Memories In Christmas Eve (Story 11)

Author: ashillach (gladisapr)

Cast: Kim So Eun, Kim Bum

Other Cast: Im Yoona, Kim Joon, Lee Min Ho

Genre: friendship, family, romantic

Type: sequel

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Cerita yang ditulis hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

Annyeong!!!

Enjoy it, chingu! ^^

##############

Kim Bum Sonbae sepertinya menyadari tatapan itu dan menjawabnya “Kau belum diberi tahunya ya, kalau dialah si bocah malam natal yang kau ceritakan itu?” ujarnya.

Aku mengernyitkan dahi heran “hah?!” Ini benaran atau bohong sih? Aku takut kalau ini bohong lagi.

“Jinja?” tanyaku tidak yakin.

Dia mengangguk. Aku langsung kembali mematung. Aku benar-benar ragu, ini benar atau tidak? kalau sampai dia bohong, kepalanya akan kupukul pakai palu berkali-kali.

Aish, sudahlah. Kau mau melamun sampai kapan?” tampaknya dia mulai kesal denganku yang terus melamun. Aku mencibir “Arasso, Sonbae. Memangnya kita mau ke mana lagi?” tanyaku saat dia mulai menarik tanganku dan berjalan. Aku pun berjalan beriringan dengannya.

“Ke mana saja boleh. Mumpung lagi di tempat ramai” jawabnya tanpa memperhatikanku. Terserah dia sajalah.

Tapi pikiran tentang Min Ho Sonbae adalah si bocah malam natal itu masih mengusikku. Aku menatap Kim Bum Sonbae yang sedang sibuk memandangi sepanjang jalan bertanya-tanya dengan pertanyaan yang sudah kesekian kalinya muncul dari 15 menit yang lalu, saat dia memberi tahukan padaku mengenai hal itu: Dia jujur atau tidak?

Dan hal yang kulakukan itu benar-benar salah, memandanginya terus-terusan dan melupakan satu hal: kenyataan kalau dia jadi risih dan kesal karena kupandangi terus.

“YA! Kau mau melihatku sampai kapan?!” tuntutnya.

Pikiranku masih disibukkan tentang Min Ho Sonbae itu, jadi aku tidak menggubris pertanyaannya sama sekali dan justru balik bertanya dengan pertanyaan bodoh “Sonbae itu benar atau tidak? kalau Min Ho Sonbae orang yang memberikanku kalung ini yang ternyata milikmu?” pertanyaan itu seharusnya tidak kutanyakan, karena itu hanya menambah emosinya saja. Tapi mau dibagaimanakan lagi? Aku benar-benar penasaran.

Dia menghentikan langkahnya tiba-tiba dan aku juga mengikutinya. Dia menatapku tajam “Lalu?! Kalau memang Lee Min Ho bocah malam natal itu. ada masalah apa memangnya? Kau tidak percaya? Tanyakan saja langsung pada orangnya, kalau kau memang tidak bisa mempercayaiku” ujarnya dengan nada tinggi.

Kupikir seharusnya aku mulai berkata dengan hati-hati sedikit, supaya tidak menyinggungnya “A…a…aniyo. Bukan berarti aku tidak percaya padamu Sonbae. Yah, sebetulnya menurutku, itu bisa saja mungkin dan bisa saja tidak. tapi kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa juga Sonbae berbohong iya kan? Yah, tapi aku tetap ingin memastikan apakah itu benar atau tidak, jadi tadi aku bertanya lagi padamu. Karena aku takut nanti kalau Sonbae berbohong dan mengerjaiku lagi. tapi, yah maksudku sekali lagi, untuk apa juga Sonbae berbohong. Dan aku…” mulutku langsung saja mengatakan apa yang bisa kukatakan. Seperti sebuah keran air yang dibuka terlalu lebar dan susah dihentikan, begitu pulalah kurang lebih caraku bicara. Cepat dan tidak bisa dimengerti plus tidak bisa dihentikan. Bahkan aku yang mengatakannya pun tidak mengerti sedang bicara apa.

“Jadi intinya?” potongnya.

“… yah, intinya, aku bertanya lagi pada Sonbae, karena aku takut Sonbae akan berbohong seperti Kim Joon Oppa. Makanya bukan berarti aku tidak percaya pada Sonbae. Hanya ingin benar-benar memastikan….”

“Joon berbohong?” potongnya lagi dan mengerutkan kening.

Aku langsung mengggigit bibirku. Ups, aku keceplosan. Ingin rasanya aku menjitak kepalaku sendiri sekarang, tapi sayangnya tangan kiriku sedang dipegang olehnya dan tangan kananku masih memegang es krim.

Dia masih menatapku dengan heran “Apa…Joon bilang kalau dia anak itu?” tanyanya.

Pasrah sajalah, lebih baik jujur saja. Aku mengangguk pelan “Karena itulah aku sampai bertanya seperti itu pada Sonbae. Eh, maksudku aku hanya takut kalau Sonbae juga berbo….”

“Karena itulah kau menyukai Joon? Karena kau pikir dia anak itu?” tanyanya tanpa menggubris jawabanku sama sekali sekaligus memotong perkataanku.

Kali ini aku diam menatap ke bawah. Dari nada suaranya dia terdengar marah dan entah kenapa justru membuatku merasa bersalah, meski aku sendiri tidak mengerti apa kesalahanku. Aku tidak berani mengatakan sepatah kata lagi. mendengarnya bertanya begitu padaku, justru menimbulkan pertanyaan baru di benakku. Apa benar aku begitu? Menyukai Kim Joon Oppa hanya karena dia bilang kalau dia bocah malam natal itu? dan begitu dia bilang itu bukan dia, aku tidak menyukainya lagi? aku juga tidak mengerti sekarang, apa aku maih menyukainya?

”Jadi, karena kau tahu kalau Min Ho bocah itu, kau juga akan langsung menyukainya?” lanjutnya lagi.

Sebuah ganjalan langsung menyekat tenggorokanku. Aku ingin saja langsung menjawab ‘tentu saja tidak begitu’ tapi otakku mengganjalnya. Bagaimana kalau iya? Bagaimana kalau nantinya aku jadi menyukai Min Ho Sonbae karena dialah bocah itu?

Dia langsung melepaskan tanganku dengan kasar dan berjalan meninggalkanku. Aku jadi merasa benar-benar bersalah. Aku langsung menjatuhkan es krimku dan berlari mengejarnya “Sonbae, maksudku bukan begitu. Tapi…” kataku setelah berhasil mengejarnya dan mensejajarinya. Tapi sebelum aku sempat menyelsaikan kata-kataku, dia langsung mendorong kepalaku seolah aku bukan benda penting yang dicarinya. Dia terus saja berjalan entah kemana.dan aku terus mengikutinya. Dan sikapnya itu, dia benar-benar seolah-olah menganggapku tidak ada.

Aku yang dari tadi hanya berusaha mensejajarinya, jadi ikut kesal juga. Kenapa dia harus semarah ini? Aku melangkah berjalan di depannya “Sonbae kenapa kau marah?” tanyaku kesal. Aku sendiri juga sudah lelah mengejar-ngejarnya terus.

Syukurlah, kali ini dia menganggapku ada. Tapi dia tetap hanya memandangku saja tanpa menjawab pertanyaanku, seperti menunggu perkataanku selanjutnya.

Jadi, aku pun melanjutkan “Bukannya itu urusanku? Kenapa Sonbae ikut campur?” tuntutku.

Bukannya menjawab semua pertanyaanku itu, dia malah mencubit pipiku, memain-mainkannya seolah-olah pipiku ini mainan, menggerak-gerakannya dari atas ke bawah dan lainnya. “Aih….Sonbae…” gerutuku berusaha melepaskan tangannya dari pipiku.

Dia menarik wajahku, mendekatkannya sangat dekat dengan wajahnya “Aku. Masih. MARAH” ujarnya dengan setiap penekanan dan kembali memainkan pipiku untuk terakhir kalinya dan melepaskannya. Aku mengelus-ngelus pipiku sendiri. Dicubit olehnya sakit juga =_=. Aku mengerutkan bibirku lalu terlintas sebuah ide di otakku.

“Kalau begitu kutraktir es krim saja ya?” tawarku. Dia mendengus kesal “Tadi kan sudah. Lagipula, kau pikir aku ini anak kecil? Mau kau sogok pakai es krim?” ujarnya kesal.

Aku tersenyum dan langsung mengambil tangannya “Sonbae kan memang anak kecil. Sudahlah, ayo…” ujarku dan menggandeng lengannya dan langsung menariknya mengikutiku. Kudengar dia mendengus, kupikir karena kesal, tapi waktu kulihat, dia sedang tersenyum.

Aku membelikannya es krim cokelat dan untukku sendiri rasa vanilla, tapi dia langsung protes dan menukarnya “Kenapa ditukar Sonbae? Aku juga mau rasa vanilla” protesku.

Dia menjitakku “Aku tidak mau rasa cokelat. Cokelat itu identik dengan perempuan menurutku. Aku mau yang vanilla. Lagipula kan, kau sedang berusaha minta maaf padaku, jadi berlakulah sebagai orang bersalah dengan sikap yang baik” dia menjulurkan lidahnya. Aku mencibir.

Kami berjalan beriringan dan saling sibuk memakan es krim masing-masing. Dan lagi, karena kupikir dia masih marah, jadi lebih baik diam saja. Tapi dia kembali menggenggam tanganku. Aku menatapnya heran. Dia masih marah atau tidak?

“Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau kau hilang dan kena semprot ayahmu lagi” jawabnya menjawab pertanyaanku. Wajahnya agak sedikit merona.

Aku tersenyum simpul “Iya juga ya. es krim cokelat lebih baik” sahutku

“Kenapa memangnya?” tanyanya menatapku.

Aku tersenyum menatapnya dan langsung menyodorkan es krimku ke hidungnya

“YA!” gerutunya mengalihkan wajahnya dan mengelap hidungnya yang kotor oleh es krimku.

Aku tertawa “Kalau mau mengotori wajah orang, warnanya jauh lebih bagus daripada warna vanilla. Warna cokelatnya lebih terlihat” lanjutku sambil tetap tertawa

Dia menatapku dengan kesal dan langsung merebut es krimku, mendorong mulutku dengan es krim itu hingga mulutku kotor. “Aih, Sonbae…” gerutuku.

Dia ikut tertawa “Kau tidak bisa makan es krim ya? sampai berantakan begitu?” candanya dan tertawa.

Aku langsung mengambil es krim vanilanya dan mulai menyerangnya lagi. dia membalasnya dan begitu seterusnya. Setelah itu kami tertawa bersama saling melihat wajah satu sama lain yang sama-sama kotor dan berantakan.

“wajahmu berantakan sekali Sonbae” ujarku di sela-sela tawa.

“Apa maksudmu? Wajahmu lebih berantakan” balasnya.

“Oh ya?” tantangku

Dia mengangguk yakin. Tiba-tiba tatapannya langsung tertumpu pada sesuatu di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan rupanya dia sedang melihat mesin photo box. Firasatku agak buruk

“Ayo kita lihat, wajah siapa yang lebih berantakan?” ujarnya sok misterius dan menarikku masuk ke dalam mesin photo box itu.

“Eh? Kita mau berfoto dengan wajah begini?” tanyaku shock.

“Kenapa tidak? kan bagus untuk kenang-kenangan.” Jawabnya tidak peduli. Aku pasrah saja dan sebaiknya menurut saja =_=’’

Setelah berfoto dan melihat hasilnya, aku dan Kim Bum Sonbae kembali tertawa-tawa “Benar kan apa kataku? Wajahmu lebih kotor” ujarnya sambil tertawa

“Apanya? Lihat sendiri Sonbae, hidungmu hancur begitu” balasku.

Dia menjitakku, aku mencibir. “Tapi wajah jadi terasa lengket ya?” gumamku.

“Jelas saja” jawabnya sambil memandangku. Aku tersentak karena ingat kalau di tasku ada sapu tangan. Aku membeli sebuah air mineral dan membasahi sapu tangan itu dengan air.

“Untuk apa?” tanya Kim Bum Sonbae.

Aku memandangnya dan melangkah mendekatinya. Aku mengelap hidungnya yang kotor bekas es krim itu “Tentu saja untuk mengelap, Sonbae” jawabku santai.

Ya, aku baru sadar kalau aku benar-benar santai. Tanpa menyadari wajah meronanya dan sikap anehnya yang terus bergerak-gerak gelisah “Diam dulu Sonbae. Di pipimu masih ada bekasnya” suruhku. Dia jadi diam tapi tangannya langsung menahan tanganku dari mengelapnya dan barulah aku sadar. Dan di saat bersamaan, aku langsung gugup ‘lagi’.

“Wajahmu juga kotor, babo” dia menarik sapu tanganku dan kali ini dialah yang mengelap wajahku.

Saat dia mengelap wajahku, baru kusadari betapa takutnya aku pulang ke rumah. Aku masih tidak mengerti, tapi aku takut kalau pendapat Yoona benar dan aku kalah. Pendapatnya bahwa Kim Bum Sonbae menyukaiku, dan ‘mungkin’ aku juga begitu.

“Kau ini mau jadi patung ya? sebentar-sebentar diam, lalu bergerak lagi.” cibirnya yang melihatku terdiam. Aku langsung mendengus “Tentu saja tidak, Sonbae” jawabku

Tiba-tiba tang 3 perempuan yang terlihat seperti anak-anak yang masih SMP mendekati kami, atau lebih tepatnya, mendekati Kim Bum Sonbae.

“Kau Kim Bum kan?” tanya anak yang di tengah dengan hati-hati.

Kim Bum Sonbae menjawabnya dengan mengangguk, lalu anak itu dan teman-temannya langsung melompat-lompat girang “Kalau begitu boleh kami minta tanda tangan?” tanya anak yang di kiri dan menyodorkan sebuah buku dan pena diikuti teman-temannya.

Kim Bum Sonbae mengambil ketiga buku itu dan mulai menanda tanganinya satu persatu. Selagi dia menanda tangani buku itu, anak yang di kanan berujar “Kami bertiga sangat menyukai lagu-lagumu, Oppa” ujarnya dengan senyum yang merekah dan terus memandangi Kim Bum tanpa henti.

Kim Bum Sonbae tersenyum dan mengembalikan buku-buku itu beserta penanya “Kamsahamnida” ujarnya. Ketiga anak-anak itu tambah girang dan saling melompat-lompat senang “Gomawo, Oppa” ujar mereka bertiga berbarengan sambil menunduk lalu pergi, masih dengan melompat-lompat. Baru kusadari satu hal juga, kenapa orang-orang menyebut senyumannya sebagai ‘killer smile’, kenyataanya, kalau kita melihatnya tersenyum secara langsung seperti ini, memang hampir membuat orang yang melihatnya kehabisan nafas. Tapi aku tidak tahu bagaimana jadinya melihat dirinya di foto. Untukku sih tidak berpengaruh.

Aku dan Kim Bum Sonbae kembali berjalan dan aku baru sadar, ternyata selama kami berjalan, hampir setiap orang yang kami lewati memandangi kami atau lebih tepatnya, memandangi Kim Bum. Aku jadi agak risih juga.

“Kim Bum benar-benar tampan ya?” “Iya, tak kusangka akan melihatnya di tempat seperti ini” “Sedang apa dia disini?” dan lain-lainnya menggumam selagi kami berdua berjalan melewati mereka. Tak sedikit juga yang berani minta tanda tangan padanya atau bahkan minta berfoto, dan semuanya diladeni olehnya. Aku heran, kok dia bisa tidak risih dan tetap santai ya? apa semua artis, idola atau semacamnya selalu begitu?

“Haus tidak?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk pelan. “Tunggu disini sebentar, aku akan membelikan minuman” lanjutnya dan meninggalkanku sendirian. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Aku menunggunya di depan sebuah toko bunga dan tak jauh dari tempat aku berdiri menunggu, aku melihat ada 2 orang yang terlihat seperti mahasiswi yang sepertinya memperhatikanku dan Kim Bum Sonbae sejak tadi. Bahkan setelah Kim Bum pergi pun, dia masih memperhatikanku.

“Sedang apa ya, Kim Bum kesini?” tanya salah satu dari mereka. Aku pura-pura tak melihat dan sibuk memainkan tasku, tapi diam-diam aku mendengar perkataan-perkataan mereka.

“Entahlah, yang membuatku heran, siapa perempuan itu?” jawab yang lain

“Pacarnya mungkin” lanjutnya. Sekarang sedang musim dingin, tapi entah kenapa aku merasa wajahku terasa panas mendengar jawaban salah satu dari mereka tadi. Apa kami berdua terlihat seperti orang yang sedang berpacaran?

Setelah itu mereka mulai membicarakan hal-hal lain yang berhubungan dengan Kim Bum sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata begini “Tapi, selera Kim Bum benar-benar buruk ya?”

“Iya. Perempuan itu, badannya seperti anak SD dan lagi, penampilannya itu lo.  Badannya juga agak sedikit berisi dan pipinya seperti bakpao begitu. Seleranya benar-benar kekanakan” cibir yang lain.

Mataku langsung tertumpu pada badanku sendiri. Apa aku benar-benar terlihat gendut sekarang? Aku langsung menggerak-gerakan kakiku gelisah dan menggigit bibirku sendiri. Kim Bum Sonbae lama sekali sih.

Syukurlah, karena setelah itu dia langsung datang “Lama ya?” tanyanya ketika menghampiriku sambil menyodorkan segelas cokelat panas padaku. Aku mengambilnya “Ah, ani, aniyo” jawabku cepat

“Tuh, kan. Tapaknya itu benar-benar pacarnya ya?” gumam mereka lagi “Kalau begitu selera Kim Bum benar-benar jelek. Menurutku dia masih lebih bagus dengan Suzy daripada dengan anak itu. mereka kelihatan lebih cocok” ujar mereka lagi ketika melihat Kim Bum Sonbae datang menghampiriku dan langsung tertawa.

Aku benar-benar merasa ingin menangis sekarang. Aku merasa Kim Bum Sonbae sedang memperhatikanku ketika mataku sedang berkaca-kaca membuatku makin kesal. Aku mendengar mereka membicarakanku lagi dan aku merasa benar-benar kesal. Apa masalah mereka denganku? Kenapa mereka tidak urus-urusan mereka sendiri dan tidak sibuk dengan jalan-jalan mereka? Bukannya melakukan itu, mereka malah sibuk memperhatikan kami dan lebih parahnya lagi, mereka membicarakanku yang statusnya ‘bukan siapa-siapa’. Benar-benar menjengkelkan bukan?

Baru saja aku ingin berbalik menghampiri 2 mahasiswi itu dan melabrak mereka, kulihat Kim Bum Sonbae sudah menghampiri mereka duluan. Dua mahasiswi itu yang sebelumnya masih sibuk tertawa langsung terdiam.

“Miyan haeyo, Noona. Tapi tolong jangan katakan yang tidak-tidak tentang temanku. Kami datang ke sini tidak dengan maksud apa-apa dan hanya sekedar berjalan-jalan biasa. Tolong jangan mengganggu privasi kami dan membicarakan hal-hal aneh tentang temanku” ujar Kim Bum Sonbae di hadapan mereka.

Salah satu dari mereka langsung terlihat panik “Ah, tidak. bukan begitu, kami tidak membicarakan tetang kalian sama sekali….”

Kim Bum langsung memotongnya “Dan aku benar-benar minta tolong, untuk tidak menyebarkan gossip-gosip aneh nantinya. Dia bukan pacarku, tolong jangan menyebarkan berita kalau dia pacarku, karena itu akan menyakitinya. Dan terakhir,  aku benar-benar minta untuk tidak membicarakannya lagi. Kamsahamnida” lanjutnya lagi dan meninggalkan kedua mahasiswi itu.

Kim Bum Sonbae berjalan menghampiriku dan menarikku pergi dari situ, sikapnya benar-benar santai. Aku menatapnya tercengang. Apa dia baru saja membelaku?

Setelah cukup jauh dari mereka dia berhenti dan menatapku “Kau tak diganggu secara langsung oleh mereka kan?” tanyanya.

Air mataku langsung jatuh, yang alasannya tidak bisa benar-benar kuproses secara pasti. Dan setelah itu, aku langsung menangis diikuti isakan keras.

“Ya, kau diganggu? Aish, kenapa menangis?” ujarnya dengan nada panik melihatku

“Kenapa Sonbae harus seorang artis? Merepotkan sekali sih. Selalu saja gara-gara Sonbae, aku tidak pernah bisa bersekolah dengan tenang. Gara-gara Sonbae, aku diganggu terus…” jawabku masih terisak sekaligus menggerutu

“Ya! kenapa kau jadi marah padaku?” tanyanya heran, tangannya menghapus bekas air mataku, tapi sangat percuma, karena air mataku tidak berhenti mengalir sekalipun dia menghapusnya berkali-kali

“Karena ini memang salah Sonbae. Huwe…” jawabku lagi dan terisak lebih keras.

Kulihat raut wajahnnya bertambah panik. Dan entah kenapa, aku tidak peduli. Aku hanya ingin melampiaskannya sekarang.

“Jadi intinya, kau marah padaku?” tanyanya.

“Tidak tahu” jawabku kasar.

Dia langsung menarikku ke pelukannya dan mengusap pelan kepalaku. Isakanku berhenti tapi tangisanku masih terus berlanjut “Miyanhe, selalu menyusahkanmu” ujarnya lembut. Untuk beberapa saat, dia tidak melepaskan pelukannya. Mungkin benar kata-katanya, kalau aku ini patung, karena lagi-lagi aku membeku.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan pelukannya “Puas?” tanyanya seperti menantang.

Aku mendengus “Sonbae, kau minta maafnya tidak ikhlas ya?” gerutuku.

Dia mendesah dan bersikap seolah-olah tidak peduli “Yah… mau di bagaimanakan lagi, kau seperti anak kecil. Diganggu sedikit langsung menangis. Mau kubelikan es krim lagi, bisa-bisa kau sakit kalau kebanyakan makan es krim. Merepotkan” keluhnya.

Aku mendengus kesal dan membuang mukaku. “Sedikit apanya? Gara-gara Sonbae aku terus diganggu, dan tidak ‘sedikit’” gumamku kesal. Dia mengangguk-ngangguk “Terserahlah” gumamnya juga. Dan lagi-lagi, dia menggenggam tanganku

“ ‘Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau kau hilang dan kena semprot ayahmu lagi’ Cuih” ujarku meniru kata-katanya.

Dia memandangku lalu mengacungkan tanganku yang digenggam olehnya “Sok tahu. Aku menggenggamnya karena memang aku ingin. Tidak boleh?” tanyanya.

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali supaya tidak kembali mematung sekaligus untuk memastikan apa dia benar-benar mengatakannya? (yang dia bilang dia ingin menggenggam tanganku karena keinginan pribadi) lalu menjawab “Tidak boleh” sambil menjulurkan lidah.

“Cuih. Dasar pemarah” gerutunya dan menarikku ke suatu tempat, toko boneka. Dia mengajakku masuk ke dalamnya.

Senyumku langsung merekah. Di dalam toko itu ada banyak sekali boneka beruang, dan aku memang paling menyukai boneka beruang. Aku mendengarnya mendengus dan bergumam “Bukan anak kecil apanya? Lihat boneka saja langsung melompat-lompat” gumamnya tapi masih bisa kudengar.

Aku mendengus “Kenapa memangnya? Tidak boleh?” tanyaku. Dia mengangguk “Benar sekali. Tidak. Boleh” jawabnya. dia memandang rak-rak yang penuh dengan boneka di hadapan kami “Pilihlah satu, kubelikan. Sebagai permintaan maaf” ujarnya.

Senyumku makin lebar “Jinja?” tanyaku, dia mengangguk. Aku langsung menunjuk satu boneka beruang yang terletak cukup atas, boneka itu berukuran besar dan berwarna putih lembut. Di lehernya terdapat pita cokelat besar “Aku mau yang itu” ujarku.

Dia mengambil salah satu boneka beruang berwarna cokelat berukuran sedang yang memegang sebuah hati berwarna merah “Tidak mau. Yang ini saja” ujarnya dan berjalan ke meja kasir lalu membayarnya.

Aku mendengus ketika kami berdua sudah berada di luar toko itu “Katanya terserah” gerutuku.

“Aish, sudahlah. Yang penting sudah. Lebih baik sekarang kita pulang, sebelum ayahmu marah lagi” jawabnya dan kembali mengambil tanganku.

Aku melihat jam tanganku dan langsung shock, sekarang sudah jam 04.45 “Oh, benar. Ayah bilang paling lambat hanya sampai jam 5” ujarku dan mengikutinya berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.

                           ##############

Sampai di depan rumahku, kulihat ayah sudah berada di luar rumah, karena aku memang sampai di rumah melewati batas waktu. Aku dan Kim Bum Sonbae sampai di depan rumah pukul 05.30

Keluar dari mobil, ayah langsung menatapku tajam dan menggerakkan kepalanya ke arah rumah, menyuruhku masuk. Aku menatap Kim Bum Sonbae yang juga turun dari mobil “Sonbae. Hari ini gomaw….” Kata-kataku langsung terpotong karena ayah langsung berdehem dan berujar dengan tajam “So Eun” panggilnya dan kembali menggerakkan kepalanya ke dalam rumah, menyuruhku cepat-cepat masuk.

Kulihat Kim Bum Sonbae mengangguk “Gomawo” ujarku cepat dan langsung masuk ke dalam rumah. Ayah mengikutiku dan langsung mengunci pagar rumah, meninggalkan mobil sport oranye beserta orangnya yang masih menatapku dari jauh hingga aku benar-benar masuk ke dalam rumah sendirian.

Sampai di dalam rumah, ayah langsung bertanya “Kenapa terlambat?” tanyanya tajam. Aku baru saja mau menjawab, tapi ibu langsung datang membela “Sudahlah, yeobo. So Eun pasti kelelahan, biarkan dia istirahat dulu. Lagipula kan dia masih berusaha menepati janjinya, masih untung dia tidak pulang malam. So Eun juga, istirahatlah dulu. Setelah mandi, langsung turun ke bawah ya, kita makan malam” ujar ibu menyuruhku naik ke atas. Dan untuk menghindari tatapan tajam ayah, aku menuruti ibu dan cepat-cepat naik ke atas.

Ketika aku masuk ke kamarku, aku langsung menutup pintu kamar dan melompat merebahkan diri ke kasurku. Aku lelah tapi entah kenapa, aku merasa benar-benar senang. Tuh kan, aku semakin takut kalah taruhan dengan Yoona.

Aku mengambil tasku yang terlempar di sampingku dan merogohnya, mengambil sesuatu dari dompetku. Benda baru yang diberikan Kim Bum Sonbae tadi, foto kami berdua saat wajah kami masih belepotan es krim. Bibirku langsung otomatis menyunggingkan senyuman melihat salah satu foto dimana ekspresiku dan Kim Bum Sonbae benar-benar aneh.

Melihat wajahnya lagi, pikiran itu kembali datang mengusikku. Lee Min Ho Sonbae adalah bocah malam natal itu? aku mengembalikan foto itu ke dompetku dan kembali memasukkan dompetku ke dalam tas. Aku mendesah menatap langit-langit kamarku dan menutup mataku. Pikiran itu masih saja menggangguku, tapi tidak mungkin kan, kalau bertanya langsung padanya? Maksudku, yah…seperti bertanya ‘Sonbae sudah pernah bertemu denganku 10 tahun yang lalu?’ atau ‘Terima kasih, kalungnya bagus sekali tapi hasil rampasan?’ itu tidak mungkin kan? Kesannya memalukan. Aku kembali mendesah “Aish, terserahlah” gerutuku.

Pintu kamarku terbuka tiba-tiba. Aku mengangkat kepalaku dan ternyata Yoona-lah yang masuk ke kamarku. Matanya langsung tertumpu pada boneka beruang yang diberikan oleh Kim Bum Sonbae tadi.

“Kalian sudah jadian?” tanya Yoona heran dan meraih boneka itu. dia langsung duduk di sampingku yang masih merebahkan diri.

“Jadian apanya? Jangan bercanda, Yoona. Hanya sekedar boneka beruang saja” jawabku malas

“Hanya sekedar boneka beruang yang sedang memegang hati bertuliskan ‘I Love You’ maksudmu? Bukannya mencurigakan?” tanyanya lagi dan mengamati boneka itu.

aku tersentak dan langsung bangun. “Hah?!” tanyaku shock dan merebut boneka itu dari Yoona. Kenapa aku baru menyadarinya? Di dalam hati yang dipegang boneka ini ada tulisan ‘I Love You’-nya? Yang benar saja. Jangan-jangan ini alasan dia tidak mau memberikanku boneka besar yang kupilih?

Yoona menatapku dengan penuh kemenangan “Pendapatku benar kan? Kalian berdua memang saling suka” ujarnya bangga

Aku menatapnya dengan cemberut “Aish, tidak kok. kau ini, aneh-aneh saja” kataku memukul Yoona pelan dengan bantal. Dia tertawa-tawa saja lalu setelah itu merebahkan diri di kasurku

“Kenapa kau masih tidak yakin, hah? Lagipula, kalau kulihat-lihat lagi, kalian cocok-cocok saja tuh. “ ujarnya

Aku mencibir dan ikut merebahkan diri “Cocok apanya maksudmu?” gerutuku

“Kim Bum Sonbae-nya tampan, dan…yah, walau sulit kuakui, kau kan lumayan manis Sso-ah. Wajahmu juga tidak jelek kok. apanya yang tidak cocok?” tanyanya santai

aku menatapnya yang terbaring di sampingku “Yoona, menurutmu aku agak gendut tidak sekarang?” tanyaku

Yoona bangkit dan mengamtiku baik-baik “Memang sih, kau cukup berisi dari tahun lalu. Tapi waajar kan? Bisa saja kau terlihat cukup berisi karena sekarang sedang musim dingin dan kalau kita memakai baju tebal, memang jadinya terlihat berisi kan? Mungkin waktu musim semi nanti, badanmu akan terlihat normal-normal saja. Kenapa? Kau tidak percaya diri berpacaran dengan Kim Bum Sonbae karena menganggap dirimu agak gendut?” dia mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala “Ternyata kau pesimis juga ya” cibirnya.

Aku langsung melemparkannya bantalku “Sembarangan, bukan itu alasannya. Lalu bagaimana dengan badanku?” tanyaku lagi dan mulai bangkit. Yoona mengernyitkan dahi dengan heran “Hah? Apanya?” tanyanya tidak mengerti

Aku menggambar lekukan dengan tanganku “Badanku, ideal tidak?” tanyaku lagi. Yoona sepertinya mulai mengerti maksudku, dan dia langsung mengamatiku dari atas ke bawah-bawah ke atas.

“Anak SD?” gumamnya tidak yakin, aku langsung merengut. Lalu dia langsung mengibas-ngibaskan tangannya “Ah, ani-ani, aniyo. Bukan! Mungkin… SMP kelas 2? Hm… tidak! masih terlalu kecil..” bantahnya pada dirinya sendiri.

“Ya! yang benar yang mana?” tanyaku kesal. Dia melipat tangannya dengan raut wajah serius “Hm… menurutku… antara kelas 2 SMP atau kelas 3 SMP, standarlah. Aish, memangnya kenapa sih, kau bertanya begitu padaku? Pertanyaanmu terlalu aneh dan mencurigakan tahu!” gerutunya

Aku mengibas-ngibaskan tanganku dengan cepat “Tidak penting untuk kau ketahui. Lalu, bagaimana dengan penampilanku? Apa kekanak-kanakan? Jujur!” tanyaku lagi

Dia makin heran, tapi kembali mengamatiku dengan seksama “Berhubung yang sedang kau pakai sekarang adalah style yang kuberi tahu, jelas saja bagus. Tapi kalau penampilanmu sehari-hari, itu memang agak kuno” jawab Yoona mengangguk-ngangguk dengan gaya sok pintar.

Aku langsung menjitaknya karena kesal “YA! apa maksudmu dengan kuno?!” tuntutku. Dia meringis dan membalasku “YA! kau sendiri yang menyuruhku menjawabnya dengan jujur. Apa kau tidak sadar-sadar? Tiap pergi ke sekolah, kau tidak memakai lip glos sama sekali untuk bibirmu plus tidak memakai bedak, apa kau pikir tidak memalukan untuk anak seukuran kita? Dan lagi, kalau tidak kusuruh, baju yang kau pakai untuk jalan-jalan hanya kaos, kaos dan kaos. Paling bagus juga kau tambahkan cardigan, kalau tidak? sama seperti baju yang kau pakai di rumah. Kalaupun bukan keduanya, paling juga kemeja biasa, pakai dress juga cuman yang itu-itu saja. Memangnya ada apa sih, kau bertanya terus tentang penampilanmu?” tanyanya penasaran.

Aku menatap badanku sendiri, iya juga ya, benar kata-kata Yoona. Aku sendiri juga baru sadar kalau baju yang kupakai hanyalah kaos terus. Aku menatapnya lagi dengan cemberut “Bukan apa-apa. Tidak penting” jawabku.

Yoona langsung menarik lenganku “Ada apa-apa dan pasti penting. Ah~ So Eun, cerita…” rengeknya. Aku langsung mendumel tidak jelas dan memaksanya melepaskan tangannya yang menempel di lenganku. Lalu aku tersentak karena mengingat sesuatu. Aku langsung menceritakan kepada Yoona mengenai Min Ho Sonbae

Yoona langsung tercengang kaget “Eh?! Jeongmal?” tanyanya tak percaya.

“Aku juga tak tahu, tapi kalau dipikir-pikir, untuk apa juga Kim Bum Sonbae berbohong?” ujarku.

Yoona mengangguk-ngangguk “Hm… benar-benar jauh dari dugaan, Lee Min Ho Sonbae….Hm, menurutku benar-benar di luar dugaan. Lalu apa yang akan kau lakukan So Eun?” tanyanya lagi.

Aku mengangkat bahu dengan bingung. “Entahlah. Huwe…. Yoona, ottoke? Aku sendiri juga tidak percaya bisa sampai seperti itu” rengekku dan bersandar di bahu Yoona.

Yoona mengusap pelan kepalaku dengan prihatin “Aku juga tidak tahu sih. Tapi sepertinya… menurutku kau dan Min Ho Sonbae lebih cocok ya?”

Aku langsung bangun dan menatapnya dengan kesal “YA! IM YOONA!” bentakku.

Dia langsung terkekeh “Hehe, kenapa marah? Apa kau lebih menyukai dengan Kim Joon? Atau… Kim Bum? Berarti dugaanku benar ya? haha…” candanya.

Aku merasa wajahku langsung merona, aku langsung meraih bantalku dan berniat memukul Yoona menggunakan itu, tapi dia sudah bangkit dari kasurku dan berlari menghindariku “YA! IM YOONA!” teriakku kesal. Kami pun mulai perang bantal di kamarku.

Author POV

Rumah Kim Joon & Kim Bum

Seisi rumah itu heran dengan sikap Kim Bum yang baru pulang. Dia tidak henti-hentinya tersenyum, bahkan kepada Kim Joon dan ibu tirinya. Di hadapan mereka, dia memang tidak sepenuhnya tersenyum, tapi setidaknya sikpanya tidak secuek biasanya. Yang menurut standar keluarga itu, sudah sangat baik.

Kim Bum langsung berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Sementara Kim Joon masih memperhatikannya dengan heran “Ada apa dengannya? Senyum-senyum terus sampai bibirnya kelihatan mau robek begitu” gumamnya sekaligus mencibir

Ibunya yang lewat dan mendengar gumaman Kim Joon langsung menjawab “Setidaknya jauh lebih baik kan daripada biasanya?” tanya ibunya

Kim Joon mengangkat bahu tidak peduli “Terserahlah” ujarnya dan berjalan menaiki tangga juga, menuju ke kamarnya.

Sementara itu, Kim Bum di kamarnya pun masih saja tersenyum-senyum tidak jelas. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. ponselnya tiba-tiba bergetar, ada pesan masuk dan tidak hanya satu, tapi ada 2. Ternyata itu adalah sms dari Min Ho dan Il Woo

From: Jung Il Woo

Bagaimana kencannya? Menarik tidak? kalau kita kumpul nanti, jangan lupa ceritakan padaku, kita bisa bersama-sama membuat Min Ho sirik😛 kekekek.

From: Lee Min Ho

Sudah ada kemajuan belum? Besok siap-siap mentraktirku ya! ~aih, aku makin sirik denganmu dan Il Woo -_-‘’~

Kim Bum tersenyum tipis membacanya. Sebetulnya ia sempat berharap itu sms dari So Eun, tapi tentu saja bukan. Karena mereka sama-sama saling tidak mengetahui nomor masing-masing.

Ia jadi menyesal juga, kenapa tadi tidak sekalian minta nomornya So Eun ya? Kim Bum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal “Aish, kenapa aku bisa lupa?” gerutunya.

Dia mendengar pintu kamarnya diketuk lalu terdengar suara ibu tirinya menyahut “Bum-ah, waktunya makan malam” sahutnya

“Ne” Kim Bum balas menyahut dengan nada datar. Dia pun segera menuju ke kamar mandinya untuk mandi dan berganti baju.

Di meja makan malam itu pun, senyuman di wajah Kim Bum masih belum menghilang. Senyuman itu masih terpajang rapi di wajahnya. Membuat orang-orang di rumah itu semakin heran, kecuali Kim Joon. Kim Joon sepertinya bisa sedikit menebak hal apa yang membuat saudaranya itu mendadak aneh malam ini mengingat kejadian aneh di kamarnya tadi pagi.

“Ada apa denganmu Bum?” tanya ayahnya heran melihat sikapnya yang aneh.

Kim Bum menatap ayahnya sesaat dengan wajah datar “Agwu?” #maksudnya ‘aku’# ujarnya dengan mulut penuh nasi sambil menunjuk dirinya sendiri. Ayahnya mengangguk dan senyumannya kembali merekah “Aniyo” jawabnya setelah nasi di mulutnya itu sudah melewati tenggorokan.

Ayahnya mengernyitkan dahi. Benar-benar anak yang aneh, pikir ayahnya. Ibu tirinya hanya menatap Kim Bum sambil tersenyum menanggapi sikap Kim Bum malam ini.

Selesai makan malam, keluarga itu kembali bubar dengan urusan masing-masing. Kim Bum dan Kim Joon kembali ke kamar mereka masing-masing di lantai 2. ayahnya berada di ruang kerjanya dan ibunya mulai membereskan piring bekas makan malam tadi.

Sampai tengah malam pun, Kim Bum masih belum bisa tidur. Dia hanya merebahkan diri di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya, merenung. Tapi entah apa yang direnungkannya. Merasa haus, dia pun turun dari kasurnya dan berjalan keluar kamar untuk menuju ke bawah, mengambil air minum dari dapur.

Ketika melewati ruang kerja ayahnya, dilihatnya lampu di ruang kerja ayahnya masih menyala. “Ayah belum tidur ya?” gumamnya tidak peduli dan kembali melanjutkan rencanany untuk mengambil air minum dari dapur.

Tiba-tiba dia melihat ibu tirinya ikut masuk ke ruang kerja ayahnya dengan terburu-buru, seolah-olah ada sesuatu yang terjadi. Tanpa memperdulikan Kim Bum yang memerhatikannya dengan heran. Karena penasaran, Kim Bum pun menguping dari balik pintu. Awalnya suaranya memang tidak terlalu terdengar, tapi lama kelamaan, Kim Bum bisa mendengar percakapan orang tuanya sayup-sayup…

“…aku sudah menemukannya, Noona. Kudengar dia tinggal di Busan” itu suara ayahnya. Sekali lagi, Kim Bum merasa heran, kenapa ayahnya memanggil ibu tirinya Noona?

“Benarkah? Jadi anak itu tinggal di Busan?” sahut suara ibunya yang terdengar senang.

Sesaat tidak ada suara, lalu…”Dengan begini, aku tidak akan merasa bersalah lagi. nanti aku dan Joon akan menemui anak itu untuk minta maaf.” Ujar ibunya.

‘Tuh kan, mereka membawa-bawa nama Kim Joon lagi’ pikir Kim Bum. Sebetulnya apa hubungan masalah ini dengan Kim Joon?

“Apa menurut Noona cukup dengan minta maaf saja?” tanya ayahnya.

Tidak ada suara lagi, lalu “Sebetulnya menurutku tidak. malah menurutku sangat keterlaluan, setelah 11 tahun berlalu, baru datang menemuinya sekarang. Tapi ini memang salah Joon. Kalau bukan karena Joon yang menyebabkan kebakaran itu, aku juga tidak mau melakukan ini. Aku merasa kasihan dengan anak itu” jawab ibu tirinya terdengar ragu.

“Yah… benar juga. Yang lebih keterlaluannya lagi, kebakaran itu menyebabkan kedua orang tua anak itu meninggal. Menurutku sekalipun tindakan Joon itu tidak sengaja, dia memang perlu untuk minta maaf” kata ayahnya.

Tenggorokan Kim Bum tercekat. Kim Joon pernah menyebabkan sebuah kebakaran hingga membuat korbannya meninggal? Sekalipun Kim Bum membenci Kim Joon, saat itu ia merasa sangat kasihan pada Kim Joon

“Jadi, siapa nama anak itu?” tanya ibu tirinya setelah beberapa saat. Kim Bum tidak terlalu memperdulikan hal itu karena yang ingin diketahuinya hanya sebatas itu, tidak lebih. Baru saja ia berniat melangkahkan kakinya menjauhi ruang kerja ayahnya dan menuju ke atas, jawaban ayahnya membuatnya terhenti…

“Kim So Eun” jawab ayahnya. Kim Bum langsung membatu di tempat. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. percakapan orang tuanya selanjutnya tidak didengarnya lagi, dirinya terlalu terguncang untuk membiarkan otaknya mencerna percakapan orang tuanya yang masih bisa didengarnya.

Kim Bum melangkah hati-hati berjalan menuju tangga. Sampai di tangga, dia menggenggam kuat-kuat pinggiran tangga, berusaha menahan dirinya dari jatuh akibat guncangan yang baru saja diterimanya.

“Kim Joon menyebabkan kebakaran di hari natal? Dan itu… itu, kebakaran yang menyebabkan orang tua So Eun meninggal saat itu?” gumamnya. Kim Bum menghela nafas berat, sulit baginya sekarang untuk bernafas. Otaknya sudah terlalu berat akan berbagai pikiran yang sepertinya mulai meracuni otaknya. Kim Bum memutuskan untuk naik ke atas terlebih dahulu, sebelum orang tuanya keluar dari ruang kerja dan mengetahui bahwa dia sedang menguping pembicaraan mereka tadi.

Kim Bum melangkah sambil menunduk, dia tidak melihat apapun yang berada di depannya, sampai ketika berada di atas, dia melihat ada sebuah bayangan orang yang berjalan mendekatinya. Kim Bum mengangkat kepalanya hati-hati untuk mengetahui siapa orang itu.

Dilihatnya wajah datar Kim Joon yang sedang menatapnya. Tatapan Kim Joon terlihat kosong, tapi sikapnya, seolah-olah dia mengetahui apa yang terjadi pada Kim Bum dan sudah menduganya sejak awal. Apa Kim Joon sudah tahu tentang ini? “Kau… tahu? Kau sudah tahu, dari awal…. Kalau anak yang orang tuanya meninggal 11 tahun yang lalu karena ulahmu itu…So Eun?” tanya Kim Bum pelan dan terputus-putus. Berat baginya untuk menanyakan hal itu pada Kim Joon

Dalam hati Kim Bum, dia berharap –sangat berharap- kalau Kim Joon akan menjawab ‘tidak’

Tapi Kim Joon hanya mengangguk dan menjawab dengan datar “Ya, aku sudah tahu dari awal” jawabnya yang membuat pikiran Kim Bum menggelap seketika.

End Author POV

Hari ini sudah mulai sekolah lagi. sekalipun aku masih cukup takut untuk datang ke sekolah, tapi entah kenapa, firasatku mengatakan sepertinya tidak akan ada yang terjadi hari ini. Setidaknya, untuk hari pertama kembali sekolah setelah liburan musim dingin, mungkin pikiran para ‘pengganggu’ itu masih dipenuhi dengan cerita-cerita liburan mereka.

Dan tebakanku memang benar, tidak ada yang terjadi hari ini. tidak ada yang datang mencariku atau menggangguku. Sebetulnya aku agak kecewa juga tidak ada yang mencariku hari ini. Maksudku, aku tidak berharap para ‘pengganggu’ itu yang datang mencariku. Kusadari sepertinya hatiku setengah berharap kalau Kim Bum Sonbae akan datang mencariku. Yang tentu saja, menurutku pikiran bodoh sekali aku berharap dia datang mencariku. Untuk apa juga dia mencariku, tidak ada yang terjadi, jadi kami juga tidak ada urusan hari ini.

Aku melangkah lesu berjalan melewati berbagai koridor. Sekarang sudah jam pulang sekolah, dan lagi-lagi aku tidak bisa pulang dengan Yoona hari ini. Sepertinya dia dan beberapa anak kelas menari yang lainnya -seperti Seohyun- sedang sibuk latihan untuk persiapan lomba musim semi nanti. Mungkin untuk beberapa minggu ini juga aku akan pulang sendiri terus.

“Hachimm!” #bunyi bersin, miyanh klo salah ^^# aku bersin lagi. sejak tadi malam, sehabis aku perang bantal dengan Yoona, hidungku gatal-gatal terus dan bersin-bersin. Tidak hanya itu, sejak istirahat tadi juga aku mulai batuk-batuk. Mungkin aku terkena flu. Tapi karena apa ya? apa mungkin karena aku makan es krim kemarin? Tapi itu juga tidak kumakan sepenuhnya, yang pertama aku hanya makan setengah lalu setelah itu kujatuhkan. Yang kedua, hampir tidak kumakan sama sekali, karena kugunakan untuk mengerjai Kim Bum Sonbae.

Aku memasukkan tanganku ke dalam jaket tebalku sambil menggigil “Harusnya tadi aku pakai sarung tangan dan syal” gumamku sambil menggigil kedinginan.

“So Eun-ah!” ada yang memanggilkukah? Aku menoleh ke belakang dan aku melihat Min Ho Sonbae sedang berlari-lari menuju ke arahku.

“Oh, Sonbae” jawabku.

Dia sampai ke tempatku dengan terengah-engah.

“Kenapa lari-lari Sonbae?” tanyaku. Dia langsung cengar-cengir tidak jelas “Hehe, tak apa kan?” jawabnya, aku mendengus dan langsung tertawa diikuti olehnya.

Dia mengambil sesuatu dari saku mantel tebalnya “Aku mau mengembalikan novel yang kupinjam kemarin. Rekomendasimu benar-benar bagus, So Eun. Ceritanya bagus. Apa ada novel lain lagi yang bisa kau pinjamkan padaku? Yah… kalau bisa sih yang fiksi” ujarnya sambil menyodorkan sebuah novel

Aku mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tasku “Ada kok. besok akan kubawakan Sonbae” janjiku

“Jinja?” tanyanya senang. Aku mengangguk tersenyum. Lalu setelah itu aku mulai berjalan diikuti olehnya. “Mau pulang ya?” tanyanya memulai pembicaraan.

Aku mengangguk pelan “Sonbae sendiri belum pulang?” jawabku balik bertanya

Dia mendesah “Belum, masih ada rapat. Hah… merepotkan” keluhnya.

Aku tersenyum tipis “Namanya saja resiko jadi Ketua OSIS, Sonbae” kataku.

Dia mengangguk-ngangguk tidak peduli “Yah, begitulah. Oh iya, kau mau masuk OSIS tidak So Eun? Sebentar lagi akan ada pemilihan untuk anggota yang baru. Jadi anak OSIS tidak terlalu merepotkan kok, sekalipun banyak tugas, tapi asik juga. Mau ya?” tawarnya padaku.

Aku mencibir sambil tersenyum “Sonbae, apa menurutmu aku terlihat seperti anak yang rajin? Menurutku sepertinya tidak ada yang asik jadi anak OSIS. Pasti nanti banyak tugas dan yang lainnya. Sonbae sepertinya salah memilih orang untuk ditawarkan jadi anak OSIS” jawabku.

Dia mendesah kecewa “Aish, kenapa siswa-siswi tahun ajaran baru ini tidak ada yang mau masuk OSIS sih? Kalian ini, malas sekali…” cibirnya. Aku tertawa pelan mendengarnya.

Aku kembali mengingat perkataan Kim Bum Sonbae kemarin. Aku ingin saja menanyai tentang hal itu mumpung orangnya sedang ada di sampingku. Apa Min Ho Sonbae benar-benar bocah malam natal itu? tapi….

“Hachimm!!” aku kembali bersin. Kurasa Min Ho Sonbae sedang menatapku sekarang. Aku menyedot ingusku dengan pelan. Aish, aku lupa bawa sapu tangan juga.

Tiba-tiba Min Ho Sonbae memegang bahuku, menyuruhku berhenti berjalan. Aku memutar badanku menghadapnya “Waeyo Sonbae?” tanyaku.

Dia tersenyum sesaat, lalu melepaskan syal yang sedang dipakainya dan melilitkannya ke leherku. “Pinjam saja ini dulu. Hari ini cuacanya memang lebih dingin daripada kemarin” ujarnya sambil melilitkan syalnya ke leherku

Aku memegang ujung syal itu dan menatapya sesaat lalu tersenyum “Gomawo Sonbae” kataku.

Kulihat senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya hilang sesaat. Dia melangkahkan kakinya mendekatiku dan memegang kedua pipiku “Wajah meronamu lucu sekali ya” ujarnya.

Aku menelan ludah, gugup sekali rasanya. Aku menggigit bibirku sendiri berusaha agar wajahku tidak semakin memerah

“Kurasa aku tahu sekarang. Alasan kenapa Kim Bum menyukaimu” gumamnya tapi masih bisa terdengar olehku. “Eh?” ujarku

“Sepertinya aku juga jadi ikut menyukaimu, So Eun-ah” lanjutnya dengan senyuman. Senyuman yang masih kuingat sampai sekarang, senyuman bocah itu. Ya Tuhan… kenapa sekarang aku merasa seperti kembali ke 11 tahun yang lalu?………

To Be Continued

Wah, Onni laku ya? sampe Min Ho juga suka sama Onni ^^  apa author buat ceritanya So Eun sama Min Ho jadian aja ya??? #langsung digampar Mates sampe babak belur, terus dilemparin ke sungai amazon biar dimakan sama piranha –kejamnya =_=’’  ._.v

Haha, ya udahlah. Daripada nanti tambah ngacau, langsung aja:

Don’t forget to leave comment, critical, suggestion, etc.

See you next story and Gomawo All!!!!! ^^

Tags: , , , ,

28 responses to “Memories In Christmas Eve (Story 11)”

  1. SaRy aj0w says :

    Sukaaaaaaaaaaaaaaakk..Hahahahah Gak sgaja Liad nie Wp..eh UPDATE!!Gud Job 4 admin autHor, en DIRIKuuuuuu yg rajiN bkunjung jg..wakakaka…FigHTiiiiiiiiiNG

  2. SaRy aj0w says :

    MiaN namBaH koment, LUPA!! MinHooooooooooooo…DaswaR JAkun GD (PiiiiZz lg Bwt MinHo Lovers)..nape akHir2 nie Karakter di FFnya RAda NGAcoo gtu yoW??PEngeeeeNNNN Q Bag.Big.Bug….DziiiiiiiiiiiiGGG!! Ikutaaaannn NaksiR..woaaaaaa emg msh jomblo sie @ there….Ooooooooowwwwww TIDAG!!Skian, TQiu

    • ashillach says :

      ngomongnya jangan bessar-besar!!!! klo didenger minoz bisa gawat, wakkaka….
      gpplah, biar oppa ada tantangan gtu dari sahabatnya, haha…
      makasih ud baca

      • SaRy aj0w says :

        kan gw dah biang piiiiiiiiiiiiizzz di tanda Kurung bwt Minoz tu…Nie Kan Jaman Demokratizzzz..ahahahaah layaknya diriQ kalu ada yg nyeLa beom yow di Trimaaaaaa…Swara ku dan swara Mreka is Totally DIFEREnt..hahaw

      • SaRy aj0w says :

        kan gw dah bilang piiiiiiiiiiiiizzz di tanda Kurung bwt Minoz tu…Nie Kan Jaman Demokratizzzz..ahahahaah layaknya diriQ kalu ada yg nyeLa beom yow di Trimaaaaaa…Swara ku dan swara Mreka is Totally DIFEREnt..hahaw

  3. onkyu says :

    hmmm… sudah mulai muncul konfliknya….
    mau dong ikut jalan2 onnie so eun…..
    seru…seru…. lanjut chingu!!!

  4. Glodzbumsso says :

    Gak papa kalo minho oppa suka sama eonnie . Hha

    Minsso fighting !

  5. echi says :

    Owowowow#nynyi ala shinee. Seru author.
    Tpi npa tuh min ho jdi ikutan ska? Jdi saingan dong ma kim bum,,wkwk
    Selalu mmbwat pnasaran, ditunggu next part.a ! Klo bsa d.panjangin,spnjang sungai nil jga bleh.wkwkw #gaje

  6. Putri says :

    Lucu pas bCa bgIan kimbum senyam senyum gaje. . .
    Hahaha. .
    Minho b0leh suka sama s0eun supaya kimbum ada saingan’a gTu. . . .
    V akhIr’a s0eun harus sama kimbum. .
    Ok aq TUngGu lanjUtan’a auThor. . . .

  7. rosiyaniocii says :

    Hyaaaa ga boleh eunnie ma minho. So eun hanya tuk bum seorang. Woaaaa makinseru deh. Tuh kan pasti ada hubungannya ma joon soal kebakaran itu. Aduhhhh moga kalo so eun tau dia bs memaafkan joonppa. Ihhh lucu deh bum ma eun ngedatenya bener kan dugaan yoona kalo mereka saling suka. Hoho. Aduhhhh minhoppa jgn ganngu hubungan eunnie ma bum ya. Ayooo bum jagain eunnie dan jgn sampe direbut orang. Ayoooo lanjutlah author jangan lama2 ya🙂

  8. larasrahma says :

    wahhh akhirnya ada lanjutannya ya
    part ini seru bgt
    kimbum seneng bgt nyubit pipi soeun yah, haha
    baca pas mereka jalan brng bikin senyum senyum sendiri, hihi
    hwaaa author soeun jgn dibikin suka sm minho dong, aku garelaaaa
    yaudah ditunggu lanjutannya yah😀

  9. amniminry says :

    aih, seru author. minho jd suka sama so eun? omo!! jangan, sama kim bum aja. hehehehe
    next part ditunggu

  10. afri says :

    So Eun ga boleh suka sama min ho, So Eun cuma boleh suka sama kim bum!!!! *pletak!!! ditabok author*
    lanjut terus chingu

  11. deeaa says :

    Min ho oppa ma So eun?????
    Oooooo, tidak bisa..!!!!!
    so eun hrs sama kim bum terus, kan BumSso 4ever……..
    next partnya ditunggu yah chingu,,,,,,,,

  12. dhiyah zT says :

    woooooaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    jdi mkin pnasaran sm part sLnjut y . . .

    cpet d post ea ^^

  13. rizkyapratiwi says :

    yeeeeeeeeiii …. cepet juga updatenya
    senaaaannggg …. wah, so eun bener2 hebat n plinplan juga kyknya *peace … becanda*
    habisny sih … semua di sukainya kn cukup bummie aja
    makin seru aja nih ceritany

    lanjuuut thor ….

  14. taemleebumsso says :

    kalo minho yg suka ma so eun gpplah,,,byr tambah seru kn jdinya ada tantangan wt kimbum,,
    tpi so eun nya jangan suka ma minho ya author,,,pkoknya so eun hanya milik kimbum,,,
    ukey,ukey.ukey,,,…..
    qu paling suka part ini cz seru banged pas bumsso jalan2,,,

  15. RiriAngels says :

    Huwahahaha xD
    Bumsso kencan.a ~bisa di blg kencn g sih?~ sweet bgt
    Main coret2an ice cream, foto box huaa kereeeen haha
    Aduh Kb meluk sso hmmm *apasih*
    Minho kau itu polos n sdkt ….
    Ya bgtu lah #plak
    Haha
    KEREEEN LAH NEXT PART DITUNGGU Y ^^

  16. Indah_ELF says :

    Seruu!!
    GmNa tuch reaksi kim bum trhadap kim joon.. Penasaran .d’tunggu part 12’a …

  17. meilani says :

    alah enak ya jadi so eun di sukai banyak cowok cakep-cakep……….
    jadi ngiri…………

  18. SintiaBumsso/@SintiaBumsso17 says :

    Uah-uah gmn nihh , sso malah inget ttg 11thn sama minho-,-” kan kasian Bum ..
    Aigoo Joon jadi Joon yg nyebabin ortu sso? Ahhh gmn reaksi sso yaaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: