Way for Love

Author : Phoelfish

Main Cast: Kim Bum , So Eun

Cast: Jung Il Woo

Genre: Romantic

Type: One shoot

Disclaimer : all cast belongs to God and themselves. Author cuma punya fic sama alurnya aja. Tapi, tetep Donghae resmi punya author *lagi-lagi ditendang elfish ke taiwan, ditangkap sama donge

Warning : gaje, abal, typo(s), garing, OOC, judul tidak ada hubungan dengan isi

Foreword : ide ini muncul pas author bingung mau nglanjutin Love for Spring and Winter. Mianhae kalau gagal. Author gak bakat bikin beginian. Tapi, komen tetep ditunggu lho! Gomapseumnida *bow bareng donge

~@.@~

Jangan sekali-kali jatuh cinta. Jangan pernah kau lakukan itu jika kau adalah penghuni langit. Makhluk-Nya yang paling patuh di jagad raya. Yang berjanji hanya mengabdi untuk-Nya. Menyerahkan seluruh jiwa dan ragamu pada-Nya. Karena rasa sakit yang menunggumu seribu kali lebih sakit daripada kau kehilangan sayapmu.

Itulah yang terjadi padanya sekarang. Ia bukannya melalaikan tugasnya. Bukannya ia mengabaikan perintah. Ia hanya melakukan sesuatu yang wajar seperti yang dirasakan manusia. Ia jatuh cinta. Tapi, ia salah. Salah karena ia menduakan cinta-Nya.

Jika kau seorang malaikat, maka yang harus kau lakukan seumur hidupmu hanyalah memandang-Nya. Menajamkan telingamu untuk mendengarkan seruan-Nya. Memenuhi pikiranmu hanya tentang diri-Nya. Lisanmu hanya untuk menasbihkan nama-Nya. Salah jika kau memiliki perasaan pada makhluk di bawah sana. Makhluk yang derajatnya paling tinggi, tapi selalu menentang-Nya.

Malaikat bukan diciptakan untuk jatuh cinta pada manusia.

~@.@~

Kimbum bisa mendengar kerasnya suara bedebam saat tubuhnya menghantam tanah yang diselimuti permadani rumput hijau. Suara itu memecah gemericik air hujan yang bergesekan dengan bumi. Menyisakan rasa pilu bagi makhluk tak berakal yang ada di sekitarnya.

Rasanya sakit. Sakit sekali. Bahkan jiwanya pun tidak bisa ia rasakan. Rintik-rintik hujan yang membasuh kulitnya malah membuat rasa sakitnya bertumpuk seratus kali lipat. Gesekan udara membuat paru-parunya serasa diremas dengan tangan kekar tanpa ampun.

Ternyata sesakit inilah jatuh cinta.

Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menikmati sakit ini. Ia tidak tahu bagaimana caranya berdiri, berteriak, membuka kelopak mata, bahkan mendengar pun ia tidak sanggup. Yang ia rasakan hanya rasa sakit tak berujung.

Pikirannya tidak bisa bekerja dengan baik. Sesaat setelah ia dihempaskan ke bumi dan menjadi manusia ternyata hal itu tidak menjadi lebih baik. Rasa sakit itu terlalu kuat. Sangat kuat sampai menutupi kesadarannya. Satu bayangan yang berkelebat sebelum ia tidak merasakan apapun. Wajah gadis itu dengan bibirnya yang mengulas senyum.

~.@.@~

Kimbum membuka matanya yang terasa berat. Bulu-bulu mata itu seakan direkat dengan sempurna sampai ia harus melepasnya dengan susah payah. Pandangannya yang mengabur mulai menjelas. Ia bisa mendengar deru napasnya bercampur dengan angin yang merangsek dari jendela. Ia masih bisa merasakan jejak-jejak rasa sakitnya.

“Selamat pagi. Kau sudah sadar?”

Mata Kimbum melirik seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan bawaan di tangannya. Orang itu sejenis dengan dirinya. Siapa dia?

Kimbum mencoba mengubah posisi tubuhnya, tapi susah sekali. Tubuh ini tidak bisa diajak bergerak.

“Gwaenchanhayo?” dengan sigap orang itu membantu Kimbum merubah posisinya menjadi duduk.

Kimbum hanya mengangguk. Suaranya sangat sulit dikeluarkan.

“Aku menemukanmu dalam keadaan pingsan di jalan. Kau tampak mengerikan. Apa yang terjadi padamu?”

Kimbum menatap orang itu sekilas sebelum akhirnya ia menunduk lagi. Ia tidak punya jawaban yang logis sesuai nalar manusia.

“Apa kau mengalami kecelakaan?” tebaknya.

Kimbum mengangkat kepalanya untuk menggeleng.

“Kau dirampok?”

Kimbum menggelengkan kepalanya lagi.

“Lalu?”

Sekali lagi hanya gelengan yang keluar sebagai jawaban Kimbum.

“Kau tidak ingat apa yang membuatmu seperti ini?”

Kimbum tidak menjawab. Ia ingat. Ia sangat ingat kesalahan fatalnya yang membuatnya khilaf.

“Gwaenchanha. Tidak usah dipikirkan. Namaku Jung Ilwoo. Kau bisa memanggilku Ilwoo.” Pemuda itu mengulurkan tangannya ke arah Kimbum.

Kimbum ingin menyambutnya, tapi lengannya terasa kaku. Ia hanya mendongak dan menyebutkan namanya. “Kimbum.”

“Bangapseumnida, Kimbum-ssi. Apakah kau ingat dimana tempat tinggalmu? Atau kau punya nomor telpon keluargamu supaya aku bisa menghubungi mereka.”

“Tidak ada.”

Memang tidak ada yang bersisa dari Kimbum selain dirinya sendiri. Ia tidak mungkin kembali menjadi malaikat dan naik lagi ke surga. Tidak akan terjadi walaupun ia berani membayar semahal apapun. Tidak ada yang bisa dibeli dari Tuhan.

“Ohh, tidak apa. Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau. Aku senang kok. Sendirian itu menyedihkan.” Ilwoo tersenyum ramah. Kehadiran satu orang tidak akan menyusahkannya. Malah menyenangkan sekali ada teman untuk berbagi.

“Aku bawakan sarapan untukmu. Kau pingsan empat puluh delapan jam, kau tahu? Kau pasti lapar kan?”

Kimbum menatap semangkuk bubur hangat dan segelas cairan berwarna putih pekat yang ada pada nampan yang dibawa Ilwoo. Ia tahu apa itu lapar, tapi ia ragu apakah ia merasakannya saat ini.

“Makanlah selagi masih hangat! Kutinggal sebentar.”

Iris kecoklatan Kimbum tidak lepas dari gerak-gerik Ilwoo yang meletakkan nampan itu di meja samping ia berbaring sampai pemuda itu menghilang di balik pintu bercat putih di hadapannya.

Mata Kimbum teralih ke luar jendela. Dengan bertumpu pada kakinya yang terasa begitu lemas, Kimbum berjalan pelan mendekati jendela itu.

Ia pusatkan indera penglihatannya ke arah hiruk pikuk manusia di bawah sana. Hal yang selalu ia lakukan saat ia berada di langit. Mengamati dan mencatat apa yang dilakukan makhluk berakal itu. Sekaligus mengamati pujaannya.

Ternyata, saat ini pun ia masih bisa melakukan kebiasaannya. Hanya dengan posisi yang berbeda. Ia manusia sekarang, sama seperti mereka yang ada di bawah sana.

Apakah dia juga ada disana? Pujaan hati yang selalu hadir di sela-sela rintihan sakitnya.

“Kimbum-ssi!”

Secara refleks Kimbum mengalihkan pandangannya dari keramaian di bawah untuk melihat sosok Ilwoo yang sedang berdiri di ambang pintu.

“Aku harus bekerja. Kau istirahatlah dulu! Kita bertemu lagi jam empat sore nanti.”

Kimbum mencoba menarik sudut-sudutnya menjadi seulas senyum sebagai jawaban. Agak susah. Kulit wajahnya terasa kaku, tapi ia bosan cuma sekedar mengangguk atau menggeleng.

“Hati-hati, Ilwoo-ssi!” pesan Kimbum sebelum Ilwoo menutup pintu. Akhirnya ia bisa berekspresi juga. Ia harus bersikap baik pada orang yang sudi menolongnya. Memberinya tumpangan dan berbagai fasilitas lain tanpa penasaran dengan siapa dirinya.

Mata Kimbum kembali menelusuri orang-orang dan kesibukan pagi mereka. Wajah dan senyum itu terus membayangi dirinya. Senyum indah yang menimbulkan rasa sakit luar biasa.

Ada dimana dia sekarang?

“Kim Soeun.” Lirih Kimbum pelan. Kemudian tubuh rapuh itu kembali terhempas ke tempat tidur. Ia begitu lelah.

~@.@~

“Sudah baikan?” Ilwoo bertanya dengan begitu perhatiannya pada Kimbum. Seolah Kimbum itu kerabat yang sudah dikenalnya seumur hidup. Bukannya seminggu yang lalu.

“Ne.”

Kimbum memang sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Ia senang bertemu dengan Ilwoo. Pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan walaupun Kimbum berada di apartemennya selama seminggu ini tanpa melakukan apapun. Pekerjaannya hanya di kamar dan memandangi hilir mudik manusia melalui jendela. Berharap bisa menemukan sosok tambatan hatinya di sana.

“Ilwoo-ssi~“

“Panggil hyung saja. Sepertinya aku lebih tua darimu.” Ilwoo menginterupsi perkataan Kimbum sebelum pemuda itu mengutarakan maksudnya.

“Emm, hyung…”

“Ne?”

“Aku pikir aku butuh bekerja.”

“Mworago?”

“Tidak enak merepotkanmu tanpa melakukan apapun.”

“Aku tidak merasa direpotkan.”

“Ayolah, hyung! Aku tidak bisa hidup seperti ini terus.”

Paling tidak bersosialisasi dengan dunia di luar sana bisa mempertemukan Kimbum dengan tambatan hatinya. Walaupun ia tidak akan pernah menjadi takdirnya. Setiap ingat wajah dan senyum gadis itu, saat itu juga ia kembali merasakan sakitnya dibuang dari surga.

“Baiklah. Apa keahlianmu?”

Kimbum tampak memutar otaknya. Ia tidak tahu apa keahliannya di dunia langit sana bisa ia gunakan di dunia ini. Ia bahkan tidak yakin Tuhan masih memberinya kelebihan.

“Entahlah.”

Alis tebal Ilwoo bertaut. Semakin menegaskan garis-garis keindahannya yang merupakan hadiah dari Sang Pencipta.

“Aku punya solusi. Aku punya lowongan yang tepat untukmu.”

“Apa?”

“Kita lihat apa yang bisa kau lakukan di yayasan besok.”

Dahi Kimbum bertaut. Yayasan? Pekerjaan apa yang dimaksud Ilwoo? Ia tidak punya keahlian lain selain mengamati dan mencatat. Dan kenapa ia merasakan irama jantungnya yang tiba-tiba berubah? Suara angin yang berhembus juga terasa berbeda. Lebih sejuk, sekaligus menyesakkan dadanya.

~@.@~

Kimbum kembali merasakan kehadirannya. Gadis itu akhirnya muncul lagi. Masih dengan paras cantiknya yang berhias senyum manis. Keindahan lain yang membuat Kimbum melalaikan yang Maha Indah.

Tepat saat ia tersenyum mengikuti senyum wanita itu, dadanya serasa dikoyak. Sesuatu yang kejam menarik semua organ tubuhnya. Meremasnya dengan tenaga maksimum dan menyedot udara yang ia butuhkan. Ia bisa merasakan sakit itu lagi.

Jantungnya yang diambil paksa. Paru-parunya yang direnggut. Hatinya yang dicacah sampai menjadi serpihan abstrak. Ia kembali merasa terhempas dari tempat yang paling tinggi di langit. Jatuh tergolek sampai ke dasar bumi. Kenapa rasa cinta ini begitu berat?

“Kimbum!”

Kimbum membuka matanya dengan sekali sentakan cepat. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu panjang pendek. Jung Ilwoo. Sosok pertama yang ia lihat saat ia bangun pagi ini.

“Selamat pagi. Cepat bangun dan bergegas mandi! Kau masih mau bekerja kan?”

Kimbum mengangguk. Ia masih belum menguasai kesadarannya secara utuh. Semenjak ia diusir dari langit, rasa sakit dan bayang-bayang penyesalan itu terus menghantuinya.

“Ayo! Tidak baik terlambat di hari pertama.” Ilwoo menarik tangan Kimbum yang masih terbengong di tempat tidur. Mendorong tubuh lemah kekurangan daya itu ke kamar mandi.

~@.@~

Berhenti. Waktu sedang menghentikan segala aktifitasnya saat ini. Ia tidak bisa merasakan adanya kehidupan lain di sekitarnya.

Jantungnya berpacu lepas dari kendali. Darah yang mengalir di urat-uratnya mendidih, membuat sekujur tubuhnya menjadi panas.

Tidak ada yang bisa ia gunakan untuk menggambarkan bagaimana sosok yang ada di hadapannya saat ini. Sosok yang selama ini ia rindukan. Senyum sama persis dengan yang menghampiri benaknya. Bahkan kali ini ia tertawa. Kebahagiaan yang membuatnya melakukan kesalahan.

“Bum-ah, ini rekanku. Kim Soeun. Dia juga sukarelawan di yayasan ini.”

Gesekan tangan Ilwoo dengan bahunya membuat Kimbum terlempar dari imajinasinya sendiri. Ia tidak bisa bersuara atau mengucapkan sepatah untaian kata-kata manis. Bahkan bernapas pun ia harus mengerahkan seluruh tenaganya.

“Annyeonghaseo, Kimbum-ssi.”

Suaranya indah. Untuk yang kesekian kalinya Kimbum merasa terhempas dari dunia yang jauh. Menghantamkan tubuhnya ke tanah tandus berkerikil tajam dengan kuat. Ia mengepalkan tangannya dan mengencangkan bahunya. Menahan semua rasa sakit yang menghunjamnya telak.

“Kimbum-ssi?”

Kimbum menoleh ke arah gadis muda berparas elok yang menatapnya sarat kekhawatiran. Sedikit melambungkan hati Kimbum. Ternyata Soeun perhatian juga padanya.

“Bum-ah, are you okay?” Ilwoo mengeratkan pegangannya ke bahu Kimbum. Sepertinya keadaan Kimbum belum sepenuhnya pulih.

Kimbum mengangguk pelan. Ia memang tersiksa, tapi ia baik-baik saja karena tidak ada yang bisa ia lakukan selain menikmati rasa sakit ini.

Terdengar helaan napas lega dari Soeun dan raut wajah Ilwoo yang kembali cerah seperti biasa.

“Okay, Soeun-ah aku serahkan Kimbum padamu. Akan kembali saat makan siang.” Amanat Ilwoo pada Soeun.

“Beres oppa! Don’t worry!”

Kimbum mendongak untuk melihat ke arah dua orang yang sedang berbicara dengan sangat akrab. Benar kalau dunia itu memang sempit. Buktinya dengan mudahnya ia bisa bertemu Soeun. Apakah ini takdir?

Bukan. Ini bukan takdir. Takdir seorang malaikat bukan untuk memendam rasa cinta pada manusia. Kalau mereka bertemu sekarang, pasti Tuhan merencakan sesuatu yang lain.

“Kimbum-ssi?!”

Kimbum mengerjap beberapa kali sebagai tanda ia kembali ke alam nyata. Ditatapnya Soeun yang sedang mengibaskan jemari lentiknya di hadapan wajah sang bekas malaikat.

“Ne?”

Si gadis jelita tersenyum karena ternyata pemuda kelewat pendiam di hadapannya ini ternyata masih bisa diajak bicara. Ia tidak sadar kalau senyumnya membuat pemuda itu tercekat.

“Pekerjaan kita sangat mudah. Hanya mencatat sumbangan yang masuk dan menyalurkan kepada yang membuntuhkan. Ada pertanyaan?”

Kimbum menggeleng. Pekerjaan yang tidak jauh beda dengan pekerjaan lamanya.

“Hari ini sumbangan belum datang. Tugas Ilwoo oppa yang mengambil sumbangan itu.”

Sang manusia baru itu membalas senyuman manis wanita anggun di hadapannya. Jika dilihat dari jarak sedekat ini tidak mengherankan dirinya bisa jatuh cinta. Dia tergolong sempurna untuk seorang manusia.

“Aku punya pertanyaan.” Perkataan Soeun kembali membuyarkan Kimbum dengan fantasinya sendiri. Ia menatap Soeun penuh minat. Menerka pertanyaan apa yang akan ditujukan padanya?

“Bagaimana kau bisa mengenal Ilwoo oppa?”

Terbersit perasaan aneh yang menyelinap ke hatinya saat gadis itu memanggil nama Ilwoo dengan begitu akrabnya. Perasaan apa ini? Berbeda tipis dengan sakit yang sering menderanya.

“Dia menemukanku pingsan di jalan.” Meluncur jawaban jujur dari bibirnya.

“Pingsan? Jadi, kau pemuda yang diceritakan Ilwoo oppa seminggu ini?”

“Dia menceritakannya?”

“Ya. Dia selalu menceritakan apa saja padaku. Haha!”

Perasaan itu datang lagi. Semakin kuat saat Soeun membicarakan Ilwoo sambil tersenyum manis. Pendengarannya menangkap intonasi berbeda saat gadis itu menyebut nama Ilwoo. Ada sesuatu yang lain di sana.

“Jadi, kau masih belum tahu tentang dirimu?”

Kimbum menggeleng. Bukannya ia tidak tahu, hanya saja ia tidak mau memberi tahu. Masa lalunya bukan suatu kebanggaan untuk diumbar ceritanya.

“Ilwoo oppa memang orang yang sangat baik. Kadang aku bingung, dia itu manusia atau malaikat.”

Brakkk! Kimbum bangkit dari duduknya dengan napas terengah. Ia tidak tahu kekuatan darimana yang membuatnya seperti ini.

“Kimbum-ssi? Kau baik-baik saja?”

Kimbum tidak menjawab. Ia bahkan sama bingungnya dengan Soeun kenapa tiba-tiba dirinya menjadi seperti ini.

Dengan tarikan napas berkali-kali, Kimbum mencoba mengembalikan lagi dirinya yang tenang sepereti semula. Inilah yang ia tidak suka dari manusia. Mereka tidak bisa mengendalikan perasaan yang meledak-ledak.

“Aku tidak apa-apa. Tenang saja.”

Kimbum kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk perlahan-lahan. Dicobanya tersenyum pada Soeun saat gadis itu masih menatapnya dengan raut khawatir.

“Ohh, sepertinya kau perlu minum.”

Soeun beranjak meninggalkan Kimbum yang terus menatap kepergiannya walaupun sosoknya sudah menghilang di balik pintu.

Oh, God! Iblis darimana yang memainkan game konyol ini? Mempermainkan hati dan rasa cintanya pada ciptaan Tuhan yang lain. Kenapa mereka membuat perasaan Kimbum melambung hanya dengan sedikit perhatian dari Soeun?

Sedikit, okay. Seorang gadis yang menawarkan minuman kepada seorang pemuda bukanlah hal yang istimewa. Ilwoo sendiri sudah sangat sering memperlakukan Kimbum lebih dari itu. Semua itu tidak lebih dikarenakan rasa, well… simpati?

“Sudah merasa baikan?”

Kimbum mengangguk lagi sambil meletakkan gelas bening yang sudah kosong itu di meja sampingnya. Disembunyikan kedua tangannya di antara lutut. Hanya menerima segelas jus saja ia sudah gemetaran. Senang sekali mendapat perhatian dari orang yang kita suka.

Seharian itu sambil menunggu Ilwoo kembali, mereka habiskan dalam diam. Bibir Kimbum terlalu kaku untuk mengeluarkan suara. Ia juga tidak punya nyali untuk menanyai Soeun macam-macam.

Tidak apa-apa. Bisa melihat dan mengenal Soeun dengan jarak sedekat ini saja sudah lebih dari cukup. Berbeda dengan saat ia harus mencuri pandang di sela-sela tugasnya di balik langit.

~@.@~

Bayangan yang berupa mimpi itu kembali menghampiri Kimbum. Tentang sepasang mata indah dan seulas senyum manis yang selalu memenuhi benaknya. Tentang Kim Soeun, tentu saja.

Tapi, ada yang berbeda. Mimpi tentang gadis itu pergi secepat kedatangannya. Berganti dengan mimpi lain yang belum pernah menghampiri seorang manusia.

Tidak ada gambaran jelas dan hadirnya suatu sosok pada mimpi itu. Yang ada hanya cahaya yang begitu kuat sampai Kimbum merasa buta. Satu yang Kimbum tangkap dari suara yang membisiki telinganya. Tuhan memaafkannya untuk kembali, tapi ia harus mengorbankan kebahagiaan terbesarnya.

Mengorbankan kebahagiaannya berarti mengorbankan cintanya. Adakah manusia yang sanggup membuang cinta mereka? Mana yang lebih sakit? Kehilangan cintamu atau bisa melihatnya, tapi tersiksa karena rasa bersalah pada yang Sang Sumber Cinta?

Kimbum sendiri tidak tahu. Ia tidak tahu apakah ia bisa membuang cintanya? Ia bahkan baru saja mengenalnya. Baru kemarin pagi.

“Bum-ah, cepat bangun kutunggu kau di ruang makan!”

Kimbum menjawab perintah Ilwoo dengan gumaman keras. Menandakan kalau ia akan segera melaksanakan yang Ilwoo minta.

Sepercik semangat merasuk ke pikiran Kimbum mengingat ia akan bekerja hari ini. Ada Soeun yang menunggunya dan aak-anak manis yang belajar di yayasan. Soeun bilang kalau seminggu tiga kali ada sekolah terbuka di yayasan itu. Dan siapa yang tidak suka anak-anak? Mereka pasti menyesal. Anak-anak adalah favorit Kimbum saat menjadi malaikat dulu.

“Apakah ada kabar baik hyung? Kau tampak bahagia sekali.” Komentar Kimbum saat ia membantu Ilwoo menyiapkan sarapan.

“Begitulah kalau jatuh cinta. Semuanya akan terasa indah.” Ilwoo menjawab dengan sedikit kiasan tanpa mengalihkan perhatian dari roti isinya.

“Jatuh cinta?”

“Ne, kau pernah jatuh cinta?”

Tidak ada jawaban. Hanya perubahan wajah Kimbum yang menjadi merah dan terasa panas.

“Hyung jatuh cinta pada siapa?”

“Rahasia. Akan kuberi tahu kalau sudah waktunya.”

Kimbum menatap Ilwoo yang manis tersenyum merekah. Bagaimana bisa ia tidak merasakan sakit atau merasa bersalah karena telah menduakan Sang Pencipta cinta?

Apa karena mereka berbeda? Tidak ada bedanya. Kimbum manusia sekarang, sama seperti Ilwoo. Lalu apa yang membuatnya terus-terusan merasa sakit? Karena dulunya ia adalah malaikat?

~@.@~

Ia tahu sekarang. Perasaan apa yang melanda dan memporak-porandakan hatinya saat ia melihat keakraban Ilwoo dengan Soeun.

Rasa ini namanya cemburu. Ia iri dan tidak terima Soeun dekat dengan pria lain selain dirinya. Ia ingin meluapkan perasaannya, tapi ia tahu diri. Memang dirinya siapa? Hanya bekas malaikat pembangkang yang menduakan cinta Tuhannya.

Kimbum membalik tubuhnya saat Ilwoo mengacak rabut panjang Soeun dan mereka tertawa bersama. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Tidak ada sepi yang menyelinap seperti saat Soeun hanya berdua dengan Kimbum.

Dan yang membuat Kimbum merasa sakit, seperti tulang-tulangnya dipatahkan dengan cambuk dari neraka, adalah tatapan mata mereka. Ia bisa melihat dengan jelas perbedaannya saat Soeun melihat Ilwoo dengan orang asing seperti dirinya.

Tidak adakah cara untuk mengobati rasa sakit ini? Perasaan ini terlalu menyakitkan sampai Kimbum tidak bisa menahannya.

Jawabannya adalah ada. Ia bisa mengorbankan cintanya dan kembali ke surga. Memulai kembali kehidupan di sana hanya dengan cinta satu-satunya. Cintanya pada Tuhan.

Sanggupkah ia melepaskan cinta yang sudah terlanjur bersemi ini? Akarnya melilit kokoh di hati Kimbum. Menembus sampai jantung dan jiwanya. Rasa itu berubah semakin kuat saat ia jatuh terhempas ke bumi.

Ia punya pilihan. Tapi, kenapa sulit sekali memilih satu di antara dua itu?

~@.@~

Kimbum merasa kalau ia adalah manusia paling bodoh dan pengecut di muka bumi ini. Ia punya kesempatan, tapi ia tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Ia bisa melihat Soeun tanpa terhalang apapun. Bisa mendengar suaranya bahkan sampai ke helaan napasnya yang teratur. Kalau ia mau, ia juga bisa menyentuhnya. Merasakan suhu kulitnya yang hangat.

Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang pengecut? Seorang loser? Terdiam. Ya, itulah yang dilakukan Kimbum. Diam. Padahal ia hanya berdua dengan Soeun. Ilwoo sedang pergi dan seperti biasa, kembali saat makan siang. Namun, yang ada di otak Kimbum adalah merupakan kesalahan besar jika berinteraksi dengan seorang Kim Soeun.

Perasaan Kimbum mulai kembali tenang saat gemuruh suara riuh rendah itu menyeruak memecah kebisuan di antaranya keduanya. Celoteh riang khas anak-anak menguar mengisi ruangan 7×8 itu yang semula hening.

Kimbum tersenyum. Hatinya merasa ringan melihat wajah-wajah polos ini. Ia masih tidak berucap apapun. Hanya memerhatikan saat Soeun mulai bicara dan menyapa makhluk-makhluk mungil itu dengan riang. Momen baru yang tidak pernah ia dapat.

“Oppa dan eonni serasi lho! Oppa tampan dan eonni cantik.” Celetuk salah seorang young lady dengan kepang duanya yang menjuntai di sisi kanan kiri.

“Ne. Menikah saja!” sambung teman sebelahnya.

Kimbum tersenyum. Mereka tidak tahu kalau jauh di dalam diri Kimbum, jantungnya bertalu-talu ingin meloncat keluar. Paru-parunya berusaha keras menangkap oksigen semaksimal mungkin. Padahal itu hanya celotehan anak-anak.

“Maaf. Tapi, eonni yang cantik itu akan menikah dengan oppa yang ini!”

Semua pasang mata langsung terfokus ke sosok baru yang tersenyum manis di depan pintu. Kontras dengan senyum miris sosok lainnya.

Semuanya bergerak lambat seperti slow motion di hadapan Kimbum. Ilwoo yang melangkah perlahan dengan tangan tersembunyi di punggung. Hati Kimbum tertohok mengetahui apa yang di sembunyikan Ilwoo. Seikat mawar merah muda yang manis.

Kembali ia hanya bisa mengerjap pasrah saat Ilwoo bersimpuh lutut di hadapan Soeun. Membuat Kimbum lemas saat pipi gadis itu merona, seperti bunga yang dipegang Ilwoo.

“Saranghae, nae Soeun-ah. Would you be mine?”

Deg! Kata-kata yang meluncur dari bibir Ilwoo seperti jutaan anak panah yang diluncurkan ke tubuh Kimbum. Seluruh bagian tubuhnya berdenyut nyeri. Rasa sakit itu kembali.

Kimbum ingin berteriak. Berkata jangan kepada Soeun dan membawa gadis itu menjauh dari Ilwoo. Ia sangat bisa melakukan hal itu. Tapi, mendesis pun ia tidak bisa. Lidahnya kaku. Tenggorokannya seakan terpotong-potong.

Ia punya pilihan. Ia masih belum memutuskan mana yang akan ia ambil. Membuang cintanya atau kembali pada Tuhan?

Jika ia kembali pada Tuhan, maka ia tetaplah bukan malaikat lagi. Ia akan menunggu seperti manusia lain yang akan diangkat ke surga. Dan ia akan terlupa pada cintanya. Ia tidak akan mengenal Soeun lagi.

Tapi, jika ia memilih Soeun, maka ia harus bersiap dengan rasa sakit itu. Soeun bukanlah takdirnya. Sekuat apapun ia berusaha untuk menggapainya, ia tidak akan bisa memilikinya. Takdirnya sebagai malaikat pembangkang adalah menjadi manusia. Dan jangan harap ia bisa mendapat kebahagiaan kecuali ia kembali pada-Nya.

Kimbum menarik napasnya yang terasa berat. Ia tidak seperti menghirup udara, tapi hawa panas yang membakar paru-parunya. Mengisinya dengan gas beracun sampai Kimbum merasa limbung.

Kimbum mundur perlahan. Ia sudah menentukan pilihannya. Ia merelakan cintanya. Lebih baik lupa dan me-reset hatinya daripada ia bisa melihat cintanya, tapi meninggalkan rasa sakit.

Kimbum mundur semakin cepat. Ia tidak mau mendengar jawaban yang akan diberikan Soeun. Seperti apapun jawabannya pasti rasanya akan menyakitkan.

Ia mundur sampai langkahnya terhenti dan ia terjatuh. Rasa sakitnya sudah menjalar begitu luas. Tidak menyisakan secuil rasa lainnya. Tubuh rapuh manusia ini sudah tidak bisa bertahan lagi.

“Aku kembali pada-Mu, Tuhan.”

Rasa perlahan berkurang berganti dengan tetes demi tetes air mata yang meninggalkan jejak pilu di tanah. Semakin banyak yang meluncur, semakin hilang kesadaran yang Kimbum miliki.

Ternyata ia memang makhluk rapuh yang tidak pantas untuk menduakan-Nya. Ia sendiri tidak sanggup menanggung semua rasa sakitnya.

Ia mengawali hidup dengan cinta-Nya. Maka, harus berakhir dengan cinta-Nya pula.

Tags: , ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

20 responses to “Way for Love”

  1. ashillach says :

    sad story ya? bagus juga kok… ak suka…🙂
    kasian Oppa, ud dihukum karena cinta sm Onni, tp ujung2nya gk bs ngedapetin Onni juga..
    yg sbar ya, Oppa…
    Love from Spring and Winter-nya jgn lupa dilanjutin ya..😉
    Nice story ^^

  2. chiby says :

    kashan kim bum oppa. . . pasti brat bgt. . .
    hmmm. . .

  3. Elza says :

    waaa~~~ terharu biru baca nie ff TToTT

    bumso g b’satu nie..😦

    aku suka cara author ng’gambarin cerita lewat tulisan’na.
    ajarin dunk, thor… *masang muka melas

    author, good job! ^^

  4. Bummiearab says :

    Kerennn
    bgt ff mue ini chingu..

    Sedih jga bumpa n’gk bisa n’dapetin eunnie..
    Pokokna ak suka bgt dech

    . Ttp lanjutttttttttttt ya ff mue.
    Hwaiting !!

  5. Yunie sipenyuka hijau says :

    Weh author anak sastra indonesia nih aje gile penyusunan kta2 ‘a pujangga euy mancaaaaap….
    Yah walau so eun gak ma kim bum😦
    Tp tetep suka krna author menggambarkan kalimat dgn kata2 yg indah nian , keren sob

  6. rizkyapratiwi says :

    sediiihhh…..

    ceritanya bagus …. kasian kim bum oppa gk bsa sama2 so eun

  7. larasrahmaa says :

    Eunnie sm ilwoo yaa😦
    Uuuuu, kasian bumppa ga bisa sm eunnie
    Speechless gbs ngmng apa22 bnr” sedih😥
    Ditunggu karya yg lain yaaa

  8. amauminie says :

    Bingung mau ngomong apa thor, keren aja deh!🙂
    Ditunggu karya lainnya^^

  9. miss donghae says :

    jjia,,, daebak!!! daebak!!!
    putri hwaiting!!!
    jgn lpa love from spring and winterny dlanjutkan, pnasaran…
    aja aja hwaiting!!! ><

  10. Yova says :

    Setujuuu dg yg laen..
    Sumpah ni cerita kerennnnnnn bgt
    penulisan kata2nya bagus bgd seprtinya author emang seorg penulis ni… Waw salut2 bner2 bgus ga bisa ngomong2 ap2 lg ni
    tp sedih ko sad ending *nangis dipelukan min ho *

  11. Yova says :

    Setujuuu dg yg laen..
    Sumpah ni cerita kerennnnnnn bgt
    penulisan kata2nya bagus bgd seprtinya author emang seorg penulis ni… Waw salut2 bner2 bgus ga bisa ngomong2 ap2 lg ni
    pokoknya ak bnar2 suka bhs pnulisannya
    tp sedih ko sad ending *nangis dipelukan min ho *

  12. amniminry_ says :

    wah, keren author
    so eun sama il woo ya?
    yah ><

    nice story ^-^d

  13. Mii-kun says :

    Oh my god !
    Kata-katanya bak pujangga bgt >_<
    Pinter bgt sih authorrrrrrr~

    Ceritanya bagus ! Top Bgt !

  14. Atin says :

    Hoaaaaa suami saya ilu oppaaaaaaaaaaaaaaaaa.,
    Lol
    Keren author,tp saya ga rela hehehe

  15. Kim Rye Ah says :

    wah, sad endinq yah, padahal dikira.a bakal happy ending…

    Nice ff..🙂

  16. niiz says :

    Sad ending kurang suka aku. Tp kata.katanya mantap banget.

  17. ha love bumsso says :

    ehm sad story….nieh…
    kim so eun ma il wo?????
    *hehehe terserah author yg buat cieh tapi q ga rela*!!!!!
    but storynya baguuuuuuuuuuus….

  18. edogawa kim suju says :

    Ya ampuuun… Sumpah keren banget !!
    Ceritanya top !!!
    Mau bilang apa y ??
    Emank daebak !!
    Pemakaian kata2 nya jga ok…
    Akhirnya sad y ?? Tpi.. It’s okay .. Tetap kereeen…
    Author DAEBAK !!

  19. Rizka Annisa Nasution says :

    so cool…!!
    kata”nya sangat indah…….
    Kalimatnya cantikkkk………

  20. Femilda nengsih says :

    Loh kok sed ending aku berharap bahwa mereka bersatu.tetap kerenkok walau agak mengecewakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: