Memories In Christmas Eve (Story 10)

Author: ashillach (gladisapr)

Cast: Kim So Eun, Kim Bum

Other Cast: Im Yoona, Kim Joon, Lee Min Ho, Jung Il Woo, Gook Ji Yeon

Genre: friendship, family, romantic

Type: sequel

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Cerita yang ditulis hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

Enjoy it! ~^^~

#####################

Pusing. Satu-satunya hal yang bisa kusadari dalam keadaanku yang sekarang adalah, kepalaku sangat pusing. Aku membuka mataku perlahan, lalu terpejam lagi. kelopak mataku terasa berat. Aku berusaha membukanya lagi walaupun belum terbuka penuh, mempertahankan mataku terbuka beberapa detik, sebelum akhirnya aku benar-benar berani untuk membuka mataku sepenuhnya dan mulai mencerna keadaanku.

Aku menatap langit-langit yang sudah sangat akrab denganku, langit kamarku sendiri. Aku sedang berada di kamarku sendiri. Aku menggerakkan tanganku dengan perlahan ke kepalaku, berusaha mengurangi pusing dan sakit yang menyiksa kepalaku saat ini sekaligus merasakannya. Ketika berhasil menggerak tanganku ke atas memegang kepalaku sendiri, aku berusaha, dengan amat sangat perlahan, untuk bangun. Baru saja aku bangkit untuk duduk, perutku langsung memberontak. Rasanya banyak yang berputar-putar di dalam perutku sekarang dan membuatku ingin memuntahkannya.
Otakku yang sedang dalam kondisi mengerikan karena sakit yang minta ampun di kepalaku, kupaksa berpikir “Ada apa denganku?” gumamku. Kusadari suaraku agak sedikit aneh, serak. Seperti kurang minum.

Aku melihat pakaian yang kukenakan. Piyama tidurku. Tunggu, rasanya terakhir kali aku tersadar, aku tidak sedang memakai baju ini.

“pesta?” gumamku pada diriku. Itulah satu-satunya yang kuingat tentang keadaanku sebelum berada di kamarku, mengenakan pakaian tidurku dan bangun dengan sakit kepala luar biasa.
Oh, iya. Benar, pesta. Gambaran-gambaran mulai bermunculan di kepalaku, keadaan pesta, makanannya, tempatnya. Terbayang olehku Yoona yang sedang mengenakan baju pesta. Gambar-gambar itu bermunculan secara acak dan sekilas-sekilas.

Aku berusaha menatanya, menata kembali gambar itu. Pertama, aku dan Yoona diantar oleh ayah ke sekolah, oh iya pestanya di sekolah. Pesta tahun baru, di aula. Setelah sampai, aku dan Yoona berpisah, aku bertemu dengan Shin Hye dan kami berkeliling bersama. Setelah itu?
“Apa lagi ya?” aku mulai bergumam dan memaksa otakku bekerja lebih keras lagi untuk kembali mengingat-ngingat apa yang terjadi. Hal pertama yang muncul di kepalaku adalah: punggung seseorang. Ya, punggung seseorang. Aku tidak tahu siapa itu. Belum tahu. Oh, setelah itu aku muntah di punggungnya. Apakah aku sedang digendong saat itu? Aku menggaruk-garuk kepalaku.

“Aku muntah lalu…….” Gumamku berusaha berpikir. Tunggu! Memangnya apa yang terjadi padaku sampai aku bisa digendong?
Oh, iya. Aku ingat sekarang, semuanya. Setelah berpisah dengan Shin Hye, aku berdansa dengan Kim Joon Oppa dan Kim Bum Sonbae. Aku pergi ke toilet lalu………….

FLASHBACK (Author POV)

So Eun masih bertelponan dengan Yoona saat itu, sebelum ada 7 perempuan datang menghampirinya.
So Eun langsung memutuskan teleponnya dengan Yoona “Ji Yeon Sonbae?” tanya So Eun ragu menebak salah satu dari ke tujuh perempuan itu.

Ji Yeon langsung tersenyum sumringah “Annyeong So Eun!” sapanya dengan senyum semanis mungkin.
Firasat So Eun mengatakan bahwa pertemuannya dengan Ji Yeon dan rombongannya, yang sudah bisa ditebak oleh So Eun adalah Bummies, bukanlah suatu pertemuan yang menyenangkan.

“Waeyo Sonbae?” tanya So Eun ragu-ragu

Ji Yeon kembali tersenyum dan berjalan mendekati So Eun sambil merangkulnya “Aniyo, hanya ingin bicara sebentar denganmu So Eun. Boleh kan?” tanya Ji Yeon lembut
So Eun berusaha melarikan diri, tapi yang lain langsung menyerbu So Eun, mendorongnya dan memaksa So Eun mengikuti tempat tujuan mereka

Ketika sampai ke tempat yang dimaksud oleh Ji Yeon dan yang lain, mereka berhenti mendorong So Eun dan membiarkan Ji Yeon mengambil alih So Eun sendiri membawanya ke dekat kolam ikan seperti ingin membicarakn sesuatu yang sangat pribadi.

“So Eun, sebelumnya aku mewakili anak-anak yang mengganggumu kemarin minta maaf” ujar Ji Yeon
So Eun masih belum mengerti apa maksud sebetulnya mereka mengajak So Eun ke situ, tapi So Eun tetap mengangguk
“Ah, ne… aku sudah memaafkannya kok..” jawab So Eun dengan senyuman. ‘Tidak sih, sebetulnya aku masih kesal, tapi sudahlah…’ kata So Eun dalam hati

Senyuman Ji Yeon makin melebar, tapi kemudian dia memasang tampang serius “Tapi, So Eun, kau mengerti kan, kenapa kami bertindak seperti itu. Yah… mungkin memang sangat berlebihan. Kami hanya merasa tidak adil saja… kami yang fans-nya tidak pernah dibegitukan sedangkan kau? Sudah bisa sedekat itu dengan Kim bum…” jelas Ji Yeon
‘Menurutku kau hanya sekedar cari alasan supaya kalian kelihatan tidak bersalah’ pikir So Eun, tapi dia masih diam menunggu kata-kata selanjutnya dari ji Yeon

“Jadi, aku ingin bertanya, apa kau….” Kata-kata Ji Yeon langsung terputus. Salah seorang junior datang menghampiri mereka
“Sonbae, kami menemukan banyak sekali minuman. Tampaknya sisa kelebihan dari acara ini…” kata si Junior itu
Ji Yeon menatap si junior dengan kesal “YA! Sunny, kami sedang mengobrol serius, jangan diganggu dulu…” bentak Ji Yeon
Si Sunny itu cengar-cengir “Hehe, miyanh Sonbae. Tapi kalian juga pasti haus kan?” tanya Sunny
Baik So Eun atau Ji Yeon tidak memberikan jawaban sama sekali. Sunny langsung beranggapan bahwa sikap diam itu berarti iya
Dia berlari meninggalkan ji Yeon dan So Eun sesaat, lalu kembali dengan 6 kaleng minuman. So Eun melihat keadaan Bummies-bummies lain dari balik punggung Sunny, mereka sepertinya sedang sangat gembira. Mereka semua saling tertawa dengan keras dan menari-nari. ‘Mereka sangat mengerikan’ pikir So Eun
“Nah… jejeng! Ini dia minumannya, silakan diminum.” Sunny meletakan ke-6 kaleng minuman itu di dekat So Eun dan Ji Yeon lalu berjalan pergi meninggalkan mereka, bergabung kembali dengan kawan-kawannya yang menggila itu
Ji Yeon dan So Eun masing-masing langsung mengambil satu kaleng. Ji Yeon langsung membukanya dan meminumnya sedangkan So Eun baru membukanya saja. So Eun sampai heran melihat Ji Yeon minum dengan lahap begitu #kayak lagi makan aja, dengan lahap…#
So Eun mulai menyesap minumannya dengan pelan dan langsung terkejut dengan rasanya “Uwek… pahit…” gumam So Eun
“Jadi, So Eun kau menyukai Kim Bum atau tidak?” tanya Ji Yeon secara tiba-tiba dan langsung. So Eun yang sedang meminum minumannya lagi, langsung tersedak
“Uhuk…uhuk…” So Eun terbatuk-batuk. Ji Yeon mengambil 1 kaleng yang masih tertutup itu dan melempar kaleng minumannya yang pertama entah kemana. Dia langsung membukanya dan meminumnya.

So Eun semakin heran melihat Ji Yeon yang terlihat sangat menikmati minuman yang menurut So Eun aneh rasanya ini. Ji Yeon langsung menghabiskan kaleng yang baru dibukanya dalam satu tegukan, dia melemparkan kaleng itu entah ke mana dan bergabung dengan anak-anak yang lain, menari-nari tidak jelas

So Eun menatap minuman yang dipegangnya “Minuman aneh….” Gumam So Eun dan dia kembali minum, sekalipun agak terasa tidak enak, tapi anehnya So Eun terus meminumnya.
So Eun memutar arah duduknya benar-benar menghadap kolam ikan. Memandangnya dengan tatapan kosong “Aku… Kim So Eun…” gumamnya tidak jelas

Tiba-tiba Ji Yeon datang kembali menghampirinya lagi, dan menepuk pundak So Eun dengan keras “YA, Kim So Eun, kau….” Ji Yeon menunjuk So Eun dengan terhuyung-huyung “Jauhi Kim Bum, jangan dekati dia lagi!” lanjutnya membentak So Eun dan …. BRUGH! Ji Yeon langsung ambruk.
So Eun menatap Ji Yeon dengan aneh dia menatap yang lainnya, semua juga sudah ambruk “Sudah waktunya tidur ya?” gumam So Eun. Dia mengambil satu kaleng lagi, membukanya dan meminumnya “Jadi untuk itu dia membawaku ke sini…” gumam So Eun menatap tubuh Ji Yeon

So Eun kembali menatap kolam dengan pandangan kosong “Aku tidak suka dengan Kim Bum “ ujar So Eun “tidak suka, tidak suka, tidak suka, , tidak suka, tidak suka…. Suka????” gumam So Eun pada dirinya sendiri. Dia kembali menyesap minumannya dan menatap kaleng itu “Kenapa minum ini jadi tambah pusing ya???”
“AKU BENCI KIM SANG BUM!” jerit So Eun sendiri, tapi setelah itu dia menunduk lagi “Benar tidak ya??” gumamnya.
So Eun kembali melanjutkan aktivitasnya > menatap kolam sampai akhirnya datang Yoona dan Lee Min Ho

END FLASHBACK (End Author POV)

“Aku tadi malam minum apa?” tanyaku. Ingatan yang benar-benar aneh. Aku jadi ragu apa tadi malam aku benar-benar mengalaminya?
Aku harus cuci muka untuk memastikan keadaanku yang sesungguhnya. Baru saja aku menggerakan kakiku untuk turun dari tempat tidurku, pintu kamarku langsung terbuka

Yoona menoleh melihatku dan terlihat senang “Ah, kau sudah bangun Sso-ah?” tanya Yoona dan datang menghampiriku
Dia masuk ke kamarku sambil membawakan semangkuk bubur. Aku mau muntah melihat bubur. Aku sangat tidak suka makan bubur, bahkan sekalipun aku sedang sakit, aku tidak pernah mau memakannya. Dan sekarang yang jadi pertanyaanku: Kenapa Yoona membawa benda haram itu ke kamarku dan menyodorkannya padaku?

“Eng, Yoona… kau tahu aku tidak suka bubur, jadi…” kataku pelan dan menolak mangkuk berisi bubur yang dibawanya
Yoona memajukan bibirnya tanda tidak setuju. Dia meletakan bubur itu di meja samping tempat tidurku “Terserah, tapi kau harus tetap makan. Kau minum berapa kaleng bir tadi malam?” tanya Yoona
“Berapa kaleng apa….” Aku terbelalak menyadari kata-kata Yoona. Bir katanya tadi? Kapan-kapan aku pernah minum bir… “Memangnya tadi malam aku minum bir?” tanyaku padanya
Yoona mencibir “Justru akulah yang harusnya bertanya. Berapa kaleng yang kau minum?” tanya Yoona sekali lagi
Aku menggeleng “Tidak tahu” jawabku jujur

Yoona mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatapku dengan curiga “Jangan-jangan kau meminumnya tanpa tahu itu apa?” tanyanya
Aku memiringkan kepalaku “Mungkin?” jawabku tidak yakin
Yoona kembali menjauhkan wajah mengerikannya dariku dan menggeleng “Kalau kau sedang sehat, aku pasti akan menjitakmu dengan palu. Tapi berhubung kepalamu sedang sakit, kau selamat kali ini Sso-ah” ujarnya
“Tunggu! Memangnya apa yang terjadi padaku?” tanyaku
“Itu…” baru saja Yoona mau menjawab, aku langsung memotongnya “Ceritakan dari awal sampai kenapa aku bisa kembali ke rumah mengenakan piyamaku, bukan baju pesta tadi malam” potongku
Yoona mendesah lalu menlanjutkan kata-katanya yang kupotong tadi “Kau tahu kan, kita bisa ada di sekolah karena datang ke pesta tahun baru. Setelah itu kita terpisah, aku tidak tahu kau kemana saja, dengan siapa dan apa yang kau lakukan, tapi yang pasti aku bersama dengan Seohyun. Lalu, kurang lebih 1 jam setelahnya, kau menelponku dan merengek minta pulang….”

“Aku tidak merengek” bantahku
“Terserah. Pokoknya kau minta untuk pulang saat itu juga, tapi telponmu langsung putus. Aku sudah menelponmu berkali-kali, tidak diangkat. Jadi aku berkeliling bertanya siapa yang saat itu bertemu, melihat atau mungkin menegtahui keberadaan Kim So Eun…”
“Kau mengatakannya seolah-olah aku ini teroris” potongku sambil memajukan bibirku
Yoona terlihat kesal dan langsung membekap mulutku “aish diam!” ujarnya, aku mengangguk pelan dan mempersilahkannya bercerita lagi

“….Dan akhirnya ditemukanlah 3 tersangka yaitu, Park Shin Hye yang paling lama bersamamu, Kim Joon yang sempat berdansa denganmu, dan Kim Bum yang paling terakhir denganmu dan juga berdansa denganmu. Oh, iya, ngomong-ngomong kenapa kau bisa berdansa dengannya?” tanya Yoona
Aku merasa pipiku menjadi memerah hingga warnanya jadi seperti buah tomat. Aku langsung mencubit pipi Yoona “Lanjutkan saja ceritanya, Im Yoonaaaa….” Ujarku
“ne, ne arasso” Yoona melepaskan tanganku dari pipinya “lalu aku dan ketiga tersangka itu dan Lee Min Ho beserta Jang Geun Suk yang kebetulan sedang bersama dengan 2 dari 3 tersangka itu beramai-ramai mencarimu. Pertama kami mencarimu di toilet perempuan, karena kau tidak di sana, kami berpencar mencarimu. Akhirnya aku dan Min Ho Sonbae menemukanmu dalam keadaan menggenaskan beserta ke-7 mayat yang lainnya. Mereka sangat menggenaskan dan masing-masing dari kalian bersimbahan 2-3 kaleng bir, kecuali kau, karena pada saat itu kau masih sadar” jelas Yoona panjang lebar

“Lalu, kenapa aku bisa sampai di rumah?” tanyaku maish penasaran
“nah, ini bagian yang agak mengerikannya” ujar Yoona memelankan suaranya. Aku mulai mendekatkan telingaku padanya untuk mendengarkan dengan jelas ceritanya “Jadi, setelah kami menemukanmu, kau masih sadar dan setelah itu pingsan. Pertamanya Kim Joon Sonbae-lah yang akan membawamu, tapi Kim Bum Sonbae entah kenapa memaksa dan akhirnya, kau dibawa oleh Kim Bum Sonbae. Ketika hampir sampai di gerbang, kau muntah di punggungnya….”
“Muntah di punggungnya?” selaku dengan shock

Yoona tidak menggubrisku sama sekali dan melanjutkan ceritanya “… dan pada saat itu, ada ayah. Ternyata ayah merasa kita sudah terlalu malam dan datang untuk menjemput. Kau tahu apa yang terjadi pada Kim Bum Sonbae tadi malam? Seram! Ayah marah-marah tanpa ampun, dan bukan hanya itu saja, karena Kim Joon Sonbae ikut datang dan beberapa kali membela Kim bum Sonbae, dia juga jadi sasaran ayah….” Cerita Yoona
Aku terperanjat mendengarnya. Jadi aku tadi malam dibawa oleh Kim Bum?
“ayah marah sampai jam berapa?” tanyaku lagi

Yoona mengangkat bahu “Entahlah, ayah marah-marah tidak jelas sambil minum. Aku terakhir kali tahu, sampai jam 1, entah masih marah-marah atau tidak…” jawab Yoona
Terdengar suara ibu memanggil Yoona dari luar kamarku ”habiskan buburmu setelah itu istirahat lagi. nanti siang ibu sudah menyiapkan sup” kata Yoona dan berdiri dari kasurku
“Boleh tidak makan sup-nya sekarang saja?” pintaku

Yoona menggeleng “tidak!” jawabnya tegas dan keluar dari kamarku
Aku mendesah dan menatap bubur itu dengan bimbang. Sebaiknya kumakan saja sekarang, sebelum terlanjur dingin dan semakin haram bagiku untuk dimakan. Sambil memakan bubur dengan tidak ikhlas, aku mengambil ponselku dan menekan beberapa nomor. Aku berniat menelpon Kim Joon Oppa
“Yobaesaeyo?” sapanya ketika menjawab teleponku
“Yobaesaeyo, Oppa… “ jawabku pelan “Ini aku So Eun. Eng, soal tadi malam, aku benar-benar minta maaf Oppa. Ayah memang sering marah-marah tidak jelas” ujarku langsung.
Dia terdiam beberapa saat, membuatku tegang saja. Aduh… apa jangan-jangan dia sudah marah ya? 1 detik, 2 detik, 3 detik dan seterusnya dia masih diam. tuh kan, jangan-jangan dia marah.
“Oppa…?” sahutku dan setelah itu….. terdengarlah suaranya tertawa. Seperti tertawa terbahak-bahak dan jauh lebih lama daripada saat dia diam tadi

Apa jangan-jangan dia juga sedang minum? Tak mungkin kan? “Oppa, kau kenapa?” tanyaku ragu-ragu
Dia masih saja tertawa, tapi akhirnya dia bisa bicara juga di sela-sela tawanya itu “Ah, miyanh So Eun. Aku hanya sedang tertawa membayangkan Kim Bum tadi malam…” katanya dan di lanjutkan dengan tawaan lagi
Aku mencibir, dia sedang menyindir ya? “Oppa, kau sedang menyindirku?” tanyaku
“Ah, ani… bukan. Tapi sepertinya, kalau kau berniat minta maaf, minta maaflah pada Kim Bum dulu, dia benar-benar sengsara tadi malam. Untung saja ayahmu tidak sampai memukulnya dengan stick golf. Haha…” jawabnya masih tertawa
“Jinja?” tanyaku. Ayah hampir memukulnya? Sayang aku sedang pingsan, coba kalau tidak, bakal jadi pemandangan menarik tuh. Tapi kalau sampai begitu, keadaannya benar-benar parah.
“Hm.. ya, tanyakan saja pada Yoona, dia salah satu saksinya tadi malam” dia masih saja tertawa
“Oppa, sepertinya melihat Sonbae sengsara menjadi salah satu hiburan tersendiri ya, untukmu?” tanyaku tajam. Aku kesal dengannya, dari tadi seperti tidak serius

Tapi untunglah, Kim Joon Oppa lebih mudah mengerti daripada Kim Bum, jadi dia langsung berhenti “Kau sedang membelanya?” tanyanya
Aku langsung diam. iya juga ya, apa aku sedang membelanya? Aku langsung geleng-geleng. Aish, aku pasti masih sakit, omonganku langsung aneh “Ani. Tidak kok.” Jawabku. Untunglah kami sedang bertelponan, jadi dia tidak bisa melihat wajahku yang terasa panas.

“Hm… begitu. Oh, iya. Yang tadi malam, waktu aku menelpon Gook Ji Yeon, dia bilang, tadi malam itu tidak sengaja, Sunny-lah yang pertama menemukan minuman itu. itu minuman yang salah kirim, waku memesan minuman tambahan di pesta, orang yang mengirimnya salah melihat. Dipikirnya itu adalah minuman soda, tapi rupanya bir. Setelah selesai pesta, niatnya minuman itu akan dikembalikan, – masalah pengiriman ini, aku tahu dari Min Ho- dan waktu Sunny menemukannya, karena dipikirnya itu hanya minuman soda biasa, diambilnya saja. Karena itulah kalian bisa minum minuman seperti itu. Ji Yeon bilang dia minta maaf, itu benar-benar tidak sengaja” jelasnya.

Sebetulnya itu tidak cukup penting sih, buatku. Tapi berhubung itu sepertinya benar-benar tidak disengaja, kumaafkan saja.

“Oh, iya” jawabku singkat
setelah itu kami berdua terdiam, bingung mau bicara apa. Kupikir sepertinya sudah dulu ya “Eng, Oppa, sudah dulu ya…”
“YA!” ujarnya tiba-tiba dan suara teleponnya jadi agak sedikit bergemirisik. Aku agak heran. Suara bergemirisik itu cukup lama. Aku memutuskan untuk menunggunya dulu karena penasaran sampai akhirnya suara gemerisik itu bertambah keras dan…..
“Jam 2 di sekolah. Kalau tidak, aku akan membunuhmu.” Sahut suara yang menurutku bukan suara Kim Joon dan setelah itu : Tuttt………. Telepon langsung putus sebelum aku bisa menjawab kalimat terakhir itu
“Hah? Apa-apaan ini?” gumamku. Tunggu! Kenapa suaranya seperti suara Kim Bum Sonbae?

#adakah yang penasaran sama apa yang terjadi sebetulnya di tempat Kim Joon? Penasaran gak penasaran tetep aja bakal author ceritain… haha… ini dia…#

Author POV (Rumah Kim Joon & Kim Bum)

“Oh, iya” jawab So Eun singkat di telepon

Setelah itu, baik Kim Joon dan So Eun yang sedang bertelponan sama-sama terdiam. Kim Joon sebetulnya saat itu diam karena suara berisik yang berasal dari kamar di sebelahnya, kamar Kim Bum. Saat itu Lee Min Ho dan Jung Il Woo sedang main ke rumah mereka, dan seperti janji Kim Bum tadi malam, dia berniat membunuh Min Ho kali ini. Jadi dari tadi kamar Kim Bum berisik dan mengeluarkan suara-suara aneh dari tawa Il Woo yang keras, jeritan sengsara Min Ho dan suara Kim Bum yang mengamuk #plus suara author yang merduuuu… :P# membuat Kim Joon mau tak mau terdiam beberapa saat menunggu suara itu mereda.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan Min Ho langsung masuk dengan wajah pucat #habis diapain tuh?# “Joon, aku numpang sembunyi ya. oh, kau sedang bertelponan?” tanya Min Ho begitu masuk dan sembunyi di balik kasur Kim Joon
“hah?” jawab Kim Joon dan menjauhkan ponselnya. Lalu setelah itu Kim Bum langsung masuk “YA, LEE MIN HO!” teriak Kim Bum dan langsung menarik Min Ho keluar dari persembunyiannya dan mulai bergulat tidak jelas di kamar Kim Joon.
Il Woo ikut menyusul sambil tertawa terbahak-bahak melihat Lee Min Ho disiksa Kim Bum #kejamnya, bukannya dipisahin# bahkan Il Woo tertawa sampai jatuh terduduk

“YA!” teriak Kim Joon untuk meredakan keanehan di kamarnya, tapi tampaknya tidak mempengaruhi aktivitas 3 mahluk aneh itu karena mereka terus saja bergulat diiringi tawa Il Woo.

Kim Joon langsung menjauhkan ponselnya dan mulai melerai Kim Bum dan Min Ho. Il Woo seperti baru sadar dari tawa kerasnya, dia ikut melerai Kim Bum dan Min Ho (lebih tepatnya, menghentikan Kim Bum dari kegiatannya menyiksa Min Ho) tapi bukannya melerai, mereka justru jadi ikut bergulat.

Kim Bum menekan wajah Min Ho dengan tangannya sementara wajahnya sendiri di tekan oleh kaki Kim Joon. Tangan Kim Joon sedang menahan tangan Min Ho. Min Ho sendiri tangannya ternyata menjepit pipi Il Woo dan Il Woo berada di antara ketiga orang itu dengan posisi sedang menahan kaki Kim Bum yang hampir mengenai Min Ho dan juga kakinya menekan kepala Kim Joon #posisi yang aneh! Mohon jangan dibayangkan jika tidak ingin mengalami gangguan otak selama beberapa saat :P#

“Ya! kalau mau bertengkar jangan di kamarku” bentak Kim Joon
“Biar! Salahkan Min Ho kabur ke kamarmu” balas Kim Bum
“Bum! Berhentilah” ujar Il Woo

Mereka saling menambah tekanan masing-masing sampai akhirnya…. “Bum, Joon sedang bertelponan dengan So Eun lo…” gumam Min Ho di tengah siksaan

Gerakan Kim Bum langsung berhenti dan tubuh Kim Joon langsung menegang. Dia merasakan firasat buruk sementara Il Woo, memandang kedua orang itu bergantian dengan was-was. Dan firasat Kim Joon terbukti benar, karena setelah itu, Kim Bum langsung berganti menjadi menyerang Kim Joon #Oppa cemburuan amat sih… -_-#

“Ya! kenapa kau menelponnya!” tanya Kim Bum

“Siapa bilang?! Dia kok yang menelponku!” bentak Kim Joon
Min Ho dan Il Woo memandang kedua orang itu dengan heran. “Ya! kenapa kau bilang seperti itu?! lihat! Sekarang mereka berdua yang berdebat” bisik Il Woo

“Biarlah yang penting aku bebas” ucap Min Ho dengan pelan dan dengan nada lega
Kedua orang itu –Kim Bum dan Kim Joon- masih saja terus bergulat dan berdebat “Hei, lalu bagaimana dengan telepon itu?” tanya Il Woo dan menunjuk ponsel Kim Joon yang terkapar
“Itu telepon dari So Eun lo” tambah Min Ho sekaligus menggoda.

Baik Kim Bum dan Kim Joon saling bertatapan sesaat, dan setelah itu mereka langsung berlomba memperebutkan ponsel itu. Kim Joon mendorong Kim Bum dan segera berdiri, tapi kakinya langsung ditahan oleh Kim Bum dan Kim Bum ikut berdiri ketika Kim Joon terjatuh karena kakinya ditahan. Kim Joon yang tak mau kalah juga ikut menahan kaki Kim Bum sehingga Kim Bum terjatuh. Sayangnya, Kim Bum sudah berhasil mengambil ponsel itu, Kim Joon yang baru saja ingin merebutnya dari Kim Bum terlambat, karena…..

“Jam 2 di sekolah. Kalau tidak, aku akan membunuhmu.” Ujar Kim Bum dan langsung memutuskan sambungan. Dia langsung menatap Kim Joon penuh kemenangan.

“YA!” bentak Kim Joon. Kim Bum melemparkan ponsel ke arah Kim Joon “Gomawo” sahut Kim Bum dan berjalan keluar kamar Kim Joon dengan tenang. Tampaknya mood Kim Bum sudah membaik sekarang
Min Ho dan Il Woo saling berpandangan dan ikut berdiri meninggalkan kamar Kim Joon “Gomawo…” gumam mereka berdua bersamaan dan menutup pintu kamar Kim Joon
Kim Joon langsung mendesah “Mereka bertiga kekanakan sekali…” gumamnya

Tak lama setelah itu, Il Woo dan Min Ho pulang. Karena mood Kim Bum yang sudah berubah menjadi lebih baik, dia mengantarkan Il Woo dan Min Ho sampai ke depan rumah.
“Gomawo Bum, hari ini” pamit Il Woo
“Ya… Jeongmal Gomawosoyo, atas siksaannya, benar-benar mengasikkan” lanjut Min Ho dengan pelan, Il Woo langsung tertawa dan Kim Bum hanya senyum-senyum saja.
“Tapi ngomong-ngomong, untuk apa kau mengajak So Eun bertemu?” tanya Il Woo
“Mau kencan kali…” jawab Min Ho asal
Kim Bum langsung menarik kepala Min Ho dan mengacak-ngacak rambutnya. Min Ho langsung menggerutu “Ya! kau ini bocah yang benar-benar tidak sopan ya?” gerutu Min Ho
“Kau baru tahu? Kasihan sekali….” Jawab Kim Bum santai dan melepaskan kepala Min Ho
“Hei, sudahlah. Ya sudah, kami pulang dulu ya, Bum…” pamit Il Woo
“Selamat berkencan….” Sahut Min Ho dan langsung berlari keluar rumah sebelum Kim Bum sempat menyiksanya lagi. kim Bum hanya mendengus dan tersenyum. Setelah melambaikan tangan dia langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Sebelum pergi ke kamarnya, dia mengambil air minum terlebih dahulu di dapur. “Ahjumma, ayah sudah pulang?” tanya Kim Bum saat pembantu rumah tangganya lewat
“Sudah pulang, tadi langsung masuk ke ruang kerja” jawab pembantunya dan kembali melanjutkan tugasnya. Kim Bum mengangguk beberapa kali dan langsung berjalan ke ruang kerja ayahnya karena ada yang ingin dibicarakannya dengan ayahnya.

Ketika dia masuk ke ruang kerja ayahnya, ayahnya sedang tidak berada di sana. Kim Bum memperhatikan sekeliling dan mulai melangkah menuju ke meja kerja ayahnya “Ayah dimana?” gumamnya dan tiba-tiba dia melihat sesuatu di meja ayahnya. Sebuah guntingan artikel Koran. Kim Bum mengambilnya dan membacanya “Apa ini?” gumamnya lagi.
Judul artikel itu adalah ‘Kebakaran di malam Natal’. Kim Bum memiringkan kepalanya “untuk apa ada artikel ini di meja ayah?” gumamnya dan meletekan kembali artikel itu di meja ayahnya seperti sebelumnya. Tepat saat itu, ibu tirinya datang masuk

“Yeobo, apa kau sudah menemukannya?” tanya ibu tirinya. Dia melihat Kim Bum sempat memegang kertas Koran artikel itu dan terkejut. Kim Bum menoleh dan merasa heran. Kenapa dia seterkejut itu? pikir Kim Bum
Kim Bum langsung saja keluar dari ruang kerja ayahnya melewati ibu tirinya yang masih membeku di tempat. Saat Kim Bum keluar dari ruang kerja ayahnya, dia berpapasan dengan ayahnya yang baru saja akan masuk ke ruang kerjanya
“Kau tadi masuk ke ruang kerja ayah? Ada apa?” tanya ayahnya

“Tidak, nanti saja, yah. Dia ada di dalam ruang kerjamu” jawab Kim Bum dan ayahnya masuk. Kim Bum tidak begitu memperdulikannya dan berniat untuk kembali ke kamarnya, tapi sesaat sebelum ayahnya menutup pintu ruang kerja, dia masih sempat mendengar perkataan ibu tirinya yang seperti terdengar panik “Bagaimana ini? Kim Bum melihatnya!” ujarnya panik

“Melihat apa?” tanya ayah Kim Bum dan menutup pintu ruang kerjanya. Kim Bum langsung mengurungkan niatnya kembali ke kamar dan menguping pembicaraan orang tuanya.
Pertama-tama memang masih belum terdengar, tapi makin Kim Bum berkonsentrasi dengan suara di dalam, makin terdengarlah percakapan orang tuanya “…. Artikel kebakaran itu! kenapa kau meletakannya di atas meja?! Kim Bum tadi melihatnya!” tuntut ibu tirinya

‘Artikel koran tadi? Untuk apa itu memangnya?’ pikir Kim Bum dan kembali melanjutkan kegiatan mengupingnya.
“Kenapa harus panik? Di situ kan tidak tertulis penyebab kebakaran itu sama sekali” jawab ayahnya
“Tapi kalau Kim Bum sampai curiga bagaimana?”
“Untuk apa dia curiga? Itu adalah artikel pertama tentang kebakaran itu, bukan artikel tentang penyebabnya. Tidak mungkin Kim Bum curiga, bahkan sampai menyadarinya” lanjut ayahnya dengan tenang “Tidak perlu panik dan mencurigainya, Kim Bum bukan tipe orang yang mudah curiga dengan hal-hal yang tidak menarik baginya. Tenangkan dirimu, beberapa hari ini kau sering sekali panik seperti sekarang”

Sesaat tidak ada suara, kemudian ibu tirinya bersuara lagi “Kau benar. Aku terlalu panik sepertinya. Mungkin karena ini sudah 11 tahun sejak kejadian itu. aku masih merasa bersalah pada anak dari korban yang meninggal di kebakaran itu. andai saja Kim Joon tidak kuajak menemui ayahnya hari itu” kata ibu tirinya dengan nada yang lebih tenang kali ini.
“Tapi itu juga kan ketidak sengajaan Joon, Noona…” jawab ayahnya.

‘Noona? Kenapa ayah memanggilnya Noona? Bukannya dia lebih muda dari ayah? Ada apa sih sebetulnya?’ ucap Kim Bum dalam hati makin penasaran.

“sekalipun Joon tidak sengaja, tapi tetap saja…” ibu tirinya terdengar masih bersikeras mempertahankan pendapatnya.
“Sudahlah, lebih baik kau istirahat saja. Aku masih belum menemukan apapun tentang anak itu. Noona sudah terlalu lelah 1 minggu ini”

“Jelas saja, baru saja tepat 1 minggu yang lalu kejadian itu genap 11 tahun.” Jawab ibunya dan suaranya bertambah jelas. Sepertinya dia melangkah mendekati pintu. Kim Bum yang panik langsung berlari menaiki tangga ke atas menuju kamarnya.

Sampai di kamarnya, dia langsung mengunci pintu kamar “Apa maksud pembicaraan mereka tadi? Kenapa membawa-bawa nama Joon? Dan lagi, kenapa ayah memanggilnya Noona?” gumam Kim Bum. Dia berpikir keras mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya. Makin lama dia berpikir, justru pikiran yang anehlah yang muncul di pikirannya membuatnya makin pusing. Kim Bum mengacak-ngacak rambutnya hingga benar-benar berantakan karena frustasi “Aish, ada apa sih sebetulnya?!” gerutunya.

Tiba-tiba matanya tertumpu pada jam dinding di kamarnya “Jam berapa aku bilang pada So Eun tadi? Jam 12 ya? lebih baik aku siap-siap, sekarang sudah jam 11” Kim Bum langsung melupakan rasa penasarannya dan bernyanyi-nyanyi berjalan menuju lemari pakaiannya untuk berganti baju.

End Author POV

Aku masih shock mendengar kata-kata Kim Bum di telepon tadi. Satu-satunya hal di pikiranku setelahnya adalah ‘Apa ayah akan mengijinkannya?’ dan memang itu masalahnya. Dia minta bertemu denganku jam 2 di sekolah, tapi mengingat cerita Yoona dan kata-kata Kim Joon Oppa tadi, aku jadi agak takut. Menurutku sih, bisa saja ayah menjadi 100% benci pada Kim Bum. Yang sebetulnya menurutku, berita bagus. Tapi, kalau aku tidak datang, pasti akan ada saja hal yang dilakukannya padaku di sekolah dan membuat penggemarnya makin panas. Aih… ottoke? Aku takut minta izin pada ayah, tapi aku juga malas kalau kena masalah lagi di sekolah.

Lama aku berpikir, sampai melupakan mangkuk bubur yang kupegang. Begitu sadar, buburnya sudah dingin dan jadi 100% mutlak haram untuk kumakan. Aku mengambil sesendok bubur itu dan menatap bubur dingin nan haram itu “Uwek… sudah dingin” gumamku dengan jijik.

Ah… aku malas sekali memakannya. Sudahlah, kuletakan saja. Paling nanti Yoona marah padaku dan akan memarahiku. Tapi setelah itu? beres! Aku meletakan bubur itu di meja samping tempat tidurku dan turun dari kasurku untuk berjalan ke kamar mandi, karena tentu saja, aku harus mandi.

Untunglah saat aku sudah selesai memakai baju, sudah jam 12. jam makan siang, aku sudah sangat lapar. Tadi kan aku tidak bisa makan bubur itu karena sudah keburu dingin.

Ketika makan siang, Yoona agak diam padaku. dia marah karena aku tidak makan bubur yang dibawakannya tadi. Biasanya sih, dia tidak pernah sampai semarah ini kalau aku tidak menghabiskan buburku. Tapi kali ini berbeda, karena aku baru tahu tadi, ternyata dialah yang membuat bubur itu ‘khusus’ untukku. Aku jadi merasa agak tidak enak padanya.

“Kau masih pusing?” tanya Yoona padaku selesai makan. Dia masih marah atau tidak ya? pikirku.

“Sekarang sudah tidak terlalu lagi.” jawabku. “Oh, baguslah” jawabnya singkat dan langsung berjalan meninggalkanku.
Aku menatapnya, dia masih benar-benar marah. Tapi sekarang bukan itu masalahku, aku harus minta izin pada ayah. Tapi bagaima… Oh, iya! Aku tahu: Aku harus minta bantuan Yoona untuk minta izin pada ayah, terserah dia sedang marah atau tidak padaku. Hanya Yoona-lah satu-satunya penyelamatku sekarang “Em…Yoona!” panggilku dan mengejarnya yang sudah berada di atas. Dia cepat sekali sih naik ke atasnya -_-‘’

Yoona langsung berhenti dan menatapku “Kenapa?” tanyanya sesaat sebelum masuk ke kamarnya.
Aku langsung saja mendorongnya hingga pintu kamarnya tebuka dan dia terdorong masuk olehku, aku langsung menyusul masuk ke kamarnya dan cepat-cepat menutupnya “YA! kenapa kau mendorongku?” tuntutnya dengan kesal.
Aku berusaha memasang tampang bersalah sebaik mungkin “Aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi dan sekarang Yoona, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu. Boleh kan? Ya, ya, ya?” pintaku dan mengambil tangannya dan menggenggamnya, berusaha memohon dengan sangat.

Yoona masih cemberut beberapa saat, sebelum akhirnya “Ya, sudah. Kenapa?” jawabnya.
Aku jadi terharu mendengarnya. Aku merasa beruntung sekali mempunyai saudara sepertinya yang pemaaf. Aku langsung memeluk Yoona dan melompat-lompat girang “Aih… Jeongmal Gomawoyo Yoona! Gomawo, gomawo, gomawo. Saranghae, Im Yoona” ujarku kegirangan dan mencium-cium pipinya.

Yoona membuat suara jijik ketika aku mencium pipinya “Iya-iya, sudah ah. Jijik sekali” katanya. Yoona langsung menuntunku menuju kasurnya dan duduk di tepinya. Aku mulai menceritakan masalahku.

Selesai bercerita, Yoona tidak menjawab apa pun sama sekali. Dia malah menatapku dengan tatapan menyelidik, entah apa yang ingin diselidikinya. Dia menatapku cukup lama, membuatku agak risih juga, “Kau mau kan, membantuku bicara pada ayah?” tanyaku mengulang kalimat terakhirku saat bercerita tadi.

“Kenapa kau ngotot harus pergi, So Eun?” dia justru balik bertanya padaku, tanpa sedikitpun menjawab pertanyaanku tadi.
“Karena aku malas kalau sampai dia marah dan menimbulkan masalah di sekolah. Kau tahu kan fans-nya sudah geram denganku? Contohnya saja tadi malam. Makanya, daripada cari ribut, lebih baik datang saja” jawabku santai

“Tak ada alasan lain?” tanyanya lagi

Aku mengangguk 100% yakin.
Dia masih menatapku dan melipat tangannya, memasang raut wajah serius. “Mungkin hanya pikiranku saja, tapi apa kau tidak merasakannya, Sso-ah?”
“Merasakan apa?” tanyaku lugu.

“Aish, anak ini….” Gerutu Yoona dan menjentik keningku, aku langsung senyum-senyum tidak jelas. “Tapi memang benar. Aku tidak merasakan apa pun dan tidak mengerti maksud pertanyaanmu itu apa…” ujarku meyakinkannya.
”Kau tidak merasakannya sama sekali? Kalau Kim Bum Sonbae sepertinya menyukaimu?….” tanya Yoona
Aku langsung tertawa memotong perkataannya selanjutnya “Haha, mana mungkin, Im Yoona. Pikiranmu kacau sekali, kau dapat dari man……?” kataku sambil tertawa.

Dan kali ini, dialah yang memotong perkataanku, melanjutkan kembali kata-katanya tanpa menggubrisku sama sekali “Dan menurutku, sepertinya kau juga menyukainya.” Lanjutnya

Tawaku terhenti. “YA! pikiranmu kacau sekali. Mungkin aku memang tidak pintar mendeteksi hal-hal seperti itu, atau merasakannya…” ujarku

Yoona kembali memotongku “Justru karena itulah, kau tidak tahu dan kuberi tahu. Kim Bum Sonbae menyukaimu, tidak mungkin dari mananya? Lihat saja, sekalipun dia tahu penggemarnya sering menganggumu, dia tetap saja mendekatimu. Bahkan sampai mencium pipimu. Apanya yang tidak mungkin?” jelas Yoona

Aku masih menatapnya tidak yakin “Jangan bercanda Yoona. Dia melakukannya karena dia sudah gila…”
“Gila dan nekat karena menyukaimu” potongnya.

“Lalu? Darimana kau berpikir kalau aku bisa menyukai orang sepertinya? Menurutku kaulah yang paling tahu aku membencinya” ujarku masih berusaha membantah pendapatnya.

“Justru karena kau membencinya aku yakin. Batas antara benci dan suka itu hanya setipis kertas, kau tahu? Sama seperti pintar dan bodoh, batasnya tipis sekali. Dan yang membuatku semakin yakin adalah sekarang. Menurutku kau mau menemuinya bukan hanya karena alasan itu saja. Aku yakin kau ingin menemuinya juga karena itu memang keinginanmu kan?” Yoona masih berusaha meyakinkanku.

“Tidak kok. aku hanya ingin menghindari masalah. Kau ini, pikirannya jauh sekali sih. Lagipula buktimu masih kurang, coba buktikan kalau aku memang benar-benar menyukainya” tantangku

“baiklah. Aku akan membantumu minta izin dengan ayah, dan kalau kau pulang nanti kau merasa sangat senang, itu tandanya kau menyukainya. Tapi kalau kau merasa kesal atau apapun, berarti tidak. bagaimana setuju tidak?” jawabnya
Aku mengangguk “Baiklah, boleh saja. Nah, sesuai janjimu, bantu aku minta izin pada ayah sekarang. Kaja…!” kataku dan menarik tangannya untuk memaksanya keluar kamar.

Sampai di bawah, kami melihat ayah dan ibu sedang menonton televisi. Yoona menyenggol lenganku dan mengatakan ‘Ayo’ lewat matanya. Aku mendesah dengan keras. ‘Fighting Kim So Eun’, ucapku dalam hati berusaha menenangkan diri.
Yoona maju duluan dan mendekati ayah. Pertama-tama dia pura-pura baik dulu, memijatnya dll. Supaya tambah berhasil, aku juga ikut melakukan hal yang sama dengan Yoona. Sampai akhirnya…

“Ayah, eng… Kim Bum Sonbae tadi meminta So Eun pergi menemuinya. So Eun ingin pergi, tapi boleh tidak yah?” tanya Yoona pelan. Yak, sudah mulai

Ayah langsung menoleh padaku, membuatku tegang seketika “untuk apa So Eun?” tanya ayah tajam.
Aduh, bagaimana aku menjawabnya ya? aku sendiri tidak tahu untuk apa dia memanggilku. Kalau aku bilang aku harus datang supaya tidak kena masalah lagi, bisa-bisa ayah akan datang langsung ke sekolah dan memarahi Kim Bum beserta penggemarnya. Kalau aku bilang dia memaksa, ayah tetap saja akan pergi ke sekolah dan datang untuk memarahinya.

“Ehm, sebenarnya yah, aku yang mengajaknya bertemu. Aku agak tidak enak dengan Sonbae karena ayah tadi malam marah-marah padanya. Aku mau minta maaf padanya.” Jawabku pelan dengan ragu. Kusadari Yoona tercengang menatapku. Mungkin dia tidak menyangka aku akan berbohong. Tapi kutegaskan, aku berbohong bukan untuk membelanya melainkan untuk kepentinganku sendiri, ingat itu! #Onni nunjuk-nunjuk kepala Author suruh readers utk gk salah paham😛. tapi tetep aja, Author sudah terlanjur salah paham, haha *abaikan#

“Kalau begitu bisa lewat telpon kan? ” tanya ayah lagi.

“Tapi kan tidak enak kalau hanya lewat telpon. Kesannya tidak sopan” jawabku lagi.
Ayah terlihat terdesak, kehabisan pertanyaan. Aku melihat Yoona mengedipkan mata padaku, tampaknya berhasil. Aku membalasnya dengan tersenyum.

“Kenapa harus kau yang minta maaf padanya? Bukannya itu salah anak itu?” tanya ayah lagi masih belum menyerah. Nah, kali ini aku yang terdesak, masalahnya, ayah memang benar. Ini kan salahnya sejak awal. Aku menatap Yoona meminta bantuan. Dia sendiri sama bingungnya denganku. Dia mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepala tanda pasrah.
“Tapi yeobo, ini kan salahmu. Izinkanlah saja So Eun, anggap saja mewakilimu minta maaf pada teman So Eun.” Ibu ikut berkata. Aku tersenyum kepadanya, dia ikut membelaku

“Lah, kenapa salahku? Bocah sialan itu kan memang salah..” ujar ayah membela dirinya.
Aku menahan tawa. Bocah sialan? Itukah panggilan sayang ayah pada Kim Bum Sonbae?
Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya “Aish… yeobo, kau sudah besar. Masih tidak mau mengakui kesalahanmu sendiri. Temannya So Eun kan baik, kan tadi malam dia menggendongnya karena mau membawanya pulang. Kaunya yang keterlaluan, marah-marah padanya” kata ibu.

“Iya, ayolah yah… So Eun hanya pergi minta maaf. Iya kan, So Eun?” sambung Yoona.
Aku mengangguk-ngangguk. Ayah mengerutkan dahinya, terlihat berpikir keras dan akhirnya… “Baiklah, tapi paling lambat jam 5 sore kau harus sudah di rumah So Eun.” Kata ayah akhirnya.

Yoona dan aku langsung memeluk ayah “Gomawo, Ayah…” kami berkata berbarengan.
Ayah mengangguk-ngangguk mendesah pasrah “Kubantah berapa kalipun juga, tidak mungkin menang. Di rumah ini aku tidak ada pembela, yang ada hanya 3 perempuan” gumam ayah.

Ibu tertawa dan segera mendatangiku “Ya sudah, sekarang So Eun, cepatlah berganti baju. Kasihan temanmu kalau sampai menunggu lama.” Kata ibu lembut

Aku melihat jam “Tenang saja bu. Janjiannya jam 2. sekarang baru jam 1” kataku santai.
“Kalau begitu, cepat siap-siap…” ujar Yoona dan mendorongku naik tangga.

############
Mungkin harusnya aku tidak bilang kalau janjiannya jam 2 supaya Yoona tidak sempat mendandaniku dibantu ibu. Baju yang kupakai kali ini dipilihkan ibu dan aku didandani Yoona. Karena Yoona tahu seleraku, memang natural saja sih. Tapi kalau persiapannya sampai begini… kok aku jadi merasa seperti akan pergi berkencan ya?
Sampai di depan sekolah, aku belum melihat apa pun. Kulihat jam tanganku, masih jam 01.53, mungkin sebentar lagi. “Sepertinya aku datang agak cepat ya?” gumamku dan memandang sekeliling.

Tiba-tiba, aku merasa ada tangan yang menahan kepalaku dari atas. Aku melihat ke atas, apa ada sesuatu di kepalaku? Lalu setelah itu, tangan itu menggoyang-goyangkan kepalaku ke kiri-kanan sampai aku jadi pusing.
“YA, KIM SO EUN! Kenapa kau datangnya lama sekali, hah?!” teriak seseorang tepat di telingaku. Otomatis tanganku langsung menutup kupingku dan melepaskan tangan aneh itu dari kepalaku lalu menoleh ke belakang “Sonbae!” sahutku.

“YA! kenapa kau baru datang sekarang?” tuntutnya

“Kan janjiannya memang jam 2?” tanyaku.
“Hah?! Kan kubilang tadi jam 12” jawabnya.
Aku mendesah “Sonbae, kau sendiri yang bilang jam 2? Bagaimana sih?” jawabku dengan kesal.
“Oh, begitu ya?” tanyanya berusaha mengingat-ingat. Ketika dia kelihatan berhasil mengingat, dia langsung menggaruk-garuk kepalanya. Aku mencibir “Benar kan?” ujarku.

Kim Bum Sonbae langsung mencubit pipiku “Aish, terseraaah. Yang pasti aku sudah lama menunggumu dan hampir mati kelaparan, ara?” katanya menggoyang-goyangkan mukaku.

Aku merintih dan memaksanya melepaskan tangannya dari pipiku “Siapa suruh Sonbae…” aku terhenti “Sonbae belum makan?” tanyaku.

Wajahnya terlihat merona “Kau harus mentraktirku sebagai gantinya.” Ujarnya dan langsung menarikku mendatangi sebuah mobil sport oranye.

Aku menatap mobil itu sesaat, dia yang sudah melihatku dengan heran “Kenapa? Naiklah!” suruhnya.
“Ini mobil Sonbae?” tanyaku. Dia mengangguk, “Memangnya Sonbae sudah punya izin mengendarai?” tanyaku lagi memastikan.

Dia yang sudah membuka pintu mobil langsung mendesah keras dan membanting pintu mobilnya. Dia langsung berjalan ke arahku “YA! kau benar-benar bodoh ya? aku sudah kelas 3, babo!” bentaknya.
Aku mengingat-ingat. Benar juga ya. Kim Bum Sonbae langsung terlihat kehabisan kesabaran dan langsung membukakan pintu mobil untukku dan langsung mendorong kepalaku masuk ke mobilnya “Aw!” jeritku dan dia langsung menutup pintu.
Aku mengusap-usap pelan kepalaku “Sonbae! Sakit tahu!” bentakku padanya saat dia sudah masuk ke dalam mobil.
Dia menyalakan mesin mobilnya “Siapa suruh kau lamban sekali berpikirnya?” tanyanya tanpa menatapku. Aku mencibir. Kenapa sih orang ini dimanapun dan kapanpun aku bersamanya selalu membuat kesal? Gerutuku dalam hati.
“Itu karena kau yang pertama mencari masalah” jawabnya. Aku memajukan bibirku dan melipat tanganku menatap keluar jendela mobil.

Aku mendengarnya mendesah “Astaga, kau ini…” gumamnya. Aku menoleh dan melihatnya bergerak ke arahku. Kupikir dia mau macam-macam, tapi rupanya dia menarik sabuk pengamanku.

“Kau tidak pernah naik mobil ya? pakai sabuk pengaman saja lupa” cibirnya saat menarik sabuk pengamanku, wajahnya terlihat dekat sekali. Sebetulnya sudah berkali-kali wajah kami selalu sedekat ini, tapi entah kenapa tiap kali itu terjadi, selalu ada sensasi yang berbeda. Dan jujur saja, yang ini sensasinya benar-benar hampir membuatku mati kehabisan nafas. Aku langsung mengerjapkan mataku untuk menyadarkan pikiranku “Aku sudah sering naik mobil Sonbae!” jawabku.
“Terserahlah” sahutnya tidak peduli dan langsung menjalankan mobil. “Ketus sekali sih. Seharusnya kau minta maaf karena sudah datang terlambat dan sudah membuatku disembur ayahmu semalam” ujarnya.
“Ya, ya. soal yang tadi malam aku minta maaf. Tapi untuk yang sekarang, kan salah Sonbae yang datang kecepatan” jawabku.

“Tapi tetap saja. Sebagai gantinya, kau harus mentraktirku” kata Kim Bum Sonbae sambil menyetir
Aku mendengus dan mengalihkan pandanganku darinya “Terserahlah” gumamku

Ternyata dia membawaku ke Apgujeong. Mobilnya berhenti di depan sebuah café yang terlihat mewah. Aku jadi was-was, apa dia memintaku mentraktirnya di sini? Ya, yang benar saja. Aku tidak benar-benar membawa banyak uang.
“Sonbae, kau serius ingin makan di sini?” bisikku padanya saat kami berjalan beriiringan masuk ke café itu.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?” jawabnya santai. Aish, dia serius ya menyuruhku mentraktirnya di sini?
kami langsung duduk di sebuah meja. Dia memanggil pelayan dan pelayan itu memberikan buku menu-nya. Waktu kubuka, astaga… yang benar saja. Harganya mahal-mahal. Hei, aku tidak bawa banyak uang. Gerutuku dalam hati.
Yang membuatku lebih terperanjat lagi adalah, dia memesan makanan yang paling mahal lengkap dengan minumannya. Aku menatapnya dengan kesal. Tapi ketika dia menatapku, dia seperti tidak menyadari tatapan kesalku “Kau pesan apa?” tanyanya polos.

Dia benar-benar ingin menyiksaku ya? “Jus strawberry saja” kataku pelan “Tidak pesan makanan?” tanyanya lagi. Rasanya aku ingin mencekiknya saat ini juga. Bagaimana bisa aku pesan makanan? Makanannya mahal-mahal semua babo!!!! Ingin aku berkata begitu sambil mencekiknya, tapi kutahan. Dia mengangguk tidak peduli “Oh, ya sudah” ujarnya. Pelayan itu segera pergi.

“Benar-benar tidak mau pesan makanan ya?” tanyanya lagi. aku mencoba tersenyum “Tidak ~terima kasih~” kataku menekankan kata ‘terima kasih’ itu agar dia mengerti. Tapi sepertinya tidak. dia hanya mengangguk-ngangguk.
Tak lama setelah itu, pesanan kami diantarkan. Aku menahan emosiku. Dia terlihat makan dengan santai, sementara aku hanya minum saja. Bagus sekali, ha-ha.
Saat dia sudah selesai makan, aku jadi agak tegang. Waktunya membayar. Aku langsung membuka tasku dan memeriksa dompetku. Aduh… krisis sekali. Tapi yang membuatku terkejut, malah dia yang membayarnya. Hei-hei, sebetulnya siapa sih yang bayar? Pikirku

“Kenapa kau tidak makan sama sekali tadi?” tanyanya saat kami keluar dari café

“Sonbae bilang aku yang mentraktirmu?” kataku balik bertanya.

Dia langsung tertawa “Haha, benar-benar seperti dugaanku. Kau ketakutan ya?” katanya sambil tertawa.
“Sonbae kau sengaja?” tuntutku. Dia masih saja sibuk tertawa. Aish, menyebalkan sekali.
Aku langsung berjalan meninggalkannya. Apgujeong memang ramai, baru saja beberapa langkah aku berjalan, sudah ada yang menyenggolku dari arah kiri, membuatku mundur beberapa langkah. Lalu setelah itu ada lagi yang datang dari arah kanan, membuatku kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh.

Ya, aku benar-benar nyaris jatuh jika tidak ditarik oleh Kim Bum. Dia langsung berjalan menghampiriku dan menarik tanganku, yang justru membuatku jatuh ke pelukannya.

DEG! Rasanya seperti ada sebuah bom waktu di jantungku. Sekarang rasanya berdebar-debar sampai aku merasa debarannya begitu kuat hingga terdengar olehku. Sekalipun hanya beberapa detik, aku langsung merasa seperti sedang melayang ke langit. Aku masih terperanjat dan menatap ke bawah.

“Ya, hati-hati sedikit! Sudah tahu di sini ramai. Kalau mau jalan lihat-lihat dulu.” Ujarnya. Aku langsung melepaskan diri dari pelukannya “Ah, eng, iya.” Kataku gugup. Aku langsung menatap ke bawah lagi dan kulihat bandul kalungku jatuh beserta rantainya “Ah, kalung ini…” aku memungutnya. Ini kalung dari bocah malam natal.
“Dasar ceroboh!” katanya menjitakku membuatku kembali ke dunia nyata. Aku memegang kepalaku yang dijitaknya “Aish, arasso, Sonbae! Ini kan salahmu juga!” tuntutku.

Dia kelihatan merasa bersalah “ya sudah, baiklah. Kutraktir es krim saja ya?” tanyanya.
Aku jadi tambah kesal “Sonbae pikir aku anak kecil? Mau membujukku dengan es krim?” ujarku.
Dia mengangkat bahu berpura-pura tidak peduli “Kau memang anak kecil kan?” tanyanya polos.
Aku balas menjitaknya “Kim Bum-ssi! Berhentilah mengerjaiku, aku tidak menganggapnya lucu sama sekali” bentakku.
Dia terlihat shock “Kim Bum-ssi? Wah, jeongmal… Kim So Eun! Kau benar-benar!” ujarnya. Dia langsung menarikku tidak peduli aku berusaha melepaskan diri dia terus menarikku memaksaku mengikutinya. Rupanya dia mengajakku ke toko es krim dan benar-benar mentraktirku es krim. Dia membelikanku rasa cokelat dan dia sendiri rasa vanilla.
“Sudah kan?” tanyanya. Aku mengalihkan pandanganku darinya “Entahlah” kataku berusaha terdengar marah. Dia mencibir.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menarik tanganku. Aku melihat tanganku, ternyata Kim Bum-lah yang menariknya dan menggenggamnya “Aku takut kau hilang dan bisa-bisa nanti aku disembur ayahmu lagi. jangan jauh-jauh dariku” gumamnya tapi masih bisa jelas terdengar olehku. Aku merasa gugup lagi. aku menahan tanganku yang digenggamnya untuk tidak balas menggenggamnya. Tanganku seperti berpikir sendiri dan berusaha melawan pikiranku untuk tidak balas menggenggamnya.

Benar-benar godaan yang berat. Aku menatapnya, dia terlihat tidak peduli dan memandang pemandangan Apgujeong yang ramai. Aku beralih melihat tanganku yang masih digenggamnya. Tersenyum sesaat dan begitu sadar, tanganku sudah berhasil menjalankan rencananya untuk balas menggenggamnya. Aku terkejut dan dia pun ternyata terkejut. Kami sama-sama menatap tangan kami yang kini sudah saling menggenggam beberapa saat. Setelah itu aku langsung cepat-cepat membuang muka, tapi tetap saja aku merasa dia masih menatapku. Ketika aku menoleh dengan hati-hati menatapnya, dia sedang tersenyum ke arah lain, membuatku otomatis ikut tersenyum. Aku merasa benar-benar aneh sekarang. Ya, ada apa denganku?

“Rantai kalungmu putus kan?” tanyanya setelah beberapa saat kami sama-sama diam.
Aku mengangguk “Beli yang baru saja dulu.” Ujarnya dan lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dia membawaku ke sebuah toko aksesoris dan membelikanku kalung rantai yang baru. Aku agak heran juga, niatnya aku ingin membeli sendiri.
“Jangan sampai putus lagi” ujarnya dan memberikan rantai kalung yang baru diberinya. Aku menerimanya “Gomawo Sonbae” ucapku dan mengambil bandul pohon itu dari tasku dan memasukannya ke rantai kalung yang baru, setelah itu aku memakai kalung itu lagi.

“Jaga baik-baik kalung itu. itu dari ibuku”katanya. Aku langsung menatapnya dengan heran. Apa maksudnya? Apa kalung ini benar-benar miliknya?
Aku masih membatu di tempat sementara dia sudah berjalan beberapa langkah dariku, ketika sadar aku masih di belakangnya, dia kembali padaku “Jangan melamun, nanti jatuh lagi” katanya dan menarik tanganku.
“Sonbae kalung ini milikmu?” tanyaku tanpa menggubrisnya.
Dia mengangguk “Ya, memang. Tapi Min Ho mengambilnya dariku dan memberikannya padamu” jawabnya. aku langsung menatapnya bingung.

Kim Bum Sonbae sepertinya menyadari tatapan itu dan menjawabnya “Kau belum diberi tahunya ya, kalau dialah si bocah malam natal yang kau ceritakan itu?” ujarnya.
Aku mengernyitkan dahi heran “hah?!”…..

To Be Continued

Akhirnya selesai juga part 10. sebagai permintaan maaf, part ini author panjangin. Tapi maaf aja ya kalau agak membosankan. Udah dulu dan seperti biasa:
Please leave critical, suggestion or comment.
Gomawo for reading and see you next story!!!! ^^

Tags: , , , , , ,

16 responses to “Memories In Christmas Eve (Story 10)”

  1. rosiyaniocii says :

    Woaaaa akhirnya bum blg juga. Walau itu bocah minho tp kan yg pny kalung bum. Mudah2an so eun ga suka lg ma bocah malam natal itu. Hhehe. Nah itu ada rahasia apa lg ibunya joon ? Pasti ada hubungan ma so eun nih. Hadoooh makin penasaran. Hmmm lanjutlah hayoooo🙂

  2. larasrahmaa says :

    Keren keren keren seruuuuuu
    Haha kasihan ya oppa dimarahin sama appa nya soeun
    Udh punggungnya dimuntahin sm soeun onnie ckck sabar yah oppa.
    waa author pokonya part ini seru bgtbgt
    Mau dong tangannya dipegang oppa
    tp di part ini soeun sm kimbum agak jarang berantem yah *menurutaku
    Yaudah author ditunghu part selanjutnya , jangan lama lama yaaah😀

  3. kimmify says :

    makin seruuuuuu! kasian kimbum sih dimarahin papanya soeun
    kocak banget ngebayangin kimbum, minho, ilwoo pada berantem sih joon juga ikutan haha
    waaaah yg di apgujeong mereka romantis bangeeeeet
    penasaran lanjutannya author.
    update soon! hwaiting🙂

  4. dhiyah says :

    ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh ,,, mkin seru z dech ni ff . . .
    jdi mkin penasaran sm kisah cinta mrka . . . ??
    AUTHOOOOOOOOOOOOOOOOOOORRRRRRRRRR ,,, cpet di Lanjut ea . !!!! *teriak” pke toa*

  5. kaoru selly SangEun says :

    dh berminggu-minggu qu menunggu ..
    akhir’y nongol jg ..
    mkin sru ja nic ..
    q tunggu ya part selanjutnya ..

  6. SaRy aj0w says :

    Lanjud kaaan th0r, akhirnya s0 eun..merasakan gempa jg..lem0t amat,jlas be0m memukaw gt..haha

  7. kikey says :

    Huaaa ada juga lanjutannya.. Penasaran nih thor sm kejadian kebakaran itu. Haha, lucu juga ya waktu kimbum, kim joon, minho sm il wo saling “nyiksa” wkwk. Wah, kim bum akhirnya ngasi tau jg yg sebenarnya. Kira2 so eun sukanya sm kim bum apa minho ya? Hmm. Lanjutannya jangan lama2 thor, sumpah penasaran banget *gaya lebay* ditunggu🙂

  8. amniminry says :

    wahh!!!! seru!! benih benih cinta udah mulai tumbuh. hahaha.. next part ditunggu

  9. RiriAngels says :

    Aaaaaa shilla adek.ku xD
    Akhir.a di post juga haha
    Ff favorit saya ini xD
    Kereeen cerita.a lucu haha
    Aih bumsso malu2 haha
    Penasaran penasaran next part di TUNGGU😄

  10. rizkyapratiwi says :

    aaaaaaaaaahhhh …… sumpah makin seru ne ceritanya
    bener2 lucu, seru n penasaran banget sama part selanjutnya
    gk bsa berkata apa2 lagi setelah membaca
    author cepet lanjutin
    jangan lama2 y …

  11. Bummiearab says :

    Lanjuttttt
    n’gk pake lama ya thor *plakkk*
    hwaiting !!

  12. afri says :

    pengen liat wajah kim bum secara nyata pas disemprot appa-nya So Eun, pasti lucu…hahahahaha

  13. leuni says :

    seru n keren.
    lanjut…………..

  14. Indah_ELF says :

    Seruu…
    Kim bum ky’y udh mulai ska nich sma so eun …

  15. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Uah uah bumsso kencan ceritanya? Hahah tiap bertemu berantem mulu kekeke , ouu sso udh tau bocah itu minho? Uah gmn nih? Lanjut baca🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: