Forget-The Love-Not (Part 4)

Author       : Farah Dhila

Main Cast  : Kim Bum and Kim So Eun

Cast           : Kang Min Kyung(Davichi), Seo Woo, Lee Jong Hyun(CNBlue), Yoo Seung Ho,  and Park Eun Bin.

Genre        : Romantic/Friendship

Type          : Sequel

 

 

Anyeong chingu:) Masih inget ceritanya Forget-The Love-Not Part 3 ga? Hehe buat yang lupa atau ketinggalan ubek2 aja library-sequel, di sana lengkap kok. Ntar selesai baca, tolong komen yaaa~ Oke, ENJOY READING ♥♥♥

 


 

So Eun menunggui syuting hingga selesai hari ini. Ia sedang tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan di kantor, entah yang berhubungan dengan novel keempatnya atau hal yang lain. Lagipula ia tidak membawa mobil—mobilnya masuk bengkel tadi pagi. Jadi, ia berencana menumpang pada mobil Min Kyung saja untuk pulang nanti. Semua kru terlihat sedang sibuk membereskan ini dan itu. So Eun menunggui Min Kyung dengan sabar di meja dekat pintu keluar kafe. Setelah beberapa menit Min Kyung menghampirinya bersama Seung Ho. Kenapa bersama Seung Ho?

“Kau tidak bawa mobil?”tanya So Eun langsung saat merasa ada yang tidak beres dengan anak itu.

Min Kyung menggandeng So Eun menjauh,”Aku pulang dengan Seung Ho. Ia sedang bawa mobil sendiri hari ini.”

So Eun menatap Min Kyung lekat-lekat,”Astaga, kau ini nunanya Min Kyung-ah.” So Eun menggeleng-gelengkan kepalanya. Min Kyung ini bisa-bisanya. Ia lalu berkata lagi dengan merajuk,”Lagipula aku nanti pulang dengan siapa?”

“Denganku saja.”

Min Kyung dan So Eun menoleh ke arah sumber suara bersamaan. Kim Bum berdiri di belakang mereka sambil tersenyum.

“Bagaimana?”katanya menawarkan lagi.

Sunyi sesaat.

“Baiklah. So Eun pulang denganmu. Ya, Eun?”tanya Min Kyung bersemangat sambil menoleh ke arah So Eun. Sebelum sempat So Eun menjawab, Min Kyung sudah mendorongnya mendekat ke arah Kim Bum.

“Aku duluan ya Eun,”kata Min Kyung sambil tersenyum. Ia berjalan cepat ke arah Seung Ho dan melambai ke arah So Eun sebelum keluar dari kafe.

So Eun tidak membalas senyum Min Kyung, ataupun lambaian tangannya. Anak itu benar-benar tidak lucu. Tindakannya juga, sangat tidak lucu.

“Pulang sekarang?”

So Eun menoleh. Ia lalu memandang dengan gelisah ke setiap sudut ruangan. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain. Ia mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Kim Bum keluar dari kafe.

“Kau ingin langsung pulang?”tanya Kim Bum beberapa saat setelah mobil mulai berjalan.

So Eun menoleh,”Memangnya kau masih ada urusan?”

“Mm bukan urusan yang penting. Tapi …”

“Tidak apa-apa, selesaikan saja dulu urusanmu. Setelah itu baru mengantarku pulang.”kata So Eun sambil tersenyum singkat.

“Benar?”

So Eun mengangguk pasti. Ini sepertinya tidak akan memakan waktu lama, jadi mungkin tidak apa-apa. Lagipula ia sudah berbaik hati mengantarkanku pulang, kata So Eun dalam hati—mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

 

♥♥♥

 

Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang tidak begitu ramai. So Eun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Kim Bum dengan bingung. Mereka naik ke lantai yang paling atas. Di sana ada beberapa restoran cepat saji yang tempatnya menghadap ke sebuah tempat ice skating yang besar. Setelah duduk dan memesan makanan, So Eun akhirnya bertanya.

“Kenapa kemari?”

Kim Bum yang sejak tadi memandang ke arah tempat ice skating menoleh ke arah So Eun. “Kau belum makan malam kan?”

So Eun menggeleng.

“Aku juga. Jadi tepat kan aku mengajakmu ke tempat ini?”

So Eun mengangguk setengah-setengah,”Iya, memang. Tapi kenapa harus kemari?”

“Kau tidak suka?”

“Bukan begitu.”

Kim Bum tertawa,”Aku sangat suka melihat orang-orang itu”katanya sambil menunjuk ke arah tempat ice skating di depan mereka.

“Kau suka ice skating?”tanya So Eun mulai mengerti.

Kim Bum mengangguk lalu menambahkan,”Tapi aku tidak bisa ice skating. Aku hanya senang melihat orang-orang bermain saja.”

So Eun perlu waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata Kim Bum. Tidak bisa ice skating? Dulu dia bisa. Oh atau karena ingatannya hilang.

Kim Bum kembali menatapnya sambil tersenyum. So Eun membalas senyuman itu. Sayang sekali, padahal dulu kalau ia sedang kesal, dengan ber-ice-skating suasana hatinya akan kembali baik. So Eun mengehentikan suara hatinya. Sebentar, kalau sekarang ia sedang kesal karena gosip itu. Bagaimana kalau aku mengajaknya bermain ice skating? Siapa tau, suasana hatinya akan kembali seperti semula. So Eun kembali tersenyum. Ia lalu berkata dengan senang,”Setelah ini, kita main ice skating ya?”

Kim Bum mengerutkan keningnya, bingung.

“Ya?”tanya So Eun sekali lagi.

“Tapi, aku kan …”

“Kau bisa. Percaya saja padaku”kata So Eun sambil masih tersenyum. Ia tampak sangat bersemangat. Sehingga akhirnya Kim Bum mengangguk menyanggupi.

So Eun sudah mulai berputar-putar di atas es seperti penari professional. Sebenarnya pelajaran baletnya cukup berguna di saat-saat seperti ini. Bummie memperhatikannya dengan kagum. Ia masih saja berpegangan pada pegangan di pinggir.

“Ayo Bummie, kau bisa melakukannya.”

Tiba-tiba Kim Bum melepaskan kedua tangannya dari tempat berpegang di pinggir begitu saja. Ia sebenarnya kaget, bukan ingin mulai meluncur. So Eun memanggilnya Bummie? Tapi, panggilan itu kan hanya appa dan beberapa orang terdekatnya yang tau. Bagaimana bisa?

Tanpa sadar Kim Bum sudah berjalan sambil terus berpikir—memikirkan jawaban dari pertanyaannya tadi, bagaimana So Eun bisa memanggilnya Bummie? Bukan, bukan. Tapi dari mana So Eun tau nama itu?

So Eun menghampirinya sambil tersenyum,”Kau bahkan tau bagaimana harus berdiri di atas es itu dengan baik tanpa harus kuajari terlebih dulu dan kulihat meluncurmu juga sudah lancar.”

Kim Bum kebingungan sambil menatap kedua kakinya. Dengan ragu-ragu ia meluncur mengelilingi So Eun. Astaga, ia bisa. Ia mengingat semua caranya, bagaimana ia harus berdiri dengan baik, meluncur dengan lancar, dan berhenti dengan cepat.

Kim Bum berhenti tepat di samping So Eun. Gadis itu tersenyum lalu kembali meluncur menjauh. Kim Bum terus memperhatikannya sampai jauh. Ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Kim So Eun. Namun gadis itu membuat seolah-olah ia tidak perlu susah payah mencari tau, yang perlu ia lakukan hanya mengingatnya kembali.

“Kau meluncur dengan hebat,”puji So Eun sambil berusaha mensejajarkan posisinya di samping Kim Bum.

“Kau juga,”

So Eun tersenyum. “Lihat ini,”katanya sambil meluncur mendahului Kim Bum. Ia mempraktekkan tarian baletnya. Sebenarnya lebih menyenangkan menari sambil berseluncur dibanding hanya menari di lantai kamarnya. Ia mulai bisa menikmati malam ini.

So Eun menghentikan gerakannya. Nafasnya mulai terengah-engah. Ia lelah, tapi kepalanya tidak sakit. Ini sedikit di luar kebiasaan. Kim Bum meluncur mendekatinya.

“Ada apa?”

So Eun tersenyum. ”Tidak, tidak ada apa-apa”jawabnya sambil berusaha mengatur nafas.

Kim Bum balas tersenyum lalu mengulurkan sebelah tangannya,”Meluncurlah denganku”

So Eun berhenti tersenyum. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak tidak karuan. Meluncurlah denganku. Seharusnya kepalanya berputar. Seharusnya kenangan ini membuat kepalanya sakit. So Eun terdiam. Ia mulai menatap Kim Bum. Sepasang mata itu memandangnya dengan sinar cerah. Kalau kenangan ini tidak membuatku sakit kepala, aku yakin meluncur dengannya juga tidak akan menyiksaku dengan rasa sakit itu. Dengan perlahan So Eun menyambut uluran tangan Kim Bum. Genggaman itu terasa hangat. So Eun membiarkan dirinya terus meluncur dan berputar-putar. Ia membiarkan tangannya terus dalam genggaman Kim Bum. Ia mulai tersenyum dan kemudian tertawa. Kim Bum ikut larut dalam kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang tidak hanya satu, tapi dua—satu untuk So Eun karena tidak ada rasa sakit yang harus ditanggungnya karena ia mengulangi kenangan masa lalu itu, dan satu lagi untuk Bummie yang sudah memulai langkah awal menemukan ingatan-ingatannya yang hilang.

“Boleh aku tanya sesuatu padamu?”tanya So Eun sambil mengenakan kembali high heels-nya. Kini mereka berdua sedang duduk-duduk di bangku panjang, di dekat tempat peminjaman alat-alat ice skating.

“Kau ingin tanya apa?”

“Soal berita kedekatanmu dengan Seo Woo. Apa itu benar?” So Eun menoleh ke arah Kim Bum dengan takut-takut.

Kim Bum tersenyum samar,”Tidak. Itu tidak benar. Hubunganku dengan Seo Woo tidak seperti itu.”

So Eun menunduk menatap high heels-nya lalu kembali menatap Kim Bum. Laki-laki yang di tatapnya tiba-tiba tertawa pelan,”Tapi, kukira kau tidak akan peduli dengan berita seperti itu.”

So Eun sempat diam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum menanggapi,”Sebenarnya memang tidak. Tapi, entahlah aku hanya ingin tau yang sebenarnya saja. Apa berita itu yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?”tanya So Eun lagi.

“Ya, berita itu memang sangat menggangguku. Tapi karena kau mengajakku bermain ice skating malam ini, kurasa suasana hatiku sudah membaik” Kim Bum lalu menoleh ke arah So Eun,”Terima kasih ya.”

So Eun ikut menoleh dan membalas senyum Kim Bum. Aku tau itu, Bummie.

“Kita pulang sekarang?”tanya Kim Bum sambil masih tersenyum. So Eun mengangguk—mengiyakan.

 

♥♥♥

 

So Eun baru saja akan menyalakan mesin mobil saat ponselnya bordering. Telfon dari Min Kyung.

“Yeobuseyo”

“Hai Eun”sapa Min Kyung dengan suara yang terdengar bersemangat

So Eun tersenyum,”Aku tau apa yang ingin kau bicarakan.”

“Apa?”

“Seung Ho. Benar kan?”

“Iya, tapi sebenarnya bukan hanya itu yang ingin kubicarakan padamu.”

“Ada apa?”

“Kau bisa membantuku tidak?”

“Membantu apa?”

“Hari ini ikut denganku ke pertemuan dengan sponsor.”

So Eun mengerutkan keningnya bingung,”Kenapa aku?”

“Harusnya memang bukan kau. Hye Ri dari bagian house production yang akan pergi bersamaku ke pertemuan itu tiba-tiba masuk rumah sakit. Kau kan tau seluk beluk novel itu sampai terinci. Ya tentu saja, karena kau menulisnya dan kau juga pasti bisa membantuku mempresentasikannya dengan baik. Jadi, ikut denganku ya?”

So Eun diam dan berpikir. Ia berusaha mengingat-ingat jadwalnya seharian ini. “Berapa lama pertemuan itu akan berlangsung?”

“Sekitar satu sampai satu setengah jam.”

“Mm, baiklah. Aku akan ikut.”

“Nah, kalau begitu sekarang aku akan cerita soal Seung Ho” Min Kyung menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. ”Dia menyukai Eun Bin”kata Min Kyung setengah berbisik walaupun sebenarnya tidak ada yang akan menguping pembicaraan itu.

“Yang benar?”

“Dia bilang sendiri padaku Eun.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Aku juga tidak tau. Tapi aku tidak heran, Eun Bin sangat cantik, ia juga punya senyum yang indah.”

“Ah, kau ini. Selalu saja berpikiran seperti itu.”

“Lalu aku harus berpikir seperti apa?”

“Min Kyung-ah. Rasa suka tidak selalu datang karena hal-hal seperti itu. Bisa saja karena Eun Bin adalah orang yang sederhana. Walaupun cantik ia tidak pernah meninggikan dirinya di hadapan orang lain.”

Min Kyung mengangguk beberapa kali,”Ya, kau benar.”

“Mungkin dia bukan yang paling baik untukmu.”

“Sebenarnya aku juga tidak terlalu tertarik padanya Eun. Dia masih terlalu muda untukku.”

So Eun tertawa pelan,”Itu kau mengerti.”

“Mm, kalau begitu sampai ketemu nanti. Di kantor setelah makan siang. Ya?”

“Mm, sampai nanti.”

So Eun memutuskan hubungan telefon itu lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Aku yakin suatu saat kau akan menemukan pria yang benar-benar pantas untukmu, Min Kyung-ah. Yang mencintaimu bukan hanya karena kecantikanmu, tapi juga karena ketulusan hatimu.

 

♥♥♥

 

Pertemuan itu berjalan dengan lancar. Hanya satu yang tidak, Min Kyung masih saja kesal dengan seseorang dari bagian humas perusahaan sponsor itu. Orang yang sama dengan yang ditelfonnya waktu So Eun pernah berkunjung ke lokasi syuting. Namanya Lee Jong Hyun. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab saat Min Kyung berpresentasi tadi. Sebenarnya menurut So Eun, itu pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Ia malah terkejut karena ada orang yang  memperhatikan hal-hal yang mungkin orang lain tidak tertarik untuk menanyakannya. Tapi sebaliknya dengan Min Kyung. Karena terlanjur kesal sejak awal, ia tidak bisa terlalu nyaman dengan suasana pertemuan tadi.

“Dia itu benar-benar, ash.”

So Eun menoleh menatap Min Kyung sambil tersenyum geli. Dari tadi Min Kyung belum berhenti marah-marah.

“Kenapa bisa ada orang seperti itu di dunia ini? Ya ampun, aku kasihan sekali orang sepertiku ini, harus bekerja sama dengan orang aneh seperti … seperti siapa tadi namanya Eun?”

So Eun menoleh lagi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya,”Lee Jong Hyun.”

“Ya, ya Lee … Lee…”

“Lee Jong Hyun, Min Kyung-ah.”

“Ah, siapa lah namanya, terserah. Aku tidak peduli yang jelas dia itu sangat menyebalkan”Min Kyung menghentikan bicaranya lalu menoleh ke arah So Eun,”Apa kau tidak kesal Eun? Dia hampir membunuh kita berdua di sana tadi.”

“Tapi, pertanyaannya benar Min Kyung-ah. Dia hanya sedikit berbeda dan berbeda kan bukan suatu kesalahan.”

Min Kyung terdiam. Ia terlihat berpikir. Beberapa detik kemudian ia kembali  berujar dengan nada yang lebih pelan dari saat ia marah-marah tadi,”Tapi, tetap saja menyebalkan.”

So Eun menatap Min Kyung sambil kembali tersenyum geli.

“A-ah, pokoknya aku masih kesal dan dia tetap orang yang menyebalkan.”kata Min Kyung sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ya, baiklah. Terserah kau saja.”kata So Eun sambil masih tersenyum. Ia lalu kembali berkonsentrasi menyetir mobil.

 

♥♥♥

 

Sore sudah akan berganti malam saat Min Kyung meninggalkan lokasi syuting. Sebelum pulang, ia harus ke toko roti dulu. Karena tadi ibunya menelfon dan berkata persediaan roti di rumah sudah habis.

Min Kyung langsung masuk ke toko itu setelah memarkirkan mobilnya. Ia tidak sadar saat seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya juga masuk ke toko itu.

Saat akan membayar ke kasir, baru lah ia menyadari bahwa Lee Jong Hyun—orang yang tadi siang membuatnya kesal setengah mati—sedang berada satu ruangan bersamanya. Laki-laki itu berdiri di hadapannya sambil merogoh panik kedua kantong celananya. Min Kyung hanya diam di tempat memperhatikan sampai akhirnya ia tidak tahan lagi untuk menunggu lebih lama dan maju ke meja kasir. Ia bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Pegawai toko itu berkata bahwa sepertinya Jong Hyun lupa membawa dompet. Oh, astaga. Orang seperti dia bisa lupa juga ternyata.

“Berapa jumlahnya kalau belanjaanku dan dia digabung?”tanya Min Kyung pada pegawai toko itu tanpa memperdulikan Jong Hyun yang sedang memperhatikannya.

Setelah selesai membayar, Min Kyung langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa pada Jong Hyun. Min Kyung tidak bermaksud apa-apa melakukan tindakan seperti itu, ia hanya ingin cepat pulang dan istirahat. Lagipula nafsunya untuk merasa kesal pada Jong Hyun sudah hilang entah kemana.

“Tunggu. Hei tunggu aku!”teriak sebuah suara menghentikan langkah Min Kyung.

Min Kyung menoleh. Ternyata Jong Hyun mengerjarnya.

“Ada apa?”

“Kau yang tadi siang itu kan?”

Min Kyung mengangguk sambil tersenyum.

Jong Hyun balas tersenyum. Senyum yang membuat Min Kyung bingung. Selama pertemuan tadi, Jong Hyun sama sekali tidak tersenyum. Jadi, ia merasa agak aneh melihat senyum Jong Hyun saat ini.

“Terima kasih. Aku benar-benar lupa membawa dompet tadi.”katanya sambil masih tersenyum.

Min Kyung semakin bingung. Kenapa ia jadi ramah seperti ini?

“Oh iya. Aku tidak tau kau ingat aku atau tidak, tapi namaku Lee Jong Hyun.”katanya lagi sambil mengulurkan tangan kanannya.

Min Kyung tersenyum singkat lalu menyambut uluran tangan itu,”Aku Kang Min Kyung.”

“Senang berkenalan denganmu Min Kyung-ssi.”

“Mm, aku juga.”kata Min Kyung masih terbingung-bingung.

Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang lama. Jong Hyun entah melakukan apa, sementara Min Kyung masih bingung dan berusaha untuk berpikir.

“Oh ya, aku harus cepat-cepat pulang. Aku duluan ya”kata Min Kyung memecah kesunyian di antara mereka.

Jong Hyun tersenyum.

“Sampai jumpa”kata Min Kyung sambil mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda perpisahan.

“Sampai jumpa”balas Jong Hyun sambil masih tersenyum.

Min Kyung berjalan cepat ke arah mobilnya, membuka pintu mobil dengan cepat, dan masuk ke mobil juga dengan cepat. Ia melambai ke arah Jong Hyun sambil mengklakson pada Jong Hyun saat mobilnya berjalan keluar parkiran.

 

♥♥♥

 

So Eun menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia lelah sekali. Tadi setelah pergi ke pertemuan dengan Min Kyung ia harus mengantar nenek berbelanja.

Mata So Eun baru saja akan terpejam saat ponselnya berbunyi. Min Kyung menelfon lagi.

“Yeobuseyo. Ada apa Min Kyung-ah?”

Min Kyung juga menghempaskan tubuhnya di ranjang di tempat yang berbeda,”Aku bertemu lagi dengan Jong Hyun, Eun.”

“Apa? Siapa?”

“Lee Jong Hyun, pria yang banyak tanya itu.”

“O-oh. Lalu?”So Eun membalikkan tubuhnya. Ia mulai tertarik dengan cerita Min Kyung.

“Astaga Eun. Dia berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang kita temui tadi siang.”

So Eun mengerutkan keningnya,”Maksudmu? Coba ceritakan padaku dari awal dan … pelan-pelan.”

“Tadi sore aku bertemu dengannya di toko roti. Dia lupa membawa dompet dan aku membayar rotinya. Setelah itu aku langsung pergi, tapi ternyata dia mengerjarku”Min Kyung terdengar menghela nafas. “Dia tersenyum dan mengajakku berkenalan. Kalau kau jadi aku dan berada di depannya saat itu kau pasti juga bingung melihat senyumnya. Kau tau sendiri kan Eun, dia sama sekali tidak tersenyum waktu pertemuan tadi siang.”

“Mm iya memang, sampai-sampai aku mengira urat tersenyum orang itu sudah putus.”

Min Kyung tertawa,”Aku juga berpikir begitu. Tapi Eun, memangnya ada urat tersenyum?”

So Eun berpikir sesaat lalu ikut tertawa bersama Min Kyung,”Sepertinya memang tidak ada Min Kyung-ah. Tapi… lupakan saja. Lanjutkan ceritamu.”

“Dia sangat sangat ramah. Dia juga mengucapkan terima kasih karena aku membayarkan rotinya. Lalu sebelum aku pulang, dia tersenyum lagi”Min Kyung terdengar menghela nafas lagi—kali ini ia terdiam cukup lama sebelum berkata lagi,”Menurutmu bagaimana?”

So Eun tersenyum“Mm, sepertinya aku mendengar suara orang jatuh cinta.”

“Hah, siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan kau”

“Oh ayolah Eun. Jangan aneh-aneh.”

“Aneh bagaimana? Jatuh cinta itu wajar Min Kyung-ah.”

“Aku tidak sedang jatuh cinta dan aku jamin kalau iya, bukan pada Jong Hyun.”kata Min Kyung dengan memberikan penekanan pada nama di akhir kalimatnya.

“Hati-hati dengan perkataanmu.”

“Eun!”

So Eun tertawa. Menggoda Min Kyung adalah hal yang paling disukainya. Min Kyung tidak bisa berkutik kalau ia sudah menggodanya. Seperti kali ini.

“Ya, pada intinya aku masih tidak habis pikir dengan sikapnya. Tapi bagusnya sekarang aku sudah tidak kesal lagi padanya. Karena peristiwa tadi itu, kurasa sebenarnya dia orang yang baik.”

“Aku senang mendengarnya. Setidaknya kau tidak akan menyusahkan telingaku dengan terus mengomel seperti tadi siang.”

“Kau ini memang”

So Eun tertawa lepas.

“Oh iya, tadi Kim Bum menanyakan nomor ponselmu padaku. Tunggu saja, sebentar lagi dia pasti akan menelfonmu.”

So Eun terdiam. Nafsu tertawanya menguap begitu saja entah kemana. Ia heran—sangat heran—kenapa  nama Kim Bum begitu mudah membuatnya diam dan terpaku.

“Eun, kau masih di sana kan?”

“Mm, iya. Apa lagi?”

“Sudah dulu ya. Ibuku memanggil.”

“Oh, baiklah.”

Hubungan telfon itu terputus. So Eun membalikkan badannya lagi. Ia memejamkan matanya. Ia ingin tertidur sebentar saja. Tapi, kenapa rasanya susah sekali? So Eun membuka matanya lagi. Astaga, jangan-jangan ia sedang berharap Kim Bum benar-benar menelfonnya. Oh Tuhan, kumohon jangan.

♥♥♥

So Eun terbangun dari tidurnya karena suara ponsel yang berdering sangat berisik. Ya ampun, pagi-pagi buta seperti ini siapa yang menelfon?

“Yeobuseyo”sapa So Eun sambil masih berusaha mengumpulkan nyawanya.

“Selamat pagi”jawab suara di seberang sana.

“Pagi. Maaf ini siapa ya?”tanya So Eun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Astaga, siapa sih orang ini? Ia kan masih ingin tidur.

“Aku, Bummie”jawabnya dengan suara tertahan. Sebenarnya ia hanya ingin tau reaksi So Eun saat ia menyebutkan nama panggilannya yang satu itu.

So Eun langsung bangkit dan terduduk di ranjangnya,”O-oh kau. Ada apa menelfon pagi-pagi?”

Kim Bum mengerutkan keningnya. Ia bingung—untuk kedua kalinya—kenapa So Eun sepertinya sudah terbiasa dengan nama Bummie-nya. Bingung karena ia belum pernah sekalipun bercerita tentang nama panggilannya itu.

“Apa ada masalah dengan jalannya syuting?”tanya So Eun lagi dengan suara yang lebih bertenaga. Ia mengira Kim Bum tidak mendengarnya karena laki-laki itu terdiam cukup lama.

Kim Bum tersadar dari lamunannya,”Tidak, tidak ada masalah. Aku hanya ingin memastikan apakah ini benar nomor ponselmu.”

So Eun menghempaskan tubuhnya lagi ke ranjang. O-oh dia hanya ingin memastikan.

“Kau baru bangun?”

So Eun mengusap-usap kedua matanya dengan sebelah tangan,”Mm iya.”

“Maaf membangunkanmu.”

“Tidak apa-apa. Harusnya memang aku sudah bangun dari tadi,”kata So Eun sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku tutup dulu telfonnya.”

Maksudnya sudah dulu? So Eun mengangguk. Namun setelah menyadari bahwa Kim Bum tidak akan bisa melihat anggukan kepalanya ia bergumam pelan mengiyakan.

“Sampai jumpa.”

“Mm, sampai jumpa.”

Setelah hubungan telefon itu terputus So Eun menatap langit-langit kamarnya dengan lesu. Bingung memutuskan harus senang atau biasa saja. Kim Bum menelfonnya tanpa alasan. Sebenarnya mungkin itu hal mudah. Tapi bagi So Eun yang terus dibayangi kenangan-kenangannya bersama Kim Bum dulu, itu cukup sulit. Dulu saat Kim Bum menelfonnya hanya untuk basa-basi atau mengobrol tidak jelas, itu pasti tujuannya hanya satu, karena ia merindukan So Eun.

So Eun memejamkan matanya lagi. Mungkin kali ini, bukan masalah rindu. Ya, pasti bukan Eun. Kau tidak boleh berpikir yang macam-macam. Tidak boleh. So Eun menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha menuruti suara hatinya, mengusir pikiran-pikiran yang tidak seharusnya.

 

♥♥♥

 

Min Kyung membetulkan letak syalnya sambil berjalan dengan cepat melewati beberapa orang sebelum kemudian masuk ke dalam lift. Ia lalu kembali sibuk membetulkan rambut panjangnya yang tergerai begitu saja sesaat setelah masuk ke dalam lift.Tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil dan tanpa berpikir ia langsung menoleh. Betapa terkejutnya ia mendapati Jong Hyun yang sedang tersenyum berdiri tepat di sebelahnya.

“Apa kabar?”kata Min Kyung berusaha tidak terlihat terkejut. Ia tidak memperhatikan siapa orang yang berjalan di belakangnya saat masuk ke dalam lift tadi. Ternyata itu Jong Hyun. Jong Hyun lagi. Astaga ini kan masih pagi. Kenapa harus bertemu dia lagi?

“Baik. Kau sendiri?”

Min Kyung tersenyum,”Bisa kau lihat, aku juga sama baiknya denganmu.”

“Mm, kurasa memang begitu.”

“Jadi, ada keperluan apa datang kemari? Ada rapat atau apa?”kata Min Kyung dengan nada yang dibuat seramah mungkin.

“Aku ingin menemuimu.”

Kali ini Min Kyung tidak bisa menyembunyikan kekagetannya,”Ah?”

“Iya. Aku kesini untuk bertemu denganmu.”

“Bertemu denganku? Soal pekerjaan?”

Jong Hyun tersenyum,”Bukan. Ini masih terlalu pagi untuk membicarakan soal pekerjaan. Lagipula sepertinya tidak ada masalah pekerjaan yang harus kubicarakan denganmu.”

Min Kyung mengangguk-angguk beberapa kali. Ya, itu memang benar. “Lalu?”

Pintu lift tiba-tiba terbuka. Jong Hyun mempersilahkan Min Kyung keluar lebih dulu dengan mengangkat sebelah tangannya. Min Kyung berjalan dengan kikuk keluar dari lift.

“Jadi?”tanya Min Kyung melanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.

Jong Hyun berhenti berjalan. Min Kyung yang merasa bingung akhirnya ikut berhenti.

“Aku ingin mengembalikan uangmu.”

Min Kyung menatap Jong Hyun masih dengan tatapan kebingungan.

“Kau tidak ingat? Yang di toko roti itu.”

“Oh ya ya, aku ingat. Astaga, tapi itu tidak perlu Jong Hyun-ssi. Aku tidak bilang sedang meminjamkan uangku pada saat itu kan?”

“Tapi tetap saja aku merasa berhutang budi padamu.”

“Hmm, bagaimana ya enaknya? Aku jadi bingung.”

Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang lama. Sama-sama sibuk berpikir. Jong Hyun akhirnya bersuara lebih dulu.

“Atau bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang? Aku tidak akan merasa hutang budi lagi dan kau juga tidak merasa bahwa aku sedang membayar hutang padamu.”

Apa? Makan siang? Min Kyung pada dasarnya adalah orang yang cepat bergaul dengan siapa saja ditambah lagi ia ramah dan menyenangkan. Jadi untuk ajakan seperti ini, ia sudah biasa tidak memakai pertimbangan. Ia pasti akan langsung menjawab iya. Tapi kali ini lain. Entah karena Jong Hyun atau apa. Ia merasa sulit untuk memutuskan.

“Bagaimana?”tanya Jong Hyun sekali lagi. Ia tampak tetap tenang dan sabar menunggu Min Kyung yang masih lambat berpikir.

“Mm, baiklah. Mungkin itu ide yang bagus”kata Min Kyung akhirnya sambil tersenyum.

Jong Hyun ikut tersenyum.

Min Kyung mulai merutuki dirinya sendiri dalam hati walau bibirnya masih terus tersenyum. Baiklah, pertama menyanggupi makan siang dengannya. Lalu besok apa lagi Kang Min Kyung?

♥♥♥

Buat flashback-nya So Eun sama Bummie, ntar bisa dimengerti sambil jalan(?) Karena ga setiap part ada flashback-nya,  jadi maaf2 yaa kalo bikin bingung.

Penasaran ga ni? Hehe, kalo iyaa ditunggu aja yaa Forget-The Love-Not part 5 nyaa. Gomawooo~

 

Buka page Question & Answer apabila ada yang ingin ditanyakan
Buka dan isi data kalian di page Mates untuk perkenalan dan berkenalan dengan mates/reader yang lain
Lihat page How To Join untuk mengetahui bagaimana cara mengirim ff
Buka Library (sequel or one shoot) untuk melihat ff yang sudah dipost
Buka http://bumssoindo.wordpress.com untuk mengetahui news terbaru dari Kim Bum dan Kim So Eun
Follow our new twitter @bumssoindo dan mention saja bila ada yang ingin kalian tanyakan (usahakan untuk tidak menanyakan masalah privasi Kim Bum dan Kim So Eun ^^) *fans Korea sangat menjaga privasi artis mereka*
Like Kim Bum dan Kim So Eun fanbase on facebook BUMSSO INDONESIA

 

P.S.: please…… no bashing, no spaming, no hotlink !! ^^

NB: JANGAN COPY-PASTE FF YANG ADA DI SINI TANPA SEIZIN AUTHOR DAN ADMIN DI SINI… APALAGI SAMPAI TIDAK MENCANTUMKAN NAMA AUTHOR DAN SUMBERNYA

Tags: , , , , , ,

22 responses to “Forget-The Love-Not (Part 4)”

  1. zi_aza says :

    di tunggu crita slanjutnya….

  2. krista says :

    lamjutkannn cerita selanjutnyaaa ….. yipiiii🙂

  3. wie says :

    ye… akhirnya so eun & kim bum mulai akrab lg…

    dtunggu ya part selanjutnya… ^_^

  4. Enno says :

    wuih . .. . bumsso berduaan nui di ice skating . .. 😀 jd inget yg di bbf. hohohoh
    asyiiikk nui kb dah mule curiga knp kse manggil bummie. knp kse gak ngmg jujur aja tow?????? makin penasaran ik .. .😉

    waduw itu minkyung gak dpt seungho, jonghyun pun jd. hahahha

  5. Dina Rizky says :

    wah semakin seru nech btw aq tunggu lanjutanx ya…

  6. rini says :

    makin seru,,
    lanjutkannnn,,,

  7. Ina BeQi Soeulmates says :

    makin seruuuuu
    makin penasaran
    lanjuuuuuutt^^

  8. Kim So In says :

    Penasaran ma hubungan mereka selanjut’a

  9. Niiz says :

    Penasaran, lanjut ya

  10. dini ramadhani says :

    to the point aja,dtunggu lanjutannya

  11. rosiyani 'oci' says :

    makin seruuuu.. yg buat penasarn cerita flshbacknya nih,,, hhu..
    aishhhh bum dah mulai inget2 nih… so eun moga membantu memulihkan ingatan bum…
    ayo ditunggu kelanjutannya.. jgn lama2 ya🙂

  12. anastasia erna says :

    jgn lama2 ya…di tunggu…lanjutannya.

  13. pucha says :

    annyeeeoooooooonngggggg author……..

    sbelumnya mau ucapin jongmal mianhae coz baru comment di part ini,,,

    huaaaaaaaa ceritanya beda yah,,,jarang2 tuh mereka berprofesi jadi sutradara and penulis hohooh😀
    sukaaaaaaaaa sama ceritnaya,,,alurnya juga,,,masa lalu soeun and kim bum di ceritakan dengan pelan2,,biar agak misterius dikit,,hebat nieh authornya sukses buat penasaran,,,

    hm,,,jarang2 juga nieh tokoh min kyung sama joon hyung di ff/ os bumsso,,,
    kayaknya bakal seru juga cerita mereka,,,

    ayo2 author cepet2 di update yah ^^
    gomawo
    _bow_

    ayo2 cepet2 di update ASAP—-> maksa ahahaha

  14. alika says :

    menurut penerawangan ku*peramal kali ya???*kimbum n kim so eun tu pernah tabrak’an na nummie tu amnesia sementara soeun belum jls juga apa penyakitnya aku juga bingung hehehehe…
    trus jga aku prediksi dulu dia pernah menjalin hubungan*uhuk uhuk.. kayaknya pas mao ngomong gitu bawaannya batuk teruss hehehehe*
    n kl mereka gg menjalin hubungan mungkin mereka sahabat’an*agak kecewa kl mereka sahabat’an”
    waw kyk mana ya gaya balet soeun.. pasti keren deh di jamin kimbum akan terpesona pada pandangan pertama hehehehe..
    ya dah deh kak sampai sini dulu ya komen nya..
    di tunggu lanjutannya.🙂

  15. Atin says :

    Seruuuu,tp qga gt kenal ma min kyung jd kadang dialognya qbaca cepet soalnya ga bs mengimajinasikan.,kl bumsso qbaca pelan2.hehe *reader koplak*
    Siip,dtunggu..

  16. farah dhila says :

    hehe makasi ya semuanya uda baca🙂 oke, diusahain cepet deh part selanjutnya, ditunggu yaaah~

  17. rosiyani 'oci' says :

    ini lama deh mana lanjutannya???
    hhe🙂

  18. taemleebumsso says :

    annyeong author,,,ayo lanjutan part nya mana nich????
    udah ditunggu lho,,,,,,,,,,,,

  19. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Keren thor sukaaa alurnya ,. Oh iya dimana ya part 5.nya soalnya di library BSI cuma sampe part 4🙂

  20. Queenella says :

    Aduh penasaran sama masa lalu kim bum sama so eun
    Kenapa kim bum amnesia? Kenapa juga so eun selalu sakit kepala kalo inget masa lalunya?
    Ayo cepet lanjutin ceritanya ya

  21. Wietv5xq says :

    Author ayoooo semangatttt
    penasaran banget nich
    aq tunggu part5 dan slnjut’x
    moga cpet kelar
    fighting author🙂
    keren ff bumsso’x

  22. Rahmie mamierizky says :

    Teramat sangat penasaran, jangan lama lama ngepost nya,,, duh jadi maksa semoga dapat pencerahan dan berlimpah inspirasi AMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: