3600 detik (one shoot)

Author : Eun Reyy

Main Cast : Kim Bum, Kim So Eun

Cast : Kim Joon (kim bum besties)

Genre : Sad, Romantic

Type : One shoot

 


Note : Kamu Kim Bum

Annyeong mates…… diriku nongol lagi nih. Tetep dengan sad story! Karna paksaan dr bbrp orang yg uda bca, akhirnya aku nekat nih ngirim yang ini. Dan kayakny aku udah siap dikomenin jelek, ngegantung, dsb. Okey, happy reading gals !

 

 




Kau terbangun dari mimpi burukmu. Duduk terpengkur di tepian ranjang. Menerawang jauh ke balik-balik dinding bata. Melangkah setengah hati menuju jendela kaca berhias gorden hijau. Menyibakkan sedikit membuat sinar bulan menerima jamuanmu dari celah-celah jemari sang pinus. Kau memejamkan matamu erat-erat dan bertumpu pada jendelamu. Hatimu sakit. Hancur. Pedih. Mengingat apa yang kau alami sekarang. Kau lelah, dan semua orang tau itu. “Ya Tuhan…”, keluhmu lirih.

***

Pada orang yang menghabiskan waktu ke Mekkah. Pada orang yang menghabiskkan waktu berjudi di Mirraza. Tapi kau ingin menghabiskan waktumu disini. Bersama rimbunan bunga yang seakan menyelimutimu dari terjangan takdir yang menyakitkan. Seorang wanita ayu menopangkan tubuhnya di pelukanmu yang mungkin adalah sandaran baginya. Mata beningnya terpejam, pertanda bahwa ia sedang terjaga. Kau meliriknya. Membuat bibir pucatnya tertangkap oleh retinamu. Kau mengelus-elus kepalanya yang terkulai di dadamu dan berakhir dengan hembusan nafas besar dari mulutmu yang bersatu dengan bunyi angin yang berdenging. “Aku yakin, tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untuk kita…”, ujarnya, kekasih hatimu. Kau terhenyak. Dan mengeratkan pelukanmu di lengannya. “Tentu.. Aku percaya itu”, ujarmu terdengar sedikit putus asa. Wanitamu dengan susah payah menelan ludahnya. “Apakah…ini adalah perpisahanku untuk para bunga disini?”, tanyanya serak sambil menatap dalam bola matamu. Bisa kau lihat bola matanya yang bergerak-gerak memohon jawaban jujur darimu. Kau hanya terdiam dan berbalik menatap matanya halus. Kedua tangan hangatmu kau tempelkan pada sisi-sisi pipinya. Kau masih membisu. Enggan bagimu untuk berkata Iya, tapi sangat tak mungkin untuk berkata tidak. Sudut-sudut matanya mulai berkilauan. Dengan sekali kedipan saja, sungai kecil akan terbentuk membelah pipinya. “Jangan tinggalkan aku… Aku mohon”, hanya itu yang dapat kau katakan saat ini. Kau memeluknya erat. Air mata kekasihmu menetes dan membasahi kemeja putihmu, di saat itu juga kau geram. Kau berteriak marah dan menggema di bilik atau serambi jantungmu.

Nona kim so eun mengalami kanker darah stadium akhir. Maaf, tapi kurasa waktunya tidak akan melebihi 2 bulan”. Kata-kata itu masih terekam dengan jelas di lorong telingamu. Seperti tape recorder yang siap me-replay kapan saja, bahkan ketika kau tak menekan tombol play sekalipun. Ucapan dokter itu mampu mengalahkan ribuan jam beker, karna kau akan tergeragap dalam tidurmu ketika samar kau dengar suaranya. Seperti itulah. Kau yang mendengarnya saat itu hanya tertunduk lemas, menatap ubin putih yang sayu. Sedangkan so eun wanitamu, masih terbaring di atas ranjang dan menerawang langit mendung di luar jendela.

*

Waktu yang terus berlalu membuatmu mau tak mau bertahan dengan senyum yang dipaksakan. Wanita yang kau cintai kini semakin mengurus. Rambut indahnya semakin menipis dampak obat-obatan kimia yang menemaninya siang malam. Kau rapuh, dan ia mengetahuinya. Maka ia berceloteh, “Setidaknya aku berada di sisimu ketika malaikat menjemputku nanti”. Wanitamu tersenyum kecil. Sedangkan kau kini semakin bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidupmu tanpa kekasihmu, kim so eun, yang tak ada satu setanpun tau.

Ditengah orang-orang yang mebicarakan manfaat dan guna, kau membicarakan tentang cinta dan mencintai. Kau menerimanya dalam setiap keberadaanya. Seperti ia menerima keberadaanmu. Kau mencintainya. Bak lambaian pohon pinus yang seakan menawarkan sisi lain dunia yang semakin serakah dengan datangnya sang surya. Tapi kau juga tak sanggup berlama-lama menjadi pria pengecut yang sok kuat. Kau tak sanggup menahan gemertak gigimu ketika kau berusaha untuk tidak menangis. Kau bukan malaikat. Kau bukan pemuka atau pendeta. Kau lelaki biasa! Maka setelah semua usaha pertahananmu runtuh dan menguras banyak emosi, kau berdiri di depan cermin mendapati pantulan wajahmu dengan mata yang memerah. Kau menatap cermin dengan iba seperti mengasihani seseorang di depanmu yang adalah kau sendiri. Kau layangkan genggamanmu pada sang cermin yang tak berdosa. Sejenak kemudian remah-remahan bayanganmu jatuh ke lantai, diiringi darah segar dari tangan indahmu. Tapi itu tak cukup membuatmu lega. Kini kau berdiri di tengah padang ilalang yang berujung jurang dan kau teriakkan, “TUHAN!! Lihatlah semua penderitaan kami!! Tegakah engkau membiarkan cinta kami berlalu dengan sia-sia??” rutukmu pada tuhan. Tuhan tak menjawab. Langit tak mendengar. Maka kau terduduk lesu sambil memandangi kalung perak berliontin cincin, yang adalah cincin PERNIKAHANMU nantinya.

*

Senyum ayunya membangunkanmu dari tidur tak lelapmu. Sejenak kau mengumpulkan tenaga. Tapi wanitamu memaksamu untuk bergegas berdiri. Hari ini kalian sudah berjanji berkutat di dapur untuk membuat beberapa mangkuk coklat valentine. Maka, di sinilah kalian sekarang. Suara mesin pengaduk seakan mengiringi canda dan tawa bahagia kalian. Sejenak kau mampu melupakan sesuatu yang membuat perutmu melilit jika kau mengingatnya. Burung-burung berkicauan mengelilingi pohon pinus menandakan mereka merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Wanitamu memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Seindah-indahnya. Karna jauh dalam dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhir baginya membuat coklat bersamamu yang adalah cintanya. Maka kau menarik lembut pinggang wanitamu tepat di hadapanmu. Kau mendaratkan ciumanmu di bibirnya. Tapi sesuatu berwarna merah tertinggal disana saat kau melepas kecup hangatmu. “Ah mianh.. Lipstikku luntur dan tertempel di bibirmu”, ujarnya setengah bercanda sambil menghapus noda merah dibibirmu. Kau masih mengawasi gerak-geriknya dan melihat buliran yang menggantung di pelupuk matanya. Kini hatimu kembali terasa amat sakit. Membuatmu terus terpaku menatap wajah kekasihmu. Sampai kau sadari noda merah itu juga mulai mengalir dari hidungnya. Kau pun tergeragap dan mulai panik. “Gwencana…”, ucapnya halus. Dan kau! Dengan bodoh berusaha mempercayai ucapannya.

***

Langit barat memancarkan sinar merah yang mempesona membawa kalian ke tempat hiburan malam yang sebentar lagi akan dibuka. Bermain-main di sana adalah salah satu tempat favorite kalian selain padang bunga. Kaupun sedikit meragu, mengingat tubuh kekasihmu yang sangat lemah. Tapi kau semakin tak tega melihatnya terus merajuk memintamu membawanya kesana. “Aku mohon… 1 jam saja…”, ujarnya menyatukan kedua telapak tangannya dan memasang wajah penuh harap.

Dan semua kekhawatiranmu mulai memudar. Melihatnya tertawa begitu lepas membuatmu ikut tertawa. Kegembiraanya memuncak ketika kau mengijinkannya menaiki bianglala yang sebenarnya sudah sangat sering ia naiki. Tak ada yang sanggup menuliskan kebahagiaanmu malam ini. Sesuatu yang sangat lama tak kau temui, kini kembali lagi. Wanitamu berlari-lari kecil menuju kedai boneka. Kaupun menyusulnya. “Ini untukmu..”, ujar wanitamu pada seorang anak kecil yang menangis. Sang gadis cilik menerima uluran boneka bear dihadapannya. Ia tersenyum dan mengecup pipi wanitamu, kemudian bergegas pergi dengan langkah yang amat riang. “Sangat menyenangkan bagiku, melahirkan seorang bayi yang cantik dan tampan sebagai hadiahku untukmu..”, ujar cintamu halus. Kau tersentak. Rasa haru mulai menggerogotimu.

Lampu-lampu kota Seoul berkedipan. Kau dan wanitamu berlarian di pinggir sungai Han. Dengan hati bahagia dan jiwa yang melayang-layang. “Ayo…kejar aku!”, katamu setelah menempelkan buliran ice cream di wajahnya. Kau pun senang melihat wajahnya yang berubah kesal. Seketika kau berlari cepat dengan tawa yang samar terdengar. Tapi rupanya kau berlari terlalu jauh. Wanitamu tak akan sanggup mengejarmu. Wanitamu tak lagi mampu menahan rasa sakit yang sedari tadi disembunyikannya. Dan kini wanitamu terkapar di jalanan. Kau yang menyadari tak ada teriakan atau geraman, segera berhenti dan membalikkan badan. Seperti kesetanan kau berlari ke arahnya. Kau mengguncang-guncangkan tubuhnya berharap ia membuka mata. Namun setelah beberapa menit sia-sia, kau mengangkatnya dan meletakkan tubuhnya di punggungmu. Segera kau melangkahkan kaki menuju rumah sakit.

Merasakan udara malam yang sejuk dan berubah menjadi dingin yang menyakitkan. Kau tetap berjalan meskipun tak sanggup lagi melangkah dengan cepat. Hatimu berkecamuk. Air matamu tak terbendung. Secepat apapun kau melangkah, sekeras apapun kau menangis, tidak akan ada yang bisa menghalangi takdir. Maka kau hanya bisa menikmati detik-detik bersama wanita yang terkulai dalam punggungmu. Ia masih mengeratkan tangannya di depan dadamu. Nafasnya yang tersengal masih bisa kau rasakan dilehermu.

Kim Sang Bum ?”, ujarnya lirih.

Hmm ?”, balasmu lembut.

Aku mencintaimu….”

Ne… Aku juga….Aku jauh lebih mencintaimu dibanding kau mencintaiku”

Terimakasih untuk segalanya…”, ujarnya semakin serak. Dan kaupun terhenyak mendengar ucapan bak perpisahan itu. Kau tak bisa lagi menyangkal. Kau tak bisa lagi menghindar. Tubuh wanitamu semakin lama semakin berat. Menyadarkanmu akan satu hal…

***

Padang bunga itu kini mendung. Merasakan kehilangan yang teramat besar. Dapur itu kosong. Hanya memperlihatkan beberapa mesin pembuat roti yang baru dipakai beberapa hari lalu. Kamar kecil berkertas dinding merah jambu itu terlihat lengang. Karna pemiliknya tak akan pernah kembali ke tempat itu.

Kini kau duduk bersila di bawah pohon pinus besar. Sisi yang sejuk, teduh, nyaman dan begitu melenakan tubuh letih yang telah lama berjalan tak tentu arah di atas padang percobaan tuhan. Di depanmu, gundukan tanah dengan taburan bunga yang memenuhi bagian atasnya. Dengan sebuah kotak berselimut kertas emas dan pita merah di pangkuanmu. Perlahan kau membuka dan mengeluarkan isinya. Sebuah gaun penikahan bewarna putih yang sangat indah. Kau menelusurinya dengan ujung-ujung jemarimu. Mengingatkanmu pada suatu kejadian 3 bulan lalu di tempat yang sama. Bawah pohon pinus.

——-

Tarraaattt…. Lihat! Apa aku terlihat seperti seorang putri?”, ujarnya dari balik pohon pinus dan tersenyum lebar. Kau pun hanya tertawa geli melihatnya memutar-mutarkan tubuh membuat gaun bagian bawahnya berkibar-kibar. “Hahaha… Kau lucu sekali”, godamu. Wanitamu hanya tersenyum kecut lalu meraih tanganmu dan menghadapkan kalian ke batang pinus yang tumbuh besar.

Kim Sang Bum, bersediakah kau menerima Kim So Eun sebagai istrimu dan mendampingi dalam suka ataupun dukanya dalam sehat ataupun sakitnya?”, celoteh kekasihmu dengan suara besar yang dibuat menyerupai sang pendeta. Kau pun terkikih geli.

Ya aku bersedia!!”, ujarmu lantang. “Dan kau Kim So Eun, bersediakah kau menerima Kim Sang Bum sebagai sua…”

Ya aku bersedia! Aku bersedia! Aku bersedia menjadi nyonya Kim Bum.. Aku berjanji akan menjadi seorang putri yang termanis untuk suamiku Kim Sang Bum”, ujar wanitamu dengan nada sangat bersemangat yang memutuskan sumpah tiruanmu tadi. Kau pun semakin geli dengan candaanya. “Hei! Mana ada jawaban yang seperti itu!”, protesmu padanya. Wanitamu hanya diam dengan tawa lebar diwajahnya yang membuatmu tak tahan untuk segera mengecup bibirnya.

——-

 

Kau tersenyum tipis mengingat hal itu. Sambil terus menelusuri gaun pengantin di tanganmu. Seketika kau meletakkan gaun itu di atas gundukan tanah. Dan kau meraba-raba nisan di ujungnya. “Selamanya kau adalah cintaku”. Begitu kiranya yang kau dengar ketika kau meraba nisannya.

Sakit, bila kau kembali mengaduk-ngaduk ingatanmu tentangnya. Tapi, kau tak akan sanggup melupakan barang sejenak. Ia yang kau bilang adalah milikmu. Ia yang amat dan sangat berharga bagimu, kini telah pergi untuk selamanya. Maka kau putuskan untuk memakamkan kekasihmu di bawah pohon pinus kesayangannya ini. Sendiri. Hanya ditemani keteduhannya. “Aku yakin, tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untuk kita”, ucapan kekasihmu dan kau sangat mempercayainya.

Mendung masih mengiringimu. Air mata telah tumpah membasahi tanah tempatmu berpijak.

Sudah waktunya untuk pulang.. Ayo!”, ujar seseorang yang adalah sahabatmu. Sahabatmu menabur bunga lagi seakan ia mengerti kepedihan yang kau rasakan. Dan kau pun beranjak pulang, dengan meninggalkan sepucuk pesan di dekat batu nisan :

Kim So Eun.. Aku mencintaimu ! Tuhan mendengar doa kita… Kita akan berbahagia, selamanya.. Disurga… Kurasa, aku akan segera menyusulmu.. Jadi tunggulah aku..

-pemudamu, Kim Sang Bum-

 

 

The End

 


Wahahahaha… selesai sudah cerita gajeku ini..

Gimana? Ada yang butuh tissue, baskom ato ember? *jjiah pede gila’. Kaya sales aja*

Sebenernya OS ni jadul banget loh.. Dri jamannya so eun nikah ma jin yihan *di tabokin mates*, maksudnya Obok sma daehan gituu… Author terinspirasi ma gaunny so eun… Maaf yha kalo jeleeeeek banget……

Leave komen chingu…

 

 

Buka page Question & Answer apabila ada yang ingin ditanyakan
Buka dan isi data kalian di page Mates untuk perkenalan dan berkenalan dengan mates/reader yang lain
Lihat page How To Join untuk mengetahui bagaimana cara mengirim ff
Buka Library (sequel or one shoot) untuk melihat ff yang sudah dipost
Buka http://bumssoindo.wordpress.com untuk mengetahui news terbaru dari Kim Bum dan Kim So Eun
Follow our new twitter @bumssoindo dan mention saja bila ada yang ingin kalian tanyakan (usahakan untuk tidak menanyakan masalah privasi Kim Bum dan Kim So Eun ^^) *fans Korea sangat menjaga privasi artis mereka*
Like Kim Bum dan Kim So Eun fanbase on facebook BUMSSO INDONESIA

 

P.S.: please…… no bashing, no spaming, no hotlink !! ^^

NB: JANGAN COPY-PASTE FF YANG ADA DI SINI TANPA SEIZIN AUTHOR DAN ADMIN DI SINI… APALAGI SAMPAI TIDAK MENCANTUMKAN NAMA AUTHOR DAN SUMBERNYA

Tags: , ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

27 responses to “3600 detik (one shoot)”

  1. luph SoEul says :

    waaaahhhh….
    pagi2 udh bkin sedih….
    tapi bagus kok cerita_a…🙂
    ditunggu cerita selanjut_a

  2. Ravenaelf says :

    Huhuhuhu author aq mau embernya donk… Buat nangis…
    Tp dr jdulnya n isinya, kyk novel yg udah aq bca…
    3 thumbs 4 author

  3. Niiz says :

    Ga lgii pake
    Tisu atao baskom tp udah pake selimut [?]

    Itlah knapa saia kurang suka sad ending karna bikin mataa bengkak dan slimut jd basah T.T

    Akuu sukka certanya ^^

  4. Echa babykyu says :

    huuaaaahhhhh…..
    Aku nangis bacany,, crtny menyayat hati apalagi setiap katany…..
    Authorny paling biisa bikiin org terhanyut dalam crtny huhuhhhuuu…..
    Kerreeeennn salut buat authorny,,,

  5. rosiyani 'oci' says :

    aishhhhh sedihhhh amat ni cerita.. hhu😦
    kasian mereka harus dipisahkan begitu.. bum semangatttt dah tanpa so eun yang cinta sejatinya itu!!!
    baguuus ceritanya.. ayoo lanjut buat ff tapi yang bahagia donggggg.. hhe🙂

  6. Yunie sipenyuka hijau says :

    Mav ni chingu, Os mu q monoton ya latar belakang crita’a itu2 aza.pasti KSE nya sakit kanker and die atw sblik’
    ayo dunk chingu bwt crita yg berbeda.SEMANGAT ya🙂
    Tp prolog ‘a bgus saya bisa mengerti dgn jelas. skali lg mav lo hanya kash feedback aza ^_*

  7. Yunie sipenyuka hijau says :

    Mav ni chingu, Os mu kok monoton ya, latar belakang crita’a itu2 aza.pasti KSE nya sakit kanker and die atw sblik’
    ayo dunk chingu bwt crita yg berbeda.SEMANGAT ya🙂
    Tp prolog ‘a bgus saya bisa mengerti dgn jelas. skali lg mav lo hanya kash feedback aza ^_*

  8. anisa says :

    boleh donk! mnta emberx satu! (?)
    .
    pagi” udh bkin nangis …
    emank kren deh authorx!🙂

  9. Melisa luv Bumsso says :

    sedih ..
    gila !!
    ff plg mengharukan yg prnh aku bc ..
    bgs dah
    tpi judul nya ogg 3600 dtk ??
    kyk judul novel teenlit ..
    tpi critanya beda ..
    hehehhehe
    lanjutkan mmbuat ff sad ending sperti nie chingu
    i like it

  10. laras says :

    terharu ,huhu😦
    sampai ga bisa berkata apa apa,
    author harus tanggung jawab tissue aku satu pack habis gara gara baca os ini ,hehelebayamat
    ditunggu karyanya yg selanjutnya, yg sad ending juga gapapa, yg happy ending malah lebih bagus,
    tetep kerennn :p

  11. alika says :

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku nangis 7 ember kaka😦 *gg nanya.
    huhuhu ceritanya keren kak sangat ngat ngat keren aku suka aku suka🙂
    lain kali jangan yg sad lagi ya kak pliss..

  12. dini ramadhani says :

    hmmm aku pernah bca nie os tp dmna ya lupa*maklum otak dah keras*
    sedih bgd sih tp suka ma kta2 yg disusun author
    bikin yg hepi ending donk

  13. RiriAngels says :

    Huwaaa ini crt Nyentuh bgt
    Hiks Sedih
    Tapi Romantiiiiis
    KEREEEEEN BGT DEH THOR HAHAHA

  14. chiby says :

    mmmmmmmmmmmm………………. menyentuh……….

  15. 라미 'Rahmi' says :

    abis shalat magrib baca nih ff…. huaaaaaaaaaaaaaaaaaa mewek2 saya.. tp meweknya dimulai pas adegan lari2an itu…. huhuhuhuhu

    saya g butuh ember… saya cuma butuh 1 lembar tissue… hahahhaahaha ff ini emang berhasil buat sy mewek lagi… tp masih ada 1 ff dulu *lupa judulnya* yg bener2 sukses bikin sy mewek sampai bikin selimut basah di pagi hari…. hahaahahahhahahhaha

    but.. overall… daebak lah…

  16. Eun Reyy says :

    mm…kalo ada yg tanya npa aq ska bkin crta Kse pengidap kanker… jujur yak, sbnerny aq punya crita tersendiri tentang kanker.. *hiks, bisa nangis deh kalo curcol disini*
    Maaf deh kalo ga suka…
    aq udah siap pos ff lg kok, yg happy ending…
    tunggu bentaaarr lagi…

  17. Atin says :

    Adegan ciuman berdarah mirip heart y,, saya pikir dulu acha ma irwansyah nafsu bgt ciuman ampe berdarah *lol #abaikan
    Bagus,sedih…dan saya ga sk ff sedih,qga nangis tp perih di hati,,ga tau kenapa.enakan bs ngs,kl perih gini bngung jadi-nya..artinya cerita ini bs masuk ke hati saya..
    Kalimatnya aduh duh keren nee author..

  18. Mii-kun says :

    Huaaaaa……=_= saiia mencoba menahan, membendung, menyumpal air mata ini………….huaaaaaaaaa……dan akhirnya jebol deh pertahanan saiia T_T mewek dah…….
    Saiia suka kata” nya author, bagus bgt, kayak penulis novel aja……. Kekekek😄

    Jgn bikin yg sad ending lagi dong,,,,jd mewek mulu nih…..huhuhuhu -,-“

  19. Nhaa Joonie says :

    uwaaa … saiia suka ending yang sedihh …
    air mata gak nyadar dah turun ndiri … hiks … hiks …
    aku suka ceritanya, kalo bisa bikin yang lebih sedih donk ..!! ^hehe #abaikan
    aku tunggu ff yg lainnya ,,

  20. puput bumsso says :

    uhh author klo bqin crta bgni sediain tisue dnk.. heeee

  21. Ina BeQi Soeulmates says :

    aaaaaaaaaaaa
    bnr” kisah cinta yg mengharukaaaaannn….
    kereen kerrreeeen keerrrreeeennnnn..
    suka suka wlpn bkn nangis..
    huhu

  22. Viqa_BumsSoeulindo says :

    hah,q udah tau author yang satu ini selalu membrikan crita2 yang mingiris hati, , ,

    tp tak apalh,kekeke

    huaaaaaaaa, tapi tetap aj aku nangissss, , , !!!!!!!!!

    GOOD JOB, , ,^_^

  23. poespa sang soeun says :

    sedihhhhhhhhhhhhh
    hanya itu yg dpt d ucapkan…

  24. dhia says :

    akhir yang menyedihkan…:'(

  25. seli marlina says :

    jdi inget kisah “endless love/autumn in my heart” yg di bintangin ma song hye-kyo ..

  26. uun & elook says :

    critanya mengharukan sekali yaaaa? bisa nggak di puter di indosiar… pliiis ayo dooong?

  27. wie6002 says :

    so sweet
    Kim bum sangattttt mencintai so eun
    Andai di bikin sequel pasti seruuuuu
    Baca berulang kali ngak bosen
    Cinta yang dalam harus terpisah oleh waktu
    Dannnn kembali bersatu di surga
    Kerennnnnnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: