It Might be You part 2

Author : Intia Puspita

Main Cast: Kim Bum , So Eun

Other Cast: Yoo Seungho, Park Ji Yeon.

Genre: Romantic/Family

Type: Sequel

 

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 A/N: maaf ya kalau kemarin kependekan. Semoga yg ini udah gak kependekan lagi hehe. Maaf kalo ceritanya makin geje dan typo dimana mana.

 

PART 2

 

Hari masih pagi, namun keributan sudah terdengar di koridor SMA Shinhwa. Beberapa pasang mata tak berpaling melihat kejadian yang akhir-akhir ini sering terjadi, sebagian dari mereka malah tertawa melihatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Jiyeon dan juga Seungho.

“YA! Sudah kubilang kan kau tidak boleh bolos lagi!” Kesal Jiyeon sambil menjewer telinga Seungho sepanjang koridor sekolah.

“YA! Lepaskan! Lepaskan!” Teriak Seungho sambil merintih kesakitan karena telinganya yang dijewer Jiyeon.

“Jangan karena kau punya banyak fans, aku tidak bisa berbuat seperti ini padamu!” Jiyeon melepas jewerannya pada Seungho sampai mereka tiba di ruang OSIS. Sesampainya disana, Seungho mengelus-elus telinganya yang sudah berubah warna menjadi merah.

Jiyeon menyuruh Seungho duduk di kursi, sedangkan Jiyeon mencatat pelanggaran yang dilakukan Seungho. Tanpa Jiyeon sadari, sedari tadi Seungho melihat ke arah Jiyeon.

“Bolos upacara, seragam tidak rapih, tidur saat pelajaran…” celoteh Jiyeon sambil mengingat-ingat lagi pelanggaran yang dibuat oleh Seungho.

“Menjadi ketua OSIS karena cucu pemilik sekolah.” gumam Seungho, dan membuat Jiyeon menghentikan aktivitasnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Jiyeon sambil menatap ke arah Seungho.

“Tidak, hanya saja terasa janggal. Kau pasti curang.” Ucap Seungho yang membuat Jiyeon naik darah.

“MWO! Jangan menghinaku! Mereka yang memilihku!” Jiyeon yang kesal menggebrak mejanya.

Seungho adalah anak baru di SMA Shinhwa. Walaupun baru dua bulan menjadi murid Shinhwa, sudah banyak catatan merah yang dibuatnya. Karena pelanggaran yang terlalu banyak, membuatnya harus bolak-balik ke ruang OSIS, dan berhadapan dengan Jiyeon yang juga ketua OSIS.

Para guru juga sudah angkat tangan mengurus Seungho. Di SMA Shinhwa, ketua OSIS memiliki peranan yang sangat besar, apalagi saat ini Jiyeon yang menjabat menjadi ketua OSIS yang langsung mendapat kepercayaan penuh dari kepala sekolah.

“Tapi memang benar kan?” Seungho tersenyum seperti merendakan, Jiyeon bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Seungho.

“Sudah berapa ratus kali aku membelamu di depan kepala sekolah, agar kau tidak dikeluarkan. Jadi ini balasanmu?” Kesal Jiyeon.

Seungho berdiri menghampiri Jiyeon. “Benarkah?” Seungho menautkan sebelah alisnya.

“Kalau begitu, terima kasih.” Ucap Seungho sambil mengacak-acak rambut Jiyeon.

“YA! Apa yang kau lakukan?” Ucap seseorang tiba-tiba. Tanpa mereka sadari, seseorang telah datang ke ruang OSIS. Orang itu menghampiri Jiyeon dan Seungho. Setelahnya, ia menyingkirkan tangan Seungho dari pucuk kepala Jiyeon.

“Oh! Minho oppa!” Pekik Jiyeon senang, sedangkan Seungho hanya menggerutu melihat perubahan ekspresi Jiyeon.

“Kau tidak apa-apa kan?” Kata Minho terdengar khawatir sambil membelai pipi Jiyeon.

Melihat itu, Seungho langsung keluar dari ruang OSIS. Ia menutup pintunya dengar keras, sampai membuat Jiyeon dan Minho sedikit kaget.

“Dia kenapa?” Tanya Minho, dan Jiyeon hanya mengendikkan bahunya karena tidak tahu.

***

“Nona! Tunggu!” Teriak pemuda yang bernama Kimbum itu mengejar seorang gadis berpiyama rumah sakit yang terus saja berlari tanpa menghiraukan panggilannya.

Setelah sampai di koridor Rumah Sakit, Kimbum berhasil memegang tangan gadis itu, menahannya agar tidak kabur lagi.

“Kau mau kemana?” Tanya Kimbum baik-baik, namun Soeun malah berusaha melepas cengkeraman kuat Kimbum.

“Lepaskan! Sakit!” Pekik Soeun yang sukses membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.

“Bisa diam tidak? Aku hanya ingin menolongmu.” Ujar Kimbum.

Soeun memegang dagunya, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Baiklah. Sekarang kau harus mengantarkanku ke bandara Incheon.” Ucap Soeun dan membuat Kimbum kaget.

“MWO! Ani, itu terlalu jauh.” Kimbum menggelengkan kepalanya, dan membalikkan badannya lalu berjalan menjauh dari Soeun.

“Aku sudah tahu semuanya. Kau yang menabrakku kan? Dan sekarang kau mau menebus kesalahanmu. Perkara yang mudah jika aku menuntutmu ke polisi. Aku akan bilang kalau aku adalah korban tabrak lari, dan kau tidak bertanggung jawab.”

Tepat setelah Soeun selesai mengucapkan kata-kata itu, Kimbum menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Soeun.

“Sepertinya kau ingin bermain lama-lama denganku.” Ucap Kimbum terdengar seperti berbisik. Setelahnya ia telah menggendong Soeun di bahunya dan berjalan menuju mobil sedan hitamnya.

“Ya! Ya! Lepaskan aku! Kau mau aku berteriak!” Soeun berusaha meronta namun tidak bisa. Para pengunjung yang ada di rumah sakit hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Suster yang tadi merawat Soeun melihat Soeun yang sedang digendong paksa oleh Kimbum, ia tersenyum iri melihat tingkah mereka tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.

“Kau membuatku gila! Malu! Kau benar-benar menyebalkan!” Teriak Soeun yang berhasil membuat telinga Kimbum sedikit pengang. Mereka berdua telah ada di mobil Kimbum dan bersiap untuk ke bandara.

“Seharusnya kau itu berterima kasih. Lihat! Karena terlalu terburu-buru, tanganmu sakit, dan kau lupa memakai alas kaki.” Kimbum terkekeh melihat penampilan Soeun, dan menyalakan mesin mobilnya.

Soeun melihat ke arah telapak kakinya, dan benar saja ia tidak memakai alas kaki sama sekali. Ia juga melihat guratan seperti luka, karena tadi ia melepas selang infus tidak hati-hati. Soeun baru merasakan nyerinya sekarang. Tapi, terlalu gengsi bagi Soeun untuk mengucapkan kata terima kasih.

Selama perjalanan menuju bandara, Kimbum maupun Soeun tidak ada yang berbicara, suasana begitu hening. Kimbum menyalakan musik agar ia tidak mengantuk saat menyetir. Sedangkan Soeun hanya melihat ke arah jendela.

Ia teringat kembali akan kecelakaan itu, yang membuat dirinya tidak bisa melihat orang tuanya. Usahanya selama ini terasa sia-sia. Bulir-bulir air mata itu pun jatuh membasahi pipi Soeun. Kimbum yang melihat Soeun menangis hanya bisa diam.

Yang pasti ia juga sudah sangat menyesal karena telah menabrak Soeun secara tidak sengaja. Walaupun Kimbum tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa Soeun, ia akan berusaha untuk menolong Soeun .

Lagipula, suasana di rumah Kimbum juga sedang tidak nyaman. Mungkin kalau tidak pulang ke rumah juga lebih baik. Jika kakeknya kejadian ini pasti kakeknya akan marah besar, dan masalah itu akan diungkit lagi.

Soeun mengambil tiket pesawat dari tas jinjing coklat miliknya. Kemudian ia melihat nanar tiket tersebut. Begitu sakit hatinya, padahal seharusnya saat ini Soeun sudah berada di Swedia, malah mungkin ia sudah bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.

Kimbum menghentikan laju mobilnya. Soeun yang sadar bahwa mereka telah sampai, dengan segera keluar dari mobil Kimbum. Ia berlari ke dalam bandara sambil membawa tiketnya. Tak lupa, Kimbum menyusul Soeun dari belakang.

“Nona apa ada yang bisa saya bantu?” Ucap salah satu pegawai bandara bagian penjualan tiket. Napas Soeun terdengar masih terengah-engah karena berlari tadi.

“Apa… ini masih bisa ditukar? Maksudku, bisa merubah tanggal keberangkatan?” Soeun menyerahkan tiketnya pada pegawai wanita itu.

Pegawai tersebut terlihat sibuk dengan komputer yang ada di depannya, sedang mengecek data.

“Maaf–tapi kebijakan dari perusahaan kami hal itu tidak bisa. Seharusnya seminggu sebelum hari keberangkatan, Nona sudah mengonfirmasinya terlebih dahulu.” Pegawai tersebut menyerahkan tiket itu kembali pada Soeun.

“Gwaencanha?” Tanya Kimbum khawatir melihat ekspresi Soeun yang terlihat sedih. Tak beberapa lama kemudian Soeun menangis.

“Kau penyebab semua ini! Kau!” Kesal Soeun sambil menunjuk tepat ke wajah Kimbum, kemudian ia menangis. Kimbum menarik tangan Soeun, namun Soeun menepisnya.

“Maaf ya. Tapi aku janji, aku akan bertanggung jawab.” Ujar Kimbum.

Saat ini suasana hati Soeun tidak dapat digambarkan. Sedih, kesal, kecewa, semua jadi satu. Dan hanya dengan menagis lah Soeun bisa menumpahkan semua rasa itu.

“Tenang. Aku janji, aku akan mengganti tiket itu. Nanti pasti kuganti.” Ujar Kimbum berusaha menenangkan Soeun.

Sebenarnya jika ia tidak kabur dari rumah, mungkin sekarang pun Kimbum bisa mengganti tiket Soeun. Namun apa daya, semua fasilitasnya sudah diblokir oleh kakeknya.

Soeun terlihat sedikit tenang. Kimbum memapah Soeun agar duduk di ruang tunggu keberangkatan.

“Tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku akan membelikanmu minuman.” Ucap Kimbum yang kemudian pergi meninggalkan Soeun.

Soeun masih terisak, rasa sedih masih menyelimutinya. Walaupun Kimbum akan bertanggung jawab, tapi Soeun masih ragu akan ucapan Kimbum.  Di saat Soeun sedang menangis, seorang wanita paruh baya mendatangi Soeun yang sedang sesenggukan.

“Kau kenapa?” Ucapnya dengan suara lembut mendekati Soeun. Kemudian Soeun menoleh, untuk mengetahui siapa lawan bicaranya.

“Di-dia merusak impianku…. hiks” Kemudian Soeun menangis lagi, dan wanita paruh baya itu memeluk Soeun.

“Tapi dia mau bertanggung jawab kan?”

“I-iya, tapi katanya nanti. Ottohke Ahjumma? Bagaimana nasibku?” Soeun kembali menangis. Wanita paruh baya itu mengelus-elus punggung Soeun.

“Kau gadis yang baik, pasti takdirmu juga akan baik.” Wanita itu melepas pelukannya dengan Soeun, dan tersenyum ramah.

“Jinjja Ahjumma?” Wanita paruh baya itu mengangguk, dan Soeun tersenyum.

“Kau sakit apa?” Tanya Ahjumma sambil melihat piyama rumah sakit yang dikenakan Soeun.

Astaga! Soeun malah baru sadar jika ia masih memakai piyama rumah sakit, pantas saja dari tadi banyak orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Terlebih lagi ia juga tidak memakai alas kaki.

“Aku hanya kecelakaan.” Soeun terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Aigoo! Tapi ‘dia’ selamat kan?” Tanya Ahjumma itu, namun Soeun masih belum mengerti pertanyaan yang dikatakan Ahjumma tadi.

“Ma-maksud Ahjumma?”

“Ini minumannya.” Tiba-tiba Kimbum datang dengan membawa segelas minuman, dan menyerahkannya pada Soeun. Dari aromanya, Soeun sudah mengetahui kalau itu coklat panas.

“Dia laki-laki itu?” Bisik Ahjumma pada Soeun yang sedang menyesap cokelat hangatnya. Soeun hanya mengangguk dan melanjutkan minum cokelat hangat miliknya.

Ahjumma itu bangkit dari duduknya, lalu ia menjitak kepala Kimbum, lalu memukul keras punggung Kimbum. Kimbum hanya mengaduh kesakitan.

“Kau ini! Tega-teganya kau membuat dia menangis. Rasakan itu!” Ahjumma itu tetap menjitak Kimbum dengan keras, dan lagi-lagi Kimbum hanya bisa meringis kesakitan. Kimbum menatap Soeun penuh arti, seakan-akan meminta bantuan.

“Jangan Ahjumma!” Pekik Soeun yang telah bangkit dari tempat duduknya, ia berusaha melerai agar Ahjumma itu tidak memukul Kimbum lagi.

“Kau itu malah masih mau memaafkannya. Dia hampir mencelakakan anak kalian kan?” Teriak Ahjumma itu dan membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.

“MWO! Anak?!”  Pekik Kimbum dan Soeun bersamaan.

“Anio Ahjumma. Sepertinya kau salah paham.” Ucap Soeun sambil menenangkan Ahjumma yang sekarang telah duduk di kursinya.

“YA! Jeongmal! Aisssh!” Kimbum menatap Soeun kesal, ia hanya bisa mengacak-acak rambutnya.

Soeun akhirnya bisa menjelaskan kejadian sebenarnya pada Ahjumma tersebut, dan Ahjumma tersebut mendengarkan dengar serius.

“Oh jeongmal? Aigoo! Maaf  kalau aku salah ya.” Ucap Ahjumma itu pada Kimbum, sambil tersenyum kikuk. Sedangkan Kimbum hanya menganggukkan kepalanya sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Soeun-ssi, sepertinya wajahmu familier, tapi aku lupa melihatmu dimana.” Ucap Ahjumma itu sambil menepuk-nepuk pelan dahinya, berusaha untuk mengingat.

“Mungkin hanya perasaan Ahjumma saja.”

“Tapi kalau lelaki ini, aku kenal. Ah, kau kan..” Belum sempat ucapan Ahjumma selesai, Kimbum sudah menarik Soeun dan menyuruhnya untuk pergi.

“Maaf Ahjumma sepertinya aku harus pergi,” Kata Soeun sambil melihat kesal ke arah Kimbum. “…kamsahamnida Ahjumma. Semoga kita bertemu lagi ya!” Ucap Soeun sebelum membungkukkan badannya, hendak meninggalkan bandara.

Di sepanjang perjalanan Kimbum terus mengoceh, apalagi kejadian waktu di bandara. Soeun pura-pura tidak mendengar semua amarah Kimbum yang ditunjukan padanya. Sesekali Soeun menutup kedua telinganya saat Kimbum memarahinya.

“Stop yelling at me!” Pekik Soeun yang akhirnya tidak tahan dengan perlakuan Kimbum.

“Kau itu polos? Lugu? Atau bodoh sih? Kenapa kau menceritakan hal seperti itu pada Ahjumma tadi?”

Kimbum membanting stirnya ke pinggir jalan, dan mengerem mobilnya tiba-tiba. Dahi Soeun terpaksa terantuk kaca mobil, karena pemberhentian mendadak tadi. Sejenak Soeun bergidik ngeri melihat tingkah Kimbum.

“Wae? Kau mau kita mati?!” Kesal Soeun.

“Iya! Aku mau kita berdua mati. Kau puas?” Kimbum tidak bisa mengontrol emosinya kali ini.

“Aku tidak mau! Aku harus bertemu kedua orang tuaku dulu! Dasar egois!”

Setelah itu, Kimbum segera menekan tombol untuk menutup pintu mobil karena melihat Soeun yang berusaha untuk keluar dari mobilnya.

“Ini yang kau mau kan?” Ucap Kimbum sambil tersenyum sinis pada Soeun.

“Buka pintunya!!!” Soeun berusaha membuka pintu mobil Kimbum namun tidak bisa karena pintunya telah dikunci oleh Kimbum.

Kimbum mendekat ke arah Soeun, saat ini jarak mereka hanya beberapa senti saja. Detak jantung Soeun berdetak tidak beraturan saat melihat Kimbum tersenyum padanya.

“Sebenarnya kau sudah tahu siapa aku sebenarnya. Dan kau mau memanfaatkan situasi ini, kan?” Bisiknya pada telinga Soeun. Soeun langsung mendorong Kimbum agar menjauh darinya.

“Apa maksudmu hah?” Tanya Soeun yang langsung dijawab oleh tawa sarkatis Kimbum.

“Bohong! Hampir semua orang di Korea tahu siapa aku.” Ujar Kimbum, namun Soeun malah menepuk dahinya pelan berusaha mengingat dimana ia pernah melihat wajah Kimbum. Namun, hasilnya nihil.

“Ani. Aku tidak tahu siapa kau.” Ujar Soeun sambil menggelengkan kepalanya, dan mengendikkan kedua bahunya.

“Kau yakin?” Kimbum mengangkat salah satu alisnya dan menatap Soeun. “Kau tidak punya TV di rumah? Internet? Atau semacamnya?” Keluh Kimbum.

Namun Kimbum masih ragu akan jawaban Soeun. Kenyataannya kalau hampir semua orang di Korea tahu siapa Kimbum.

“Asal kau tahu ya. Setiap pagi aku berangkat sekolah, pulangnya aku bekerja part time di restoran bubur bibi Jung, dan malamnya aku belajar untuk beasiswa. Jadi aku tidak ada waktu untuk menonton drama, gosip atau sebagainya.” Ujar Soeun jujur.

Kimbum yang mendengar jawaban Soeun hanya menghela napas pelan, dan sekarang Kimbum benar-benar yakin kalau Soeun tidak mengenal dirinya..

“Memang kau siapa? Artis?” Tanya Soeun.

***

Di sebuah rumah besar dan megah, seorang pria baruh baya terlihat risau. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir, sesekali ia melihat ke arah pigura foto yang terpampang manis di dinding ruang kerjanya. Ia merasa sangat menyesal, karena membuat cucu lelaki satu-satunya pergi dari rumah.

“Kim Sajangnim…” panggil seorang pria tegak  berjas hitam, menghampiri pria baruh baya tersebut. Tak lupa ia membungkukkan setengah badannya, tanda penghormatan bagi pria paruh baya tersebut.

“Bagaimana? Kau sudah dapat kabarnya?” Tanya pria yang dipanggil Kim Sajangnim tersebut.

“Maaf Sajangnim, tapi kami kehilangan jejak tuan muda.” Ucap pria tegak itu dengan berat hati.

Setelah mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya, Kim Sajangnim memegang dadanya, rasanya sangat sesak sampai-sampai ia sulit untuk bernapas. Hal tersebut membuatnya limbung.

“Kakek!” Pekik seorang gadis menghampiri Kim Sajangnim. Ia dan orang kepercayaan tadi berusaha memapah Kim Sajangnim agar dapat beristirahat di sofa kecil yang berada di  ruag kerjanya.

“Jiyeon-ah, ternyata kau sudah pulang.” lirih Kim Sajangnim. Hati Jiyeon merasa teriris saat melihat kondisi kakeknya yang seperti itu.

Sejak kecil, kasih sayang untuk Jiyeon dan kakaknya berasal dari kakeknya. Orang tua Jiyeon sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat. Maka dari itu, Jiyeon akan merasa sangat sedih, jika ia kehilangan kakeknya–orang yang sudah dianggap Jiyeon sebagai ayahnya sendiri.

“Pak Cho, panggil dokter Lee sekarang!” Perintah Jiyeon yang sedang panik pada orang kepercayaan kakeknya.

“Kakek bertahanlah. Sebentar lagi oppa pasti pulang.” Pinta Jiyeon pada kakeknya.

Mendengar perkataan dari Jiyeon kakeknya tersenyum.

***

“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Tanya Kimbum lagi pada Soeun.

“Memangnya kau itu orang penting? Jadi aku harus tahu.” Dumel Soeun kesal.

“Kenalkan, aku Kimbum dan aku adalah cucu dari Kim Woosung. Sekarang kau tahu?” ucap Kimbum sambil menjulurkan tangan kanannya dan berjabat tangan dengan Soeun.

Soeun berusaha mengingat-ingat nama Kim Woosung yang sepertinya ia sering mendengar nama itu telinganya. Seingatnya nama itu sering diucapkan oleh bibi Jung.

“MWO? Jadi kau cucu pemilik Woo Sung group yang terkenal itu?” Pekik Soeun tidak percaya, sampai-sampai ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan Kimbum hanya mengangguk mengiyakan.

Woosung group memang sangat terkenal di Korea. Woosung group mempunyai puluhan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang dan memiliki ratusan ribu karyawan. Soeun sangat familier dengan nama Woosung karena bibi Jung selalu bercita-cita ingin punya menantu pemilik Woosung group.

Mungkin saja cucu Woosung group bisa bersama Kangsan anakku, Soeun jadi ingat kata-kata yang sering diucapkan bibi Jung.

Namun melihat tampang Kimbum, Soeun jadi ragu dengan apa yang dikatakan Kimbum. Mungkin saja dia hanya mengaku-ngaku menjadi cucu Kim Woosung.

Kemudian Soeun malah tertawa keras, dan Kimbum malah menatap bingung ke arah Soeun.

“Berhentilah membuat lelucon bodoh seperti itu.” Soeun kembali tertawa.

“Maksudmu? Kau masih tidak percaya?” Tanya Kimbum, mendengar apa yang baru saja Soeun katakan.

“Mana aku percaya. Kalau kau itu benar-benar cucu pemilik Woosung group, orang yang sering dibangga-banggakan bibi Jung, pasti kau langsung membayar tiket pesawatku dan membawaku ke rumah sakit yang bagus.” Ujar Soeun.

Kimbum sengaja membawa Soeun ke rumah sakit yang tidak terlau mahal, karena ia hanya membawa sedikit uang cash. Karena membayar biaya rumah sakit Soeun, uang cash nya saja hampir habis. Semua kartu kredit, ataupun kartu ATM-nya diblokir oleh kakeknya.

“Apalagi mobilmu juga biasa saja.” Ucap Soeun sambil melihat seluruh sudut mobil sedan hitam milik Kimbum.

Ya, memang benar jika jadi Soeun pasti ia tidak akan percaya saat Kimbum berbicara seperti itu. Apalagi ditambah Soeun yang sangat buta akan berita itu, karena saking sibuknya belajar.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Kimbum. Ia keluar dari mobil dan mengajak Soeun keluar dari mobilnya.

“Kau itu kasar sekali! Sakit tahu!” Kesal Soeun yang terus menggerutu pada Kimbum.

Namun Kimbum hanya tersenyum, dan membuat Soeun sedikit merasa aneh dengan tingkah Kimbum. Kimbum membuka bagasi mobilnya, betapa kagetnya Soeun saat melihat koper marun miliknya ada di mobil Kimbum.

“Kau mau jadi pencuri?” Mendengar itu Kimbum hanya tertawa.

“Cepat ganti bajumu. Aku tidak mau membawamu dengan pakaian seperti itu. Nanti aku disangka menculik tahanan rumah sakit.”

Soeun yang mendengar kata-kata Kimbum hanya mendengus kesal. Setelahnya ia mengambil blus berwarna abu-abu serta legging berwarna hitam. Tak lupa ia memngambil boots hitam miliknya, karena ia tidak tahan berjalan tanpa alas kaki.

“YA! Jangan mengintip! Awas kau!” Ucap Soeun sebelum masuk ke dalam mobil Kimbum.

“Lagipula siapa yang tertarik denganmu.” Dumel Kimbum.

Kimbum berdiri sambil membelakangi mobilnya, menunggu Soeun yang sedang mengganti baju di dalam mobilnya. Setelah selesai, Kimbum pun masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya kembali.

“Kita mau kemana?” Tanya Soeun.

“Sudah lihat saja nanti.” Ucap Kimbum sambil tetap menyetir.

“Nogomong-ngomong, kenapa waktu itu kau bilang kalau kau suamiku?” Tanya Soeun yang tiba-tiba teringat saat kejadian di rumah sakit.

Kimbum mengeluarkan sesuatu dari saku jas abu-abu miliknya. Sebuah ponsel yang sudah tidak terlihat bentuknya lagi. Lalu Kimbum memberikannya pada Soeun yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini ponselmu. Makanya aku tidak bisa menghubungi keluargamu. Kata suster itu hanya keluarga yang bisa mengurus perawatanmu. Aku bilang saja kalau aku itu suamimu.” Ucap Kimbum asal. Soeun malah mendengus kesal melihat ke arah Kimbum.

“Tapi bagaimana ponselku? Astaga! Aku lupa nomor rumah bibi Jung… Aissh. Semua ini gara-gara kau!” Teriak Soeun sambil menyalahkan Kimbum.

“Tenang nanti aku akan ganti semuanya.” Ujar Kimbum sambil tersenyum ke arah Soeun.

Soeun hampir saja terpana saat melihat senyuman Kimbum, namun Soeun segera menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan hal itu dari benaknya.

“Lagipula, kau senang kan kalau punya suami sepertiku.” Oceh Kimbum yang disambut oleh jitakan keras dari Soeun. Kimbum hanya meringis kesakitan.

Soeun makin yakin kalau ia salah karena sempat berpikir mengagumi sosok yang ada di sebelahnya.

***

Dering telepon berbunyi nyaring di restoran bubur milik keluarga Jung. Namun, semua orang yang ada disitu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Dan membuat dering telepon itu diacuhkan sementara waktu.

Semenjak Soeun pergi, bibi dan paman Jung harus berusaha lebih keras dari biasanya. Apalagi pengunjung yang datang ke restoran bubur itu semakin hari semakin banyak.

“Tunggu sebentar!” Pekik bibi Jung dari dapur berbicara pada telepon itu, seolah-olah orang di balik telepon itu bisa mendengar bibi Jung.

“Soeun kemana, Bi? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Tanya seorang wanita yang merupakan pengunjung setia restoran bubur keluarga Jung.

“Dia ke Swedia menyusul orang tuanya.” Ujar bibi Jung sambil tersenyum tipis. Ia  jadi teringat kembali oleh Soeun. Semenjak kepergian Soeun, bibi Jung merasa sangat kehilangan Soeun.

Bibi Jung sudah menganggap Soeun seperti anaknya sendiri. Namun bibi Jung sedih karena setiap ia mencoba menghubungi Soeun, ponselnya selalu tidak aktif. Mungkin di Swedia Soeun sibuk, pikir bibi Jung tidak ambil pusing.

Akhirnya bibi Jung menghampiri telepon yang tergantung di sudut ruangan restoran bubur miliknya.

“Yoboseyo. Restoran bubur Jung disini. Mau pesan bubur apa?” Tanya bibi Jung karena restorannya membuka pesanan layan antar, dan biasanya mereka akan memesan lewat telepon.

“Yoboseyo. Soora-ah, kau masih mengingatku?” Sapa seorang wanita di balik telepon itu.

Bibi Jung merasa familier dengan suara itu. Pikiran bibi Jung berusaha mengingat-ingat pemilik suara tersebut.

“Oh! Kau Nami-ah kan? Aku benar kan? Bagaimana kabarmu?” Tanya bibi Jung.

“Aku baik. Bagaimana kabar Soeun?” Bibi Jung merasa aneh saat temannya Nami menanyakan keadaan Soeun padanya.

“Soeun kan sudah berangkat ke Swedia, tiga hari yang lalu.” Ujar bibi Jung.

“Benarkah? Apa kau yakin?” Tanya wanita itu terdengar terkejut.

“Iya aku yakin. Kenapa memangnya?” Tanya bibi Jung saat mendengar ekspresi terkejut dari Nami–sahabatnya.

“Bagaimana ini? Sekarang aku ada di Seoul.”

“MWO!” Pekik bibi Jung kaget.

TBC

Tags: , , ,

About bumssoindo

We are fanbase of BUMSSO (Kim Bum and Kim So Eun) from Indonesia

15 responses to “It Might be You part 2”

  1. yankyu says :

    bgs ditggu next partnya

  2. seororoevilkyu says :

    penasaran,,,
    lanjut,lanjut,,

  3. merli says :

    seruuuuuuu , lucuuuuuuuu …….
    dari cerita bumsso sampai jiyeon dan seungho kayanya seungho cemburu deh !!!!
    wanita yang menjitak kim bum ibu soeun kali makanya dia kenal

  4. Elza says :

    wah, wah.. aku suka kisah bumso’na, seruu~~!! \(^O^)/

    wanita yg nenangin so eun pas nngis d bndara dn njitakin kim bum itu pasti Nami ibu kndung so eun y, thor?! *sok taw >,<'
    penasaran banget ma lanjutan'na

    d tunggu next part'na segera!! ^^ HWAITHING!!

  5. ashillach says :

    ud lbh asik karena ud panjang ceritanya, hehe…..
    kutunggu next partnya🙂

  6. Bummiearab says :

    Hiayaaaaa * teriak sambil jingkrak2 . Lebeyy. Not lebay hho(??) . Abaikan *

    . Konflik na berasa hidup. Kyak k-drama beneran dech..
    N’gk sabar nunggu next part !!
    Yg cepet ya..
    Hwaiting !! * bagi2 semangat *

  7. qinqin says :

    wah ada teka teki nih,lanjut thor

  8. ninda says :

    aku suka bgt ni ma critanx,,
    pa lgi bumsso,lcu bgt!!^.^
    ditunggu ya thor,cepetann gg pke lma #readers mengenacam#*jgn didengar

  9. rosiyani 'oci' says :

    wahhhh so eun ma bum berantem aja nih.. hihi..
    so eun mau dbawa ke rumahnya bum nih tar ketemu ma kakeknya bum bisa2 dijodohin nih.. haha.
    ohh ternyata ji yeon itu adiknya bum ya,, hihi bisnya bingung pertama kali lanhsung ada perkelahian ji yen ma sengho, hho.. tar suka nih sengho ma jiyeon udah ada tanda2nya soalnya. haha
    wahhh itu yg nelpon bibi jung siapaya?? apa mamanya so eun ya..
    aishhh penasaran lanjut dehhhh🙂

  10. bismania luph bumsso says :

    trxta kim bum org kaya toh,……
    keren bgets critax author,……..
    lanjutin n jgn lma” y,………..
    ~ _ ^
    BN~

  11. Danish Ashley Eun says :

    keren2… Seeerruuu seeerruuuuu

    Penasaraaannn ….
    Lanjuuuuttttt

    Di tunggu next part nya

  12. Kimmify says :

    @all gomawo ya komennya semuanya
    *lemparin bias masing2* kecuali jinki ya *digampar mvp*
    aku usahain secepatnya. gomawoooo🙂

  13. Chandra Syifa W says :

    Annyeong haseo author.. Bangapseumnida.. ^^
    FF nya bagus koq, di tunggu lanjutannya..
    Kalo saya sempat baca nya, pasti saya baca + komen🙂
    Khamsa~

  14. Yuli says :

    Wah q ska crita x jd pnasaran dc sm crita x

  15. Ina BeQi Soeulmates says :

    waaaaaahh so eun mau diajak kemana ma kim bum…
    makin penasaran.
    lanjuuutt^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: