwenchana??” tanya ahjumma dengan nada khawatir. Aku menegakkan badanku, berusaha menghilangkan rasa pusingku. “Ne..gwenchana ahjumma. Sepertinya aku butuh ke kamar mandi.” Dengan cepat aku berjalan ke kamar mandi. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dihidungku.

Jangan sekarang, ku mohon jangan sekarang. Aku ingin melihatnya tampil di tempat yang paling diinginkannya. Aku ingin menyemangatinya, ku umohon beri aku kekuatan.

Kuseka darah yang mengalir dihidungku dan meminum obatku. Bertahanlah So eun!! Ucapku semangat.

Pusingku sudah berkurang dan darah sudah tidak mengalir lagi. Kuambil nafas dalam dan berjalan keluar kamar mandi. Ahjumma berdiri di depan pintu kamar mandi, menatapku khawatir. “Aku baik-baik saja ahjumma. Lebih baik aku pergi sekarang, sudah hampir telat.” kataku sepat sebelum ahjumma berkata apapun. Kucium pipi ahjumma sekilas dan pergi menuju stadion seoul.

Tempat itu sudah ramai. Rata-rata para gadis yang datang. Aku menyerahkan tiket dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Ternyata dia memberikanku tiket VIP, tempat duduk paling strategis.

Musik dimulai dan Kim bum keluar. Kim bum tampak mempesona di atas panggung. Dia tampak bersinar ketika menyanyi. Semua orang berteriak memanggil namanya, begitu juga aku. Bum, impianmu hampir menjadi kenyataan, sebentar lagi kamu pasti bisa memperdengarkan suaramu pada dunia. ” seru ku..

Acara sudah selesai, tapi aku tidak beranjak dari kursi. Mataku masih menatap panggung yang kosong. Aku ingin mendengarnya bernyanyi sekali lagi. “Ternyata benar kamu masih disini.” Aku menoleh dan mendapati kim bum berdiri di belakangku. “Melamun lagi ya, aku yakin pasti kamu masih di sini. Bagaimana penampilanku??” tanyanya dengan bersemangat, matanya menatapku penasaran.

“Hmm..gimana ya??” Aku memutar bola mata, pura-pura berpikir. Dia memanyunkan bibir cemberut, membuatku tertawa. “Kerennn… Kamu terlihat luar biasa.” kataku sambil tersenyum.

Dia tertawa lega. “Syukurlah kamu bilang begitu, bagiku lebih penting pendapatmu dibanding pendapat orang lain. Lain kali akan kupastikan kamu bahkan tidak bisa-berkata-kata karena penampilanku. Lihat saja.”

Lain kali?? Apa akan ada lain kali?? Apa masih ada waktu untukku?? Pikirku sedih…

Tanpa sadar aku menangis, aku menyadarinya. Tidak akan ada lain kali, yang ada hanyalah, apakah ini akan menjadi yang terakhir. Aku bahkan tidak tau kapan kesempatan terakhirku untuk bertemu dengannya lagi

“Waeyo?? Apa aku melakukan hal yang salah?? Jangan menangis. Kumohon.” Bisiknya lembut, membuatku semakin sedih. Jangan seperti ini bum. Jangan terlalu lembut padaku, jangan membuatku tidak rela meninggalkan dunia ini. Jangan membuatku lemah. Jangan membuat perasaan ini semakin menyiksaku. Batinku..

Dan tiba-tiba saja… Degg,,,dia mencium bibirku lembut, membuat tangisku berhenti. Aku hanya diam, merasa kaget dengan ciuman itu.

Kim bum melepaskan ciumannya, menatapku lembut. “Saranghae Kim So Eun”, aku  selalu ingin mengatakannya, tapi aku takut. Aku takut kamu akan menolakku, aku tau kamu hanya menganggapku sebagai sahabatmu, tapi aku tidak tahan lagi. Aku merasa kamu begitu jauh. Aku takut suatu saat kamu akan menghilang dari hadapanku. Maukah kamu menjadi pacarku??” katanya lembut, menggenggam tanganku.

Aku tercengang mendengar perkataanya, aku tidak percaya dengan pendengaranku. Apa yang dia bilang?? Dia mencintaiku?? Aku tidak bisa, aku tidak bisa menerimanya, aku tidak pantas menerima cintanya. Tapi… aku juga sangat mencintainya. Tanpa berpikir, aku pun mengangguk.

“Gomawo So eun.” Dipeluknya tubuhku erat, senyum bahagia muncul di bibirnya.

Tuhan, aku sudah jatuh cinta pada makhluk ciptaanMu yang paling sempurna ini. Makhluk tampan yang telah membuatku merasa memiliki harapan. Tapi bolehkan ini?? Bolehkah aku mencintainya?? Pantaskah aku memilikinya?? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku.

———————–

Setelah penampilan perdananya di seoul voice, kim bum mendapat banyak tawaran tampil di berbagai acara. Meskipun dia sangat sibuk, dia selalu meluangkan waktunya untukku. Dia selalu membuatku merasa bahwa aku adalah yang paling berarti untunya. Itu membuatku sangat bahagia.

Hari ini adalah genap 4 bulan kami berpacaran. Kami berjanji untuk bertemu di kafe tempat kami biasa bertemu. Dia ingin memberikan kado spesial untukku.

“Anda yang bernama So eun??” Aku mendongak dan mendapati seorang ahjussi yang tidak kukenal berdiri di hadapanku. Aku menatapnya bingung. Siapa ahjussi ini?? Tanyaku dalam hati.

“Kenalkan nama saya kim joon. Saya adalah manager kimbum.” Ahjussi itu mengulurkan tangannya.

Aku menjabat tangannya. “Ah ne.. saya So eun. Ada apa memangnya?? Apa kim bum baik-baik saja??”. Apa terjadi sesuatu dengannya?? Tanyaku panik.

“Kim bum tidak apa-apa, anda tenang saja.” kata ahjussi itu, tersenyum menenangkanku. “Saya ingin meminta bantuan dari anda.”

“Bantuan??” tanya ku.

“Saya tau mungkin ini terdengar kasar. Tapi saya mohon berpisahlah dengan kim bum. Saat ini dia sedang menanjak dan banyak tawaran yang datang untuknya. Jika saat ini dia diketahui punya pacar pasti ketenarannya akan turun, apalagi jika pers tau bahwa pacar kim bum mengidap kanker stadium akhir.”

Aku membeku. Darimana dia tau?? “Apa kim bum…”

“Tenang saja agasshi, kim bum  tidak tau sama sekali tentang penyakit anda. Saya minta tolong pikirkan permintaan saya. Saat ini anda yang paling tau betapa berusahanya kim bum meraih mimpinya dan saya yakin anda tidak ingin menghancurkannya. Pilihan ada di tangan anda agasshi. Saya permisi.” Ahjussi itu berdiri dan segera pergi dari hadapanku.

Aku hanya diam, menatap kosong pemandangan di hadapanku. Apa yang harus kulakukan?? Impian kim bum adalah impianku juga. Aku tidak bisa merusaknya. Aku sangat mencintainya, tapi cintaku ini tidak lebih berarti dari impiannya. Impian itu adalah seluruh hidupnya.

Aku berdiri dan berjalan kembali ke rumah. Perasaanku begitu kosong dan hampa, tapi aku tau ini adalah yang terbaik. Aku harus melepaskannya.

Hal yang terakhir kuingat adalah kepalaku sangat pusing seakan mau pecah. Pandanganku mengabur dan aku tidak ingat apapun lagi.

——————

Aku membuka mata sedikit. Tampak Nam gil ahjussi sedang berbicara dengan dokter joon, dokter yang dulu merawatku.

“Bagaimana keadaan So Eun??”

“Dia sangat lemah hyung. Jika tidak segera melakukan kemoterapi, hidupnya tidak akan lama lagi.”

“Aku tau..tapi dia selalu menolak. Aku tidak tahan melihatnya menderita seperti itu joon. So eun sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak ingin kehilangannya.” kata ahjussi putus asa. Air mata mengalir, membasahi pipinya.

Aku ingin bangun dan memeluk ahjussi, tapi badanku begitu lemah. Aku tidak bisa bergerak.

Tuhan, bolehkah jika aku egois?? Aku tidak ingin mati. Aku ingin hidup, aku ingin hidup normal bersama ahjussi dan ahjumma. Aku ingin melihat kim bum menggapai impiannya. Aku tau ini egois, tapi aku tidak ingin kehilangan semua ini. Apakah masih ada harapan untukku Tuhan?? Batinku .

“Ahjussi..” bisikku lirih. Ahjussi menoleh dan mendekat ke arahku senang. “Syukurlah kamu sudah sadar. Ada apa So eun??”

“Aku ingin mengikuti kemoterapi ahjussi.”

Ahjussi menatapku tidak percaya. Matanya berkaca-kaca dan memelukku erat. “ Jeongmalyo..? Kamu pasti sembuh So eun..pasti sembuh.. ” katanya pelan berulang-ulang.

——————-

Hari ini memasuki bulan ke 3 aku menjalani kemoterapi. Aku tidak pernah bertemu lagi dengan kim bum. Aku mengganti no handphoneku dan melarang ahjumma mengatakan apapun padanya. Aku rindu. Aku sangat merindukannya, aku ingin melihatnya, memeluknya, dan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Kata yang belum pernah kuucapkan untuknya hingga saat ini. Tapi aku tau, aku tidak bisa melakukannya, apa dia mau bertemu denganku jika melihatku yang sekarang?? Sejak menjalani kemoterapi, rambutku mulai rontok dan badanku mulai mengurus. Aku tidak ingin dia melihatku seperti ini, dia pasti akan sangat jijik. Aku tidak ingin memperlihatkan diriku yang seperti ini padanya..

Ahjussi dan ahjumma selalu berusaha menghiburku. Mereka datang setiap hari ke rumah sakit dan menemaniku mengobrol, berusaha membuatku yakin bahwa aku akan sembuh. Tapi aku tau itu semua bohong, aku sudah terlalu terlambat menjalankan kemoterapi dan saat ini yang terus membuatku hidup hanya kemoterapi ini.

“Ini dia vokalis dari Bummie band *ngarang abiz*  yang telah berhasil go internasional. Kim Sang Bum.”, aku menatap sosok kim bum yang ada di tv, dia terlihat sangat tampan.

“Bum.. Bagaimana perasaan anda saat ini, akhirnya anda berhasil tampil di amerika??”

“Tentu saja aku sangat bahagia. Mimpiku untuk memperdengarkan suaraku ke seluruh dunia sudah hampir tercapai.”Kim bum tampak tertawa bahagia. Akhirnya mimpimu hampir tercapai bum. Aku ikut bahagia.” ucap ku menitikkan air mata.

“Ah…kabarnya anda sedang dekat dengan salah satu artis terkenal (maksudnya tante jin hye). Benarkah itu??”

“Itu hanya gosip. Saat ini aku sudah mempunyai seseorang yang sangat berarti untukku.” kata kim bum mantap sambil menunjukkan cincin liontin yang ada di lehernya.

”Kalung itu?? Batinku.

“Apakah gadis itu bukan dari kalangan artis?? Kenapa tidak pernah dipublikasikan??”

“Saat ini aku sedang menunggunya untuk kembali.” kata kim bum tegas. Kim bum mendongak dan menatap layar tv dengan mantap. “Percayalah padaku, aku akan selalu menunggumu. Aku masih memegang janjiku.” Dia tersenyum dan segera berjalan pergi, meninggalkan para wartawan yang tampak penasaran.

Aku hanya diam, menutup mulutku dengan tangan. Tangisku pecah seketika. dia masih menyimpannya. Dia masih menyimpan kalung itu sekaligus janji kami.

 

 

_flashback_

“Ini..” kim bum menyerahkan sebuah kalung padaku.

Aku menatapnya bingung “Apa ini??”

“Ini cincin liontin untukmu. Di cincin itu ada namaku. Sedangkan milikku ada tulisan namamu.” Kim bum memasangkan kalung itu ke leherku ketika dilihatnya aku hanya diam. “Suatu saat nanti, jika aku berhasil go internasional akan kutunjukkan kalung ini ke seluruh dunia supaya mereka tau bahwa kamu adalah gadisku.”

Aku mendongak, menatapnya tidak percaya. “Jangan seperti itu bum. Kalau para penggemarmu tau bagaimana??” tanya ku ragu.

“Aku tidak peduli. Selama ini kamu hanya diam jika melihatku digosipkan dengan salah satu artis, tapi kali ini jujurlah padaku. Apa kamu suka jika melihatku digosipkan dengan mereka??”

Aku memalingkan wajah. Dia menghela nafas, memutar wajahku menghadapnya. “Aku tidak akan lagi membuatmu gelisah. Kali ini peganglah janjiku. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun dan jika saatnya tiba akan kuberitahukan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah gadisku.” Kim bum  memeluku erat.

_End Flashback_

 

 

Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Melihatnya secara langsung. Aku ingin bertemu denganmu Bum. Ucap ku dalam tangis

——————–

“Saat ini cafe tempat Bummie band mengadakan jumpa fans sudah penuh sesak dengan para bummies.” Aku menatap layar tv dengan serius. Hari ini Bummie band mengadakan jumpa fans di dekat rumah sakit tempatku dirawat. Tempatnya tidak begitu jauh, hanya 10 menit untuk berjalan sampai tempat itu.

Aku ingin pergi ke tempat itu. Aku ingin bertemu kim bum, aku ingin melihat wajahnya secara langsung. Aku sangat merindukannya, tapi… hari ini jadwalku untuk menjalani kemoterapi. Sekali saja aku tidak mengikuti kemoterapi maka keadaanku akan sangat memburuk. Ottokhae??

Akhirnya kuputuskan untuk kabur dari rumah sakit. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku nantinya. Saat ini aku hanya ingin bertemu dengannya. Mungkin inilah kesempatan terakhirku, aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini.

Kuambil salah satu jaket milik ahjussi dan mengenakannya. Kututupi rambutku dengan sebuah topi dan kacamata yang entah milik siapa. Dengan perlahan aku membuka pintu kamarku dan berjalan keluar, memastikan tidak ada yang mengenaliku.

Setelah berhasil keluar dari rumah sakit, aku segera berlari menuju tempat itu. Cafe itu penuh dengan para gadis yang tampak memakai berbagai aksesoris bertuliskan ”사랑해 김범”. Mereka tampak cantik dengan pakaian yang mereka kenakan, berbeda sekali denganku, beerada di antara mereka membuatku menyadari siapa diriku sebenarnya. Mana mungkin seorang gadis biasa yang menderita kanker, bisa serasi berdampingan dengan seorang Kim Sang Bum

Aku ikut mengantri untuk meminta tandatangan. Aku melirik ke arah kim bum. Wajahnya tampak bahagia ketika memberi tandatangan pada cd bummie band dan bersalaman pada para bummies Aku lega dia terlihat baik-baik saja, dia kelihatan sangat menikmati pekerjaannya.

Akhirnya giliranku tiba untuk meminta tandatangan kim bum. Ini pertamakalinya aku melihatnya sejak 3 bulan yang lalu. Dia terlihat lebih dewasa dan tampan. Seulas senyum tidak lepas dari bibirnya. “Harus kutulis untuk siapa??” tanyanya lembut, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ah…ne,,tulis untuk BumSangeun saja…” jawabku lirih, menahan keinginanku untuk menangis. Nama itu adalah gabungan namaku dengan kim bum. Kim sang bum dan Kim so eun. Apa dia masih ingat??

Kim bum mengerjapkan matanya, tangannya berhenti menulis. “Apa itu namamu??” tanyanya curiga.

Aku menunduk, menyembunyikan wajahku. “A…ani,, itu nama sahabatku. Apa ada sesuatu dengan nama itu??”

“Aniyo…” gumamnya pelan sambil menandatangani cd bummie band dihadapannya. Ternyata dia memang tidak ingat, sebenarnya apa yang kuharapkan?? “Gomawo sudah datang ke sini.” Dia mengulurkan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Aku menatapnya ragu, akhirnya menjabat tangannya. Ini adalah kesempatan terakhirku bertemu dengannya. Dan tanpa ku duga sebelumnya

Crliiinggggg…….

Rantai kalungku putus tiba-tiba dan jatuh ke lantai. Kim bum menoleh ke lantai, matanya menatap kalung yang ada di lantai dengan kaget. Dengan cepat kuambil kalung itu dan berjalan pergi sebelum dia menyadarinya.

“So eun!!!” teriaknya keras, membuatku menghentikan langkahku. Dia memanggil namaku. Dia memanggilku, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengarnya memanggil namaku. Aku ingin berbalik dan memeluknya ketika sebuah pikiran menghantamku. Potongan percakapanku dengan manager kim bum terlintas dibenakku.

”Saat ini dia sedang menanjak dan banyak tawaran yang datang untuknya. Jika saat ini dia diketahui punya pacar pasti ketenarannya akan turun, apalagi jika pers tau bahwa pacar kyu mengidap kanker stadium akhir.”

Aku harus pergi. Aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku akan menghancurkan mimpinya. Mimpi yang menjadi seluruh hidupnya. Batinku

Kuambil nafas dalam dan berlari pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lagi menoleh ke belakang, aku tidak tau seberapa cepat aku berlari, aku hanya tau bahwa aku sudah ada di rumah sakit ketika kurasakan cairan hangat keluar dari hidungku dan pandanganku mulai mengabur. Kemudian semuanya terasa gelap.

———————

Tuhan, kenapa rasanya begitu menyakitkan?? Kenapa rasanya tidak rela harus berpisah dengannya?? Kenapa sekarang aku tidak ingin menerima takdirku?? Aku ingin hidup. Aku tidak ingin mati. Aku ingin bersama dengannya selama sisa hidupku. Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin berpisah dengannya.

“So eun..” bisik seseorang pelan di telingaku.

“Bangunlah.. jangan tinggalkan aku seperti ini.” kata seseorang lagi di telingaku. Suaranya bercampur dengan isak tangis. “Kumohon bangunlah…”

Suara itu… Aku tau siapa itu.. Aku ingin melihatnya. Kumohon biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali. Kumohon biarkan aku mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Kumohon berikan aku waktu sedikit lagi.

Kubuka mataku perlahan dengan susah payah. Dia berdiri di sampingku, menatapku dengan kesedihan yang mendalam. Air mata mengalir di pipinya. Kuulurkan tangan ke arahnya, menghapus air mata di pipinya. “Jangan menangis..” bisikku lirih.

Kim bum menggenggam tanganku erat, menatapku lekat. “Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu menderita kanker?? Kenapa kamu diam saja??” tanya nya masih terisak.

“Aku takut. Aku takut kamu meninggalkanku jika aku memberitahumu tentang penyakitku. Aku takut kehilanganmu.” bisikku. Air mata membasahi pipiku.

“Apa kamu tidak percaya padaku?? Aku sangat mencintaimu. Bahkan meskipun kamu menderita kanker sekalipun. Aku akan selalu mencintaimu. Lalu kenapa kamu pergi tiba-tiba?? Apa kamu tau betapa aku menderita hanya karena memikirkanmu?? Aku hampir gila karena mencarimu.”

Aku mengigit bibir, mencoba menahan rasa sakit yang semakin menghantamku. Jangan sekarang. Tuhan, Beri aku kesempatan mengatakan kepadanya. Beri aku kesempatan menjelaskan semuanya.

“Aku menyadarinya Bum, aku tidak pantas untukmu. Aku hanyalah seorang gadis yang hidupnya tidak lama lagi. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Aku tidak ingin menghancurkan mimpimu. Aku akan mati bum.” kataku tercekat dalam tangis ku

Dia menggelengkan kepalanya marah. “Jangan bilang seperti itu. Aku tidak membutuhkan apapun selain kamu. Kamu adalah segalanya dalam hidupku, kamu akan sembuh….”

Aku batuk hebat dan kepalaku terasa sangat sakit, seakan akan pecah.  Kurasakan darah di mulutku. “So eun…… nam gil ahjussi!!! So eun.” teriak kim bum panik.

Kegaduhan terjadi di sekelilingku, membuat rasa pusingku semakin menjadi-jadi. Kulihat kim bum tampak menangis dan mentapku dengan sedih. Aku harus mengatakannya. Hanya sekaranglah kesempatanku. “ Bum..” bisikku lirih. Dia mendekat ke arahku, matanya menatapku sedih.

“Saranghae bum..aku sangat mencintaimu bum. Jangan menangis lagi.” bisikku pelan, menghapus air mata di pipinya.

Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang Engkau berikan padaku untuk mengenalnya?? Terimakasih telah memberikan cinta di akhir hidupku. Terimakasih atas hidup yang Engkau berikan kepadaku hingga saat ini.

Tuhan, dialah cinta pertama dan terakhirku. Berikanlah dia kebahagiaan di setiap perjalanannya. Buatlah dia selalu tersenyum. Kumohon jagalah dia Tuhan karena cintaku untuknya tidak pernah berhenti sampai kapanpun.

Pandanganku mengabur dan semuanya menghilang.

 

 

 

2 tahun kemudian      ( 6-september-2010)

” So eun cepat… kamu mau kita terlambat di hari penting ini.??”, Tanya  Ye jin ahjumma yang sedang melihatku di depan carmin, dengan menggunakan gaun pernikahan yang sangat indah.

“ Ne,, ahjumma!!”, ucapku lalu pergi menuju mobil ahjussi.

Yah,, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi ku, bagaimana tidak,, hari ini adalah hari dimana aku akan melangsungkan pernikahanku dengan kim bum. Memang sulit dipercaya, aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang dari penyakit yang hampir memisahkanku dengan kim bum untuk selamanya….ini semua berkat keajaiban cinta yang Tuhan berikan pada ku dan kim bum.

 

 

_Flashback_

 

2  tahun yang lalu saat aku pingsan, aku sempat koma beberapa bulan,, dalam koma ku,, aku bermimmpi bertemu dengan amma dan appa… itu semua seperi nyata,, apakah  Tuhan sudah mengambil nyawaku?…. Saat itu juga,, aku melihat secercah cahaya yang sangat terang yang menyilaukanku… aku pun menghampiri sumber cahaya itu,,, dan seketika aku merasa ditarik oleh cahaya itu…. Setelah beberapa menit,, aku sudah mendapati diriku sedang terkulai lemah di atas ranjang tempatku di rawat,,, aku melihat sekeliling ku,,,dan aku melihat,, seseorang yang selama ini menjadi penyemangat hidupku,,,tertidur lelap seraya memegang tanganku erat. Aku pun memanggilnya,,, dan dia pun terbangun dari tidurnya, dia sangat terkaget-kaget melihatku sadar dari koma ku yang cukup lama.

“ So eun….!! So eun.. kamu sudah sadar..? tanyanya lalu memelukku erat.

”Ne Bum aku sudah sadar.. jawabku pelan. Dia pun melepaskan pelukannya

” Terima kasih Tuhan,,, engaku telah kembalikan So eun pada ku,,,” ucapnya bersyukur atas semua keajaiban ini. Akupun tersenyum manis menatap kebahagian yang muncul dari matanya.

Dengan cepat, kim bum memanggil Nam gil ahjussi untuk memeriksa keadaanku. Dengan wajah yang tak percaya,, Nam gil ahjussi,,, mengatakan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya, bahkan ahjussi sendiri tak percaya dengan apa yang di katakan,,, kalau penyakit kanker ku sembuh total. Betapa bahagianya aku mendengar pernyataan nam gil ahjussi yang menyatakan kalau aku sudah sembuh dari penyakit kanker yang telah aku derita 2 tahun ini. Ahjussi pun memelukku dalam tangisnya. Aku melihat kim bum yang tersenyum lebar menatapku dengan tatapan bahagianya…

Setelah aku keluar dari rumah sakit dan tenaga ku sudah pulih kembali,,, aku pun di kejutkan dengan lamaran kim bum yang tiba-tiba.. tanpa berpikir akupun menerima lamarannya. Dan tanggal pernikah kamipun sudah di tetapkan, yaitu tahun depan tepat pada hari ulang tahunku.

_End Flashback_

 


Setelah sampai di gereja tempat pelaminanku dengan kim bum,, aku yang di dampingi Nam gil ahjussipun menuju altar, tempat aku dan kim bum mengikrarkan janji suci pernikahan.. aku pun berada di depan kim bum, kemudian kim bum pun meraih tanganku untuk mengucapkan janji di depan pastur dan di hadapan Tuhan. Kami pun telah resmi menjadi suami istri. Perlahan kim bum mendekatkan wajahnya ke wajahku, semakin dekat….dan dia pun mencium bibir ku dengan lembut,,,, semua orang di dalam gereja pun bersorak, dan bertepuk tangan untuk kami.. tak lupa pula, dengan para fans kim bum yang tak kalah hebohnya.

Indahnya cinta kadang membuat kita lupa,

Lupa apa yang sebenernya kita rasakan

Cinta membuat hari kita bahagia

Cinta membuat hidup kita lebih indah

Cinta membuat kita semangat untuk menjalani hidup

Namun

Cinta bisa membuat kita terluka

Kadang cinta menghanyutkan

Cinta memang tak harus memiliki

Cinta sejati bisa kita temukan dimana saja

Abadinya cinta sejati tergantung kita yang melawatinya.!!

 

The_End

mian kalau aneh…..!! gimana bagus kah atau jelekkah… kepanjangan ya..?? hahaha

di tunngu kritik dan sarannya..!! 고마 워요.. J

Tags: , , ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

22 responses to “[edited] My Love Never Die (one shoot)”

  1. NirMa skkha buMmie says :

    Wagh…bguz”aqhu ska bnget..bkin nngiz..crtax buat trhru…lnjutkan dgn krya yg bru..

  2. eka caiiank Bumsso says :

    ahhh,
    cerita.a sedih aq sampe nangis:(
    cerita.a bguz kox!!!

  3. Sary aj0w says :

    Wah dikaw sukses bwt Q crying in de m0rning..mane t4ku lg rainfall..swasana mdukung,waw tp tyta hepi ending..haha lanjudkan an0ther st0ry!

  4. dini ramadhani says :

    sedih bgd ya?tp tetep happy ending
    ceritanya mengharukan
    wat author,jempol saiia utk Anda

  5. Nindy_Bumsso_Ever says :

    Uuh…
    Kirain KSE.a bnran died, eh, rpanya mlah smbuh ttal…
    Hehe… Btw, kren, uy!!
    Klo dbkin chapter n dtmbah tkoh2.a, psti tmbah sru…
    Anyway, aplause and 4 tumbs for author *silakan iris jmpol2.a mates jha, jgn saiiaa…. :p*!!
    Plokplokplokplok!!!

  6. ryniandicha says :

    HUAAAAAAAAAAAAA cerita ryni g suka !!! ryni g suka karna bikin mewek beneran..T.T
    huhuhuhuh
    so sweet,,,
    thanks ffnya nui..keren
    INI BARU KEREN !

  7. Rizki Amalia says :

    Top! Sangat… mengharukan dan menyenangkan membacanya…🙂

  8. Yunie sipenyuka hijau says :

    Menguras emosi,baca.a tarik nafas trus.sdih bgt trnyata cinta tak bersyarat yg dberkan bum bwt so eun.TRUE LOVE NEVER DIES.KEREN MaNSAE ❤

  9. puchaabyzone says :

    annyong authorrrrr……..

    wuaaaaaaa ceritanya bener2 menguras emosi,,untung endingnya soeun ngk meninggal kalo sampe meninggal bisa2 aq nangis sampe 10 ember T____T
    bagus….bagus….storylinenya
    gud job q^^p
    ayo di tunggu karya2nya yang lain…

    kamsahamnida
    _bow_

  10. ceakhun_signal says :

    aigo…, udah hampir mewek beneran ini…
    untung happy ending…
    tapi kok bisa sembuh total???, cebet banget…
    aku pikir tadi bakal sembuh gra2 semangat pengobatan…
    hem…

  11. gi_cha"SoEulmate" says :

    Suuuuuuuukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangetz….. Aq harap kim bum sm so eun beneran nikah nantinya…
    hehehehehe……

  12. Bummiearab says :

    Akuuu
    terharu nangis bombai gini jadinya
    hayoooo
    author na harus tanggung jawabbbb !!
    Sediakan ember..

    . Aku suka kesetiaan bumpa ama eun. So sweet bgt dech..

    Keren.
    Mantabb bgt dech nie ff..
    Ku kasih 4 jempol manis kku tuk mu thor
    hokokokok😀

  13. annisa says :

    terharu bacax

  14. imi says :

    kereeeeennn abis…
    sukses berat bkin aQ nangis bombay…
    ditunggu krya2 berikutnya.

  15. VinsaQ says :

    keren banget Authorrr!!!❤ ditunggu karya berikutnyaaa!:D

  16. man says :

    keren kekuatan cinta dan pertolongan Tuhan yang selalu sempurna dalam hidup setiap manusia, karna Dia mencintai kita semua…

  17. serly says :

    Endingny keren.. Bnr keajaiban

  18. chandra bulan says :

    aq cuman bisa bilang….
    ”baguuuuuuuuuus……”
    ”sukaaaaaaaaaaaaaaa…”
    Ditunggu krya lain’nya y,,,, fightiiiiiiing!!!!

  19. manda saranghe kimbum says :

    .syediiih mndgr so eun mengidam penyakit,,quwd terharu dg kim bum mnrma so eun ap ad’y . .

  20. Mia says :

    Begitu besar keajaiban yg di ciptakan cinta itu sendiri

  21. arestha says :

    . Keren thor..lanjut..

  22. Diena says :

    Sedih banget…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: