Memories In Christmas Eve (Story 8)

Author: ashillach  (gladisapr)

Cast: Kim So Eun, Kim Bum

Other Cast: Lee Min Ho, Im Yoona, Jung Il Woo, Go Ara, Park Shin Hye, Jang Geun Suk, Seohyun

Genre: friendship, family, romantic

Type: sequel

 

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

Cerita yang ditulis hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

 

 

Karena kemarin tbc-nya pas author yang lagi cerita, dan belum ada tulisan End Author POV jadi ini masih author ya, yg cerita…

 

Enjoy reading, chingu!!!! ~^^~

 

                                                #######################

 

Mereka berdua saling bertatapan dan Kim Bum mengerti maksud Min Ho.

“Bocah malam natal itu….” Kata mereka berdua berbarengan

“Kau!?” “Aku?!” kata Kim Bum dan Min Ho barengan lagi #kompak amat#

FLASHBACK 25 Desember 10 tahun yang lalu………

 

“Ih, Kim Bum, cowok kok pakai kalung? Hu, banci..” ledek Min Ho ketika dia, Kim Bum dan Il Woo sedang bermain bersama di taman.

Kim Bum langsung mengerutkan bibirnya “Ini hadiah natal dari Ibuku…” kata Kim Bum dengan mata berkaca-kaca

Kim Bum, Il Woo dan Min Ho sudah berteman dari kecil. Ketika mereka masih kecil, Kim Bum adalah yang terkenal paling cengeng, Min Ho –seperti biasa- paling jahil, dan Il Woo paling tenang. Sampai SMA sebetulnya sifat mereka ada masih cukup sama, hanya yang berbeda adalah Kim Bum sudah tidak cengeng lagi sekarang.

“Sudahlah, Min Ho. Nanti Kim Bum menangis lagi, baru saja 70 jam yang lalu kau membuatnya menangis” Il Woo berusaha membela Kim Bum

“Bodoh, kau Il Woo. Bukan 70 jam yang lalu, tapi 70 menit yang lalu. Masih saja terbalik antara jam dan menit” cibir Kim Bum

Il Woo ikut-ikutan mengerutkan bibirnya “Kau ini. Aku kan mau membelamu….” Gumamnya

Min Ho berlari-lari menuju taman bermain tempa tujuan mereka. Il Woo dan Min Ho disuruh orang tua masing-masing untuk pergi dulu. Tampaknya orang tua mereka ingin membuat kejutan untuk Il Woo dan Min Ho. Kalau Kim Bum? Dia ikut-ikutan saja, soalnya ayahnya belum pulang jadi dia sendirian di rumah.  kalau ibunya? Kedua orang tuanya bercerai  tahun lalu dan Kim Bum ikut ayahnya. Ibunya tinggal di Incheon dan tadi siang baru datang untuk mengunjungi tapi langsung pulang,  dan berjanji 2 hari lagi akan datang lagi.

“Tapi tetap saja, banci sekali. Hu… Kim Bum banci, Kim Bum banci…” ledek Min Ho lagi sambil membuat bola salju dan melemparkannya ke Kim Bum

Kim Bum jadi kesal, tapi dia malu kalau menangis “Ya sudah ini! Ambil saja kalungnya untukmu. Aku ini laki-laki hebat. Bukan banci sepertimu yang suka komik Cardcaptor Sakura” kata Kim Bum dan melemparkan kalungnya ke Min Ho.

“Yang benar nih? Ah, nanti nangis lagi…” kata Min Ho masih meledek Kim Bum

Kim Bum ikut-ikutan membuat bola salju dan melemparkannya ke Min Ho. Lalu Min Ho langsung membalas, dan begitu seterusnya.

“Ajak aku juga dong…” ujar Il Woo sedikit merajuk. Dengan segera, Kim Bum dan Min ho menyerang Il Woo secara membabi buta sampai Il Woo tidak bisa membalas mereka dan terjatuh. Kim Bum dan Min Ho membantu Il Woo berdiri dan mereka mulai perang bola  salju sambil tertawa-tawa.

“Il Woo ayo pulang, hadiahnya sudah siap…” kata kakak Il Woo yang tiba-tiba datang.

“Ne, Hyung. Sudah ya, aku pulang dulu…sampai ketemu besok di sekolah……” kata Il Woo melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan Min Ho dan Kim Bum.

Kim Bum segera berjalan mendekati Min Ho yang masih sibuk bermain salju “Kembalikan kalungku…” kata Kim Bum

Min Ho menjulurkan lidahnya “Wek… tidak mau, kau kan sudah memberikannya untukku” kata Min Ho dan segera berlari meninggalkan Kim Bum.

“Huwe…kembalikan kalungku…” rengek Kim Bum dan mulai menangis Min Ho terus saja berlari meninggalkan Kim Bum “Besok saja ya… di sekolah… “teriaknya

Kim Bum masih saja sibuk menangis

 

Di Sekolah Keesokan Harinya

 

“Min Ho, kembalikan kalungku. Kalau tidak, jatah makan siangmu sebulan nanti, sehabis liburan musim dingin, untukku” tagih Kim Bum dan mengancam Min Ho #ternyata, udah pengalaman dari kecil, nagihin orang… cocok banget jadi rentenir. Tapi rentenir ganteng :3#

Min Ho menatap Kim Bum dengan  tatapan bersalah “Eng… anu, itu, Bum… tadi malam, eng…aku…yah…tidak sengaja…” kata Min Ho terputus-putus

“Kau kasih ke cewek itu ya?” Tanya Kim Bum langsung

Min Ho terkejut “Kok tahu???” Tanya Min Ho heran

Kim Bum mulai menangis lagi “Huwe… Min Ho jahat…kan sudah janji mau balikin hari ini…” rengek Kim Bum

Min Ho kelihatan makin merasa bersalah, sementara Il Woo yang dari tadi diam saja langsung menyoraki Min Ho “Nah lo, Min Ho…nah, lo Min Ho…Min Ho ngebuat Kim Bum nangis lagi…” sorak Il Woo yang langsung diikuti oleh anak-anak sekelas. Mereka sudah tahu dengan pasti kalau Kim Bum menangis, itu sudah ‘pasti’ gara-gara: Lee Min Ho

“Aih… kau ini iseng sekali Il Woo. Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya Bum? Kau mengikutiku sampai ke sungai Han ya???” kata Min Ho

Kim Bum masih terisak-isak “Hiks, iya, tadi malam aku melihat kau dengan cewek di pinggir sungai Han. Kau ini tidak bermodal sekali, Min Ho. Masa ngasih pacarmu kalung pakai kalung rampasan, “ kini giliran Kim Bum yang meledek Min Ho

Min Ho tidak kelihatan merasa bersalah lagi kali ini, tapi lebih kelihatan merona “Aih… mulutmu ember sekali sih, Bum. Itu bukan pacarku, itu Cuma…” tapi kata-katanya Min Ho selanjutnya dipotong oleh sorakan Il Woo dan diikuti Kim Bum dan anak sekelas

“Min Ho punya pacar…Min Ho punya pacar…Min Ho punya pacar…” itulah sorakan anak sekelas, tapi Kim Bum menambahkan sendiri “Tapi tidak bermodal”

Sontak saja, seisi kelas itu langsung tertawa mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Kim Bum. Sementara Min Ho terlihat makin merona

“Aih… kau ini Bum, “ Min Ho mengejar Kim Bum. Dan akhirnya, kelas itu main kejar-kejaran dan Min Ho langsung yang jadi…

 

 

END FLASHBACK

 

“Aku?! Aku bocah malam natal yang dikatakan So Eun itu???” kata “…….” Dengan terkejut #ayo… kata siapa coba??? Baca kalimat selanjutnya…#

“Ya, sepertinya kau…. Bocah malam natal yang dikatakan So Eun itu, Min Ho” ujar Kim Bum dengan nada datar

“Aku?!  Bagaimana bisa mungkin itu aku?!” lanjut Min Ho lagi dengan jauh lebih shock lagi.

“Bisa saja. Kenapa tidak?” jawab Kim Bum datar lagi  #apakah Oppa cemburu??? Kekekkeke :P#

“Tapi bisa saja kau kan? Kalungnya kan milik mu” kata Min Ho masih berusaha membantah

“Tapi kan yang anak itu maksud dengan ‘bocah malam natal’ itu adalah si pemberi kalung bukan si pemilik kalung” Kim Bum tampak sangat tidak peduli sama sekali dengan masalah ini #atau pura-pura gk peduli?#

Min Ho langsung merasa tidak enak, jadi dia diam. Setelah selama sekian menit mereka berdua terdiam, Min Ho pamit pulang “Aku pulang saja. Sampai bertemu di sekolah Bum…” kata Min Ho dan berjalan membuka pintu, keluar dan menutupnya lagi dengan pelan.

Kim Bum memperhatikan kepergian Min Ho dan bergumam sendiri “Bagaiman mungkin bukan kau, Min Ho? …” Kim Bum melangkah ke meja belajarnya dan mengambil sebuah buku tua yang sudah berdebu dan terletak di dalam laci.

Dia membukanya dan mengambil sebuah foto. Gambar di foto itu tampak diambil dari jauh, tapi cukup jelas bahwa objeknya adalah tak lain dan tak bukan, wajah Min Ho kecil yang sedang tersenyum menatap seorang gadis kecil yang tengah duduk di sampingnya dan tidak memperlihatkan wajahnya

“Aku berani bertaruh untuk ini, bahwa ini adalah Kim So Eun ketika kecil. Jadi bagaimana mungkin kalau bocah malam natal itu bukanlah Lee Min Ho? Sahabatku…” gumamnya lagi

Sementara di luar rumah Kim Bum, Lee Min Ho membuka gerbang rumah Kim Bum dan mendesah. Dia merasa bersalah, tapi entah apa yang telah dilakukannya sampai merasa seperti itu, dia juga tidak tahu

“Mungkin seharusnya memang aku di rumah saja, atau membuat Il Woo membatalkan kecannya dengan Chae Won, hah…” desahnya lagi

End Author POV

 

Hari ini tanggal 1 Januari. Tahun baru. Dengan semua permulaan baru. Dan hal-hal baru yang lainnya, yang sudah jelas diharapkan semua orang berawal dengan hal baru yang baik dan menyenangkan.

Tapi tidak denganku. Tahun baru. Dengan semua permulaan baru. Dan hal-hal baru yang lainnya, kuawali dengan neraka siang ini

Aku baru menyadarinya siang ini –saking bodohnya aku- ketika kami sekeluarga baru pulang dari rumah saudara ayah yang kebetulan juga tinggal di Seoul, aku dan Yoona berjalan menuju kamar kami masing-masing, karena ibu menyuruh kami berganti pakaian dan segera turun ke bawah untuk menyantap santapan tahun baru. Sampai di situ memang masih baik-baik saja.

Bagian yang mengerikannya adalah: ketika aku selesai berganti baju dan bercermin, aku melihat pantulan bayanganku di cermin itu. Kepalaku, wajahku, rambutku, baju baruku, dan senyum cerahku. Tapi aku tidak melihat pantulan gambar kalungku.

Kalung dari bocah malam natal. Kalung itu. Hilang. Lagi. ceroboh benar aku ini! Aku tidak tahu mesti se-shock apa lagi. yang aku tahu: ini bencana!

Sedetik kemudian, keadaan kamarku sama buruknya dengan pikiranku sekarang. Aku memberantakinya berhaarap bisa menemukannya, tapi nihil. Tidak ada sama sekali. Petunjuknya saja tidak ada sama sekali. Aku seperti terkena serangan amnesia dadakan dan lupa kapan terakhir kali aku melepaskan kalung yang selalu tergantung di leherku itu.

Pikiranku seketika melayang kemana-mana. Bagaimana kalau kalung itu diambil orang jahat dan dijualnya? Maksudku dicuri begitu lo. Tapi, memangnya kalung itu ada harganya? Kalau bagiku sih memang berharga, maksudku, selama ini saja aku tidak peduli apakah kalung itu terbuat dari emas, perak, perunggu, berlian batu bata, granit dll.  Jadi aku ragu, kalung itu berharga atau tidak untuk dicuri. Apa aku perlu menyewa detektif swasta untuk menyelidikinya? Apa aku perlu memanggil Conan? Atau Shinichi Kudo? Atau, apa Heiji Hattori saja? #siapa lagi ya, nama detektifnya… author lupa :P#

“Astaga So Eun… ada apa dengan kamarmu? Apa ada arwah jahat yang sedang bertengkar denganmu? Menggenaskan sekali… kenapa tidak sekalian saja kau balik kasurmu, rusak komputermu dan patahkan mejamu? Oh, iya supaya lengkap. Tusuk dirimu sendiri dengan pisau supaya kelihatan seperti pembunuhan. Apakah aku perlu membantumu mengambilkan pisau dapur?” Tanya Yoona. Pertanyaan yang enggak penting banget sih -_-‘’

“Makasih banyak Yoona. Membantu banget tuh” kataku ketus. Aku sedang tidak berselera bercanda sekarang. Aku sudah bilang kan tadi: ini bencana. Dan aku sedang menghadapinya.

“Iya deh, Miyanh So Eun-ssi. Tapi maksudku, aduh… So Eun yang benar saja. Ini kan tahun baru, masa penyakitmu sudah kambuh lagi?” tanyanya.

“Entahlah. Penyakit jiwaku bertambah parah seiring pertanyaan enggak pentingmu Yoona.” Kataku sekali lagi dengan nada ketus

Kali ini, dia terlihat lebih serius “Iya deh. Tapi memangnya ada apa?” tanyanya dan berjalan mendekatiku sambil menghindar untuk tidak menginjak baju-bajuku yang bertebaran di lantai, dan baru kusadari, bertebaran sampai di dekat pintu.

Rasanya lega sekali melihat Yoona sudah serius. Aku langsung terduduk dan merengek “Huwe….. Yoona, kalungku hilang lagi. Huwe…. Ottoke?” rengekku.

Aku sebetulnya berharap dia akan menenangkanku atau mungkin memelukku atau setidaknya berkata dengan prihatin, tapi tidak, semuanya tidak berjalan sesuai dugaanku, dia malah menjitakku dengan amat kuat “YA! Babo, babo, babo, babo…… benar kau ini. Kalungmu kok bisa hilang sih???” teriaknya histeris.

Aduh, tidak pengertian benar sih, Yoona ini. Saudara lagi sedih begini, malah dimarahin. Dasar Yoona! Gerutuku dalam hati.

Aku diam saja sementara dia memarahi kecerobohan dan kebodohanku. Aku heran, aku kan tidak bersalah, kok dia marah?

“Jadi, kalungnya sudah ketemu?” tanyanya pada akhirnya.

Akhirnya, aku punya alasan balas memarahinya “Kau tidak lihat keadaan kamarku? Jelas saja belum ketemu, Yoona!!!!” teriakku emosi

Yoona kelihatannya jadi kesal “Ya sudah. Makanya sekarang CARI!!” teriak Yoona

“Ya ini sedang kuCARI, IM YOONA!!!!” balasku kesal

“Tak usah teriak begitu dong!!! Biasa saja!” kata Yoona tidak setuju.

Aku menyerah. Sudah cukup tahun baru kuawali dengan kehilangan kalung, jangan sampai aku bertengkar dengan Yoona juga. Oh, seharusnya aku menarik ramalan tadi untuk mengetahui peruntunganku tahun ini. Tapi sepertinya memang tidak terlalu bagus sih

“Ya sudah, Miyanh….” Kataku dan kembali mencari

Yoona tampaknya sudah tidak punya niat utk ngamuk-ngamuk lagi “Ne, nado miyanh. Tapi apa kau ingat kapan terakhir kali melepaskan kalungmu?” tanyanya

Aku menggeleng kecewa. “Aku tidak ingat sayangnya, Yoona” jawabku

Yoona tampak berpikir sejenak “Kemarin kau keluar rumah atau tidak?” Tanya Yoona lagi

“Aniyo….aku…” bibirku secara otomatis menyunggingkan senyuman “… ah, iya. Kemarin aku jalan-jalan karena bosan di rumah terus” kataku dengan gembira

Yoona langsung mendesah lega “Dasar, makanya lain kali ingat-ingat dulu…” tapi aku tidak peduli lagi dengan kata-katanya

Aku segera menyambar jaketku dan mengambil tasku segera berlari keluar kamar dan berjalan menuruni tangga

“YA! So Eun-ah… kau mau ke mana?” Tanya Yoona mengikutiku turun ke bawah

Ibu yang melihat kami berlari-lari menuruni tangga segera menghampiri kami “Yoona, So Eun, jangan lari-larian. Ayo cepat makan sebelum makanannya jadi dingin” kata ibu.

Aku berhenti sejenak di samping ibu dan berkata dengan terburu-buru “Miyanh, bu, aku punya urusan mendesak dan mendadak jadi aku makannya nanti saja. Aku menyayangimu…” kataku dan mencium pipinya dan menoleh ke Yoona yang berada di sampingku “Gomawo Yoona, sudah mengingatkanku, aku juga menyayangimu” kataku dan mencium pipinya juga lalu segera berlari keluar rumah

“Ada apa dengannya Yoona?” Tanya ibu

Yoona mengangkat bahu “Mengejar cintanya? Entahlah….” Jawab Yoona asal

Kedua ibu-anak itu saling bertatapan dan mengangkat bahu bersamaan dengan ekspresi bingung.

Pertama-tama aku mendatangi café Ara. Aku langsung menerobos masuk begitu sampai di depan café

“Selamat da….. Oh, So Eun. Waeyo? Kenapa?” Tanya Ara begiitu aku masuk dengan raut wajah panik

Tapi aku tidak peduli lagi dan segera berjalan menuju meja yang kududuki kemarin. Aku menunduk dan melihat ke bawah meja. Tidak ada benda satu pun yang ada

Ara segera datang menghampiriku dengan heran “Kau kenapa So Eun? Ada yang ketinggalan?” Tanya Ara

Aku menoleh dan berdiri tegak kembali “Ara, apa kemarin ada barang yang tertinggal di sini? Seperti kalung begitu” tanyaku.

Ara tampak berpikir sejenak “Seingatku sih tidak ada barang tertinggal di sini kemarin. Aku, Yong Hwa Oppa dan pegawai yang lain kemarin bersama-sama membereskannya tak ada satupun kalung yang tertinggal.” Kata Ara

Aku menunduk kecewa “Hari ini kalian tidak libur ya?” tanyaku yang heran melihat café Ara masih buka sekalipun hari tahun baru

Ara menggeleng “Tidak, tapi kami buka sekarang dan tutupnya nanti sore. Hanya sebentar “ jawabnya

Aku mengangguk “Oh, begitu. Ya sudah, aku pulang dulu ya Ara “ pamitku

“Lo, tidak mau minum dulu?” Tanya Ara heran

Aku menggeleng dan tersenyum “tidak, aku hanya ingin mencari barangku yang hilang, maaf ya merepotkanmu Ara” kataku dan berjalan keluar café

Aku berjalan pelan tanpa arah yang jelas “Kemana kalung itu? Apa mungkin jatuh di persimpangan yang kulewati kemarin? “ gumamku

Lalu tiba-tiba aku tersentak karena mengingat sesuatu “Oh, iya! Di sekolah, dengan Min Ho Sonbae aku sempat melepaskan kalungku. Aih, kenapa aku baru ingat?” aku memukul pelan kepalaku, merasa bodoh sambil tersenyum-senyum sendiri

Aku segera berlari menuju sekolahku. Aku lihat lagi-lagi gerbang sekolah terbuka. Hmm… padahal kalau ditutup aku mau sok keren memanjat pagarnya, hehe… ketika aku masuk ke dalam sekolah, aku melihat banyak sekali orang-orang yang keluar masuk membawa meja dan kursi. Apa akan ada acara?

Sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, dimana kalungku. Aku segera berjalan menuju lapangan basket dan menuju hutan kecil di sampingnya. Aku berjalan menyusuri jalanan yang kulewati menuju sungai kemarin dan melihat ke bawah dengan amat sangat teliti, kalau-kalau ada benda berkilauan.

Tapi aku tidak menemukan apapun sampai di sungai. Mungkin aku harus mencari di tepi sungai di tempat aku duduk dengan Min Ho Sonbae kemarin

Author POV

 

“YA, Lee Min Ho! Kenapa kami harus ikut kau datang ke sekolah hah?! Dasar, kupikir kau mengajak bertemu ingin mentraktir makan atau mengajak makan di rumahmu.” Gerutu Il Woo dan mengikuti Min Ho berjalan memasuki sekolah

“Aih, bersisik sekali kau ini Il Woo! Apa susahnya mengikutiku saja dengan tenang. Aku juga sebetulnya tidak mau datang ke sekolah dan mengurus pesta tahun baru ini, tapi karena pengurus OSIS yg lain sedang asik berlibur, cuman aku satu-satunya pengurus OSIS yang masih berada di Seoul, dan aku disuruh memeriksa persiapannya, dan…” jawab Min Ho tak sabar, tapi kata-katanya langsung dipotong oleh Il Woo

“…Dan kau malas datang sendirian ke sekolah, jadi kau menjadikanku tumbal kesibukanmu. Dasar, kenapa harus kau sih, yang jadi ketua OSIS?” Tanya Il Woo

“Jangan lupakan aku. Aku juga jadi tumbal kesibukannya” sahut Kim Bum yang ternyata sejak tadi berada di situ dan berjalan mengikuti kedua sahabatnya

Min Ho tampak jengkel diganggu oleh kedua temannya “Aish, berisik sekali! Kan kalian yang mencalonkanku jadi ketua OSIS, padahal aku tidak mau” kata Min Ho jengkel

Il Woo terkekeh “Supaya kami bisa menggunakan  ruang OSIS dengan leluasa, harus ada yang menjadi tumbalnya. Kalau aku kan tidak mungkin, otak pas-pasan begini. Kim Bum apalagi, pemalas begitu” Il Woo melirik Kim Bum “jadi cuman kau yang bisa Min Ho. Sudah pintar, rajin lagi. Lagipula sbetulnya kami tidak berharap kau menang dalam pemilihannya, tapi kalau kau menang, yah apa boleh buat”  Il Woo mengangkat bahu dengan tampang polos, Kim Bum tertawa

Min Ho menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal “Sebetulnya akulah tumbalnya” gumamnya, sontak saja tawa Kim Bum makin keras dan Il Woo pun ikut tertawa dengan keras

“Tapi tampaknya kau tidak terlalu menyesal diajak menemani Min Ho datang ke sekolah Bum” kata Il Woo dan melihat Kim Bum yang sedang asik mengotak-atik handphonenya

“Aku memang malas di rumah” jawab Kim Bum singkat

“Karena Joon ya?” Tanya Min Ho asal karena dia sedang sibuk melihat catatannya dan memeriksa kelengkapan pesta tahun baru nanti di Aula sekolah

Kim Bum mengangkat bahu tidak peduli “Entahlah” ujarnya

Il Woo mencibir “Kau ini kekanak-kanakan sekali Bum, kau cemburu ya, orang tuamu memberi perhatian lebih pada Kim Joon?” Tanya Il Woo tanpa berpikir terlebih dulu

Min Ho yang mendengar pertanyaan frontalnya Il Woo itu, refleks saja langsung menyikut Il Woo. Il Woo langsung sadar dan segera memasang tampang berdosa

“Ah, itu, aku tidak sengaja, Bum… ah, eh… Miyanh” kata Il Woo,  tapi Kim Bum langsung berjalan keluar aula sekolah dan meninggalkan Min Ho dan Il Woo.

“Aish, kau ini… ada apa dengan mulutmu hari ini, Il Woo? Dari tadi asal bicara saja…” cibir Min Ho

Il Woo mendelik ke Min Ho “Ini kan salahmu juga… kau tahu? Moodku langsung berubah 360 derajat ketika bersamamu” kata Il Woo

Min Ho mencibir lagi “Kenapa menyalahkanku? Sedang datang bulan ya?” Tanya Min Ho asal

Il Woo segera menjitak kepala Min Ho

Sebetulnya Kim Bum tidak tersinggung sama sekali, kata-kata il Woo itu memang benar, jadi dibiarkannya saja. Tapi dia memang malas berada di aula itu. Dia sedang menginginkan ketenangan, jadi bisa dibilang dia keluar dari aula itu bukan karena marah dengan Il Woo

Dia datang ke hutan di samping lapangan basket dan berjalan masuk. Tempat itu merupakan salah satu tempat favoritnya selama bersekolah di situ. Ketika dia sampai di sungai yang membelah hutan itu, Kim Bum mendesah “Sudah lama aku tidak ke sini…” gumamnya.

Kim Bum merasa menginjak sesuatu di kakinya. Dia melihat ke bawah dan mengambil barang yang diinjaknya itu “Kalung…. Bocah itu” gumamnya.

Kim Bum memasukkan kalung itu ke sakunya dan mendesah “Sebentar lagi akan datang tamu… Membosankan sekali” gumamnya dan berjalan-jalan menyususi sunga itu

End Author POV

 

“Kok tidak ada, ya?” gumamku melihat ke bawah sepanjang perjalananku. Menurutku aku sudah melihatnya dengan teliti, tapi tetap saja tidak ada satupun benda berkilauan yang ada di tempat aku dan Min Ho Sonbae duduk kemarin

“Kemana sih, kalung itu?” gumamku kesal. Hampir 30 menit aku mondar-mandir di situ mencari kalungku, tapi nihil. Tidak ada satupun benda yang terlihat

“Ah, aku bisa gila!” kataku dan duduk karena kelelahan.

“Bukannya kau memang sudah gila?” tanya seseorang di belakangku

aku tersentak dan menjerit kecil lalu menoleh ke belakang “Dia lagi?!” pikirku

“Kau lagi? membosankan sekali” Kim Bum Sonbae ikut duduk di sebelahku.

“Terserah Sonbae saja…” kataku dan memandang lurus ke depan

Dia menatapku “Masih marah?” tanyanya polos

Aku menggigit bibirku “Bisa tidak Sonbae tidak menannyakan hal itu lagi?” bentakku kesal

Kim Bum Sonbae tampak tidak peduli “kalau masih marah, bilang saja. Apa susahnya sih?” ujarnya

Dia menyuruhku marah? Pikirku. Baiklah, aku akan marah “Ya! Aku memang marah padamu. Berani-beraninya kau melakukan itu di depan banyak orang dan menyiksaku!” bentakku lagi

“Melakukan apa?” tanyanya lagi tanpa menatapku

“Mencium pipiku di depan banyak orang!” aku kembali membentaknya

“Jadi?”

“Ya, aku tidak suka!” kataku

“Oh, begitu…” jawabnya singkat

Aku mau berteriak membentaknya lagi, tapi tiba-tiba suaraku terasa serak. Jelas saja, sudah hampir 1 jam aku tidak meminum apa-apa

Kim Bum Sonbae mendengus “Lihatlah… betapa rendahnya taraf otakmu. Siapa suruh kau berteriak-teriak hah?” tanyanya dan kini sambil menatapku

Aku menatapnya kesal. Dia mengambil sesuatu dari ransel yang dibawanya dan mengeluarkan sebotol minuman “Minumlah” suruhnya dan menyodorkan botol minuman itu

Aku memang haus, tapi aku malu mengambilnya. Aku terdiam sambil menatap botol minuman yang dipegangnya

“Cepat ambil, tanganku pegal memegangnya. Kalau di hitungan ke 3 kau tidak mengambilnya, ini kutarik lagi. 1…2….” Katanya. Aku langsung merebut botol minum itu darinya dan segera meminumnya

Dia mendengus lagi dan kembali menatap ke depan, tapi aku tidak peduli. Terserah dia mau melakukan apa

“Kau marah karena aku mencium pipimu di depan banyak orang?” gumamnya

Aku mengangguk pelan dan kembali minum “Berarti, kalau aku mencium bibirmu di tempat sepi, kau tidak akan marah kan?” katanya langsung.

Aku langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Dia menatapku “Dasar! Minum saja tidak benar” cibirnya

Aku menatapnya dengan tatapan membunuh “Apa maksud Sonbae hah?!” bentakku lagi setelah tenggorokanku kembali reda

“Sudahlah, tidak usah berteriak lagi, nanti serak lagi. “ katanya dengan nada malas

“Terserah padaku mau berteriak atau tidak, Sonbae” kataku

Dia menatapku kesal “Kalau kau berteriak sekali lagi, aku benar-benar akan menciummu. Jadi diamlah” katanya.

Aku mendesah keras. Menyebalkan benar orang ini. Aku menyodorkan lagi botol minumannya “Gomawo minumannya” ujarku dengan nada datar

Dia mengambilnya “Bisa tidak mengucapkan terima kasihnya halus sedikit?” tanyanya dan memasukkan minumannya ke dalam ranselnya lagi

“Gomawo Sonbae, minumannya.” Kataku lagi dengan senyum yang dipaksakan “Puas?” lanjutku

“Tidak” jawabnya. Terserah dia sajalah

setelah itu kami berdua terdiam beberapa saat. Aku masih kesal dengannya, jujur saja. Tapi duduk tenang di sini sambil menatap langit bersamanya, aku menikmatinya. Sangat malahan. Aku tersenyum kecil memikirkannya. Ketika aku menoleh melihatnya dia juga sedang melihatku. Segera saja aku dan dia mengalihkan pandanga.

“Ehm… tadi kau sedang apa disini?” tanyanya

“Mencari kalungku” kataku langsung

“Kalung yang terlalu bagus untukmu itu?” tanyanya lagi

Aku mendelik menatapnya, tapi aku tetap menjawab “Ya”

“Kalung yang ini?” katanya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya sambil mengacungkan sesuatu kepadaku

“Ah, iya!” kataku dan berusaha mengambilnya tapi dengan segera dia menariknya lagi

“Ini kalungku, bukan kalungmu” katanya

“Eh?” gumamku tidak mengerti.

Dia menatap kalung itu “Memang punyaku kok…. 10 tahun yang lalu” katanya

Aku tersentak. 10 tahun yang lalu? Katanya tadi 10 tahun yang lalu kan? Sama dengan saat aku mendapatkan kalung itu. Apa mungkin…

Dia melemparkan kalung itu padaku dan berdiri berjalan meninggalkanku “Sampai jumpa nanti malam di pesta tahun baru” katanya dan pergi

Aku menoleh menatapnya “Eh? Pesta tahun baru?” gumamku heran. Tapi dia telah pergi meninggalkanku sendiri.

“Yoona, hari ini ada pesta tahun baru ya?” kataku di meja makan setelah aku pulang ke rumah. Tadi kan belum sempat makan

Yoona yang sedang menghisap pelan tehnya langsung tersentak “Ah, iya! Aku lupa memberi tahukannya padamu… iya hari ini ada pesta tahun baru di sekolah” kata Yoona dan kembali menyeduh tehnya.

Ayah yang sedang duduk di meja sambil meminum kopinya ikut-ikutan bertanya pada Yoona “Pesta tahun baru? Untuk apa?” tanya ayah

“Sekolah kami kan salah satu sekolah yang terkenal di Seoul karena banyak artisnya. Katanya sih, pesta tahun baru ini akan ditayangkan di tv sebagai salah satu sekolah artis yang akan menjadi sekolah dengan jumlah peminat terbanyak di tahun ajaran baru nanti. Mungkin untuk promosi sekolah juga” jelas Yoona

Ayah mengangguk-ngangguk “Strategi yang bagus juga” katanya

Ibu kemudian datang membawakan camilan sore dan mengambil piringku yang sudah kosong untuk dicuci “Lalu, kalian berdua datang tidak?” tanya Ibu sambil lalu

Aku mengambil gelas teh bagianku dan camilan sore yang dibawa ibu “Tidak, aku malas” jawabku dan mulai meminum tehku

Yoona tersedak “Ya, kenapa kau tidak datang. Masa hanya aku sendiri yang datang?” rengeknya

“Kau kan tahu, Yoona, masalahku yang kemarin saja belum selesai. Nanti kalau aku datang dan diserang lagi bagaimana? Aku malas…” jawabku santai

Ayah langsung menatapku “Masalah? Diserang apanya? Kau sedang ada masalah di sekolah, So Eun?” tanya ayah

Aku dan Yoona saling bertatapan dengan panik. Aduh, aku kelepasan

Ibu yang sudah selesai mencuci piring segera datang menghampiri kami dan bertanya dengan cemas “Apa kau sering diintimidasi di sekolah So Eun?” tanya ibu

Yoona buru-buru menjawab “Tidak. Hanya masalah kecil, So Eun ada masalah dengan temannya, dan temannya itu sering mengejeknya. Ayah ibu tahu kan, kalau So Eun malas cari ribut? Makanya dia malas datang. Iya kan So Eun?” tanya Yoona padaku sambil menyenggol kakiku.

Tanpa disenggol pun, aku akan mengiyakan kata-kata Yoona, kok, pikirku. “Iya, benar apa yang dikatakan Yoona. Hanya masalh kecil dengan temanku” kataku dan tersenyum

“Kalau begitu kau akan datang ke pesta tahun baru sekolah nanti malam kan, So Eun?” tanya ibu.

“Kalau memang tidak apa-apa, datang saja. Kenapa tidak?” ujar ayah.

Menurutku ayah sudah curiga dan berniat menjebakku, aku yakin. Yoona menatapku dengan tatapan ‘Bagaimana ini’ dan aku menjawab dengan lemas “Ya, aku akan datang dengan Yoona”

“Yoona, katamu boleh pakai baju bebas? Kenapa harus memakai dress begini?” tanyaku malam harinya ketika aku dan Yoona berdandan untuk pesta

“Lalu, kau mau pakai apa? Hanbok? Atau kimono?” tanya Yoona asal dan masih sibuk menata rambutku

“Bukan begitu, kalau bebas, berarti aku boleh kan, pakai kaos dan celana jins biasa?” kataku

Yoona menggeleng “Baju bebas tapi tetap formal kan? Kau pikir mau kemana, pakai kaos dan celan jins? Ke pasar? Dasar” cibirnya

Aku ikut mencibir “Terserah, tapi sudah belum? Kepalaku pegal nih…” kataku

“Sebentar lagi, agassi. Yang sabar ya…” jawab Yoona berpura-pura sopan

10 menit kemudian, Yoona selesai menata rambutku dan mengacaukan wajahku dengan berbagai make-up. Riasan Yoona sebetulnya bagus, sangat malahan. Tapi aku tidak suka di make-up, makanya agak sedikit risih

“kau memakaikan make-up yang natural kan Yoona?” tanyaku dengan cemas.

“Tentu saja, supaya kau tidak banyak mengoceh, natural saja kok…” jawabnya dan memakaikan maskara padaku.

Setelah selesai, aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin. Aku baru sadar, kalau  aku ini cantik ~haha~. Malam ini, Yoona memakaikan dress setengah lutut bewarna krem tanpa lengan padaku. Rambutku hanya dikeritingkan dan dijepit olehnya. Tak lupa untuk pelengkap, kalung sederhana berbandul hati kecil

“So Eun, kalungmu yang ini lepas saja ya? Kurang cocok dengan bajumu, dan kalau kau memakainya lalu sampai hilang lagi, aku tidak mau tanggung…” kata Yoona dan menunjukan kalung pohon natalku.

Aku berpikir sejenak, iya juga. Daripada hilang lagi. “Ya sudah, tak apa-apa” jawabku.

“Kau mau memakai baju apa Yoona?” tanyaku ketika dia sudah selesai meriasku. Yoona berdandannya terakhiran, soalnya dia mendandaniku dulu, supaya tak repot katanya.

“Yang ini saja, mungkin?” jawab Yoona ragu sambil memegang sebuah dress yang hampir sama dengan yang kupakai tapi berwarna pink lembut dengan renda sederhana di bagian bawahnya

“Boleh juga, bagus kok” kataku meyakinkannya.

Dia mengangguk dan keluar dari kamarku untuk memakai baju di kamarnya setelah merias wajahnya. Ketika dia selesai memakai dress-nya, dia kembali ke kamarku.

“Hehe, benar. Bagus juga sih…” kata Yoona. Aku tersenyum

“Yoona, bagaimana kalau nanti aku diganggu lagi?” tanyaku

Yoona tampak berpikir sejenak “Iya sih, tapi kalau sampai kau tidak datang, ayah pasti akan curiga” kata Yoona

“Ayah sudah curiga Yoona, bukan akan lagi…” kataku

“ya sudahlah, nanti kita tak usah terlalu lama di situ. Sebentar saja, setelah itu pulang. Di sana juga, kau jangan jauh-jauh dariku ya, So Eun?” ujar Yoona akhirnya

Aku mengangguk. Setelah itu, aku dan Yoona bersama-sama keluar kamar dan berjalan turun ke bawah

“Pulangnya jangan malam-malam ya… kalau sampai kemalaman, telepon ayah, biar nanti ayah jemput” kata ayah ketika aku dan Yoona berpamitan.

“Ayah ini. Kenapa Yoona dan So Eun pergi sendiri? Antar dong. Sudah secantik ini, nanti berantakan kalau Yoona dan So Eun pergi jalan kaki” sahut ibu yang tiba-tiba datang

seolah baru sadar, ayah mengangguk “Iya juga ya. ya sudah, tunggu sebentar. Ayah panaskan mobil dulu” kata Ayah dan mengambil kunci mobil

Ibu menggeleng-geleng pelan “Dasar ayah….” Gumam ibu. Aku dan Yoona tertawa kecil

“Hati-hati ya. ingat pesan ayah, kalau kemalaman, telepon. Kalian bawa handphone kan?” pesan ayah ketika kami telah sampai di depan sekolah.

Aku dan Yoona mengangguk “Kami pergi dulu yah..” kataku dan Yoona bersama-sama

Ayah mengangguk dan segera menjalankan mobil meninggalkan aku dan Yoona di depan gerbang sekolah yang sudah ramai oleh berbagai macam mobil. Benar apa kata Yoona, bahwa ini mungkin akan disiarkan di televisi. Karena aku melihat ada salah satu mobil stasiun televisi.

Aku dan Yoona berjalan masuk ke dalam gedung sekolah dan berjalan menuju aula sekolah. Suasananya benar-benar berbeda dengan suasana aula di hari-hari biasa. Mewah dan cukup elegan bisa dibilang, keadaan aula hari ini.

“Seperti prom ya?” bisikku pada Yoona

“Bukannya memang prom?” jawab Yoona santai

Aku memandangnya heran “Eh? Kau bilang kan pesta?” tanyaku

“Bukannya sama saja, pesta dengan prom?” Yoona balik bertanya padaku

Aku mencibir. Aku menatap sekeliling aula yang sudah dihias dengan sangat baik itu dan menikmati musik yang dimainkan. Tidak buruk…

“Yoona!” sahut seseorang

Aku dan Yoona menoleh berbarengan, dan kulihat Seohyun datang menghampiri kami “Ah, ada So Eun juga. Annyeong!” kata Seohyun ketika melihatku

Aku menunduk sedikit dan tersenyum. Setelah itu kami bertiga berjalan bersama menuju meja makan panjang yang berisi berbagai macam kue. Aku agak terasingkan di situ, karena Yoona sibuk mengobrol dengan Seohyun

Ketika sampai di meja kue itu, aku sibuk mengambil kue jadi tidak terlalu memperhatikan Yoona dan Seohyun, ketika sadar, mereka berdua sudah menghilang

“He? Kemana mereka pergi?” gumamku dan melihat sekeliling. Dasar Yoona, katanya jangan jauh-jauh darinya, tapi sekarang malah dia yang meninggalkanku.

Aku mendesah dan memutuskan untuk berkeliling sendiri sesaat sebelum seseorang menepuk pundakku dari belakang

“So Eun!” sahut orang yang menepuk pundakku dari belakang itu

Aku menoleh dan tersenyum “Shin Hye! Kupikir kau tidak datang!” sahutku

Shin Hye mencibir “Yang benar saja, bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Justru akulah yang mengira kau tidak datang. Kau sendirian?” tanya Shin Hye

Aku menggeleng “Tidak, tadi datang dengan Yoona, tapi tidak tahu lagi sekarang dianya ada dimana. Kau sendiri?”

“Dengan Geun Suk Oppa, tapi tadi dia bertemu dengan teman-temannya, jadi terpisah”

Akhirnya, selama aku berada di pesta itu, aku berjalan bersama dengan Shin Hye. Aku melihat jam tangan perak kecil yang kupakai malam ini, sudah jam 08.15 pesta tadi mulai pukul 07.00 malam, aku dan Yoona datang sekitar jam setengah 8. aku mulai bosan, dan lagi, kata Yoona hanya sebentar, tapi kenapa jadi lama.

Shin Hye mungkin memperhatikanku yang gelisah sambil berkali-kali melihat jam tanganku dan handphone-ku karena kemudian dia bertanya “Kenapa So Eun?” tanyanya

Aku menatapnya “Ah, tidak. Tadi Yoona janji hanya sebentar, tapi kenapa jadi lama ya?” jawabku lebih kepada diriku sendiri.

Shin Hye masih menatapku “Kenapa tidak telepon saja?” tanya Shin Hye

“Aku takut mengganggunya…” jawabku.

Tiba-tiba Geun Suk Sonbae datang menghampiri kami “Aku mencarimu dari tadi, kau kemana saja Shin Hye?” tanya Geun Suk Sonbae dengan nada cemas

Shin Hye kelihatan agak merasa bersalah “Ah, miyanh oppa. Dari tadi aku hanya dengan So Eun saja kok. Waeyo?” tanya Shin Hye

Geun Suk Sonbae menatapku sekilas dan sedikit tercengang “Kau agak sedikit… berbeda malam ini So Eun” kata Geun Suk Sonbae ketika menatapku.

Aku tersenyum dan kurasa pipiku agak sedikit merona “Gomawo Sonbae” jawabku

Geun Suk Sonbae kembali memfokuskan pandangannya pada Shin Hye lagi “Kau mau bernyanyi denganku tidak? Mengisi acara maksudku…”  tawar Geun Suk Sonbae pada Shin Hye

“Memangnya kenapa, Oppa? Bukannya malam ini Oppa mengisi acara dengan A.N.Jell?” tanya Shin hye

“Seharusnya begitu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang datang, jadi…” Geun Suk Sonbae terlihat cukup merona kali ini

Shin Hye pun terlihat merona, tapi aku langsung menyenggol lengannya dan menatapnya dengan semangat “Ayo” kataku tanpa suara pada Shin Hye

Shin Hye menatapku “Aish, kau ini So Eun” balasnya tanpa suara juga. Aku tertawa kecil melihat mereka berdua malu-malu begitu.

Akhirnya Shin Hye menjawab “Ya”

“Kau tidak apa-apa sendiri So Eun?” tanya Shin Hye

“Gwenchana… sudah, cepat sana! Pangeranmu menunggu” suruhku

Shin Hye terlihat makin merona “Aish kau ini!” ujarnya, aku masih tertawa kecil dan akhirnya dia berjalan dengan Geun Suk Sonbae meninggalkanku

Aku memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Menurutku mereka sangat cocok, tapi sayang keduanya sering malu-malu

“Cantik sekali hari ini, Ahgassi…” bisik seseorang dari belakangku

Aku menoleh dan mendapati Kim Joon Oppa berdiri di belakangku. Hari ini dia memakai baju yang benar-benar kelihatan formal, berjas hitam dengan kemeja putih lengkap dengan dasi kupu-kupunya.

“Haha, apa yang ada di lehermu itu, Oppa?” tanyaku sambil menunjuk dasi kupu-kupu-nya.

Dia terlihat agak risih “Norak ya? sebetulnya aku tidak mau sih, pakai yang beginian…” katanya

“Bagus-bagus saja kok… kenapa risih memakainya?” tanyaku heran

“Kau tahu kan, di sekolah aku tidak pernah memakai yang namanya dasi?”

Aku tersenyum. Beberapa hari ini aku berpikir, bahwa mungkin setelah ‘hari itu’, hubunganku dengannya akan sedikit merenggang. Tapi aku salah, mungkin kami masih akan tetap sama seperti dulu, perbedaannya mungkin hanya sebatas ‘teman’ tanpa perasaan gugup apapun dan kalaupun agak sedikit lebih mungkin hanya sebatas kakak-adik

“Sudah berdansa belum?” tanyanya tiba-tiba

Aku menatapnya dan menggeleng “Belum” jawabku

“Mau berdansa denganku, Ahgassi?” tanyanya dan mengulurkan tangan padaku

Aku menyambut uluran tangannya “Ne… Oppa” jawabku dan membiarkannya menuntunku menuju lantai dansa

Author POV

“Chae Won mana ya?” gumam Il Woo

Min Ho menggeleng-gelengkan kepalanya “Kau suka sekali, ya membuat orang sirik? Pikirkan aku dan Kim Bum yang belum punya pacar dong…” gerutu Min Ho

Il Woo mencibir “Kalau kau mungkin memang perlu dikasihani, tapi kalau Kim Bum, aku tak yakin….” Ujar Il Woo sambil melirik Kim Bum

Min Ho ikut-ikutan melihat Kim Bum “Heh, benar juga…” gumam Min Ho dan tersenyum jahil

Kim Bum tampak tidak memperdulikan tatapan kedua orang di sampingnya itu. Matanya terus saja menjelajah seisi aula itu, mencari sesosok wanita

“Mungkin dia tidak datang, Bum… “ ujar Min Ho mulai berusaha menjahili Kim Bum

“Hah?” sahut Kim Bum tanpa menatap Min Ho

“Bukannya dia tak suka pesta? Sia-sia kau mencarinya…” lanjut Min Ho

Kali ini Min Ho mendapatkan perhatian Kim Bum karena Kim Bum segera berbalik memandang Min Ho “Siapa yang tidak suka pesta?” tanya Kim Bum

“Orang yang kau cari…” jawab Min Ho santai

Kim Bum mendengus “Siapa bilang kalau aku sedang mencari seseorang? Aku hanya sedang melihat-lihat saja kok…” jawab Kim Bum tak peduli.

“Yang benar? Bukannya kau sedang mencari, em… siapa ya namanya?” goda Min Ho

“Kim So Eun?” kini Il Woo pun mulai ikut menjahili Kim Bum

“Ah, iya… itu. Kau sedang mencarinya kan, Bum?” goda Min Ho lagi

Kim Bum segera menatap Min Ho dengan tajam “sembarangan… untuk apa aku mencarinya? Bukannya kau yang sedang mencari anak itu?” ujar Kim bum

Min Ho tampaknya makin bersemangat menjahili Kim Bum “Yang benar? Kalau memang kau tidak mencarinya, kalau aku menemukannya duluan, kau tidak boleh marah ya??” goda Min ho lagi

“Aish, terserah kau saja…” ujar kim Bum. Min Ho langsung terkekeh puas

Il Woo hanya geleng-geleng kepala melihat ulah kedua temannya itu “Aku tak ikutan, ya… ini masalah kalian” gumamnya

Tiba-tiba mata Il Woo tertumpu pada sosok seorang wanita yang sejak tadi dicarinya, Moon Chae Won, dia pun segera berpamitan dengan kedua temannya dan meninggalkan mereka

“Ya, Min Ho, Kim Bum, aku kesana dulu ya… sepertinya itu Chae Won..”  ujar Il Woo dan berlalu

“Asik ya, punya pacar…” gumam Min Ho menatap Il Woo dan Chae Won dari tempatnya

“Kau terkenal begini, kalau memang ingin pacar pilih saja sembarangan, siapa yang tidak mau denganmu?” tanya Kim Bum asal

Min Ho mencibir “Jawaban tak bermutu…” Min Ho tiba-tiba melihat seorang wanita tampak sedang asik mengobrol dengan Kim Joon

“Ya, Bum, itu So Eun bukan?” bisik Min Ho kepada Kim Bum sambil menunjuk orang yang dimaksud

Kim Bum mengikuti arahan tangan Min Ho dan diam. “Ya, mungkin itu dia…” jawab Kim Bum tak beberapa lama kemudian

Min Ho terkekeh “Kalau begitu cepat ke sana, kau dari tadi sedang mencarinya kan?” tanya Min Ho

“Dia sedang dengan Joon, bodoh” ujar Kim Bum dan menjitak Min Ho

Min Ho meringis “Ya, datangi saja, apa susahnya sih? Ah… lihat-lihat, dia sedang berdansa dengan Joon. Kau telat lagi, Bum. Hehe…” kata Min Ho

Kim Bum menjitak Min Ho lagi tanpa berkata apa-apa.

Min Ho kembali meringis “Kau ini, tidak sopan sekali! Menjitak orang yang lebih tua beberapa bulan darimu!” bentak min ho

“Aish, terserah…” Kim Bum segera berjalan pergi meninggalkan Min Ho

tanpa mereka sadari, berpasang-pasang mata para wanita di pesta itu tengah menatapi mereka dan menguping pembicaraan mereka……

TO BE CONTINUED

 

 

 

Kayaknya yang ini ud kepanjangan ya, jadi tbc dulu……maaf ya, kalo agak ngebosenin gitu, hehe. Miyanh juga kalau bumsso-nya masih kurang memuaskan.

 

Ud dulu utk part ini. See you next story! Gomawo all! ~^^~

Tags: , , , , , , , ,

17 responses to “Memories In Christmas Eve (Story 8)”

  1. kimmify says :

    makin seruuuuuuu author!
    oh ternyata minho bocah natal, aku kira awalnya kimbum
    aku suka deh adegan yg kimbum ilwoo sama minho lucu abisnya
    bahay tuh soeun, ada yg deger pembicaraan kimbum sama minho
    penasaran lanjutannya
    update soon yaaaaaaaaa! fighting!

  2. RiriAngels says :

    Ahaha SUKA DEH SAMA FF ini xD
    Cerita.a bagus teratur
    Bahasa.a juga bgs xD
    Next part jangan lamalama y thor hehe
    Oh ya next part bumsso ditambh y haha

  3. amniminry_anis says :

    makin seru author!!!!
    oppa cemburu, oppa cemburu
    hahaha.. xD

  4. dhia says :

    aaaiiiisshhh….
    author….
    kim bum takut ya sama kim joon oppa… kasihan….
    author…. kim bum sama so eun dibuat tambah dekat lagi ya?
    bilang juga tuh sama kim bum, klw suka sama seseorang dekati juga orang yang dekat dengannya… (eeehh… ngapain nich ikut campur)
    biarin aja ya thor? sekarang reader agak konslet, kurang nyambung kabelnya jadi wajarin aja * ngelantur banget…
    aaiiishhh… biar aja dech yang penting “KEEP SPIRIT BUAT LANJUTIN KISAH NYA AUTHOR…!!!”

  5. Putri says :

    Yang aq tUngGu akHir’a d p0st jugA. .
    Sempat kaget t’nyata bocah malam natal itu minho aq kira kimbum. .
    V aq masIh ragu cz b0cAh malam natal itwh kand bkan’a pengen jdi penyanyi ea. (lw gx salah) kand yg jdi pnyanyi itU kimbum. . .
    Aq masIh b’harap itu kimbum. . . .
    Gx sbr bwat bCa kelanjUtan’a. .

  6. zheey2992 says :

    ih lucu ya msa kcil kim bum,min ho,ma il woo,
    truz blum ada progres ne bwad hubx bumso,
    jdi tmbh pnasran aja.
    Next part jgn lama2 ya thor

  7. Bummiearab says :

    Hah..
    Benarkah bocah malam natal itu min ho??
    Loh kok bisa??

    Aku yakin bocah malam natal itu kim bum bukan min ho. * ngotot *

    bikin kim bum dan so’eun yg lebihhh lgi donk * author: lebih apanya?? Reader: lebih gimanaa gitu kb n kse na.. Yayaya !! Author:????????????????? *

    o.ke thor
    lanjut nya cepet.
    HWAITING

  8. rosiyani 'oci' says :

    hyaaaaaaaa ga terduga ternyata bocah itu minho oppa. huaaaa…
    gmn ini dong??? so eun kan sukanya ma tu bocah yg ngasi kalung buakn pemiliknya bener kata bum…
    aduh aduhhhh..
    ayooo lanjutlah author penasaran nih

  9. adinary says :

    cuma ada satu kata DAEBAK !!! *nempelin jempol di jidat author* *gak sopan._.
    cuma ada satu kalimat AKU SUKA FF INI !!! ^^
    author! fighting!~^^

  10. Atin says :

    Hahaha,ngebayangin ilwo bilang “nah lo minho 5x” ngakak jadinya., pasti imut banget ilwoo oppa.,
    Minho ternyata,aq kira ilwoo,lho??Xixixi
    Aq suka couple kim bum – so eun, ilwoo – chae won…minho belum punya y?Ma song ji hyo z (lebih tua donk) haha
    Ditunggu lanjutannya🙂

  11. merli says :

    arrrrrggggghhhhh yang ngasih kalung itu minho bukan kim bum gimana tuh ???
    babo katanya bukan cari soeun tapi pas di bilang suruh samperin bilang gitu hahaha dasar kim bum …

    ceritanya makin seru , tapi kapan nih bumsso bersatu ??? happy end kan ??

  12. gina flamersShawolbumsso polepell says :

    ah seruuu ,,,,,,,
    aku gak nyangka banget kalo ternyata bocah malam natal itu minho oppa ,,,,
    daebak bget deh ff ea …..
    wah kalo soeun eonnie tau gimana ya … ??
    bagaimana nasibnya bummpa
    wah lanjut author ,,,,,

  13. bismania luph bumsso says :

    akhirx sdkit demi sdikit,saingan bummie oppa berkuarang,……
    ha….ha………ha……..
    kim joon,hax sbgai kakak,min ho jg gk ska sma so eun walau pun dia adlah bocah mlam natal….
    fighting bummie oppa,dpatkan hati so eun eonnie……..!!!!!
    ~ _ ^
    BN~

  14. rizkyapratiwi says :

    keren keren
    Q suka banget sm FF ne …. Seruuuu
    Wah … Ternyata bocah malem natal tu Min Ho kirain kim bum, yaaaaahhhhh

    Hahahahaha … Lucu banget baca flashback masa kecil kimbum, il wo, sm min Ho
    Kekeh kali …. Kim bum cengeng

    Lanjuuuttt auhtor …. Jangan lama2 ya

  15. Ameliana Paisley says :

    ko bisa yh bocah malam natal itu si min ho ??
    bkan.a bocah malem natal itu blg klo kjadian.a persis sama salah satu novel yg di ceritain sma ibu.a yh ?? trus bkan.a dy jg mau jdi penyanyi ?? hehe
    padahal ak kira bocah itu kim bum soal.a dy jg ngerasa dejavu kn pas baca novel itu –??

    crita.a udh makin seruu ..
    ayoo lanjutkan thor , jgn lama” yh =D

  16. Indah_ELF says :

    Seru …
    Kim bum cemburu yaa ayo ngaku2 …hahaha
    ywdh d’tngu kLanjutan’a …

  17. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Kyaaa keren ahh ternyata bocah yg nagsih kalung ke sso minho tapi itu Kalung pnya bum ahh jd makin seruu lanjutbaca🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: