Forget The Love Not Part 3

Author        : Farah Dhila

Main Cast  : Kim Bum and Kim So Eun

Cast           : Kang Min Kyung(Davichi), Seo Woo, Lee Jong Hyun(CNBlue), Yoo Seung Ho,  and Park Eun Bin.

Genre         : Romantic/Friendship

Type          : Sequel

Anyeong chinguJ Masih inget ceritanya Forget-The Love-Not Part 2 ga? Hehe buat yang lupa atau ketinggalan ubek2 aja library-sequel, hehe di sana lengkap kok. Ntar selesai baca, tolong komen yaaa~ Oke, ENJOY READING ♥♥♥

 

Part  3

Sebulan berlalu dengan cepat. Syuting film sudah mulai berjalan. Sekarang semuanya menjadi sibuk. Baik So Eun ataupun Kim Bum. Kim Bum sibuk dengan kegiatannya sebagai seorang sutradara. Sementara So Eun, sedang mempersiapkan novel keempatnya yang sudah dalam tahap penyempurnaan akhir. So Eun sedikit lega, karena kesibukan bisa mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang membuat kepalanya menjadi sakit. Hal-hal yang berhubungan dengan Kim Bum.

Hari ini, Min Kyung mengajak So Eun berkunjung ke tempat syuting. Walaupun ia tau akan sedikit menyusahkan—karena ia pasti akan bertemu dengan Kim Bum nanti—tapi saat ini antusiasmenya untuk melihat langsung pembuatan film yang diadaptasi dari novelnya lebih mendominasi. Karena itu, sudah pasti ia tidak menunggu Min Kyung untuk menawarinya dua kali.

Setelah memarkir mobilnya di jalanan yang tidak jauh dari lokasi syuting, So Eun langsung mencari Min Kyung. Dari kejauhan ia melihat tenda berwarna keabuan, mungkin itu tenda kru. Syuting hari ini mengambil tempat di sebuah taman dan jalanan yang tidak jauh dari taman itu.

“Eun!”

So Eun menoleh, ia melihat Min Kyung keluar dari kerumunan di belakang tenda itu. Ia melambai-lambaikan tangannya. So Eun berjalan cepat menghampiri Min Kyung.

“Mereka masih take. Ayo kutunjukkan tempatnya,”kata Min Kyung sambil menggandeng sebelah tangan So Eun. So Eun hanya tersenyum menurut.

Adegan yang sedang berjalan adalah adegan antara Seung Ho dengan Eun Bin. Mereka harus berjalan bergandengan tangan di jalanan yang lintasannya cukup panjang dengan dialog yang juga tidak kalah panjang. Min Kyung baru akan menepuk pundak Kim Bum untuk memberitahu bahwa So Eun datang, saat tangan So Eun mencegahnya. Min Kyung memandangi So Eun dengan bingung. Sementara yang ditatap hanya menggeleng sambil tersenyum.

Kini So Eun sibuk memperhatikan adegan yang sedang berjalan. Kim Bum benar, Seung Ho dan Eun Bin adalah aktor dan aktris yang berbakat. So Eun bisa merasa novelnya sedang bercerita lewat adegan itu. Ia ingat sedang memikirkan apa waktu menulis bagian novel ini. Ia sedang berjalan sambil bercanda dengan seseorang dalam kenangan itu. So Eun terus tersenyum memandangi Seung Ho dan Eun Bin yang sedang tertawa-tawa. Ia bahkan bisa melupakan rasa sakit di kepalanya. Tidak, ia hanya ingin menikmati adegan ini. Ia ingin jauh dari rasa sakit karena kenangan itu sebentar saja. Ia ingin rasa bahagia. Ingin kebahagiaan yang dulu terasa bisa ia rasakan lagi. Sebentar saja.

“Cut!”teriak Kim Bum lewat pengeras suara yang dipegangnya. Setelah berdiskusi singkat dengan asisten sutradara di sampingnya, ia lalu berbalik ke belakang untuk mengambil air mineral. Saat itulah matanya bertemu pandang dengan So Eun. Gadis itu tersenyum dan ia membalasnya.

“Kau datang juga akhirnya. Kukira kau masih sangat sibuk dengan novel barumu.”kata Kim Bum sambil berdiri bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat ke arah So Eun.

So Eun tertawa pelan,”Sibukku tidak seperti itu. Tidak seluarbiasa seperti yang kau bayangkan.”

Kim Bum ikut tertawa,”O-oh, baiklah.”

Min Kyung yang tadinya ingin ikut bergabung mengobrol jadi mengurungkan niatnya. Ia akhirnya hanya menjauh sambil tersenyum. Lebih baik melanjutkan pekerjaannya dibanding menganggu dua orang yang sepertinya memang lebih baik jika mengobrol berdua saja itu(?)

“Bagaimana menurutmu adegan yang barusan?”

So Eun tersenyum sambil mengangkupkan kedua tangannya,“Sempurna. Seperti yang kubayangkan saat aku menulis novelnya.”

Kim Bum tersenyum bangga,”Aku tau.”

“Kau hebat,”puji So Eun sambil masih tersenyum. Yang dipuji hanya membalas dengan tersenyum menyeringai.

So Eun melirik jam tangannya. Kim Bum yang memperhatikan gerak-gerik So Eun akhirnya penasaran bertanya,”Kau ada acara setelah ini?”

So Eun tersenyum terpaksa, ia merasa tidak nyaman karena jawaban dari pertanyaan itu adalah iya. Setelah ini ia ada rapat dengan penerbit. Tentu saja membahas novel terbarunya.

“Astaga, kau kan baru saja datang. Kau bahkan belum sempat berkenalan dengan pemeran-pemeranku.”

So Eun tersenyum lagi. Lalu harus bagaimana lagi?

“Mm, baiklah. Kalau begitu sebelum kau pergi, aku akan mengenalkanmu dengan Seung Ho dan Eun Bin.”

Kim Bum berjalan ke arah tenda. So Eun mengikutinya dari belakang. Sebenarnya tadi ia belum mengiyakan ajakan perkenalan itu. Tapi, ya ia menurut saja lah. Toh perkenalan itu pasti tidak akan memakan waktu yang lama.

Seung Ho membungkukkan badannya lalu tersenyum—astaga, senyumnya sangat manis—saat Kim Bum memperkenalkan So Eun padanya. Laki-laki itu sangat sopan. Memang terlihat lebih dewasa dari umurnya yang sebenarnya, persis seperti yang dikatakan Kim Bum.

“Novelmu sangat bagus, nuna. Sampai-sampai aku langsung tertarik begitu manajerku bilang sedang ada casting untuk film ini”kata Seung Ho sambil masih dengan senyum—yang menawan itu.

So Eun balas tersenyum,”Ah…gamsanghamnida. Aku juga senang kau bergabung menjadi pemeran utama dalam film ini.”

Tiba-tiba Eun Bin ikut bergabung. Ia sangat ramah dan banyak berbicara, sehingga obrolan antara penulis, pemain film, serta sutradara itu berlanjut semakin akrab dan hangat. Sampai akhirnya mereka mengucapkan salam perpisahan karena So Eun harus kembali ke kantor untuk rapat. Setelah berhasil menemukan Min Kyung dan berpamitan, So Eun langsung berlari-lari menuju tempat mobilnya diparkir. Ia melihat jam tangannya. Astaga, ia akan telat hampir setengah jam.

 

♥♥♥

 

So Eun membuka kotak merah marunnya lagi malam itu. Kotak yang dulu sangat ingin dibuangnya, tapi sampai saat ini masih ada bersamanya. Bukan ia tidak mau membuangnya, ia hanya… tidak bisa.

Kotak itu berisi semua benda-benda kenangannya bersama Bummie. So Eun mengambil sebuah foto—fotonya dan Bummie—dan menutup kotak itu lagi. Ia merebahkan diri di ranjang sambil mendekap foto itu erat.

“Di antara cinta dan kepercayaan, mana yang akan kau pilih So Eun-ah?”

So Eun mengerutkan keningnya, berusaha berpikir. Sejurus kemudian ia tersenyum,”Mollayo. Kalau kau, apa yang akan kau pilih?”

“Aku memilih cinta,”jawab Bummie singkat seraya tersenyum dan menatap So Eun dengan lekat.

“Waeyo?”

Bummie mengangkat kepalanya, menghirup udara dengan bebas lalu menghembuskannya lagi. Ia lalu kembali menoleh ke samping, menatap So Eun. “Dulu pernah menonton sebuah film. Film itu bercerita tentang seorang gadis dan pria yang saling jatuh cinta. Awalnya semua begitu indah dan baik-baik saja. Namun, suatu hari mereka bertengkar hebat memperdebatkan kesalahan-kesalahan yang masing-masing dari mereka telah lakukan. Pria itu tidak mau mempercayai bahwa sebenarnya gadis itu tidak bersalah, karena gadis itu juga tidak mau percaya padanya. Sama halnya dengan si gadis. Mereka begitu dibutakan oleh satu kata saja. Kepercayaan. Padahal kalau saja mereka sadar masih ada satu hal lagi yang penting yang telah mereka lupakan. Mungkin mereka akan tetap bertahan selamanya. Hal itu adalah cinta.”

So Eun menatap Bummie tanpa berkedip. Ia masih ingin mendengarkan kelanjutan dari kata-kata Bummie. Jadi, ia memilih untuk tetap diam.

“Eun, kepercayaan dan cinta adalah dua hal penting di dalam sebuah hubungan, apapun bentuk hubungan itu. Tapi, bukan karena percaya kita bisa saling mencintai. Namun, karena cintalah kita bisa saling percaya dan kemudian memahami satu sama lain,”Bummie menghela nafas lagi di akhir penjelasannya. Melihat So Eun yang mendengarkannya begitu serius, ia merasa geli dan bertanya,”Bagaimana menurutmu?”

So Eun tersenyum perlahan-lahan. Ia mengalihkan pandangan ke sekitarnya. Mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengimbangi penjelasan Bummie.

“Aku menyukainya. Kupikir, kepercayaan dan cinta adalah dua hal yang sama pentingnya. Tapi, setelah mendengar ceritamu yang panjang lebar itu, kurasa kau memang benar,”So Eun kembali menatap Bummie,”Tapi rasanya aku geli setiap mendengakan kau berkata cinta. Kau mengucapkannya banyak sekali tadi.”

“Jinjayo?”

So Eun tertawa. Ia memang benar-benar geli mendengarnya. Karena Bummie jarang—sangat jarang mengucapkannya.

Bummie ikut terkekeh malu. Memangnya ia mengatakannya sebanyak itu ya? Astaga, hahaha.

So Eun mulai terlelap dan tenggelam bersama mimpi-mimpi indah kenangannya. Foto itu di dekapnya semakin erat.

 

♥♥♥

 

Kafe itu ramai. Bahkan sangat ramai. Semua kru sedang berkumpul di tempat itu untuk melakukan syuting. Min Kyung terlihat mondar-mandir sambil entah menelfon siapa. Sementara Kim Bum sibuk berbincang dengan beberapa kru. So Eun membuka pintu kafe dengan sekuat tenaga—karena pintu itu benar-benar terasa berat. Ia masuk dan menyapa beberapa orang termasuk Seung Ho yang terlihat sedang sibuk dengan script di tangannya—tapi tetap tersenyum membalas sapaan itu. So Eun juga membalas senyum Eun Bin yang terlihat sangat aneh, ia sedang di make up sehingga sepertinya tidak leluasa untuk tersenyum. Ia duduk di salah satu meja sambil melambai ke arah Min Kyung. Sebenarnya ini sudah keempat kalinya So Eun berkunjung ke lokasi syuting. Jadi, ia sudah cukup akrab dengan suasana ramai dan sibuk seperti ini. Dan tentu saja ia juga akrab dengan kru-kru di sana. Min Kyung menghampiri So Eun sambil masih berbicara di telefon. Ia menyapa So Eun dengan cepat dan duduk tepat di depan So Eun juga dengan cepat.

“Menelfon siapa? Heboh sekali”tanya So Eun pada Min Kyung sesaat setelah gadis itu memutuskan hubungan telefonnya.

“Bagian humas perusahaan yang akan menjadi sponsor di film ini. Aku lupa siapa namanya tadi, yang jelas dia orang yang menyebalkan.”

“Kau ini, kalau dia tidak akan mensponsori kita bagaimana?”

Min Kyung mendengus kesal,”Tidak akan”. Ia mengatur nafasnya lalu berujar lagi,”Maksudku tenang saja, kita tidak akan kehilangan sponsor kita itu.”

So Eun mengangguk,”Mm, terserah kau saja. Aku percaya.”

“Aku punya berita untukmu,”kata Min Kyung sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada So Eun.

“Berita? Apa? Kalau buruk sebaiknya jangan, aku sedang sakit kepala.”

“Memangnya kapan kau tidak sakit kepala? Kau kan penderita sakit kepala setiap saat.”

So Eun memajukan bibirnya, mencibir.

“Ini tentang pak sutradara yang duduk di pojok itu.”

Oh tidak, jangan lagi.

“Mau dengar tidak?”

So Eun mengangkat kedua bahunya. Ia berusaha menekan sakit kepalanya dengan rasa penasaran. Tapi, memangnya ada apa dengannya? “Ada apa dengannya?”

“Kau tau berita yang beredar di media akhir-akhir ini kan? Tentang hubungan Seo Woo dengan seorang pria yang belum jelas identitasnya.”

So Eun menggeleng. Sepertinya ia tau siapa Seo Woo. Sebentar-sebentar, biar ia mengingat-ingat dulu.

“Kau ini. Aku kasihan pada televisimu. Dibeli tapi tidak pernah dipakai menonton.”

“Oh ayolah Min Kyung jangan berputar-putar menceramahiku. Jadi langsung saja, apa pria tidak jelas itu adalah Kim Bum dan itu berarti Seo Woo memiliki hubungan dengan … nya?”kata-kata So Eun berhenti tiba-tiba. Sebentar dulu, Seo Woo dan Kim Bum? Astaga, apakah sekarang masa lalu itu benar-benar datang lagi menemuinya?

Min Kyung bertepuk tangan sambil tersenyum,”Kau memang penulis sejati. Tebakanmu tepat, sangat tepat.”

So Eun memegangi kepalanya. Ternyata rasa penasaran tidak memperbaiki sakit kepalanya, itu justru memperburuk.

“Kau kenapa Eun? Ini berita buruk ya? Apa kepalamu sakit sekali?”tanya Min Kyung beruntut sambil berpindah tempat duduk di samping So Eun.

So Eun menepis tangan Min Kyung dengan halus,”Aku tidak apa-apa. Tolong pesankan aku segelas teh.”

Min Kyung memanggil pelayan kafe dengan setengah berteriak. Memesan teh lalu kembali menatap So Eun yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Aku tidak apa-apa Min Kyung-ah.

“Aku baik-baik saja. Sungguh.”So Eun berusaha menekan rasa sakitnya. Ia benci sekali dengan rasa sakit ini dan juga kemunculannya yang selalu tidak tepat. Kalau begini, Min Kyung kan jadi berpikir yang aneh-aneh. Belum lagi kemampuan amatirnya untuk membaca pikiran. Ah, tidak-tidak. Min Kyung tidak boleh tau apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula, itu kan masa lalu. Masa yang sudah lama sekali di belakang. Tidak penting untuk diungkit-ungkit lagi.

Beberapa menit kemudian teh itu datang. So Eun meminumnya sampai setengah gelas tanpa banyak bicara.

“Sebenarnya ada apa denganmu Eun? Kenapa akhir-akhir ini sakit kepalamu jadi sering kambuh?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Mungkin aku memang sedang kelelahan, jadi sering sakit kepala. Bukan karena beritamu tadi”kata So Eun berusaha meyakinkan Min Kyung yang masih terlihat khawatir.

“Yakin? Benar-benar bukan karena berita tadi?”

“Mm. Lagipula Seo Woo dan hubungannya dengan siapa tidak ada sangkut pautnya denganku.”

Min Kyung mengangguk. Sedetik kemudian ia berujar lagi,“Tapi Eun, inti beritanya bukan hubungan itu.”

So Eun meletakkan gelas tehnya kembali ke meja. “Lalu?”

“Karena skandal itu, Kim Bum akhir-akhir ini jadi uring-uringan.”

Sebelum So Eun menanggapi, Min Kyung buru-buru berkata lagi,”Tapi ia tidak menjadi galak atau semacamnya. Ia hanya menjadi jarang tertawa. Ia bahkan tidak pernah lagi ikut makan-makan setelah syuting bersama kami. Sepertinya ia sedang sangat tidak nyaman.”

So Eun melayangkan padangannya ke sudut kafe. Tempat di mana Kim Bum sedang duduk sendirian dan memandangi jalanan di luar sambil meminum secangkir kopi di tangannya.

“Aku jadi bingung. Sebenarnya ia senang atau tidak memiliki skandal dengan Seo Woo.”

So Eun masih menatap Kim Bum. Min Kyung tampak tidak memperdulikan itu dan terus saja berbicara. “Tapi Seo Woo itu kan cantik juga berbakat. Pria mana yang tidak akan jatuh hati padanya. Benar kan Eun?”

So Eun mengalihkan pandangannya dari Kim Bum dan mengangguk seadanya. Ia lalu memandang keluar jendela. Menerawang jauh menatap orang-orang yang berjalan berlalu lalang di sana.

Seharusnya memang seperti itu. Dari dulu semua ini kan memang sudah terjadi. Kim Bum dan Seo Woo. Seharusnya mereka memang sepasang kekasih kan? Jadi, kenapa sampai sekarang ia tidak bisa menerima itu. Kenapa sampai sekarang seorang Kim So Eun masih belum berhenti berharap? Padahal ia tau, bahwa harapan itu hanya akan menghempaskannya kembali. Ia akan jatuh, dan merasakan rasa sakit itu lagi. Ini benar-benar bodoh. Kau benar-benar bodoh Kim So Eun.

So Eun menarik nafas dan mengehembuskannya lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Min Kyung yang dipandang hanya tersenyum. So Eun membalas senyuman itu. Dari jauh Kim Bum memandangi So Eun. Walaupun sedikit terkejut karena baru menyadari kehadiran gadis itu, tapi begitu melihat So Eun tersenyum, rasanya ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. Ketiga orang itu tersenyum tanpa mereka sadari bahwa senyum mereka berkaitan satu sama lain.

 

♥♥♥

 

Gimana? Uda pada ngerti kan? Hehe, tadi kan udah kukasih sedikiiiit cuplikan masa lalunya Bummie sama So Eun.

Pada penasaran ga ni sama kelanjutannya? Okidoki, ditunggu aja ya Forget-The Love-Not Part 4-nyaaa~ Gomaoyooo uda baca dan terus ngikutin

Tags: , ,

16 responses to “Forget The Love Not Part 3”

  1. rosiyani 'oci' says :

    wahhh jd so eun dimasa lalu itu ngeharepin bum jg gt ??? hho.. na itu seo woo temen bum ma so eun jaman dulu jg nih ??? masiii penasaran ihhhh…
    itu bum amnesianya blm sembuh jg sihhh.. masa ga inget2 so eun…
    ya udahhh ayooo lanjut part berikutnya.. hho..
    jangan lama2 ya !!!🙂

  2. Anjany Bumsso says :

    haha….. cuplikan ya gak sedikit tapi panjang !!!!
    ceritanya bagusssss bgt T.O.P B.G.T !!!!!!!
    maksudnya senyum meraka barkaitan satu sama lain maksudnya apa yah ?????
    tapi tetep bagus kok !!!!!

  3. Yunie sipenyuka hijau says :

    Msh agak binun juga pa ada cinta sgi tiga nich .apa yg trjadi dgn masa lalu mrka yaw. Dtggu dweh lanjtan.a ojo kesuen yo

  4. Atin says :

    aq ngefans jg ma seo woo,cariin cow lain z,kim joon misalnya (mentang2 main bareng di crime squad,tu jg ga jd pasangan kug.hehe) y mending drpd ma kb gt.kan kcian so eun.,
    Dtunggu kelanjutannya.,

  5. Atin says :

    Eh bukan dink yg di crime squad tu idolaq yg lain,song ji hyo.,haha
    Error saya., seo woo ma cp y enaknya?Terserah author dech.hehe

  6. dini ramadhani says :

    msh bingung ada hubungan apa ya ma bumsso?
    lanjuuut

  7. Chiby says :

    Penasaran bgt. . . . Kq senyum be3 berkaitan, , min kyung nyaut pa’an ea, . . . Hhe. . .

  8. farah dhila says :

    hehehe, kurang ya flashback-nya? sengaja ituu chingu:) biar tambah penasaran kaliannya hehehe.
    tungguin part selanjutnya yaaa, gomawo uda baca~

  9. Amalia'SoEul'Lova says :

    huaa..

    Penasaran👿

    Lanjutan.a ditunggu lhoo:mrgreen:

  10. qieqi_bumsso says :

    eun kok bkm dksi tw jga sue masa laluny se oun am kim bum,,,
    q penasaran bgt nue,,,
    msh blm ngerti gmn cerita masa lalu mereka,,,😦

    d’tnggu ya part selanjutny eun…

  11. ismijb says :

    penasaran tingkat dewa lol

    lanjutkan😀

  12. Akira_HyoSun says :

    Annyeong…
    Salam kenal chingudeul ^^

    aku dh baca part 1 ampe part 3…
    Mkin seru nih..

    Seo woo p’a hub ama kim bum oppa? Oooh… Tidaaaaak… Aku lbih ska ngliat seo woo unni ama Im Ju Hwan oppa.. So, aku req, masukin ju hwan oppa ke FF ini yah..🙂

    oh iya, kok FF ini tiap part’a pendek2 skali y? Mianhae kalo banyak kritik.. Tp itu menurut pndapatku chingu ^^

  13. Ina BeQi Soeulmates says :

    waaaaaaaahhh waaaaaaaahhh
    ini ada apa sih sbnar.a antara kim bum ma so eun,, d.tambah lg ada seo woo..
    aaaaaaaaaaahh
    ada apa ini????
    makin penasraaaaaaaaaaaannnnnn.
    seeruuuuu seruuuu
    aku suka kata” kim bum mngartikan cinta dan kepercayaan..
    ahaha
    lanjuuuuuuuuuuuutttttttttttt

  14. rizkyapratiwi says :

    yaaaaaaaaahhhh … ceritanya seru bgtz

    penasaran sm part selanjutnya… semakin kereeeennn

  15. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Keren nih aku tertarik penasaran sama masa lalu Bumssonya hihihi nah loh SeoWo itu siapanya bum ? Ahh penasaran !

  16. Rahmie mamierizky says :

    Udah ngerti sih tapi ttp aja penasaran, hahaha Author paling bisa bikin orang penasaran,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: