Soulmate (one shoot)

Author : Nuri “Bumsso”

Casts : – Kim So Eun – Kim Bum

Genre : Romantic

Type   : One-Shoot

 

Annyeong eonni, chingu and all mates…^_^ , aku kembali lagi dengan oneshot ke dua aku. Semoga kalian semua senang bacanya  and jangan lupa coment ya ^.^ *kritik dan saran di tunggu*.!!!

 

Let’s Chek it out..!!! Happy reading.!!!

 

 

SOULMATE

Tuhan… jika jantung ku masih berdetak

Izinkan aku berjalan dilorong-lorong kehidupanMu bersama cintaku

Tuhan… jika jantung ku masih berdetak

Pertemukanlah aku dengan belahan jiwaku yang telah kau pilihkan untukku

Tuhan… jika jantung ku masih berdetak

Izinkan aku selalu bersama dengan belahan jiwaku untuk selamanya.

 

 

Musim semi adalah musim favoritku. Pada musim semi, kita bisa melihat bunga-bunga bermekaran, hewan-hewan keluar dari persembunyian, dan lain-lain.
Hari ini adalah hari pertama musim semi. Namun kenapa sih di hari pertama musim yang berbahagia ini harus dibuka dengan kesialan…?
“Ah, hari ini naik kereta lagi…” keluhku. “Kenapa sih pak lee pulang kampung, jadinya aku harus naik kereta kan.”
“Memangnya tidak ada yang menggantikannya, So eun-ah?” tanya Ji yeon yang sedang berjalan di sampingku.
“Tidak ada… Kau tahu kan oppaku si Kim Jung itu tidak bisa menyetir…”
“Kenapa tidak sewa supir lain saja?” Ji yeon bertanya lagi. Lama-lama aku mulai malas menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang tidak penting itu.
“Tidak ada yang sempat pergi untuk mencarinya, lagipula appa dan oemmaku sibuk…” jawabku lemas. Tiba-tiba klakson mobil berbunyi. Pasti mobil Ji yeon.
“So eun-ah, aku sudah dijemput, sampai ketemu besok yaa!” Ji yeon berlari sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku hanya balas melambai dengan lemas.
Setelah Ji yeon pulang, aku jadi semakin lemas. Sambil berjalan menuju stasiun, kukeluarkan earphone-ku dari tas. Aku mulai memutar sebuah lagu…

Nuguboda meonjeo chatgosipeosseo
Olgeotman gatdeon geu nundongja moksoriga
Anajugo sipeun maeumman deureo
Geuriwoseo bogosipeo geudael bureumyeon
Sesang eodideun geudaengeollyo
Dasi geudael bulleo bomnida
Na ireoke geudaeraseo
Saranghaneun geudaeraseo
Jigeum geudael mannareo gamnida
Naege nunmulboda gipeun sarang
Allyeojun geudae

Tanpa terasa aku sudah sampai di stasiun. Aku segera membeli tiket dan menunggu di peron stasiun.
“Kereta tujuan Daegu akan segera tiba…” Petugas stasiun mengingatkan para penumpang untuk bersiap-siap
Aku beranjak dari bangku dan berjalan ke dekat rel. Rumahku memang jauh, di Daegu. Tapi appaku menyekolahkanku di Seoul agar aku bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Kereta telah tiba. Kadang aku aneh dengan kereta. Mengapa kalau kita berada di dalam kereta, rasanya kereta lambat sekali. Sementara kalau kita melihatnya dari luar, ternyata kereta melaju dengan sangat cepat.
Sebenarnya aku suka sekali naik kereta. Kalau kita naik kereta akan lebih cepat sampai. Selain itu aku suka sekali dengan angin yang dibuat kereta. Angin yang dibuat kereta sangat kencang dan bisa menerbangkan barang-barang. Aku suka melihat pemandangan sejenis ini, kertas-kertas beterbangan, diikuti dengan suara kereta yang melaju…
Akhirnya kereta berhenti. Aku melangkah masuk perlahan. Kereta hari ini sangat sepi. Sebenarnya dari kemarin juga sudah sepi. Aku tak tahu kenapa, padahal kan sekarang musim semi, pasti menyenangkan bisa naik kereta.
Aku mencari tempat duduk yang kosong. Sebenarnya yang lebih tepat bukan tempat duduk yang kosong, tapi tempat duduk yang nyaman, karena semua tempat duduk di sini semuanya kosong, hanya aku saja yang ada di sini.
Tiba-tiba seseorang melangkah masuk. Ah, untuk apa ada orang itu. Padahal aku sudah senang berada di sini sendirian. Kalau sendirian rasanya kereta ini milik sendiri.
Orang itu duduk tak begitu jauh dariku. Ternyata dia anak laki-laki. Sepertinya seumuran denganku. Dia memakai seragam sekolah dan memegang banyak buku.
Kereta mulai bergerak. Aku memandang keluar jendela dan melihat pemandangan di sana. Ah, indahnya… Aku menikmati pemandangan sambil mendengar lagu. Earphone-ku masih terpasang.

Gollanhaehalkka duryeopjiman
Dasi geudael bulleo bomnida
Na ireoke geudaeraseo
Saranghaneun geudaeraseo
Jigeum geudael mannareo gamnida
Naege nunmulboda gipeun sarang
Allyeojun geudae

Tiba-tiba seseorang menyenggolku. Ternyata anak itu. Ah, padahal lagunya sudah mau masuk ke reff. Untuk apa sih dia menyenggol-nyenggolku?
“Permisi…” kata anak itu.
“Hah? Apa yang kau katakan?” Aku yang masih memakai earphone tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“Aku bilang, permisi… bisakah kau mengambilkan pulpenku yang jatuh?” Dia berkata lagi. Namun aku masih saja tidak bisa mendengarnya dengan baik. Akhirnya aku melepas earphone-ku dan bertanya untuk ketiga kalinya.
“Apa yang ingin kau katakan tadi?”
Senyum dari muka anak itu tidak hilang sedikit pun. Padahal aku sudah membuatnya mengulang kata-katanya sampai tiga kali.
“Aku hanya ingin minta tolong padamu untuk mengambilkan pulpenku…” katanya lagi. Suaranya lembut sekali. Seperti suara malaikat.
Aku mencari-cari. Namun aku tak menemukan pulpen itu. Kurasa dia menyadari kalau aku tidak melihat pulpen itu dari raut wajahku yang kebingungan.
“Itu, ada di bawah kakimu…” Aku segera melihat ke bawah kakiku. Ternyata benar ada di sana. Aku segera memungutnya dan memberikan pulpen itu kepadanya.
“Gamsahamnida…” Dia mengatakannya sambil tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya. Setelah itu kami kembali duduk dalam hening.

——————-

 
Hari ini hari ke 7 aku akan naik kereta lagi. Tidak seperti biasanya, aku merasa lebih bersemangat karena aku tahu aku akan bertemu anak itu lagi. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya. Mungkin inilah yang disebut ”Cinta Pada Pandangan Pertama”. Ah, tapi itu tidak mungkin, mana mungkin orang bisa jatuh cinta kepada seseorang pada saat mereka bertemu pertama kali. Mustahil!
Aku melangkah maju mendekati rel. Kereta akan tiba sebentar lagi. Weezzz… Kereta akhirnya tiba. Aku masih berdiri menunggu keretanya berhenti sambil merasakan anginnya. Huaaaa sejuk sekali… gumamku

Saat kereta berhenti, aku segera melangkah masuk dan duduk di tempat yang sama lagi. Namun anak itu tidak ada. Semenit, dua menit, anak itu belum datang juga. Tibalah waktunya kereta berangkat. Kereta sudah bergerak sedikit. Tiba-tiba…
“Chakkaman! Chakkaman!” Seseorang berteriak dari luar. Aku menoleh ke luar lewat jendela. Anak itu. Senyuman kecil terbentuk di wajahku.
Anak itu berhasil naik ke kereta. Dia segera mengambil tempat duduk yang sama seperti sebelumnya. Dia tersenyum saat melihatku.
Hening. Tidak ada yang mulai berbicara. Ingin rasanya aku menyapanya tapi bibir ini tak bisa membuka. Aku merasa sangat gugup, sementara anak itu terlihat biasa-biasa saja. Ia terus membaca bukunya tanpa melihat keadaan di sekitarnya.
Sampai aku turun di stasiun pemberhentian, tidak ada di antara kami yang mengeluarkan sepatah kata pun. Saat kereta berhenti, anak itu langsung turun, sepertinya ia terburu-buru.
Aku juga sudah bersiap-siap untuk turun. Tiba-tiba aku melihat sesuatu di bangku kereta. Sebuah buku. Aku segera mengambilnya dan membaca nama pemiliknya yang ada di halaman paling depan. Kim Sang Bum. Jadi namanya Kim Sang Bum? Batinku.

—————

Hari ini adalah hari pertama musim panas. Libur akan tiba sebentar lagi. Sudah empat bulan, tapi Pak Lee, tidak pulang-pulang juga.*kayak bang toyib aja ga pulang-pulang* Makanya hari ini aku akan naik kereta lagi. Pulang sekolah aku segera menuju stasiun. Dari hari ke hari, aku merasa semakin bersemangat. Setelah kupikir-pikir, ternyata naik kereta itu asyik sekali . Kita bisa melihat semua pemandangan dari atas kereta. Mulai dari desa, kota, persawahan, perbukitan…
Buku anak itu masih kupegang. Buku Kim Bum lebih tepatnya. Hari ini aku berniat mengembalikannya. Saat aku melangkah masuk ke kereta, ternyata Kim Bum sudah duduk di sana. Ia tersenyum sebentar kepadaku dan melanjutkan membaca.
Aku duduk dan melepaskan sandangan tasku dari punggung. Aku diam saja. Tidak tahu mau mulai darimana. Padahal tadi niatnya aku mau mengembalikan buku Kim Bum
“Hey, darimana kau dapatkan buku itu?” Sebuah suara mengagetkanku. Ternyata suara anak itu. Aku menjadi semakin gugup.
“M-mma-maksudmu buku i-ini?” tanyaku dengan sedikit gagap. Tiba-tiba Kim Bum tersenyum.
“Kau kenapa jadi gugup seperti itu?” katanya ramah, tentu saja dengan senyuman khasnya itu.*bisa kebayang kan mates senyumnya oppa kayak gmna?* Hal itu membuat wajahku bersemu. “Apa itu bukumu?” Dia bertanya lagi.
“B-bukan, b-bbuku ini kutemukan di bangku kereta kemarin,” jawabku jujur. “Ap-apakah ini bukumu?” Aku menyodorkan buku itu kepadanya.
“Sepertinya iya,” katanya. Ia mulai membalik-balik halaman buku. “Iya, ini bukuku,” katanya tiba-tiba. “Gomawo sudah menyimpankannya untukku.” Dia tersenyum lagi.
“Apa kau suka sekali membaca buku?” Ahirnya aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
“Tentu saja, membaca itu sangat menyenangkan,” jawabnya. “Apa kau juga suka membaca buku?”
“Sebenarnya… aku tidak terlalu suka…” Aku menjawab dengan jujur. Dia kembali tersenyum.
“Semua orang selalu menganggap membaca buku itu adalah hal yang sangat membosankan. Tapi sebenarnya tidak… Buku memberi kita banyak pengetahuan baru. Pikiran kita menjadi lebih luas dan tidak tertutup terhadap hal-hal baru,” terangnya. “Apa kau mau mencoba membaca satu?”
“Ah, ani… Tidak usah. Lagipula aku tidak terlalu suka,” tolakku.
“Tidak apa, cobalah membaca buku ini. Buku ini keren sekali lho.” Ia menyodorkan buku yang kukembalikan tadi. Aku menatap buku itu dengan ragu-ragu.
“Mengapa kau terlihat ragu-ragu? Ayo, ambil saja buku ini,” katanya meyakinkan. “Ambil saja buku ini untukmu, aku sudah selesai membacanya kok.”
Akhirnya aku menerima pemberiannya. Ia tersenyum, lalu berkata, “Kalau kau sudah selesai membacanya, bilang padaku, agar kita bisa mendiskusikan buku ini.”
“Ah, ne… ne…” Aku hanya mengangguk seolah-olah mengerti.

Sebenarnya aku betul-betul tidak tertarik dengan buku. Apalagi buku setebal ini.
Kereta berhenti. Ternyata kami sudah sampai. Sebelum turun, anak itu berkata, “Sampai jumpa besok…” sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan membalas senyum malaikatnya itu.

————–
Hari-hari berlalu. Sudah tiga musim kami lewati bersama, musim semi, musim panas, musim gugur, di kereta itu. Aku jarang sekali berbicara dengan Kim Bum, jarang sekali. Bahkan Kim Bum saja belum pernah menanyakan namaku.
Setiap kami bertemu, ia selalu menanyakan apakah aku sudah membaca buku pemberiannya atau belum. Aku hanya menjawab, “Belum selesai,” padahal sejak dia memberikan buku itu padaku, aku tak pernah lagi menyentuhnya. Tapi Kim Bum tak pernah menyadari kebohonganku selama ini.
Aku melewati hari-hari yang menyenangkan bersama Kim Bum. Aku senang bisa berteman dengannya. Ia pintar sekali. Ia tahu semua hal. Ia bisa menjawab pertanyaan yang selama ini aku tak pernah mengetahui jawabannya, yaitu, mengapa kalau kita berada di dalam kereta, rasanya kereta lambat sekali, sementara kalau kita melihatnya dari luar, ternyata kereta melaju dengan sangat kencang. Kim Bum bisa menjawabnya.
“Itu disebut teori relativitas khusus yang dicetuskan oleh Einstein. Bagi orang yang berada di dalam kereta, orang itu akan melihat kereta jalannya cepat sekali, sementara orang yang berada di dalam akan merasa kereta berjalan dengan pelan karena kita melihat orang di sebelah kita hanya duduk dengan tenang, bahkan hampir tanpa bergerak. Itu karena waktu tidak mempunya nilai absolut… begitu pula dengan ruang…” *oppa pinter banget*
Selain itu Kim Bum juga sering bercerita tentang kisah-kisah yang sedikit aneh. Ia berkata bahwa musim gugur terjadi karena pohon-pohon takut daunnya akan dimakan oleh butiran salju, makanya pohon akan mengugurkan daunnya saat musim dingin akan segera tiba.

~Flashback~

“Hey, apa kau tahu?” kata Kim Bum.
“Tahu apa?” Aku balik bertanya.
“Kau tahu musim gugur terjadi karena pohon-pohon takut daunnya akan dimakan oleh butiran salju?”
“Ah, aneh-aneh saja kau ini. Itu bukan karena itu, tapi karena pohon-pohon melakukan adaptasi agar bisa bertahan hidup saat musim dingin tiba. Kau pikir aku babo sekali?”
“Tidak, aku serius… Dan apakah kau tahu kalau saat hari pertama musim dingin kau menemukan koin yang diciptakan sesuai dengan tahun lahirmu, pada akhir musim dingin itu kau akan menemukan belahan jiwamu?”
“Kurasa kau terlalu banyak membaca buku fiksi.” Aku menyindir. Sementara Kim Bum hanya tertawa.

~Flashback End~

————

Tanpa sadar musim gugur telah berlalu, dan sekarang sudah memasuki musim dingin. Aku benci musim dingin. Pada musim dingin, semua menjadi dingin dan aku harus memakai pakaian yang tebal-tebal. Aku jadi merasa seperti penguin saja.
Dan yang paling menyebalkannya lagi, aku harus tetap sekolah. Memang sekolahku itu disiplin sekali, sampai-sampai walaupun terjadi badai salju, sekolahku tidak akan memberi libur sedikit pun.*kejam*
Kemarin malam Pak Lee sudah pulang.*hahaha akhirnya bang toyib pulang juga..*LOL* Aku sangat senang dan bersyukur. Tapi aku merasa sedikit sedih juga, itu tandanya aku tidak akan bertemu dengan Kim Bum lagi…
“So eun-ah, ppali, Pak Lee sudah menunggu!” teriak oemma dari dapur.
“Ne, oemma. Ini aku baru mau berangkat. Aku berangkat dulu yaa!” Aku berlari masuk ke mobil. Mobil melaju dengan kencang.
Selama di mobil, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aneh karena tidak ada Kim Bum lagi di sampingku. Biasanya Kim Bum akan tersenyum padaku saat aku memasuki kereta. Yaa… walaupun kami tidak berbicara sedikit pun, setidaknya dia selalu tersenyum padaku. Senyumnya saja sudah cukup.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku sampai di sekolah. Sekolah masih sepi, belum banyak yang datang. Mungkin karena hari ini merupakan hari pertama musim dingin, jadi orang-orang masih belum terbiasa bangun di pagi hari yang sangat dingin seperti ini. Kalau aku sudah biasa bangun pagi. Setiap hari aku bangun pagi, karena Kim Bum juga bangun pagi. Kalau aku telat sebentar saja, aku tidak akan satu kereta lagi dengan Kim Bum.
Saat aku sedang berjalan, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang berkilauan di balik tumpukan salju. Apa itu? Batinku. Aku berjalan mendekati kilauan cahaya yang memantul-mantul itu. Sepertinya itu logam, atau jangan-jangan perak? Platinum? Aku berpikir yang aneh-aneh. Kusibakkan salju-salju yang menutupi benda berkilau itu.
“Koin?” Aku bingung. Aku segera membaca tahun pengeluaran koin tersebut. “1993?”
Tiba-tiba aku teringat tentang kata-kata Kim Bum. ”Kalau saat hari pertama musim dingin kau menemukan koin yang diciptakan sesuai dengan tahun lahirmu, pada akhir musimnya kau akan menemukan belahan jiwamu”.
Ah, ramalan macam apa itu… pikirku. Namun sebenarnya aku sedikit percaya juga dengan kata-kata Kim Bum. Bisa saja terjadi… Bila itu memang terjadi, aku harap orang itu adalah Kim Bum.

—————

Sudah satu minggu aku tidak naik kereta lagi. Namun entah kenapa aku ingin, ingin sekali naik kereta. Entah aku rindu dengan pemandangan dari kereta, suasana kereta, atau aku rindu dengan… dia.
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke stasiun. Tak lupa aku minta izin pada oemma. Untung oemma mengizinkanku. Aku berlari-lari ke stasiun. Walaupun hari ini dingin sekali, demi bertemu dia, aku akan melakukan apa saja. Walaupun begitu aku sampai di sana aku hanya akan melihat senyumannya, senyumannya yang seperti malaikat itu.
Aku berdiri di dekat rel dengan senyum di wajahku.

Aku sudah tidak sabar setelah seminggu tidak bertemu dengannya. Akhirnya kereta api itu tiba, aku kembali merasakan angin sejuk itu. Suasana di sini senyaman rumah sendiri…
Aku melangkah terburu-buru ke dalam kereta. Namun, mana senyuman itu? Mana Kim Bum? Mengapa dia tidak duduk di sana? Batinku
Aku menunggu dan menunggu. Namun Kim Bum tak kunjung datang sampai kereta berangkat. Kini aku sendirian di kereta yang dingin ini.
—————

Saat pulang sekolah, aku berniat untuk naik kereta lagi, manatahu Kim Bum akan menyambutku dengan senyuman di sana. Tapi tetap saja dia tidak ada. Tetap saja senyuman itu tidak ada. Mana Kim Bum? Ke mana dia? Kini aku bisa merasakan rindu yang amat sangat. Aku rindu suaranya, aku rindu heningnya suasana saat kami berada di kereta, aku rindu cerita-ceritanya yang aneh-aneh itu, bahkan aku rindu, sangat rindu, dengan senyumannya itu.
Namun selama apa pun kutunggu, ia tak kunjung datang. Apakah dia marah padaku karena hari itu aku tidak naik kereta selama seminggu? Apa iya? Pikiran ku mulai berkecamuk.

———–

 

 

Hari ini hari terakhir musim dingin. Tanpa terasa hari berlalu dengan cepat. Namun aku belum juga bertemu dengan Kim Bum. Hari-hariku menjadi kosong karena tidak ada Kim Bum. Selama Kim Bum tidak ada, aku membaca buku yang diberikannya hari itu. Ternyata Kim Bum benar, buku itu… sangat hebat, menakjubkan. Buku itu bercerita tentang seorang anak pendiam yang bertemu dengan pangerannya di sebuah kereta, dan pada akhirnya mereka menjadi sahabat.
Tunggu… bukannya itu aku? Gumamku.
Hari ini hari terakhir musim dingin. Aku masih ingat kata-kata Kim Bum hari itu, tentang koin, musim dingin, dan belahan jiwa. Aku harap itu benar-benar terjadi. Dan aku sangat sangat berharap, orang yang kutemui adalah Kim Bum.
Pagi hari ini aku naik kereta, namun Kim Bum tidak ada. Siang hari, juga tidak ada. Bahkan aku menunggu di peron sampai malam. Namun Kim Bum tetap saja tidak ada di sana.
Kau bohong, Bum-ah! Kau bohong! Aku meneriakkan kata-kata itu dalam hatiku. Kau bilang aku akan bertemu belahan jiwaku? Mana? Mana? Ternyata kau memang pembohong, Kim bum…
Aku berjalan meninggalkan peron dengan lesu. Kim bum, pembohong! Kata-kata itu terus saja muncul di benakku. Lagipula, kenapa sih aku bisa percaya dengan ceritanya itu? Aku tahu cerita itu semua ”GEOJISMAL ” . Seandainya aku tidak mempercayainya, pasti hatiku tidak sesakit ini.
Stasiun semakin jauh, dan aku terus berjalan. Kurasa kita tidak akan bertemu lagi Kim bum. Aku berjalan sambil menendang-nendang batu kerikil. Tiba-tiba aku tidak sengaja menendang batu kerikil dan mengenai kaki seseorang.
“So eun-ah…”
Aku berniat mendongak untuk melihat siapa yang datang. Aku berharap itu Kim bum. Ah, tak mungkin itu Kim bum. Kim bum kan tidak tahu namaku. Batinku
Aku melanjutkan berjalan dan bertingkah seolah tidak mendengar apa pun.

 

 

Tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku dari belakang.

“So eun-ah, apa kau tidak dengar aku?” kata orang itu lagi. “Mianhae, tapi aku terpaksa…”

Aku menoleh. Ternyata Kim bum. Aku kaget sekaligus senang. Tapi aku juga sedih, dan sedikit marah.
“Kau pembohong, Kim bum! Kau pembohong!! Kau bilang aku akan bertemu belahan jiwaku jika aku menemukan koin di hari pertama musim dingin! Tapi mana? Sekarang sudah hari pertama musim semi! Musim dingin sudah lewat satu menit yang lalu…” Aku berbicara sambil menangis. Kim bum hanya melihatku dengan tatapan kosong.
“Aku tahu, So eun-ah. Aku tahu.” Kim bum menjawab, masih dengan tatapan kosong.
Aku terisak. Aku menangis bukan karena Kim bum, tapi aku berpikir, kenapa aku bisa sebodoh ini? Percaya dengan ramalan seorang anak pembohong seperti dia.
“Jeongmal mianhae, waktu itu aku…” Kim bum berhenti sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya lagi. “Sebenarnya aku sudah pindah sekolah…”
Aku ternganga kaget.
“Dan aku juga pindah kota… Keluargaku pindah ke kota lain, dan aku harus ikut pergi ke sana.”
Hening sejenak, hanya terdengar isak tangisku.
“Namun, aku tahu, kau pasti menemukan koin itu… karena… akulah yang menaruh koin itu di sana…”
“Hari itu, hari pertama musim dingin itu, sebenarnya aku ingin… menyatakan perasaanku, dan… sekalian mengucapkan salam perpisahan… namun ternyata kau tidak naik kereta…”
Aku tersentak. Aku sadar, sebenarnya akulah yang salah. Aku yang duluan meninggalkan Kim bum, aku yang selama seminggu tidak naik kereta lagi…
“Aku yakin kau pasti menungguku di peron ini, So eun-ah…”
“Aku yakin kau pasti percaya dengan kata-kataku waktu itu…”
Kata-kata Kim bum kembali terngiang di telingaku. Apakah…
“Dan aku sengaja datang ke sini malam ini, untuk menemui belahan jiwaku ku yang sebenarnya…”

Belahan jiwa?
“Aku tahu aku salah telah meninggalkan belahan jiwaku itu, dan aku tahu aku juga terlambat untuk menemuinya… aku terlambat satu menit… aku tahu itu…”
“Hajiman… sampai kapan pun aku tak bisa melupakan belahan jiwaku itu. Dan kini aku berada di depannya. Kaulah belahan jiwaku, So eun-ah…”
Air mataku semakin deras mengalir. Jadi dia memaksa dirin datang jauh hanya untuk… membuktikan bahwa kata-katanya benar?
“Gomawo, Bum-ah…” Aku langsung memeluk Kim bum. Ia menerima pelukanku.
“Cheonmaneyo, So eun…”

————-

Malam itu, kami naik kereta bersama lagi. Di kereta yang sama, dan tempat duduk yang sama, persis seperti saat pertemuan pertama…
“Bum-ah…” Aku memulai pembicaraan. “Dari mana kau tahu namaku?”
Kim bum tersenyum, lalu menjawab, “Tentu saja aku pasti mengetahui namamu! Aku bahkan mengetahui nomor teleponmu! Kau tahu, saat kau ketiduran di kereta, aku sering diam-diam mengambil HP-mu untuk melihat nomor teleponmu!”
Aku dan Kim bum tertawa. Lalu Kim bum menambahkan, “Ini sudah satu tahun sejak pertemuan kita yang pertama, hari pertama di musim semi…”
Aku terdiam. Aku jadi teringat saat pertama kali aku bertemu Kim bum. Dia menjatuhkan pulpennya di dekat kakiku. Ingin tertawa aku jika mengingatnya.
“Kau tahu, So eun-ah?” kata Kim bum lagi.
“Mwo?”
“Kau tahu, katanya kalau kita menemukan koin dengan tanggal lahir kita pada hari terakhir musim semi, berarti orang yang pertama kali kau temui saat hari pertama musim semi itu adalah belahan jiwamu…”
Aku tersenyum. “Jadi kau akan menaruh koin lagi di sela-sela rerumputan di sekolahku?”
Aku dan Kim bum tertawa. Setelah itu kami hening sejenak. Kim bum tersenyum seperti biasa. Dan aku membalas senyumannya seperti biasa. Dan diapun mulai mendekatkan wajahnya ke arah ku, semakin dekat, dekat dan sekarang jarak antara kami sudah 3 cm, aku pun memejamkan mataku dan DEGG,, dia mencium bibirku dengan lembut aku pun membalasnya. Kami pun berciuman di dalam kereta tempat pertama kali kami bertemu.

”Tuhan terimakasih karena engkau telah mempertemukanku dengan SOULMATE ku”..

 

 

 

The End

 

 

 

Hahahaha,, gimana mates,,, gaje kan..? maklum baru belajar…^.^

Mian ,, kalau piku-pikunya kurang nyambung..!! mohon ktritik dan saran.!!!

감사함니다 ( Kamsahamnida)

 

Buka page Question & Answer apabila ada yang ingin ditanyakan
Buka dan isi data kalian di page
Mates untuk perkenalan dan berkenalan dengan mates/reader yang lain
Lihat page
How To Join untuk mengetahui bagaimana cara mengirim ff
Buka Library (
sequel or one shoot) untuk melihat ff yang sudah dipost
Buka
BUMSSO INDONESIA untuk mengetahui news terbaru dari Kim Bum dan Kim So Eun
Follow our new twitter
@bumssoindo dan mention saja bila ada yang ingin kalian tanyakan (usahakan untuk tidak menanyakan masalah privasi Kim Bum dan Kim So Eun ^^) *fans Korea sangat menjaga privasi artis mereka*
Like Kim Bum dan Kim So Eun fanbase on facebook
BUMSSO INDONESIA

P.S.: please…… no bashing, no spaming, no hotlink !! ^^

 


NB: JANGAN COPY-PASTE FF YANG ADA DI SINI TANPA SEIZIN AUTHOR DAN ADMIN DI SINI… APALAGI SAMPAI TIDAK MENCANTUMKAN NAMA AUTHOR DAN SUMBERNYA

Tags: ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

28 responses to “Soulmate (one shoot)”

  1. Anna says :

    So sweeetttt kereeennn love in train very good !!!

  2. merli bumssosangeun says :

    Hwaaa So Sweet Banget Saeng , hahaha aku ngakak waktu kim bum bilang dia yang taro koinnya dan melihat nope soeun diam-diam gokil banget ya dasar kim bum genius .

    ditunggu loh karya berikutnya kekeke

  3. Chandra Syifa W says :

    Romantic bgt !
    Wkt aq baca,aq slalu senyum” sndri. Pgn ktwa wkt trnyt kim bum yg sengaja bkin kjadian kya gtu..
    Kren

  4. Ina BeQi Soeulmates says :

    kyaaaaaaaaa…..
    KEEERREEEEENNN KEEERRRREEEENNNNNN……..
    kereta jadi saksi cinta bumsso..
    *tsaaaaaaahh*
    haha..
    sukaaaaaa sukaaaa….
    klimat pembuka’a so sweeeet^^

  5. Chiby says :

    Uapik. . .

  6. Ina BumsSo says :

    So cweet bgt,,,
    kren…

  7. Afrida says :

    Kren bgt, tpi wktu aku bca bgian yg dia liat hp so eun diem2 aku jdi kpkran! Untung aja kim bum oppa g d triakin copet (abaikan)
    dtnggu krya yg lbh kren lg!😉

  8. 라미 'Rahmi' says :

    whoaaaaaaaaaaaaaa
    berarti sama2 cinta pd pandangan pertama
    ahahahahahah
    kimbum bisa aja ngarang2 cerita…LOL

    itu yg soal kereta itu, yg pinter bukan kb tapi authornya.. kan dia yg bikin cerita.. /plakkkk

    DAEBAK

    • 라미 'Rahmi' says :

      ah iya lupa… itu soeun g pegel gitu di mobil 4 jam?? dari daegu ke seoul dan sebaliknya kan 4 jam kempes donk… LOL #abaikan

      knp g kost aja gitu…. ahahhahaahah *makin gaje saya*

      • nuribumsso says :

        kyaaaaaaa kk….. kan dah di bilang,,, ayahnya so eun pengennya so eun dpt pengajran yg baik gitu… nah loq masalah ngekostnya.. kasian authornya capek nyariin kost-kostsan buat so eun/plakkk.. hehehehe
        gomawo ka dah coment..^^

  9. Chiew Yebumso jushin says :

    Wah hebat,
    suka suka suka,,,

  10. dini ramadhani says :

    jiahahahah kim bumnya ternyata selama ini ngegombalin so eun,mana kalo so eun ketiduran pake nyolong2 ngambil hapenya lg kekekekek tp salut cinta emank butuh perjuangan
    satu kata untuk author KEREN

  11. firyal alya says :

    keren-keren🙂
    tapi sayangnya cuma one shoot, bukan sequel -__-

  12. Amalia'SoEul'Lova says :

    Romantiss bgt…
    Ending.a aku suka bgt tuhh, hho😀

  13. rini says :

    so sweet abies . .

  14. BummieSonELF says :

    kereeeeeeeeeeeeeen >.<

    ku tunggu karyamu selanjutnya yaa ^^

  15. ivanaa says :

    waaa ini sih lebih dari kereen! salutee..

  16. puchaabyzone says :

    annyoooooonnnngggggggggg authorrrr….

    yeay…saya suka bgt ma prolognya tentang soeulmate…
    kyaaaaaa ceritanya so sweeeeeeeeetttttttt banget *sampe2 semut pada ngerubungi authornya hehehe

    huuhuuhu kim bum romantis banget,,diem2 sengaja liat ponsel soeun,,terus sengaja naruh koin buat soeun…kyaaaaaaaa reader senyum2 gaje ney…

    ayo2 buat lagi katya2 yang lainnya..
    di tunggu yah
    gomawo
    _bow_

    • nuribumsso says :

      annyeong…. gomawo ya dah mw baca ncoment..^^
      oya, loq aku di kerubungi ma semut ,,, bisa” badan aku pada gatel” semua terus merah” ge..*abaikan)

      oke,, tunggu jha ya…!!!

  17. Enno BumSSo says :

    waaah . . .bnr2 love at first sight, diam2 KB mengamati KSE, cie . .cie . . .

    owalah . . .ternyata yg naruh tu koin KB toh . . .,ckckckkc pinter jg ya akalna.

    untungna mrk ketemu juga😉

  18. charlotte says :

    suka banget! keren kak, pertahankan;p

  19. annisa says :

    bagus ceritanya

  20. VayTeuKey says :

    wah . . . daebak! setelah penantian yang cukup lama akhirnya mereka ketemu lagi dan menyatakan perasaan mereka.

  21. man says :

    masih sekolah tuh..kq uda ciuman hehehe..

  22. chandra bulan says :

    ahhh,,,,so sweet
    Sumpah jd kepengen jd soeun hehehe…#ngarep di kiseu kim bum…xixixi
    Seru,asik,bgs bgt…itu deh koment q bwt author

  23. Mia says :

    Cinlok nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: