between wealth, death, and love part 1

Author :  Secreet fan

Main cast :  Kim Bum, So Eun

Cast :  All star

Category :  misteri, romantic

Type :  Sequel

PART 1

“Jadi… apa kau menerima tawaranku?”

Gadis itu tersenyum dingin

“Tentu saja… dengan senang hati, aku pasti datang”

“Baiklah… jam sembilan malam ini, villa Kim di puncak gunung selatan kota Seoul”

“Ya…saya tidak akan terlambat”

Tit… telfon diputus, satu gadislagi yang dududk di sebelah gadis yang menelfon tadi menatap rekannya itu tak berkedip

“Kau mau kesana? Ke villa hantu itu?”

“Bukankah ini menarik? Jiyeon…” ucapnya dengan senyum yang mekar

“Ta…tapi So Eun…”

“Tenang saja, aku pasti pulang dengan selamat, tak usah khawatir, jika aku tak pulang dengan selamat aku pasti masih hisup!”

“Ta…tapi…”

“Kita butuh uang untuk mempertahankan kantor ini, bayarannya sangat menggiyurkan”

“Sebandingkah itu dengan nyawa yang kau pertaruhkan?”

“Yaaahh… nyawaku tak begitu berharga, jika aku mati tidak akan ada orang yang menangis”

“So Eun… tentu saja ada, aku! Aku yang akan menangisi kebodohan mu!”

“Terima kasih Jiyeon, tapi apa kamu tidak mendengar? Orang yang menelfonku tadi punya majikan yang super ganteng!”

“Ya… dan akan segera menikah!”

“Itu tak penting! Aku juga penasaran seganteng mana dia”

“Akh! So Eun! Alasan mu sanagt tidak masuk akal!”

“Aku saja tak masuk akal! Apalagi alasanku! Jadi itu wajar”

“So Eun…!!!”

“Selama aku pergi urusi kasus kecil-kecil yang masuk! Jangan lupa jika Seung Ho datang bilang pada nya kau tidak senggang, jangan mentang-mentang aku tak ada kalian asyik pacaran!”

“Kau ini!” Jiyeon mencubit gemas sahabatnya yang nekat itu

“Sudahlah Jiyeon, aku tak sebodoh yang kau kira… nilai mata kuliahku memang selalu jeblok, tapi otakku tak selemah itu”

“Ya… aku tahu, kau sudah mengatakannya padaku seribu kali”

“Tapi kau masih belum yakin!”

“Aku percaya kok! Oh ya, jika kau memang mau pergi, jangan lupa bawa jimat keberuntungan”

“Aku tak percaya sama yang mistik-mistik kayak gitu!”

“Ini jimat persahabatan, kau harus bawa!”

“Baiklah… aku harus segera beres-beres, malam ini aku harus sudah berada disana, belum lagi merental mobil”

“Urusan mobil serahkan saja pada ku, kau beres-beres saja”

“Thanks!”

Begitulah… siang itu mereka sibuk menyiapkan kepergian So Eun. Sekali lagi sebelum So Eun pergi

“Jangan lupa bawa senter! Itu hutan! Senter sangat berguna! Kotak P3K! Tali, pisau, jimat dan…”

“Jiyeon, aku tak ingin pergi berkemah! Aku tidak harus membawa barang sebanyak itu! Baju saja sudah cukup!”

“Tapi itu akan sangat membantu mu!”

“Aku menghargai perhatianmu, tapi kau seperti nenek-nenek saja!”

“Apa katamu?” Jiyeon mendelikkan matanya, So Eun tertawa

“Kau juga harus jaga diri! Di Seoul banyak kejahatan! Bukan di gunung saja!”

“Ya…ya… aku tahu!”

“Bye Jiyeon!” So Eun menyandang ranselnya dan melambai

“Eh…tunggu…” Jiyeon berlari ke arah So Eun

“Apa lagi?”

“Salam sahabat!”

Lalu mereka saling menautkan jari dan mengadukan tinju masing-masing

“Gook luck!”

“Kamu juga, jangan asyik pacaran saja selama aku pergi!”

“Iya…iya… tenanglah…”

So Eun masuk ke dalam mobil yang direntalnya, kemudian mobil itu mulai berjalan menuju villa Kim, disana satu kasus telah menunggu…

~ ~ ~

“Kau detective Kim So Eun yang dari Seoul itu?” tanya seorang pelayan tua saat So Eun memarkir mobilnya di halaman rumah, So Eun mengangguk

“Ya… apa kau yang menelfonku?” tanya So Eun balik, lelaki itu menggeleng

“Yang menelfon kepala keamanan keluarga, dia menunggu anda di rumah”

“Oohh…”

“Mari saya antar ke kamar anda…” pelayan tua itu mengantar So Eun menuju ke kamar yang telah disediakan untuknya, di sepanjang rumah, mata So Eun tak hentinya mengamati sekitar, villa yang mengerikan! Pantas saja disebut villa hantu, fikirnya. Villa itu sangat luas dan besar, bertingkat empat, bergaya zaman kerajaan eropa dulu, seluruh lantai rumah dilapisi karpet coklat tua yang halus, banyak guci-guci antik terpajang, sofanya sangat besar sampai So Eun yakin sofa itu kurang-lebih sebesar kasurnya. So Eun tak melihat satu TV pun dirumah itu, agak aneh untuk rumah yang ada di zaman modren, banyak bunga lavender dan lili disepanjang rumah membuat rumah terasa segar mungkin itu untuk pewangi ruangan sekaligus pengusir nyamuk alami, tapi walaupun rumah itu sangat mengerikan, So Eun tak merasakan ada kejadian aneh yang pernah terjadi di rumah itu.  Tampaknya pak tua yang mengantar So Eun menyadari kebingungannya, karena ia langsung berkata

“Villa ini baru dibeli sekitar dua bulan yang lalu, dan tidak ada yang diubah sejak dibelinya itu. Satu bulan yang lalu saudara tuan muda di temukan tewas dikamarnya dengan leher tergantung, polisi mendakwa itu bunuh diri, tapi kepala keamanan bersikeras mengatakannya pembunuhan oleh salah satu penghuni rumah, karena seminggu setelahnya tuan besar juga ditemukan tewas dengan keadaan menggenaskan, ia meninggal dengan siletan pisau pada lengannya, di kira bunuh diri tak mungkin, tapi pembunuhan juga mustahil, ruangan tempat mayat ditemukan tertutup rapat, kami mendobrak pintu karena merasa aneh tuan besar belum keluar dari kamarnya juga walau sudah siang, lagipula tak ada satupun sidik jari yang menempel di kamanrnya, tapi dengan cepat kasus itu di peti es kan karena keluarga ini merupakan keluarga terpandang dan berpengaruh di pemerintahan”

“Polisi menyetujui untuk tidak menindak lanjuti penyelidikan?” tanya So Eun tak percaya

“Setelah nyonya besar meminta begitu, ia merasa penyelidikan tidak menghasilkan satu hal yang berarti dan hanya menyusahkan”

“Eeemm… tadi katanya yang meninggal saudara tuan muda, berarti anak pemilik rumah ini tidak hanya satu orang?”

“Ya… nyonya besar mempunyai tiga anak, yang pertama laki-laki, sekarang sedang berada di villa ini, yang kedua perempuan, yang saya ceritakan meninggal tadi, dan yang terakhir masih kuliah tingkat akhir di Sarbone university sekarang juga sedang liburan dan ada di villa ini”

“Selain mereka semua, siapa saja peng huni villa ini?”

“Keponakan tuan besar, tuan Min Ho, dan pacarnya nona Hye Sun. Lalu orang kepercayaan nyonya besar, Victoria. Ada juga juru masak villa ini, Key, selain itu hanya ada saya, kepala keamanan, Kim Joon, sepuluh pelayan, tiga bawahan juru masak, dan  tujuh anggota keamanan” jelas pelayan tua itu

“Ooh…” So Eun mengangguk paham

“Ini kamar untuk nona, semoga nona nyaman selama berada disini” bapak tua itu membungkuk memberi hormat, So Eun membalasnya

“Kalau boleh saya tahu, bapak ini siapa ya?”

“Nama saya Lee Geuk, saya kepala pelayan”

“Ooh… saya sangat berterima kasih atas informasinya”

“Sama-sama, ada yang perlu saya bantu lagi?” tanya kepala pelayan tua itu, So Eun mengangguk

“Bisa saya minta denah villa ini?”

“Tentu saja, nanti saya berikan, jam sembilan malam nanti saya akan menjemput untuk mengantar anda ke ruangan kepala keamanan”

“Baiklah… terima kasih…” So Eun membungkukkan tubuhnya, pelayan itu membalasnya kemudian berjalan menjauh, So Eun membuka pintu kamarnya

Wow…!!!

So Eun terpana melihat kamar yang akan di tempatinya dengan takjub, dua kali lebih besar dari pada rumahnya. Disana terbentang satu set sofa, satu rak buku yang besar, ranjang yang super gede, satu buah TV, beserta rekan-rekannya, satu set meja belajar, dan pintu lain, yang So Eun yakiani sebagai kamar mandi. So Eun jadi berfikir, sebesar apa ya penghuni rumah ini? Karena semua perbotannya ukuran jumbo…

So Eun segera melepas ranselnya dan melemparnya ke arah sofa yang gede, kemudian berjalan ke beranda kamar (kamar yang di tempatinya memang berada di lantai dua)., dan menatap ke bawah. Tampak oleh pandangannya tiga orang laki-laki, dan seorang perempuan sedang bermain golf  lapangan sebelah rumah, satu lelaki tampak sebaya atau setahun lebih tua darinya, dua lelaki lainnya tampak sekitar delapan tahun lebih tua darinya, satu perempuan yang dilihatnya sekitar lima tahun lebih tua darinya. Heemm… mungkin itu kedua tuan muda, sepupunya dan pacar sepupunya. Main golf? Waaahh… benar-benar orang kaya… So Eun masuk kembali ke dalam kamarnya

“Hei, kalian lihat perempuan yang tadi mengamati kita dari kamar itu? Tampaknya ia perempuan detective dari Seoul itu” ucap lelaki yang kurang lebih seumuran dengan So Eun

“Hemp! Aku tak yakin ia bisa menyelesaikan kasus” ucap perempuan satu-satunya diantara mereka itu

“Aku jadi penasaran kembali siapa yang membunuh paman, kudo’akan semoga dia bisa menyelesaikannya”

Lelaki yang satunya tak menjawab, meminum air dari gelas yang terletak begitu saja diatas meja dekat mereka

~ ~ ~

So Eun memejamkan matanya di atas sofa, heemm… rumah ini cukup aneh, TV tidak ada di ruang keluarga, tapi di kamar,  suasana rumahnya juga sangat sunyi dan sepi, buat ngantuk saja, sampai nggak yakin pernah terjadi dua kasus disini, dan lagi… aku tak merasakan nuansa persahabatan sedikitpun, apa ini memang kebiasaan orang kaya? Aneh juga… So Eun kembali membuka matanya, saat itu ia terkejut, seorang cowok sudah berada di atasnya, menatapnya penuh selidik

“Waaa…. apa yang kau lakukan di sini? Eehh… siapa kau?” tanya So Eun terkejut, cowok itu tak menjawab, malah duduk juga di sofa

“Jadi kau gadis detective yang dipanggil Kim Joon itu ya? Wajah mu tak meyakinkan” ucapnya tenang

“A…apa katamu? Memangnya kau siapa? Berani-beraninya berkata begitu!” ujar So Eun kesal, kenapa sich cowok ini

“Kau tidak perlu tahu aku siapa, yang perlu kau ketahui hanya kami tak butuh detective seperti mu untuk menyelesaikan kasus, lebih baik kau kebali ke Seoul dan memperbaiki nilai mu yang hancur-hancuran itu daripada kau menyelidiki kasus disini” ucapnya masih tenang, So Eun bertambah terkejut

“Tau dari mana nilaiku hancur-hancuran? Aahh… jangan-jangan kau sudah menyelidikiku sebelum aku pergi ke sini, sekarang menyuruhku pergi, kau pelakunya ya?” tanya So Eun penuh kemenangan, cowok di depannya mendengus

“Hanya orang bodoh yang memutuskan sebelum menyeidiki, sudah kuduga, kau tidak akan mampu menyelesaikan kasus”

“Setelah mengusirku kini kau mengatakanku bodoh, apa sich mau mu?” So Eun bertambah kesal saja, cowok itu menoleh kearah So Eun

“Kau mau tahu apa yang kuinginkan? Dengar ini…” belum sempat cowok itu mengatakan satu katapun pintu kamar So Eun diketuk

Tok…tok…tok… keduanya menoleh

“Siapa?” tanya So Eun, suara diluar menyahut

“Ini saya, Lee Geuk!”

So Eun segera menghampiri pintu dan membukanya, disana tampak Lee Geuk yang langsung memberi hormat

“Kita harus segera ke ruangan kepala keamanan”ucapnya, cowok tadi muncul di belakang So Eun dan berjalan lurus saja, menyenggol pundak So Eun, Lee Geuk segera membungkuk memberi hormat lagi, So Eun mau marah, tapi ditahannya

“Paman, awasi gadis ini selama berada di villa ini, jika ada gerakannya yang mencurigakan segera saja diusir” pesan cowok itu sebelum pergi, So Eun naik pitam lagi

“Hei! Kau sombong sekali! Ingat ya, aku bukan penjahat yang harus selalu di awasi! Kenapa jutek begitu? Kalau kau ingin aku pergi cepat-cepat kecurigaanku akan kau pelakunya bertambah kuat! Lihat saja! Jika hal ini terbukti kau tak akan bisa berkutik lagi!” teriak So Eun penuh amarah, cowok itu hanya menoleh sedikit sambil tersenyum

“Buktikan saja…” ucapnya tenang dan segera pergi. Sepeninggal cowok itu So Eun kembali menoleh kearah Lee Geuk

“Paman, dia itu siapa sich? Kenapa jutek sekali?”

“Maaf kan kelakuannya… biasanya dia tidak jutek begitu, mungkin karena nona orang baru, dia tuan muda Kim Bum, anak terakhir almarum tuan besar”

“Ooh… apa hubungannya dengan tuan besar baik-baik saja?” tanya So Eun

“Tidak juga, walaupun dia anak paling kecil dia sangat bandel, dia itu sering membawa wanita ke mari jika pulang, tuan sering memarahinya, dan dia sangat suka pergi ke night club, tapi nona tidak perlu mencurigainya, ia sedang berada di Sarbone waktu tuan besar terbunuh”

“Begitu…” ucap So Eun paham

“Eeemm… kita harus segera pergi ke ruangan kepala keamanan, dia sudah menunggu”

So Eun mengangguk saja, mengikuti langkah Lee Geuk.

Ternyata ruang keamanan ada di lantai tratas, So Eun bingung, seharusnya ruangan keamanan ada di lantai satu kan? Maling atau apapun pasti masuk dari lantai satu, tidak mungkin turun dari langit. Lee Geuk segera mengetuk pintu satu ruangan

“Detective So Eun telah tiba…” ucapnya, terdengar suara orang menyahut dari dalam

“Biarkan dia masuk…”

“Saya mengantar sampai di sini saja, oh ya, ini denah yang nona minta…” ucap kepala pelayan itu lalu pergi, So Eun segera membuka pintu

“Anda pasti detective So Eun” ucap seorang lelaki ganteng (he he), berotot besar (jelas saja meski ia menggunakan   kemeja dan jas), yang umurnya kira-kira lebih tua empat tahun di atas So Eun. So Eun sedikit terpana melihat lelaki di depannya, sangat jauh dari bayangannya. Yang ia bayangkan adalah akan bertemu dengan seorang bapak-bapak yang tubuhnya gede hampir kaya raksasa, dan wajahnya sanggar, tapi ternyata kepala keamanan itu masih muda! Ganteng lagi!

“Eh…iya…” So Eun agak gugup

“Silahkan duduk” ucap cowok itu sopan tapi tetap tegas. So Eun duduk di kursi yang bersebranang dengan kursi cowok itu

“Langsung saja, saya ingin anda menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang terjadi di rumah ini, penjelasan mendetail nya bisa anda bicarakan dengan saja, jika anda ingin melihat foto-fotonya, saya masih menyimpannya” ucapnya langsung to the point, mendengarnya So Eun jadi ikut-ikutan serius

“Eeemm… kejadian itu tanggal tepatnya terjadi kapan?”

“Kasus pertama terjadi tanggal empat April 2011, perkiraan kematian terjadi antara pukul 13.00 sampai dengan 13.40 saat mayat di temukan. Kasus kedua terjadi seminggu setelahnya, tanggal 11 April 2011, perkiraan kematian pukul 10.30 sampai pukul 11.00 saat mayat ditemukan” ucapnya, pasti lancar

“Lalu siapa saja yang ada di villa ini saat kejadian itu?”

“Pada kasus pertama, yang berada di rumah adalah saya, kepala pelayan Lee Geuk, juru masak Key, tuan besar, nyonya besar, tuan muda Kim Joong, tuan muda Kim Bum, sepupunya Min Ho, pacarnya Hye Sun, dan orang kepercayaan nyonya besar, Victoria”

“Min Ho dan Hye Sun juga ada disini?”

“Ya, sejak  setengah tahun yang lalu mereka tinggal dengan keluarga ini, dua bulan yang lalu nyonya memutuskan untuk membeli villa ini, dan semenjak itu belum pernah pulang ke rumahnya di Seoul, tampaknya mereka lebih senang tinggal di sini dari pada di Seoul walaupun pernah terjadi kasus, katanya villa ini lebih sejuk dan tenang”

“Kata paman Lee Geuk, Kim Bum tidak berada di rumah ini saat kasus kedua, bagaimana bisa? Bukankah pada kasus pertama ia ada?”

“Ya… lima hari kemudian ia kembali ke Paris”

“Selain dia, apakah masih ada orang yang keluar?”

“Tidak ada…”

“Begitu… bisa saya lihat foto-foto saat kejadian itu?”

“Ya…” Kim Joon menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat kepada So Eun, So Eun segera membukanya, di dalamnya banyak sekali foto-foto. So Eun mengamati foto-foto itu satu per satu. Bulu kuduk nya merinding ngeri memandangi foto-foto itu, apalagi saat melihat foto-foto  pada kasus kedua, hatinya bergetar, tak sanggup melihat sayatan mengerikan pada nadi korban. Kejam sekali! Siapa yang tega melakukan hal sekejam itu?

“Em… Kim Joon, apa kau masih ingat siapa yang pertama kali menemukan mayat pada kakus pertama dan kedua?”

“Pada kasus pertama yang pertama kali menemukan mayatnya adalah aku…”

“Ka…kamu?”

“Ya…”

“Kenapa kamu pergi ke kamar korban?” tanya So Eun bingung, kali ini tampak awan mendung pada wajah Kim Joon

“Aku dan nona… aaahh… aku dan Sin Hye, kami berpacaran, ya… walaupun secara diam-diam, tak ada yang mengetahuinya” jawabnya pelan, So Eun terdiam

“Jadi…”

“Hari itu adalah hari jadi kami, dari pagi aku sengaja menyuekkan nya, aku ingin memberinya kejutan, tapi saat aku pergi ke kamarnya…”

“Maaf kan aku…” ucap So Eun menyesal, Kim Joon menggeleng

“Tidak apa-apa…”

“Lalu pada kasus kedua, siapa yang pertama kali menemukan mayat?”

“Yang pertama kali menemukan mayat adalah kepala pelayan Lee Geuk”

“Anda rasa, kenapa ia pergi ke kamar tuan besar?”

“Dia orang kepercayaan tuan besar. Lagipula tuan besar belum keluar juga sejak pagi, itu mengherankan karena sebelumnya ia selalu sudah berada di luar kamar sebelum jam sepuluh, saat itu ia belum keluar juga, kami mendobrak pintu bersama-sama karena tak mendengar sahutan dari dalam kamar, tuan ditemukan oleh Lee Geuk di kamar mandi, dalam bathub dengan keadaan sangat menggenaskan”

“Glek!” So Eun menelan ludah ngeri

“Lalu, apa kamu tahu apa saja kegiatan seluruh penghuni rumah saat itu?” tanya So Eun, entah untuk keberapa kalinya, kali ini Kim Joon menggeleng

“Maaf, aku tak tahu…”

“Baiklah… tapi jangan curiga, aku ingin bertanya, apa yang sedang kau lakukan saat itu?”

“ Saat kasus pertama aku sedang membersihkan ruangan ini, dan menghiasnya, rencananya aku ingin membawanya kemari dan merayakan hari itu berdua”

“Lalu saat kasus kedua terjadi?”

“Aku sedang duduk sendiri di ruangan ini”

“Kau penyendiri ya?”

“Tidak sebelum Sin Hye meninggal, ya, sesudah dia meninggal”

“Begitu… apakah boleh menanyakan kegiatan penghuni rumah ini saat kasus terjadi?” tanya So Eun, Kim Joon mengangguk

“Aku akan membantu mu menjelaskan pada mereka”

“Dengan nyonya besar juga tidak apa-apa kah?”

“Dia orang yang ramah, ku jamin, tidak akan apa-apa”

“Bisa kita mulai sekarang?”

“Jangan sekarang, mereka pasti belum siap, besok saja setelah semuanya tahu kau disini untuk menyelidiki kasus”

“Ok… kalau begitu aku akan kembali ke kamarku”

“Mau kuantar?”

“Tidak usah, ku rasa aku masih ingat jalan ke kamar”

“Baiklah… maaf jika saya mengganggu waktu istirahat anda”

So Eun tersenyum

“Tidak apa-apa, lagipula karena hal ini lah saya dipanggil, itu sama sekali tidak mengganggu, terima kasih atas kerja samanya, dan…”

“Ada apa lagi?” tanya Kim Joon bingung

“Jangan terlalu formal, sebenarnya saya tidak enak di panggil dan memanggil anda-anda begitu… Kita panggil nama masing-masing saja ya?” tanya So Eun, Kim Joon tersenyum

“Baiklah So Eun, senang bekerja sama dengan mu” ucap Kim Joon, kali ini So Eun dapat melihat senyumnya, aaahh… keren sekali!

~ ~ ~

So Eun menyesal, ia sama sekali tak ingat lagi jalan menuju kamarnya, sayangnya ia juga lupa jalan menuju ruangan Kim Joon, jadilah ia berputar-putar di rumah besar itu sendirian, bergidik ngeri juga ia, hari sudah malam, suasana sepi seperti ini… So Eun menyesal sekali, akhirnya ia duduk di entah dimanalah dirumah besar itu, tapi ia tahu sedang berada di lantai dua, kareena tdi sempat turun tangga satu kali, saat itu seorang cowok menghampirinya

“Kau sedang apa?”

So Eun menoleh, tampak seorang cowok dengan wajah bingungnya di sana, ia menggunakan kacamata minus

“Eeehh… aku tersesat” jawabnya jujur, cowok itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala

“Kau pasti detective dari Seoul itu ya?” tanyanya ramah, So Eun mengangguk

“Kenalkan, aku Kim Joong” ucap cowok itu sambil mengulurkan tangannya, So Eun menerimanya

“So Eun…” ucapnya cepat, lalu berdiri

“Kau sendiri sedang apa disini malam-malam begini?” tanya So Eun

“Kamarku disini” ucapnya sambil menunjuk pintu ruangan di depan dinding tempat  So Eun menyandar tadi, So Eun maklum

“Kau baru sampai sore tadi, sudah makan?” tanyanya ramah, So Eun menggeleng, tampaknya Kim Joong jauh lebih ramah dan baik dari pada Kim Bum

“Kau pasti lapar, aku juga, bagaimana kalau kita makan sekarang?” tanyanya, So Eun tak menolak, ia memang sangat lapar.

Kim Joong membawa So Eun ke ruang makan, ruangannya jaaauuuhhhh… sekali, dan berada di lantai satu, disana ia membunyikan lonceng dan seorang pelayan datang

“Siapkan makan malam untuk dua orang” perintahnya, pelayan itu mengangguk dan segera pergi. Sepeninggal pelayan itu mereka asyik mengobrol

“Oh ya, rumah ini aneh ya, kuperhatikan tak ada satu kamera pengawas pun disini, sungguh aneh untuk rumah sebesar ini”

KiM Joong tersenyum

“Ini bukan rumah, hanya villa”

“Eeehh…benar juga, tapi itu tetap aneh”

“Memang… villa ini sudah ada sejak zaman dulu saat orang-orang masih berperang, semenjak dibeli belum direnovasi, di biarkan begitu saja, hanya bagian luar yang direnovasi”

“Begitu… oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu, harap jangan marah ucap So Eun, Kim Joong mengangguk

“Apa itu?”

“Begini… aku ingin tanya kegiaanmu saat kasus pertama dan kedua terjadi”

“Ooh… saat kasus pertama aku sedang main golf sendiri…”

“Sendiri?” So Eun sediki bingung, masa main golf sendiri saja?

“Ya… aku memang suka melakukan semua nya sendiri saja”

“Penyendiri ya?”

“Ha ha ha… tidak juga… itu kulakukan kalau sedang ada masalah saja…”

“Masalah? Saat itu kau sedang punya masalah?”

“Ya… sebenarnya sedikit memalukan, aku bertengkar dengan omma, omma menyuruhku memimpin perusaahan elektronik oppa saja, tentu saja aku menolak, aku kan pewaris seluruh perusaahan appa, tapi omma meminta appa untuk menyerahkan seluruh pimpinan perusaahan pada Sin Hye saja, well… aku tak terima, selama ini aku sibuk belajar untuk mejadi penerus, kenapa omma seenaknya mengubah”

“Begitu… lalu pada kasus kedua?” tanya So Eun

“Aku sedang bermain kartu dengan Key, juru masak” terang Kim Joong

“Kalian teman?”

“Sahabat… dia menyelamatkan nyawaku saat aku di rampok segerombolan penjahat di Seoul, lalu malah dia yang terluka,  saat itu aku juga mengetahui bahwa dia pintar memasak, jadi kupekerjakan disini”

“Begitu…”

Makan malam segera datang, So Eun dan Kim Joong segera makan

“Selamat makan…”

~ ~ ~

So Eun berbaring sendiri di kasur empuk yang ditidurinya. Mencoba menghubung-hubungkan kasus, tapi masih banyak puzzle yang harus dikumpulkan. Sikap jutek Kim Bum yang sebenarnya tak jutek padanya, Kim Joon yang ternyata pacar Sin Hye yang meninggal, lalu Kim Joong yang punya masalah dengan Sin Hye yang meninggal, semuanya berputar-putar dalam kepala So Eun… Aaaaiiihh…!!! kenapa sich rumah ini? Apa memang ini kehidupan orang kaya? Sangat tidak menyenangkan! Mata So Eun berat, susah diajak kompromi dan akhirnya hanya bisa terpejam, ia tertidur pulas…

Cahaya mentari masuk lewat celah jendela kamar So Eun, dibukanya matanya perlahan, selamat pagi dunia…aku masih harus menyelesaikan kasus… bisiknya kemudian bangkit dari tidurnya

“Huaaahhh…” ia menguap panjang, terkejut saat mendapati seorang pelayan disebelah ranjangnya, pelayan itu membungkuk

“Hari ini nyonya besar meminta seluruh penghuni villa untuk sarapan bersama” ucapnya sopan, So Eun mengangguk sangsi, ia kan bukan penghuni tetap villa ini

“Eh…baiklah…kalau begitu” jawab So Eun, kemudian pelayan itu segera meninggalkannya

‘Heemm… jika ia ikut makan bersama kemungkinan ia bisa dapat banyak informasi mengenai kasus’ pikir So Eun, kemudian melangkah menuju kamar mandi

~ ~ ~

So Eun melangkahkan kakinya dengan agak sedikit ragu, benarkah ini jalan ke ruang makan? Perasaan tadi malam Kim Joong membawanya lewat jalan sini dech. So Eun terus berjalan walau dengan hati dipenuhi keraguan, aaaiiisshh…!!! tampaknya aku tersesat, ucapnya dan saat itulah ia menabrak seorang cowok

“Hei! JALAN PAKE MATA DONK…!!!” bentak cowok itu, So Eun tak bisa menjawab, tubuhnya jatuh menindih cowok itu, ia menatap cowok itu bingung

“Kamu Kim Bum kan?” tanyanya, cowok di depannya mendengus

“Lagi-lagi detective aneh ini!” ucapnya, So Eun agak tersinggung

“Apa maksud mu dengan detective aneh?”

“Tidak ada, yang perlu kau lakukan hanya menyingkir dari tubuhku” ucap Kim Bum kesal, So Eun ikutan kesal

“Huh! Dasar bungsu! Pantas saja manja dan egois!” ucapnya pelan, kali ini Kim Bum yang tersinggung

“Apa maksud mu?”

“Bukan apa-apa” balas So Eun cuek, penuh kemenangan ia berdiri, Kim Bum ikutan berdiri, kemudian berjalan kembali

“Hei, kau mau ke mana?” tanya So Eun

“Tentu saja ke ruang makan” jawab Kim Bum tak peduli, So Eun segera mengikuti dari belakang, Kim Bum risih

“Kenapa mengikutiku?”

“Aku tidak mengikuti, kebetulan saja tujuan kita sama!”

“Huh!” Kim Bum menggeam dan melanjutkan langkahnya, So Eun kembali membuntuti

“Kim Bum… kau lama sekali sampainya” ucap seorang wanita paruh baya saat Kim Bum dan So Eun baru saja memasuki pintu ruang makan

“Maaf omma, ada sedikit masalah” jawabnya sopan, beda sekali dari sikapnya kepada So Eun

“Baiklah…silahkan duduk. Eeemm… kau detective dari Seoul itu ya?” tanya omma Kim Bum saat melihat So Eun, So Eun mengangguk sambil memberi hormat

“Baiklah… kau juga duduklah… ambil tempat yang kau sukai” ucapnya ramah, So Eun lega, untung saja nyonya besar orang yang ramah. So Eun mengambil tempat duduk diantara Kim Joon dan Kim Bum,

“Hai… bagaimana tidur mu?” tanya Kim Joon ramah saat So Eun baru saja duduk, So Eun tersenyum

“Nyenyak sekali, kau sendiri bagaimanan?”

“Yaaahh… seperti biasa” jawab Kim Joon

“Kau ini, aku kan belum tahu kebiasaan mu”

“Hemph, benar juga”

Kim Bum diam saja, tak meperdulikan percakapan mereka, omma Kim Bum mulai berbicara

“Kalian pasti heran, pagi ini omma mengajak sarapan bersama” ujarnya memulai pembicaraan, Kim Joong mengangguk setuju

“Setelah omma pikirkan masak-masak, tampaknya tidak apa, pesta pertunangan Min Ho dan Hye Sun akan tetap diadakan hari kamis ini” ucapnya, Hye Sun dan Min Ho saling menatap, tersenyum, Kim Bum cuek saja, So Eun yang tak mengerti diam saja, Kim Joon pun tak perduli, hanya Kim Joong saja yang protes

“Omma, mana bisa begitu! Appa dan Sin Hye baru saja meninggal, mana bisa langsung mengadakan pesta!”

“Kita tidak boleh lama-lama larut dalam kesedihan, omma sudah bicara pada koki Key untuk mempersiapkan hidangan apa saja yang akan di hidangkan mulai dari sekarang, ruangan juga akan mulai di tata mulai besok, sudah omma bicarakan dengan Lee Geuk, Kim Joon, kau harus menambah personil keamanan mu, mulai sekarang juga harus sudah memeriksa lingkungan sini, omma tidak ingin ada yang mengganggu pesta ini”

“Siap…nyonya besar…” ucap Kim Joon sambil menunduk hormat, omma Kim Bum tersenyum

“Panggil omma saja, kalian semua adalah anak ku” ucapnya, Kim Joon tersenyum

“Baiklah…omma” ucapnya

“Oh ya, Victoria…” omma Kim Bum memanggil wanita yang sedari tadi berdiri dibelakangnya, wanita itu maju dan membungkuk hormat

“Kau juga ikutlah makan bersama kami” ucapnya, wanita bernama Victoria itu tersenyum

“Terima kasih banyak omma” ia segera mengambil tempat disebelah omma Kim Bum, Kim Joong masih terlihat tak setuju, tapi ia tak berkata apa-apa lagi

So Eun mengunyah makanannya dengan tenang, ia sangat lega, jika omma Kim Bum orang yang ramah, kemungkinan besar ia mudah mendapat informasi. Tapi ia sedikit bingung, kenapa Cuma Kim Joon saja yang ikut makan? Kepala pelayan dan juru masak kok tidak? Padahal tingkat ketinggian jabatannya sama saja… hal ini sangat aneh, ia pasti akan menanyakan kebingungannya ini pada Kim Joon.

Setelah selesai sarapan bersama…

“So Eun, kau masih belum hafal lika-liku rumah ini?” tanya Kim Joon, So Eun menggeleng

“Sudah tidak apa-apa lagi, lagipula aku punya denahnya” ujarnya

“Oh ya? Dapat dari mana?”

“Saat baru sampai kuminta pada paman Lee Geuk, Kim Joon sebenarnya  ada yang membuatku penasaran dari tadi”

“Apa itu?”

“Eeemm… jangan marah ya?”

Kim Joon mengangguk

“Kenapa hanya kau saja yang makan bersama nyonya besar? Maksudku kenapa Key dan paman Lee Geuk tidak? Padahal tingkat jabatan kalian sama”

Kim Joon sedikit menerawang

“Cerita yang sulit…”

“Ceritakan saja”

“Baiklah… tapi jangan disini” ujar Kim Joon lalu berjalan menuju taman yang ada di belakang rumah itu. Sampai ditaman Kim Joon duduk dibawah satu pohon besar yang rindang, disana ia menatap jauh dan mulai bercerita

“Ini agak sulit… tapi aku masih masuk dalam keluarga besar appa Kim Joong dan Kim Bum”

“Hah?”

“Eeemm… Kim Hyung Jang, appa Kim Bum dan Kim Joong mempunyai simpanan, namanya Lee Eun Han. Aku…aku adalah anak mereka”

“Haha? Kau…”

“Ya….”

“Ta…tapi kenapa kau dikatakan tidak bersaudara dengan mereka?”

“Appa… ah… maksudku tuan Kim Jang adalah orang terpandang dan terhormat, mempunyai istri simpanan merupakan aib yang sangat besar, makanya walaupun mereka sudah menikah hal ini tak pernah di bahas dan tak ada yang setuju, saat aku lahir, tuan Kim Jang membawaku ke rumahnya, tapi disana ia ditentang semua orang, tuan tetap mempertahankan ku sebagai darah dagingnya, tapi omma ku tidak ingin aku ditentang semua orang dirumah, ia membawaku keluar dari keluarga itu…”

“Dan…???”

“Aku kembali kemari setelah lulus dari Oxford university, tapi tetap saja tak diakui, dan malah dijadikan sebagi kepala keamanan” Kim Joon tertawa pahit

“Omma mu?”

“Dia meninggal karena sakit kanker tiga  tahun yang lalu…”

“Maaf kan aku…”

“Tidak apa-apa…”

“Apa Kim Joong, Kim Bum dan yang lainnya tahu tentang ini?”

“Sudah menjadi rahasia umum, tapi Kim Bum yang paling baik”

“Kenapa?”

“Ia tetap menganggapku saudaranya, bahkan pernah menentang ommanya yang tak mengakuiku”

“Dia…???”

“Ya…”

“Tapi kenapa kau pacaran dengan Sin Hye? Dia saudara mu kan?”

“Tidak” jawab Kim Joon pendek

“Hah?”

“Namanya Park Sin Hye”

“Park? Bukan Kim?”

Kim Joon tersenyum

“Sebenarnya omma yang sekarang bukan omma kandung Kim Joong dan Kim Bum… dia istri kedua setelah omma mereka meninggal, Sin Hye anak yang dibawanya ke keluarga ini, hasil perkawinannya dengan pengusaha Inggris bernama Watson, pengusaha itu meninggal kecelakaan pesawat”

“Be…begitu…” So Eun paham

“Hidup ini memang aneh… apalagi hidup dalam keluarga ini, rasanya setiap hari hanya mendengar pertengkaran tentang siapa yang akan menjadi pewaris, harta, harta, dan harta saja yang dibicarakan. Sebenarnya aku muak dan mau pergi dari sini, tapi tak jadi karena melihat Sin Hye, dia gadis yang baik, tak peduli tentang warisan dan sejenisnya, sayang nya ia tak bisa lama bersamaku”

“Kim Joon…” So Eun ikutan sedih, ditepuknya punggung cowok itu

“Aku yakin Sin Hye sudah tenang di alam sana” hiburnya, Kim Joon tersenyum

“Terima kasih…”

Mereka berdua berada dalam diam, So Eun menyandarkan kepalanya pada pundak Kim Joon, rambutnya di belai angin lembut yang bertiup di sela-sela daun. Kim Bum yang kebetulan lewat melihat mereka, terdiam sebentar, lalu kini memperhatikan agak lama, tampak So Eun dengan wajahnya yang menenangkan menyandarkan kepalanya ke pundak Kim Joon yang perkasa dan keren, sejujurnya mereka juga lumayan cocok, tapi Kim Bum cepat-cepat membuang fikiran itu, kemudian melanjutkan langkahnya…

~ ~ ~

“Kapan kau akan mulai menanyai penghuni rumah?” tanya Kim Joon, So Eun berfikir sebentar

“Mungkin sebaiknya setelah acara pertuanangan, aku tak ingin merusak suasana yang sekarang”

“Jawaban yang bijaksana” puji Kim Joon, So Eun tersipu

“Kau juga… jangan terlalu larut dalam masa lalu, apa rencanamu setelah aku menyelesaikan kasus ini? Aku yakin kau hanya ingin tahu pembunuh Sin Hye kan?”

“Kau hebat bisa tahu fikiranku… yaaahh… mungkin aku akan membuka usaha sendiri di Seoul”

“Sseperti…???”

“Membuka toko mobil? Menjadi tuan tanah? Tapi aku lebih tertarik menjadi investor”

“Semoga cita-cita mu kesampaian”

“Do’a kan saja…”

“Baiklah… aku harus segera menyusun analisaku di kamar”

“Selamat berjuang detective, kalau ada yang ingin kau tanyakan katakan saja padaku”

“Ok… bye…” So Eun berjalan meninggalkan Kim Joon dan segera menuju rumah, Kim Joon masih berdiri di bawah pohon besar tempat ia dan So Eun duduk tadi, mungkin aku juga kan mencari istri setelah kasus ini selesai? Ucapnya dalam hati, di tatapnya langit, tidak apa-apa kah Sin Hye? Jika aku mencari penggantimu? Lirihnya. Masih asyik termenung seperti itu seseorang menepuk punggungnya dari belakang, dengan cepat ia menoleh

“Kim Bum…???”

“Hei, bagaimana kabarmu bro? Kulihat kau akrab sekali dengan detective dari Seoul itu? Sudah dapat pengganti Sin Hye?” ucapnya dengan senyum manizzzz… nya. Kim Joon tersenyum balik

“Apa yang kau bicarakan? Dia jauh lebih kecil dariku, dia itu setua mu, kalian lebih cocok”

“Hah? Aku dan detective itu? Kalau itu terjadi bisa gawat! Setiap bertemu kami selalu bertengkar”

“Yaaahh…cinta awalnya memang selalu begitu”

“Apa katamu? Kalian lebih serasi, tadi aku melihat kalian duduk bersama, wanita aneh itu dan kau yang keren, coocok sekali!”

“Waahh… Kim Bum, jika kau cemburu bilang saja, jangan berkata seperti itu aku jadi kasihan padamu”

“Haaa?” Kim Bum bingung, cemburu? C-E-M-B-U-R-U-? Dengan wanita seperti itu? Rasanya tidak mungkin pikir Kim Bum

“Aku tidak mengenalnya, paling lama satu bulan disini ia sudah tak kelihatan lagi, untuk apa aku menyukainya” Kim Bum acuh tak acuh

“Tapi dia gadis yang baik, tapi masih polos… lihat sendiri kan? Dia berada di tengah-tengah keluarga kaya sekarang, apalagi kau dan Kim Joong masih single, tapi dia tak mendekati kalian, itu tandanya dia bukan cewek matre”

Kim Bum jadi berfikir sendiri, heeemm…benar juga, tapi aku akan membuktikannya, lihat saja nanti

“Aku akan membuktikannya”

“Maksud mu?”

“Jika kuuji sebentar apa dia kuat?”

“Hah?”

“Kalau dia bukan gadis matre, mungkin saja itu benar karena ia tak pernah menggoda Kim Joong atau aku… tapi apa benar ia gadis baik-baik…”

“Jangan lakukan hal yang aneh-aneh Kim Bum! konsentrasinya pada kasus akan pecah!”

“Jika dia memiliki sifat seperti yang kau ceritakan padaku, ia seharusnya belum menyelidiki kasus sampai pesta pertunangan selesai, dia bukan orang yang suka merusak kebahagiaan orang lain kan?”

Kim Joon diam saja, apa yang dikatakan Kim Bum sepenuhnya benar, So Eun adalah tipe yang tidak suka merusak kebahagiaan orang lain, mengundur penyelidikan kasus juga…

“Tapi berjanjilah jangan melakukan hal-hal yang menyakitinya” ucap Kim Joon, Kim Bum hanya tersenyum misterius…

So Eun asyik mengamati denah villa yang diberikan paman Lee Geuk padanya. Eeemm… ternyata kamarnya dan Kim Bum dekat sekali, hanya berjarak satu ruangan, ruang musik yang jarang dimasuki…Oh ya… tadi Kim Joong emosi sekali waktu di beritahukan bahwa pesta pertunangan akan tetap diadakan seperti rencana, apa ia juga menyukai Hye Sun? Atau apakah…eh… tidak… Kim Joon bilang, aahh… pantas saja omma mereka meminta Sin Hye saja yang jadi penerus, bukan Kim Joong, karena Kim Joong dan Kim Bum bukan anak kandungnya… tunggu dulu… apa Kim Joong tega membunuh hanya karena alasan itu? Rasanya tidak mungkin… tapi kalau difikirkan lagi…

Cklek… pitu kamar So Eun dibuka, ia segera menoleh

“Kim Bum?” ucapnya bingung, cowok itu segera memamerkan senyum killer nya (author pingsan). So Eun bertambah bingung saat Kim Bum berjalan kearahnya

“Mau pergi jalan-jalan?” tanyanya, walau masih bingung So Eun ikut saja

“Kemana?”

“Kau ikut saja…”

“Tapi aku tak akan pergi ke tempat yang tidak kutahu!”

Kim Bum menghela nafas panjang

“Ke tempat aku melupakan segala stees selama di rumah ini”

“Apa itu tempat yang berbahaya?”

“Tidak juga…”

“Baiklah kalau begitu…” So Eun mengikuti langkah Kim Bum keluar dari villa itu dan memacu mobil ketempat yang jauh dari villa…

“Kemari? Tempatmu menenangkan diri adalah kemari?” tanya So Eun tak percaya, sedikit takut karena tak pernah memasuki tempat seperti ini sebelumnya. Kim Bum mengangguk

“Tidak pernah kemari?” tanya nya balik, So Eun menggeleng cepat

“Kita pulang saja…” ucapnya sedikit bergetar, ia memang tidak suka tempat-tempat yang penuh orang, musik, dan…alkohol!

“Belum masuk sudah mengajak pulang? Gadis yang aneh!” Kim Bum menarik tangan So Eun memasuki night club itu, So Eun sedikit meronta, tapi rupanya Kim Bum kuat juga, ia tak bisa melawan banyak

“Kenapa sich! Memaksa sekali!” dengus So Eun kesal. Kim Bum diam saja, ia segera duduk di tempat VIP, disana yang duduk Cuma mereka berdua, Kim Bum dan So Eun, tempatnya ada di lantai dua, dari sana mereka leluasa melihat orang yang menari seperti orang gila di lantai satu. Kim Bum segera mengambil sebotol vodka dan menenguknya, So Eun terkejut, ingin rasanya menarik botol vodka itu dari tangan Kim Bum, tapi ia tak mau membuat masalah sekarang, jadi Cuma memandang tak percaya

“Kau minum vodka?”

“Apa itu salah?” tanya Kim Bum balik, dalam hati bingung juga, hanya minum kenapa So Eun melihatnya seperti melihat seorang maling?

“Be…berapa usia mu?” tanyanya lagi

“Apa itu penting?”

“Katakan saja!”

“Dua puluh satu tahun! Sudah diizinkan kok minum!”

“Maksudku kau terlihat seperti orang berusia dua puluh tujuh tahun” So Eun memancing

“Hah? Kenpa bisa?”

“Eeemm… begini Kim Bum… alkohol itu merusak hati, ginjal, paru-paru dan banyak organ penting lain dalam tubuh mu, kau tahu, ginjal dan hati itu menyaring racun, tapi jika mereka sudah rusak racun yang tak terbuang akan kembali di serap tubuh, mengedarkannya ke otak, kulit, mata, dan yang lain, makanya orang yang suka minum alkohol akan terlihat jauh lebih tua dari usahanya, kau juga bisa jadi bodoh! Studi mu bisa hancur!” So Eun berusaha menjelaskannya dengan bahasa yang paling sederhana dan bisa dibahami, juga agar tidak terlalu menyinggung perasaan Kim Bum. Kim Bum mengangguk mengerti, dalam hati ia tersenyum, aku sudah besar, jangan menjelaskannya seperti untuk menjelaskan pada anak SD! Tapi biarlah… aku menghargainya…

Tiga orang gadis dengan gaun sexy menghampiri Kim Bum dan segera duduk di kiri-kanan nya. Kim Bum menggandeng mereka bertiga sekaligus, So Eun yang melihatnya bertambah terkejut, ekspresi terkejutnya sangat lucu di mata Kim Bum, mata So Eun terlihat seperti ikan mas koki! Tapi So Eun diam saja, ia permisi ke kamar mandi, dan mencuci mukanya, ikh… Kim Bum orang yang mengerikan, menyesal rasanya menerima di ajak kemari, tapi aku harus menyadarkannya, jika nanti ia menjadi pecandu alkohol dan wanita bisa gawat kan? Tapi bagaimana caranya? Dia kan sombong sekali? So Eun sibuk berfikir, jika ia kembali kesana ia hanya akan menonton maksiat Kim Bum, ia amat anti dengan perbuatan-perbuatan sepeti itu, jadi hanya bisa berdiam diri di kamar mandi. Tiba-tiba dua orang laki-laki masuk ke dalam kamar mandi, So Eun terkejut, apalagi keduanya memandangi So Eun dari bawah sampai atas dengan tatapan mengerikan!

“A…apa mau kalian? Kenapa ke kamar mandi wanita?” tanyanya gemetaran

“Heeemm… memang tidak sexy, tapi tampaknya masih perawan” ucap salah satu dari dua orang tadi, So Eun sangat terkejut mendengarnya, lalu segera berlari keluar

“Hei tunggu cantik! Mau kemana?” kedua lelaki itu mengejarnya, dengan panik So Eun terus berlari, menerobos kerumunan manusia-manusia yang dimabukkan musik yang memekakkan telinga.

Kim Bum heran, kenapa So Eun belum kembali juga? Karena penasaran ia menyusulnya. Setelah melihat orang yang berkerumun, seperti ada suatu keributan firasat nya muncul, ia seger menerobos kerumunan itu. Tampak dua orang lelaki sedang menghadang seorang perempuan yang tampaknya berusaha untuk tidak takut dan memengang tongkat base ball

“Waaahh… walaupun tampaknya sangat lemah ternyata punya keberanian juga gadis ini” ucap salah satunya, disertai dengan tawa semua yang mendengarnya. So Eun menggigil jantungnya, tapi berusaha kuat

“Maaf… aku ingin pergi…” ia berusaha maju, tapi kedua lelaki itu menghadangnya

“Hei… apa kau tak ingin bersenang-senang dulu dengan kami? Hah? Cewak cantik? Ujarnya genit sambil berusaha memegang lengan So Eun, tapi So Eun menepisnya

“Waaahh… sombong sekali…” ucap yang satunya lagi, dan juga berusaha menyentuh So Eun. So Eun menghindar juga. Kim Bum yang melihatnya langsung emosi, lalu tanpa minta izin dahulu langsung menarik kerah baju satu dari kedua lelaki itu dan meninjunya sampai terlentang(haaahh??? Emang mau bertinju harus minta izin dulu ya? Entahlah…), lelaki yang satunya terkejut sekali melihat temannya tergeletak hanya dengan sekali tinju, hanya bisa melongo, tapi ia tak ingin malu karena kalah

“Hei… apa yang kau lakukan bocah? Meninju temanku sembarangan”

“Seharusnya aku yang tanya, kenapa mengganggu pacarku sembarangan?” ucap Kim Bum tenang, So Eun lega Kim Bum datang, tapi terkejut juga dibilang pacar Kim Bum

“Dia pacarmu?” tanya lelaki itu

“Ya… dan aku akan membuat perhitungan dengan orang yang berusaha menggodanya” ucap Kim Bum, langsung menyerang orang itu, ditinjunya wajah orang itu agar bonyok, tak puas ditendangnya dengan lututnya perut lelaki itu dan ia juga terlentang seperti temannya. Semua orang yang meilatnya tak ada yang berani berkata apa-apa. Kim Bum segera menarik tangan So Eun keluar dari night club itu…

Di mobil So Eun masih diam, tampaknya ia masih sangat terguncang, Kim Bum menoleh kearahnya dan menghela nafas

“Minhae…”

So Eun melihat kearah Kim Bum, tak ada yang bisa dikatakannya, marah pun sudah tak bisa lagi karena sangat takut, akhirnya hanya dapat berkata

“Tempat kesukaan mu amat mengerikan…”

Kim Bum tersenyum tipis

“Tapi paling tidak tak ada yang bicara harta di sana” ucapnya, So Eun ingat perkataan Kim Joon

“Kau juga ikut rebutan warisan itu? Orang kaya aneh sekali, hanya karena warisan mau saling diam dengan saudaranya” ujarnya, Kim Bum terdiam

“Aku tak mengincar warisan kok…”

“Lalu…???”

“Yaaahh… hanya mereka yang mengira begitu, aku sama sekali taka ingin”

“Apa kau merasa tenang pulang dari night club itu?” tanya So Eun, Kim Bum yang merasa tersindir agak kesal

“Tidak… kenapa? Kau mau marah?” ujarnya ketus

“Jangan emosi dulu donk…. itu karena kamu baru minum vodka. Aku Cuma mau bilang, besok temani aku ke tempat kesukaanku, pagi-pagi sekali! Karena aku sudah menemanimu ketempat yang kau sukai…”

“Baiklah…” jawab Kim Bum setelah memikirkannya beberapa saat, So Eun tersenyum senang

~ ~ ~

“Ini… tempat kesukaan mu?” Kim Bum memastikan, So Eun mengguk dan tersenyum

“Menantang bukan?” ujarnya senang, di depan mereka terbentang sebuah sungai yang lumayan luas, berbatu, dan sedalam lutut sampai pinggang, diseberangnya terbantang tebing dan pepohonan

“Hikking? Kau suka hikking?”

“Menyehatkan dan melatih mental” ucap So Eun tenang

“Dan…???” tanya Kim Bum

“Apa maksudmu?”

“Untuk apa kita membawa seluruh peralatan camping ini?”

“Menjelajahi sungai ini, naik tebing, dan buat tenda disana”

“Hah?”

“Tenang saja, saat pesta pertunangan kita sudah kembali”

“Bukan itu… pulang balik kita menjelajahi ini?”

“Tentu saja tidak!  Itu gunanya kita bawa tali yang panjang ini!” So Eun menunjuk tali yang saaangggaaaattt….. panjang sekali yang dibawanya, selain panjang tali itu juga sangat besar dan kuat

“Kita kan terbang dari atas kemari”

“Flying fox?”

“Seperti itulah…” kemudian dengan teliti So Eun mengikatkan ujung tali besar itu kecabang batang sebuah pohon yang besar dan kuat, So Eun terampil sekali membuat sampul, Kim Bum hanya bisa bengong

“Baiklah… selesai… kita segera berangkat!” ucapnya, tali yang tadi diikatkannya ke pohon itu ujung lainnya dibawanya

“Nanti diikatkanpada pohon yang ada diatas sana… jadi pulangnya akan sangat menyenangkan dan cepat!” jelas So Eun, Kim Bum hanya dapat terbengong-bengong

“Ayolah… jangan bengong saja!” So Eun mulai berjalan masuk ke dalam sungai. Kim Bum mengikuti dari belakang, selera yang sangat aneh untuk seorang gadis, tapi sangat keren juga! Kim Bum tersenyum sendiri

“Kyyyaaa…!!!” Kim Bum terkejut mendengar teriakan So Eun segera diahampirinya gadis itu

“Ada apa So Eun?” tanyanya cemas, So Eun menunjuk sekitar seratus centimeter dari mereka, seekor ular air… aaaiiihh… selain pemberani ternyata ia juga penakut, fikir Kim Bum

“Bunuh saja kan, kau bawa pisau atau sejenisnya?”

“Eeemm… bukan itu Kim Bum, itu bukan ular air biasa, namanya ular laut erabu, biasanya Cuma ada di laut, kenapa ada di sungai? Di gunung begini? Lagipula satu gigitan ular itu bisa melayangkan nyawa!” jelas So Eun dengan serius. Kim Bum segera mengambil air sungai itu dan menjilatnya sedikit

“Heeemm… aneh juga, airnya asin!”

“Haaahh???” So Eun mengikuti Kim Bum menjilat air itu

“Be…benar juga…”

“Mungkin sumber airnya dari air asin di bawah lapisan bumi, tak perlu difikirkan, kita harus segera sampai ke atas tebing itu!”

“I…iya… tapi sebaiknya kita menghindari ular itu”

“Baiklah… tapi setahuku erabu tidak akan menggigit orang jika tidak diganggu… ular yang aneh, cantik tapi ganas sekali”

“Kau benar…”

Mereka segera melanjutkan perjalanan, mengambil jalan sedikit memutar menghindari ular itu. Setelah jatuh-bangun di dalam sungai mereka sampai juga di sebrang sungai itu, baju merka sudah basah, tapi mereka bersemangat untuk naik tebing.

“Sekarang harus memakai pengamanan ekstra” ucap So Eun, di ayun-ayunkannya tali lain yang dibawanya sampai menyangkut pada dahan pohon diatas tebing

“Wow! Lemparan mu tinggi sekali!” Kim Bum kagum

“Sudah terbiasa” jawab So Eun. Setelah memakai helem, pelindung tubuh dan segala macamnya mereka pun segera berjalan naik.

“ Bagaimana bisa tali ini terikat kuat?” tanya Kim Bum penasaran, So Eun tersenyum

“Sudah ikut wamil?” tanya So Eun, Kim Bum menggeleng

“Aku belajar saat itu” terangnya, Kim Bum mengagguk paham

“Aku juga akan ikut tahun depan”

“Well… gook luck!”

“Thanks…”

Mereka terus mendaki selama setengah jam, kemudian sampai di atas, dan langsung kecapean

“Haahh…haaahh…” nafas So Eun jadi sesak

“Kesukaan mu juga aneh…” ucap Kim Bum

“Terima kasih… aku memang suka yang aneh-aneh…” balas So Eun bercanda, ia tersenyum kearah Kim Bum

“Yaaahh… kau juga aneh…” lanjut Kim Bum lagi

“Sudahlah… hal ini kita bahas nanti, sekarang harus jalan lagi, dan mendirikan tenda”

“Ok…”

Tenda telah berdiri, kini mereka sedang memasak. So Eun melihat masakan Kim Bum, ikan bakar, tapi dengan bumbu rempah-rempah yang harum dan enak

“Heeemmm… bau nya enak sekali!” puji nya, Kim Bum menoleh sambil terus mengipas ikannya

“Terima kasih… aku memang harus bisa, soalnya di Prancis aku tinggal sendiri”

“Begitu… Kim Bum… kau tahu, sebenarnya kau teman yang menyenangkan juga, tapi kenapa saat aku baru tiba di villa mu kau jutek sekali?” tanya So Eun

“Eeehh… itu… em… aku tidak suka saja ada orang baru”

“Jahat sekali!”

“Tapi sekarang tidak apa-apa lagi… kau gadis yang baik!”

“Terima kasih…”

“Oh ya, mau coba ikan bakarku?”

“Boleh saja…”

Mereka asyik makan bersama siang itu, langit sangat cerah…

Di villa…

“Heemm… aku tak melihat Kim Bum seharian ini” ucap Min Ho

“Ya… detective itu juga hilang” lanjut Hye Sun

“Mereka pergi camping ke gunung” terang Kim Joon, baik Min Ho maupun Hye Sun mengerutka dahinya

“Mereka berdua?” tanya Hye Sun, Kim Joon mengangguk

“Kim Bum camping?”

“Ya… bagus kan? Mereka sudah akrab, Kim Bum juga bertambah baik” ucap Kim Joong yang sedari tadi asyik membaca buku

“Tetap saja aneh…” ucap Min Ho

Kim Bum dan So Eun sedang menikmati pemandangan gunung di sore hari sekarang dari atas bukit

“Dari sini sungai itu indah sekali…” ujar So Eun terpesona, Kim Bum mengikuti arah pandangan So Eun

“Ya… pasti tak ada yang percaya bahwa melewatinya susah sekali…”

“Apalagi ada ularnya”

“Untung saja tak ada buaya!”

“Ha ha ha… mana mungkin ada di perairan rendah dan jernih seperti ini”

“Benar juga ya…”

“Eeemm… aku mau membuat api unggun dulu, sudah mau malam”

“Aku bantu ya?”

“Boleh saja…”

Kim Bum dan So Eun asyik membuat api unggun sekarang

“Tampaknya malam ini akan dingin” Kim Bum mengamati langit

“Ya… aku khawatir akan hujan, padahal tadi siang cerah sekali…”

“Bumi memang aneh….”

Kim Bum dan So Eun tidak bisa lama-lama menikmati api unggun karena hujan segera turun dengan lebatnya. Tenda Kim Bum tergenang air, terpaksa ia tidur di tenda So Eun yang berada lebih di atas, tenda itu sangat kering. Mereka saling diam, tapi tak bisa tidur. So Eun gelisah sekali, menyesal membawa Kim Bum camping, ia bukan khawatir akan terjadi hal yan tak diinginkan, ia yakin hal itu tak akan terjadi, tapi ia gelisah juga, belum pernah ia tidur satu ruangan dengan lelaki sebelumnya. Ia hanya menatap langit-langit tenda. Kim Bum juga tak bisa tidur, bagaimanapun playboy nya ia, belum pernah ia tidur sekamar dengan seorang gadis, apalagi sedekat ini, tak ada batas diantara keduanya… Aaaaiiihhh… Tuhan… ini surga atau neraka?

~ ~ ~

To Be Continued

Tags: ,

22 responses to “between wealth, death, and love part 1”

  1. dian permata says :

    daebak!
    lanjutkan!

  2. Putri says :

    Seru. . Seru. .
    I like it. .
    Pas ada ular erabu itwh aq jdi inget dt.c0nan. . .
    Hehe

  3. echi says :

    Wih author kereeen..ceritanya seru,
    Di lanjut ya…hehe

  4. seororoevilkyu says :

    akhirnyaaaaaaaaaaaaa
    ada juga ff yg muncul…..

    seruuuuuuuuuuuuuuuuu
    DAEBAK chingu,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!

    lanjuttttttttttttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. kiwimi says :

    Yeaaah keren keren keren author lanjutkan ceritanyaa😀
    readers menunggu

  6. alika says :

    chingu daebakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk..
    seruuuuuuuuuuuuuuuuuu,, sempat terharu pas dengar pernytaan kimjoon huaaa tega sekali ni ommanya..
    huaaaaa so eun hampir aja kl gg ada kimbum wadawww bisa gaswatttt niii…
    jiahhhh prikitiuwwwww tidur satu tenda tuh ehem ehe *keselak pentolan bakso #plak
    daebak cingu di lanjutkannya jangn lama2 yo..
    aza aza hwaiting🙂

  7. kikey says :

    Kyaaaaa keren banget authorrrrr! Baca ceritanya butuh konsentrasi penuh *lebay* hmm, cinta segitiga lg nih kayanya *sok tau* lanjutannya ditunggu yaaa😀

  8. evi says :

    Dddaaaeeebbbakkkkk…..
    keren……
    kya lagi baca dt.conan
    author pasti suka cerita misteri makanya bisa keren bikin ceritanya…..
    keren + menegangkan…..
    jangan lama-lama next part nya….

  9. yankyu says :

    wah,akhirnya ada ff baru ayo lanjut,udah penasaran nih author

  10. afri says :

    huwaaa ff nya seruu
    ayo so eun pecahkan misterinya dan jadian sama kim bum, hehehehe

  11. bismania luph bumsso says :

    kereeennn….
    lanjutkan donk chingu,…..
    jgn lma” yh,…..
    plizzzzzzzzz

  12. leuni says :

    keren……….
    dtgu part slj’a ya….

  13. enno bumsso says :

    waaah serrruuu critana . . .serrreeemm jg mbyangin rumah n kasusna. Hoho
    bnr2 misterius yah klwrgana.

    Ihhiirrr. . .bumsso br knal dh cmping brg😉

  14. kimmify says :

    seruuuuuuu banget aku suka ide ceritanya
    kereeeeen! ah bingung mau ngomong apa lagi
    aku juga penasaran siapa pelakunya
    cepet update ya author. aku gak sabar penasaran abisnyaaaa
    hwaiting!

  15. dae says :

    wahaaaa seru seru
    akhirnya ada genre dektektif juga , ayo lanjtukan
    aku sdh mengantungi beberapa nama yg jadi penjahatnya

  16. onkyu says :

    itu surga oppa. . . hahaha. . .
    bgus chingu. . . lanjut. . .

  17. Sary aj0w says :

    Waaaaaa..gud j0b th0r…Laiiik bgt…ide critanya t0p bgt..waah seruuuw..!campur aduk wkt bacanya..Puaaas bgt..bs0k2 partnya panjaaang lg yaw kyk ini…chay0o!

  18. ashillach says :

    keren-keren… lanjut chingu🙂
    ak sng deh ff bumsso yang ceritanya kyk detektif gtu…
    aduh, so eun sama kim bum sama2 beruntung ya, haha😀

  19. Indah_ELF says :

    Seru …
    Tpi qu mlah baca part’2’a dlu hehe …
    K’lewat part 1 …
    So eun jdi Dektektiv keren

  20. imi says :

    seruuuu…..
    suka bgt.. so eun keren abiz.

  21. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Uahh keren bangett suka sama yg berbau misterius Detective gitu hah jd inget conan😀

  22. Margaretha says :

    Cie.. Cie.. BumSso camping berdua dan setenda pula😀 tunggu siapa dalang dibalik pembunuhan itu apakah Kim Joon, Kim Joong atau eomma mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: