It Might be You part 1

Author : Intia Puspita

Main Cast: Kim Bum , So Eun

Other Cast: Yoo Seungho, Park Ji Yeon.

Genre: Romantic/Family

Type: Sequel

 

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

My first ff, enjoy 🙂

 

PART 1

 

 

Sulit rasanya dapat membayangkan kejadian ini benar-benar terjadi padaku. Setelah penantian panjang, akhirnya aku tahu keberadaan kedua orang tuaku. Dan rencananya, besok aku akan bertemu dengan mereka.

Sudah setahun belakangan ini aku benar-benar sibuk mencari mereka. Paman dan bibi Jung juga membantuku. Mereka orang tua angkatku yang sangat baik.

“So Eun-ah, kau harus istirahat. Besok kau ikut penerbangan pagi kan?” Suara bibi Jung terdengar khawatir.

Di lain sisi aku pasti akan merindukan keluarga Jung yang sangat baik merawatku selama ini. Aku masih belum tahu pasti apa alasan mereka sehingga menitipkanku pada keluarga Jung. Walaupun jika kenyataan itu pahit, aku akan berusaha menerimanya.

“Iya Bi. Tenang saja.” Aku berlari ke arah bibi Jung dan memeluknya dengan erat. Sebenarnya aku sangat benci perpisahan.

“Kau harus baik-baik ya disana. Orang tuamu pasti juga sangat merindukanmu.” Lirih bibi Jung, sejenak aku bisa merasakan air mata bibi Jung yang sekarang menetes di bajuku. Tak sadar, aku juga telah menangis.

“Noona, pasti aku akan merindukanmu juga.” Terdengar suara Kang San kecil yang mendekat ke arahku dan bibi Jung.

Aku berusaha untuk tidak menangis, agar mereka tidak cemas padaku. Namun sulit rasanya bagiku, bulir-bulir air mata tetap saja menetes tanpa kuminta.

Aku berusaha untuk menyejajarkan diri dengan Kang San, anak kandung dari paman dan bibi Jung, dan memeluknya. Hal ini membuatku makin terisak. Sudah hampir dua puluh tahun aku bersama keluarga ini. Aku sangat mencintai mereka.

“Jangan khawatirkan kami. Kau harus jaga diri. Ingat, kau disana juga belajar kan? Jangan memalukan orang tuamu dan kami.” Ucap paman Jung yang tiba-tiba berjalan ke arah bibi Jung, dan merangkulnya. Paman menyunggingkan senyumnya, raut wajahnya terlihat sedikit gusar.

“Tenang Paman, Bibi, Kang San, aku akan menjaga diri. Dan membuat semuanya bangga.” Ujarku dengan terisak, kemudian kami semua berpelukan.

***

Pagi telah menjelan dan makin membuatku semakin gugup. Jujur, dari tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Terbayang oleh hari-hari menggembirakan ini.

Sejak subuh bibi Jung telah menyiapkanku bekal persiapanku ke Swedia. Benar saja, aku sampai heran ternyata orang tuaku tinggal di Swedia. Dan sekarang, aku hendak menyusul kesana dengan usahaku sendiri.

Kebetulan paman dan bibi Jung bukan dari golongan yang begitu elit. Mereka mempunyai sebuah toko bubur dan dulunya aku sering membantu mereka disana. Aku bisa pergi ke Swedia karena aku mendapat beasiswa kesana. Benar-benar impian jadi kenyataan; melanjutkan sekolah di luar negeri, dan bertemu kembali dengan kedua orang tuaku.

Semua pakaian, dokumen, serta barang-barang yang kuanggap penting sudah kupindahkan ke koper besar berwarna marun milikku. Aku sudah siap dengan semuanya. Tak lupa, aku menaruh tiket dan pasporku di tas jinjing coklat milikku, agar aku mudah mengambilnya.

“Kau yakin kan So Eun-ah, tidak ada yang ketinggalan?” Tanya bibi Jung ragu.

Well, bisa dibilang kalau masalah ceroboh aku memang nomor satu. Dan keluarga Jung sangat memakluminya.

“Noona, saat kau pulang nanti, belikan aku coklat yang banyak ya. Dan–jangan lupakan aku.” Pinta Kang San padaku, aku yang gemas dengan mimik wajahnya dengan segera mencubit pipi chubby miliknya. Siapa yang tidak gemas mendengar hal itu dari lelaki kecil yang masih duduk di Sekolah Dasar tingkat Satu.

“Tenang saja Kang San.” Aku tersenyum pada Kang San, dan membungkukkan badanku pada keluarga Jung.

“Annyeong. Aku berangkat dulu.” Aku tersenyum dan melambaikan tanganku pada mereka, setelahnya aku menggeret koperku lalu meninggalkan kediaman keluarga Jung.

Aku harus pergi ke jalan raya agar aku bisa menaiki taksi. Kediaman keluarga Jung berada di tengah-tengah komplek perumahan sederhana. Sulit sekali mencari taksi di daerah kediaman keluarga Jung.

Akhirnya aku berdiri di halte untuk mencari taksi. Aku melihat waktu pada jam yang menempel manis di pergelangan tanganku.

“Ya Tuhan! Kenapa masih belum ada taksi kosong yang lewat.” Keluhku, saat melihat memang banyak taksi yang lewat, namun tidak ada yang kosong.

Aku menolehkan kepalaku ke kiri saat merasa ada yang tidak beres dengan gerak-gerik lelaki gimbal yang berdiri di samping kiriku. Benar saja, mataku terbelalak saat aku baru menyadari kalau tas jinjing coklatku sudah ada di dalam genggamannya. Ia lalu tersenyum sinis.

Dalam hitungan detik ia telah lari menjauh dariku. Dengan cepat aku pun berlari dan mengejar pencopet itu sambil menggeret koperku.

“Pencuri! Pencuri!” Teriakku agar ia bisa segera menghentikan aksinya. Setelah mendengar teriakanku, akhirnya ada beberapa orang yang ikut mengejar pencuri itu. Namun sial, pencuri itu larinya cepat sekali.

“My golden ticket!” Pekikku sambil terus mengejar pencuri itu. Pencuri itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan jalan lain agar dia bisa kabur dariku.

Ia menyeberang jalan raya yang padat. Puluhan klakson berbunyi nyaring dan berdengung di telingaku. Aku yang ceroboh tidak sadar kalau ini lampu merah bagi pedestrian untuk menyeberang. Alhasil badanku tertabrak mobil dan membuatku terkulai ke aspal.

Kepalaku sangat sakit bahkan sulit rasanya untuk membuka mata. Aku menangis, sedih karena impianku belum tercapai namun hal ini terjadi padaku.

Dengan susah payah aku membuka kedua mataku. Aku melihat seorang pemuda yang sedari tadi menanyakan keadaanku.  Aku menggengam tangannya erat.

“Tasku… tolong….” lirihku, dan semuanya berubah gelap.

***

Aku mencoba untuk membuka kedua kelopak mataku. Rasanya sedikit perih saat melihat pantulan cahaya putih dari lampu mengenai kornea mataku. Aku memicingkan kedua mataku untuk mengetahui dimana keberadaanku sekarang. Namun, semuanya terjawab saat aku mencium aroma karbol yang begitu menusuk, serta dinding bercat putih.

Aku terkejut bukan main saat melihat kepala seorang pemuda terkulai pinggir bangsalku. Ia tertidur dengan posisi duduk dan juga menggengam tangan kananku. Aku mengerjapkan mata, memperjelas apa yang sedang kulihat ini. Nyatakah?

Sang suster mendekatiku, ia tersenyum saat melihatku sudah tersadar.

“Akhirnya kau sudah sadar.” Aku menyunggingkan senyumku, mungkin jika orang yang melihatnya akan berkata kalau aku sedang tersenyum palsu, namun nyatanya sulit sekali menggerakkan bibirku dengan luwes.

Suster itu menaruh beberapa obat di meja nakas samping bangsalku. Tak lupa ia juga menganti cairan infusku.

“Kau sungguh beruntung memiliki dia.” Kata suster itu yang terdengar sedikit berbisik sambil melirik ke arah pemuda di sampingku yang masih tertidur. Aku menaikkan alisku, tidak mengerti yang baru saja suster itu katakan.

“Ma-maksud suster?” Tanyaku sedikit terbata-bata.

“Dua malam ia selalu menunggu Nona dan tidak beranjak dari kamar. Sudah tampan, perhatian lagi.” Ucap suster itu sedikit terkekeh.

Aku mengingat-ingat lagi dimana terakhir kali aku bertemu dengannya. Ah ya! Ia yang terakhir kali kulihat sebelum aku pingsan. Tapi, kenapa ia bisa ada disini?

“Dia?” Tanyaku sambil memastikan bahwa pemuda itu yang selama ini menemaniku saat aku sedang kritis.

“Iya. Kemarin aku sempat bertanya padanya hubungan antara Nona dan dia. Tapi dia menjawab kalau dia itu suami Nona. Padahal kalau bukan suami Nona, aku kan bisa–ah, tidak jadi Nona.” Ujar suster itu sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, dan tesenyum kikuk.

Aku mencerna lagi kata-kata yang baru saja suster itu katakan. MWO? Suami? Perasaanku, aku tidak sedang amnesia atau lupa tentang hal apapun, apalagi hal penting tentang pernikahan.

“Tapi suster, aku–” Belum sempat aku melanjutkan penjelasanku pada suster itu, aku merasa seseorang memelukku dengan sangat erat.

“Istriku, kau sudah bangun!” Ucapnya, terdengar bahagia seperti orang yang baru saja menang lotere. Ia melepaskan pelukanku sebentar, dan sedikit berkedip lalu melirik suster itu. Lalu memelukku kembali.

Apa maksudnya? Jadi aku disuruh berakting?

“Kalian memang pasangan muda yang serasi dan bahagia. Kudoakan semoga kalian langgeng.” Ucap suster itu dan beranjak pergi. Aku hanya tersenyum sekilas ke arah suster tersebut, dan menganggukkan kepalaku pelan.

Setelah pintu itu terdengar tertutup–tanda suster itu telah pergi–dengan kasar aku melepas pelukannya. Etahlah, rasanya aku seperti mendapat kekuatan super yang membuatku bisa berbuat seperti itu saat tubuhku yang sedikit lemah.

“Aku? Aku suamimu, Kim Sang Bum dan kau kan istriku.” Ujarnya sambil tersenyum. Hampir saja aku terpana saat melihatnya tersenyum seperti itu. Namun dengan cepat kusingkirkan rasa itu, aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Apa yang kau mau dariku? Dasar pervert!” Ucapku sinis.

“Seharusnya kau berterima kasih padaku, Nona.” Ujarnya tak kalah sinis dariku. Ia memberiku tas jinjing berwarna coklat padaku. Setelah itu, aku baru menyadari kalau seharusnya aku…

Aku mengecek kembali dokumen-dokumen penting yang ada di dalam tas junjingku. Semua masih aman.

“Sekarang tanggal berapa?” Tanyaku kemudian.

“Dua puluh lima. Wae?”

“MWO!” Pekikku tidak percaya. Tidak! Seharusnya aku sudah ada di Swedia bersama kedua orang tuaku.

Dengan kasar aku melepas selang infus yang menempel di dekat telapak tanganku. Mata pemuda itu terbelalak saat melihatku melakukan hal itu. Aku hendak bangkit dari ranjangku, ditahan olehnya.

“Kau mau kemana?” Tanyanya.

“Bukan urusanmu!” Aku menepis tangannya, mengambil tas jinjingku dan berjalan meninggalkannya.

“Nona! Tunggu!” Teriak pemuda yang bernama Kimbum itu sambil mengejarku, namun tidak kupedulikan.

***

Tags: , , ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

21 responses to “It Might be You part 1”

  1. krista says :

    koq pendek skali critanya uthorr?? terlalu singkat iniii !!!!!
    tp seru critanyaa, buat critanya kurang panjang nieee ..
    ditunggu part brikutnya yaa😀

  2. bismania luph bumsso says :

    pndek bgets author,….
    pdhl lgi seru”x,……..
    next panjaaaaaaaaaaaaaaaaaangin n jgn lma” yh author,……………
    plizzzzzzz,……
    ~ _ ^
    BN ~

  3. vanka says :

    pendek amat sie>>>>>>>>
    dtnggu next partnya

  4. enno bumsso says :

    keren critana . . .
    Lanjud . . . .😉
    tp nanggung bersambungna cz gy enak2na mbaca dh abiz
    q tnggu klnjutanNa . . .

  5. zumi shinigami says :

    judulnya mirib dengan yng di BSI dulu… tp ceritanya kyknya beda… hehehehhe…
    ayoo lanjuut..

  6. rosiyani 'oci' says :

    wahhh kasian eunnie disaat2 penting dia mau ketemu ma orang tuanya malah dapet musibah.. huhu…
    waah ada dewapenyelamat si bummie.. asik asikkkkk..
    wahhh lanjut author nih part berikutnya y panjang. hhe🙂

  7. dian permata says :

    kependekan author. besok2 panjangin yah!

  8. Danish Ashley Eun says :

    gk ngerti sama jalan ceritanya ….
    Belom jelas

    Kasian so eun gk jd k swedia

    author cerita nya kurang panjang
    Pendek banget ..

    D tunggu part selanjutnya y
    Jangan lama2… Oke

  9. hanie_kimchio says :

    …auuuttthhooorrrr….
    ..next part lbh pnjaaaaangggg yaaaa,…
    ..bagus kq…
    ..tp aq msh bingung*gubrak!*..🙂

  10. Yova says :

    So eun dg kasar mlepas slang infusnya ==> pasti langsung muncrat darahnya dong kalau ga dioff
    but ak suka critanya kerenn jd pnasran knapa KB ngomong kyak gitu yach
    ditunggu lanjutannya

  11. dini ramadhani says :

    wah ceritanya seru tp kurang panjang chingu heheheehhh

  12. seororoevilkyu says :

    wahhhh
    seru,seru,,,

    lanjut chingu,,

    oya salam kenal aq reader baru,,,

  13. afri says :

    seru tapi kurang panjang thor, hehe

  14. Elza says :

    pendek banget, thor…!!

    next part panjangin ya.. jgn lama2!! *reader maksa d tndang author.hehe

    _FHTHING_

  15. viana says :

    omooo ..
    apa2n buimppa itu ..
    maen ngaku2 suami ny eonnie ..
    lha akko kn istri asliny oppa .. [ahhaha .. ngarepp .. d kejarr2 bummies .. kabuurrrr …]
    kerrend .. lanjut thoprr .. tp nanggung dikit bgd .. laen kali d panjangin y .. hoohoh

  16. larasrahmaa says :

    Seru2 author
    Hah ? KB suaminya KSE
    Wih keren nih
    Lanjutannya ditunggu yaaa

  17. Mii-kun says :

    Seruuuuuu~
    Tapi kurang banyak~

    Part berikutnya banyakin yaaaaaa author~ \(^-^)/

  18. ashillach says :

    aku seneng deh cara author nyampein ff-nya, bhsnya bagus, kyk yg di novel2 gtu hehe
    iy nih thor, kependekan,
    tpi knp ya, bumpa nybeut soeun istrinya? ak gk ngerti di bagian itu
    lanjutannya ngebut dan dipanjangin ya thor! ^^

  19. ditamal soeulmates says :

    singkat ya cerita nya
    tp seru loh
    ditunggu ya part berikutny

  20. Indah_ELF says :

    Kependekan author . . .
    Pdhal Lgh sRu2’a LNjut pNasaran tingkat akut q #lebay#

  21. amauminie says :

    Aaaahhh kok sedikit sih? *tampar*
    Aah penasaran nih kok bumppa bilang so eun unnie istrinya?
    Aaaah jangan lama-lama thor lanjutannya!^^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: