Can’t I Love You? (2nd)

Author: ashillach 

Cast: Kim So Eun, Kim Bum

Other Cast:  Kim Jaejoong (JYJ), Moon Chae Won, Park Min Young, Park Yoochun (JYJ)

Genre: romantic, tragedy, drama

Length: Short Story (4-5 part)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

Cerita yang ditulis hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan merupakan hal yang tidak disengaja.

 

Annyeong!!!!^^

Sebelumnya,makasih untuk semua readers yang sudah mendukung author untuk melanjutkan ff ini. Jeongmal Gomawosoyo #nunduk. Ayo sini, author peluk-cium satu-satu dulu #kabuuuuurrrrr. hehe ^^v

Ya udah,  langsung aj:

This is the story, enjoy it^^

 

 

*************

I’ll wait for you until the end of the world
I’ll wait for you until the moment fate forbids

Can’t you come to me?

Even if I do that, can’t you love me?

 

 

 

“Kenapa kau belum pergi dari situ, Kim So Eun?” tanyanya tiba-tiba. Aku langsung terkesiap dan terkejut. Instingnya kuat juga, sampai bisa sadar bahwa aku berada di sini.

 

Aku langsung keluar dari tempat persembunyianku, berusaha menyembunyikan wajah maling yang tertangkap basah sedang mencuri dengar “Ah, aku kebetulan lewat dan baru mendengarnya, aku tidak…”

 

Aku tidak sempat menyelsaikan kalimatku. Dia langsung berbalik menatapku dengan tatapan tajam. Bercampur antara tatapan kesal dan ekspresi terlukanya itu, entah kenapa membuatku cukup tidak nyaman menatapnya. Tapi dari ekspresinya, cukup jelas bagiku bahwa sia-sia saja aku berbohong padanya.

 

“Aku tidak menyangka kau lebih agresif dari dugaanku” ujarnya lagi sambil berjalan mendekatiku. Aku memutuskan untuk mundur beberapa langkah tapi anehnya dia terus mendekatiku. Mungkin seharusnya aku tidak menguping mereka tadi dan langsung saja berjalan ke tempat parkir. Entah kenapa sekarang melihat 4 orang di situ jauh lebih menyenangkan daripada berada dalam situasi seperti ini. Sampai akhirnya punggungku menyentuh pohon tempat aku bersembunyi tadi, membuatku tidak bisa bergerak lagi.

 

Jesongeyo, Kim Bum-ssi.Eng..ah! aku janji tidak akan memberitahukannya pada siapa pun” kataku memohon padanya. Apapun lah, yang penting orang ini mau menyingkir dan membiarkanku pergi.

 

“Lalu? Kau tidak memberitahukannya pada siapapun juga kau masih mengetahuinyakan? Kalau kau bisa melupakan apa yang kau dengar malam ini, baru aku bisa tenang” kata Kim Bum, masih tetap dengan ekspresi yang membuatku tidak nyaman melihatnya.

 

Dia berjalan melewatiku begitu saja. Sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, mulutku langsung menyemburkan pertanyaan yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan olehku “Sudah berapa lama kau menyukai Min Young- kyosunim?” tanyaku.

 

Aku yakin pertanyaanku barusan membuat langkahnya terhenti, aku membalikan badanku untuk bisa melihatnya. Melihat bagaimana ekspresinya sekarang.

 

Masih sama, dia belum bisa menghilangkan ekspresi terlukanya “Apa hal itu sangat penting untukmu? Apa ada hubungannya denganmu?” jawabnya balas bertanya

 

Ani…anieyo. Itu memang tidak ada hubungannya sama sekali denganku, tapi…” aku tidak tahu kata-kata apa yang pas untuk melanjutkan kalimatku. Aku sendiri tidak tahu darimana datangnya pertanyaan itu, hanya tercetus begitu saja. Apa alasanku menanyainya? Kutatap sekali lagi wajahnya, dia masih menunggu kalimatku  “Aku hanya merasa aneh saja, karena Kim Bum-ssi terlihat…terlihat begitu terluka” lanjutku pelan dan tidak yakin.

 

“Bukannya setiap orang begitu? Apa kau sendiri tidak akan merasa sakit kalau perasaanmu ditolak?” jawabnya dan kembali berjalan menjauhiku sebelum aku sempat mengucapkan kalimat apapun.

 

Aku menatap sosoknya yang semakin lama semakin menjauh “Bagaimana aku bisa tahu? Menyukai laki-laki saja sudah sangat sulit” gumamku. Memangnya seperti apa rasa sakit itu? apakah memang sangat sakit?

 

Aku mengangkat tanganku dan meletakannya di tempat jantungku diletakan. Aku tidak tahu seperti apa rasa sakit itu dan aku memang belum pernah merasakannya. Tapi… kenapa sekarang perasaanku terasa aneh dan…sesak?

 

 

******

 

Aku melihat jam tanganku sekali lagi. sekarang sudah lewat 1 jam orang itu belum datang. Bahkan di kelas Min Young- kyosunim tadi orang itu juga tidak muncul. Yang pertama aku masih bisa maklum kenapa dia tidak muncul. Tapi untuk yang sekarang, apa dia benar-benar marah padaku?

 

Atau… Apa mungkin dia tidak masuk? Karena penasaran, aku memutuskan untuk mendatangi kelasnya…

 

“Kim Bum? Tadi dia masuk kok. kenapa memangnya?” jawab temannya ketika aku bertanya padanya.

 

“oh,… eng, tadi dia tidak datang ke kelas khusus penilaian. Ya sudah, kalau begitu, gomapseumnida…” kataku sambil menunduk, lalu berjalan meninggalkan anak itu. Kim Bum masuk? Kalau begitu ada di mana dia sekarang?

 

Aku berjalan tanpa arah yang jelas. Apa mungkin dia sudah pulang? Mungkin saja. Ah, aku memang tidak tahu apa-apa tentang anak itu. kebiasaannya tidak tahu. Biasanya dia ada di mana tidak tahu. Tapi untuk apa juga aku tahu?

 

Aku berjalan keluar gedung, dan tanpa sengaja aku melewati pohon tempat aku sembunyi tadi malam. Aku seperti bisa melihat dengan jelas kejadian tadi malam. Seolah-olah aku kembali berada di situ. Aku juga masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi Kim Bum tadi malam.

 

“Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya?” gumamku tanpa sadar Kata-kata Kim Bum tadi malam kembali terngiang di telingaku ‘Bukannya setiap orang begitu? Apa kau sendiri tidak akan merasa sakit kalau perasaanmu ditolak?

 

aku tidak bisa mengartikan maksudnya. Sakit? Sesakit apa lagi? apakah lebih sakit dari keadaanku sekarang? Aku kembali meletakan tanganku tepat di mana jantungku berada. Aku penasaran dengan rasa sakit itu. aku ingin tahu seberapa sakitnya. Tapi apa sama dengan apa yang kurasakan sekarang? Perasaan aneh yang tiba-tiba datang?

 

Aku berjalan ke balik pohon, dan…ternyata dia berada tidak jauh dari situ. Berada di lapangan rumput luas, dan sedang duduk sambil memandang langit.

 

Aku tersenyum tiba-tiba. Entah kenapa ketika menemukannya, perasaanku jadi lega. Aku melangkah pelan mendekatinya dan ikut duduk di sebelahnya.

 

“Kenapa kau datang?” tanya Kim Bum tanpa melihatku.

Aku ikut memandang langit “Kalau begitu kenapa kau tidak datang?” jawabku balik bertanya

 

Dia menghembuskan nafas lelah “Apakah aku harus benar-benar datang?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum tipis “Entahlah” jawabku pelan. Dia pun akhirnya diam, tidak melanjutkan pembicaraan lagi.

 

“Ya!” sahutnya tiba-tiba

Waeyo?”

 

Kim Bum menatapku sesaat dengan tatapan ragu, tapi aku tidak membalasnya. Aku sadar dia sedang menatapku tapi mataku masih tetap fokus menatap langit. Karena dia masih tetap diam, menggantungkan alasannya memanggilku barusan, akhirnya aku pun kembali menanyainya “Wae? Kenapa memanggilku?”

 

“Kau tidak marah sama sekali?” tanya Kim Bum akhirnya

“Soal apa?”

“Beberapa hari ini aku ketus terus padamu. tidak marah?” tanyanya.

 

Aku tersenyum tipis “Iya juga. Mungkin seharusnya aku marah, tapi entahlah. Sepertinya tidak” jawabku santai “Kenapa? Merasa bersalah?” lanjutku

 

Kim Bum memalingkan wajahnya dariku kali ini “entahlah. Sepertinya tidak” ujarnya meniru kata-kataku.

 

“Cih” dengusku sambil tersenyum “Kau sendiri? Kenapa bersikap begitu?”

 

“Karena kau menyebalkan” jawabnya singkat.

 

“Menyebalkan karena aku benar? Kalau kau menyukai Kyosunim?” sindirku.

 

“Kau cemburu?” jawabnya balas menyindirku

 

Aku kembali mendengus “Untuk apa aku cemburu? Tentu saja tidak” bantahku

 

“Oh, baguslah” jawabnya juga. Aish, dia mulai menyebalkan sekarang.

Aku menatapnya dengan kesal“Ya! apa yang sebetulnya ingin kau katakan sejak tadi?” ujarku.

 

Kim Bum membuka mulutnya, tapi entah kenapa suaranya seperti tertahan. Dan sebelum mulutnya sempat membentuk sepatah kata apapun, dia segera membatalkan kalimat itu dan akhirnya hanya mengatakan “Bukan apa-apa” jawabnya. Aku kembali menatap ke depan, merasa kesal.

 

Kami kembali terdiam dalam renungan masing-masing. Sampai akhirnya Kim Bum yang memulainya lagi “Mulai besok aku tidak akan membuatmu menunggu ku datang ke perpustakaan” ujarnya sepelan mungkin “Aku akan datang”

 

Aku menatapnya tidak percaya. Apa mungkin… saat ini dia sedang berusaha meminta maaf padaku? Kim Bum memalingkan wajahnya dariku, tapi dari sudut wajahnya yang masih terlihat, kulihat pipinya merona. Membuatku mau tak mau tersenyum.

 

Yang membuatku merasa aneh adalah, entah kenapa, aku merasa benar-benar senang mendengarnya berkata begitu. Tapi tidak hanya itu, ada sesuatu  yang lain. Perasaan yang sulit untuk kujelaskan, dan kusadari selalu datang setiap aku melihatnya. Perasaan yang aneh

 

Aku  kembali memandang ke atas, memandang langit, setelah beberapa saat, aku memejamkan mataku perlahan, dan tiba-tiba angin berhembus. Menerbangkan sebagian rambutku yang tidak kuikat. Aku bisa merasakannya, perasaan aneh ini bertambah besar.

 

“Apa…kau tidak berniat mengusirku?” tanyaku.

 

Aku tidak tahu apa ekspresinya, karena aku masih memejamkan mata “Kupaksa juga apa kau mau meninggalkan tempat ini?” jawabnya terdengar malas, membuatku kembali tersenyum “Terserah, asal kau tidak berisik. Aku butuh ketenangan” lanjutnya.

 

Aku membuka mataku dan menatapnya. Kali ini dialah yang memejamkan matanya. Raut wajahnya terlihat lelah, membuatku yakin kalau dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, bahwa dia butuh ketenangan. Tapi saat dia memejamkan matanya, bagiku dia terlihat benar-benar manis. Menatapnya seperti sekarang saja membuatku merasa damai dan tenang.

 

Sekali lagi angin kembali berhembus, kembali menerbangkan rambutku hingga menutupi pandanganku. Aku menariknya dan ketika pandanganku kembali jelas, kulihat dia sedang tersenyum. Seperti merasa benar-benar damai. Aku menelan ludahku, perasaan damai yang aneh.

 

Aku menatap ke bawah dengan tidak yakin. “Kim Bum-ssi, apa aku boleh bertanya padamu?”

“apa?”

 

“Tentang perasaan sakit kalau kita ditolak itu…apa benar? Maksudku, apa rasanya benar-benar sakit?” tanyaku pelan dan hati-hati

 

Dia membuka matanya, tapi masih tidak menatapku “Kau tidak pernah merasakannya? Apa kau tidak pernah menyukai laki-laki? Tidak normal sekali” sindirnya

“Tentu saja pernah” jawabku ketus

 

“Kalau begitu apa kau tidak pernah menyatakan perasaanmu? Padahal kaukantermasuk perempuan yang agresif” katanya lagi.

 

aku mencibir. Ya, aku memang tidak pernah melakukannya, karena aku tidak bisa, kataku dalam hati. Tiap kali menyukai laki-laki, hal pertama yang kuingat pasti kata-kata Appa..

‘So Eun, kau boleh mencintai. Tapi kau tidak bisa memilikinya, itu tidak baik.’

aku menunduk ke bawah, “Tidak pernah” jawabku pelan

 

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa.” Jawabku lagi.

 

dia menatapku, aku yakin dengan tatapan yang aneh. Aku tersenyum tipis sambil menghela nafas. Aku kembali mengangkat kepalaku dan memandang langit dengan pandangan yang cukup mengabur, karena mataku cukup berkaca-kaca. Meratapi hidupku yang aneh. Membuatku ingin tertawa dan juga menangis.

 

Aku tertawa tidak jelas, tertawa sambil menangis. Menangis sambil tertawa. “Kau gila ya?” tanyanya.

 

Aku menatapnya dan tersenyum lebar sambil mengangguk “Hm. Aku gila” kataku. Aku merentangkan tanganku tepat saat angina kembali berhembus. Kupejamkan mataku, “Ah…rasanya seperti mabuk” teriakku.

 

Dia menepuk kepalaku tiba-tiba “Ya! kau sebetulnya mengerti tidak kenapa aku mengatakan kalau kau gila?” bentaknya.

 

Aku meringis dan memandangnya dengan tatapan galak “Aish, kenapa memangnya?”

“Kalau kau mau tertawa, ya tertawa saja. Kalau mau menangis, ya menangis saja” bentaknya lagi

 

aku mengerutkan bibirku “Kalau aku menangis, pasti kau akan memfotonya dan menyebarkannya. Saat-saat di mana aku paling jelek” ujarku

 

“Cih, tak perlu menangis juga, kau sudah jelek.” Balasnya

aku menatap ke depan dengan kesal. Dan sekali lagi secara tiba-tiba, dia mengelap bekas air mata di sebagian wajahku dengan sapu tangan. Aku menatapnya dengan heran dan mata terbelalak

 

“Yang punya masalah hidup juga bukan hanya kau saja. Tidak perlu terlalu disembunyikan. Berbagi saja dengan temanmu. “ ujarnya sambil mengelap wajahku. Aku masih menatapnya dengan mata terbelalak heran, dia balas menatapku juga “Bukankah itu gunanya teman? Tempat kau berbagi kesedihan?” lanjutnya.

 

Aku mengernyitkan dahi “Teman?” gumamku tanpa sadar.

Dia mengangguk dan kemudian menarik tangannya dari mengelap wajahku “Yah…anggap saja sebagai bayaran untuk membuat mulutmu tetap tertutup mengenai masalah tadi malam” jawabnya tanpa menatapku.

 

Untuk beberapa saat kami berdua terdiam. Aku benar-benar tidak menyangkanya, padahal kupikir awalnya dia sangat marah padaku. Kupikir ketika aku duduk di sini dia akan membentaku. Tapi jawabannya sungguh bertolak belakang dengan pikiranku. Bahkan, justru dia yang berusaha meminta maaf padaku. Yah…sekalipun tidak dikatakannya secara langsung.

 

“Lagipula, kau memang menginginkannya kan?” tanyanya tiba-tiba “Mwo?” balasku

 

“Kau menyukaiku, dan kau tidak mau hubungan kita hanya sebatas murid dan guru? Iyakan? Yah…jadi sebelum kau mengancamku karena kau sudah tahu salah satu rahasiaku, ya sudahlah…” lanjutnya menyindirku lagi.

 

“Kapan-kapan aku bilang kalau aku menyukaimu, Kim Bum-ssi? Atau jangan-jangan kau mengharapkannya?” kataku balas menyindirnya, “Huh, kau benar-benar sangat percaya diri ya?” cibirku.

 

Dia tertawa pelan, membuatku ikut tertawa.

 

“Sekalipun kau menyukaiku, kau juga tidak bisa mengungkapkannyakan? Tidak ada salahnya. Itu juga jadi lebih baik untukku” ujarnya pelan. Aku tersenyum mendengarnya

ya, aku memang tidak merasakan apapun untuk saat ini. Tapi dia benar, berteman dengannya tidak ada salahnya sama sekali. Aku menyukainya juga aku tidak perlu takut, karena aku pasti tidak akan bisa memilikinya. Hari itu aku sangat bersyukur, akhirnya Tuhan memberikanku sebuah hadiah. Teman baru, yang mau ikut mengertiku. Sekalipun disertai dengan perasaan aneh, aku bahagia karena akhirnya bisa merasakan apa itu bahagia

 

 

**********

 

“Ya, Kim So Eun! Apa-apaan kau ini? Kenapa dari tadi senyum-senyum terus?” tanya Chae Won padaku ketika aku dan dia sedang makan bersama.

 

Aku langsung tersadar “Eh? Dari tadi aku tersenyum ya?” tanyaku.

 

Chae Won mendesah “Ckck, anak ini! Aku sudah berteman denganmu bertahun-tahun, baru hari ini aku melihatmu tersenyum dengan muka memerah terus, sampai bibirmu terlihat seperti akan sobek dan mungkin wajahmu akan meledak sebentar lagi saking merahnya.Adaapa sih?” kata Chae Won.

 

Aku terdiam sesaat dan balas menatap Chae Won yang kini sedang menatapku dengan mata bulat penasaran “Aku sendiri juga tidak tahu, tapi rasanya aku bahagia sekarang” ujarku.

 

“Eh?! Jeongmalireo? Jarang sekali kau bilang kalau kau bahagia…” ujar Chae Won terheran-heran.

 

Aku tersenyum “Hm. Tapi memang itulah yang kurasakan sekarang. Neomo-neomo haengbokae! Aneh ya?” kataku lebih kepada diriku sendiri.

 

Chae Won tidak membalas senyumanku sama sekali. Dia justru menatapku dengan tambah heran “Aku tidak mengerti” ujarnya akhirnya.

 

Aku mengerutkan bibirku “Terserah kau sajalah” kataku. Aku melihat jam tanganku, sudah waktunya.

 

Aku bangkit dari kursiku “Chae Won-ah, aku duluan ya?” kataku.

 

“Mau kemana?”

 

“Mengajar, hehe” kataku cengengesan.

 

Dia menatapku tambah heran, membuatku mulai bingung. Kenapa dari tadi dia terus terheran-heran akan sikapku hari ini?

 

Waeyo?” tanyaku

 

Chae Won menggeleng-gelengkan kepalanya “Biasanya kankau selalu menggerutu kalau sudah waktunya ‘mengajar’. Astaga…Kim So Eun! Kau benar-benar aneh hari ini, ara?”

 

Aku memiringkan kepalaku, berusaha mencerna kata-kata Chae Won barusan, lalu tersenyum “Arasso! Sudah ya, Annyeong!!!!” pamitku sambil melambaikan tangan dan berjalan menajauh.

 

Aku berjalan keluar gedung pertama, menuju gedung kedua, tempat di mana perpustakaan berada. Kulihat hari ini cukup berawan, mungkin sebentar lagi akan hujan. Ketika aku sampai di perpustakaan, Kim Bum masih belum datang. Kulihat jam tanganku sekali lagi, mungkin sebentar lagi. karena kemarin dia sudah bilang kalau dia berjanji untuk datang.

 

Tapi kutunggu sampai 1 jam, Kim Bum masih belum datang. Aku memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. sampai tidak terasa sudah hampir 2 jam aku menunggunya. Aish, anak ini ke mana lagi sih?

 

Aku mengambil handphone-ku untuk menelponnya, dan sialnya, anak itu tidak mengangkatnya sama sekali. Astaga, dia serius tidak sih? Padahal dia sendiri yang berjanji untuk datang.

 

Aku berdiri dan berjalan keluar perpustakaan dengan kesal. Mungkin dia ada di tempat kemarin lagi. anak yang aneh, satu hari terlihat baik-baik saja, dan kemudian besoknya langsung menghilang. Merepotkan!

 

aku berjalan keluar perpustakaan dengan gusar dan ketika aku berada di dekat ruangan dosen fakultas bahasa, tanpa sengaja aku melihat Min Young-kyosunim dan si dosen baru yang digosipkan anak-anak akan menikah dengannya, Yoochun-kyosunim. Mereka tampak sedang meributkan sesuatu. Dan untunglah, sekarang kampus sudah cukup sepi, atau kalau tidak, mungkin akan banyak anak-anak yang akan bergosip mengenai kejadian ini. Mengingat mereka berdua adalah salah satu ‘great couple’ di kampus ini, berita pertengkaran mereka akan menarik untuk dijadikan bahan gossip. Kecuali untukku, si anak kurang pergaulan

 

Langkahku terhenti, bukan karena aku tertarik untuk mengetahui apa yang mereka ributkan, tapi karena melihat sebuah benda yang tengah dipegang Min Young- kyosunim. Itu…mirip kotak cincin yang Kim Bum berikan pada Min Young- kyosunim malam itu, tapi dia buang.

 

Aku tidak berniat untuk menguping atau mengetahui sesuatu, tapi entah kenapa tubuhku langsung bergerak ke balik salah satu dinding yang cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka. Dengan tegang, kupegang erat tali tasku dan kudengarkan percakapan mereka dengan hati-hati. Sepertinya mereka bertengkar ada hubungannya dengan Kim Bum, mungkin juga berhubungan dengan  alasan kenapa Kim Bum tidak datang ke perpustakaan hari ini.

 

Jebalyo, aku hanya ingin menyimpannya saja” kata Min Young- kyosunim.

 

“Kenapa?” tanya Yoochun-kyosunim pelan tapi terdengar dingin.

 

Min Young- kyosunim terdiam beberapa saat, “Aku tidak tega menolaknya” jawabnya pelan dan terlihat tidak terlalu yakin

 

Tatapan Yoochun- kyosunim terlihat kosong “Apa…kau masih menyukai anak itu?” tanya Yoochun- kyosunim lagi. tenggorokanku tercekat mendengarnya. Apa… Min Young- kyosunim pernah menyukai Kim Bum juga?

 

Min Young- kyosunim menghela nafas lelah “Kau tahu, itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu, jadi…”

 

“Kau bilang kau tidak menyukainya lagi pun, dia masih menyukaimu kan? Sampai menganggapku sebagai saingan” potong Yoochun- kyosunim.

Mereka masih sibuk berdebat, tapi pikiranku tidak lagi membiarkan telingaku mendengarkannya. Dengan cepat aku berlari keluar gedung menuju tempat kemarin. Sekalipun sekarang sedang hujan, aku sendiri tidak tahu kenapa, pikiranku juga tidak peduli. Yang aku tahu, aku mencemaskannya.

 

Benar saja, saat aku sampai ke tempat kemarin, aku memandangnya dari jauh. Dia sedang duduk dan bahkan tidak peduli sekalipun dia sedang basah kuyup sekarang. Dan di saat yang bersamaan, tiba-tiba aku merasa marah akan sikapnya itu. seperti orang bodoh

 

Aku berjalan di tengah hujan, mendatanginya dan langsung berdiri di depannya “Ya, Kim Sang Bum!MahasiswaByoungMoonUniversityFakultas Kedokteran! Laki-laki yang penuh percaya diri, merasa dirinya hebat-tampan-pintar dan apapun itu!” kataku dengan mata tajam saat mengatakannya.

 

Kim Bum seperti tidak mendengarku, dia hanya menatap ke bawah dengan tatapan kosong. Hal itu membuatku makin kesal “Ya, Kim Sang Bum!” teriakku.

 

Dia mengangkat kepalanya, dan ekspresi itu muncul lagi. ekspresi kesal dan terlukanya yang membuatku tidak pernah nyaman melihatnya, menatapku dengan tatapan muak.

Aku menarik tangannya untuk berdiri, dan dia mengikutinya sekalipun terlihat tidak ikhlas.

 

“Apa kalau merasa sakit juga sampai harus menyakiti diri sendiri seperti ini?” tanyaku pelan. Suaraku hampir tidak terdengar karena tertutup oleh suara hujan.

 

Dia diam, masih dengan pandangan kosong menatap ke bawah, tidak menatapku sama sekali. “Kim Bum-ssi!” bentakku.

 

“Ya! aku ingin menyakiti diri sendiri, lalu kenapa?!” balasnya ikut membentak juga, membuatku terdiam.

 

“Kau bilang kau tidak tahu rasanyakan? Karena kau belum pernah melakukannya” ujarnya “Aku akan membuatmu mengetahuinya” lanjutnya pelan dengan mata yang berkilat-kilat emosi.

 

Aku mengernyitkan dahi. “Katakan kau menyukaiku, sekarang” ujarnya lagi.

Mworago?”

Dia menatapku tajam “Kau menyukaikukan?” tanyanya.

 

Aku terdiam, tenggorokanku tercekat. Kenapa begitu sulit untukku mengatakan ‘tidak’ ketika dia menanyakannya saat ini? Aku menelan ludahku, agar mulutku kembali bisa berbicara “Apa maksudmu? Aku tidak pernah…”

 

“Kalau begitu untuk apa kau datang ke sini?” potongnya, dan sekali lagi membuatku terdiam.

 

“Apa kau mencemaskanku?” aku masih diam tidak berani menjawabnya, “Berarti kau menyukaikukan?” lanjutnya.

 

“Pergi. Jangan temui aku lagi. aku sudah berkali-kali mengatakannyakan, padamu? Kau bukan tipeku, perempuan bermasalah” ujarnya pelan.

 

Aku masih diam untuk beberapa saat “Kim Bum-ssi, aku benar tentang satu hal, kau benar-benar laki-laki yang kejam. Dan satu lagi, pengecut” kataku tajam

 

“Apa kau benar-benar berpikir aku menyukaimu? Menyukai laki-laki pengecut yang hanya karena ditolak perempuan yang disukainya, menyakiti dirinya sendiri lalu…”

 

“Tutup mulutmu. Kau yang tidak tahu bagaimana rasanya, bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku pengcut karena…” dia memotong perkataanku, dan kali ini aku membalasnya

“Kau pengecut!” teriakku.

 

Dia diam, tidak terlihat terkejut atau apa. Hanya diam. “Kau bilang jangan menemuimu lagikan? Baiklah! Aku tidak akan menemuimu lagi” kataku terakhir kalinya dan berbalik, kembali berjalan memasuki gedung.

 

Aku hampir tidak merasakannya, tapi baru sekarang aku menyadarinya. Kalau aku menangis. Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi rasanya sekarang aku benar-benar marah, kesal dan merasa tidak terima, dan aku merasa jauh lebih sesak. Benar-benar sulit bernafas. Apa dia pikir aku datang ke sini adalah karena keinginanku? Yang benar saja…

 

Aku tidak berniat melihat ke belakang lagi, tidak berniat melihatnya lagi. tapi sekali lagi, tubuhku bergerak sendiri. Aku memutar kepalaku untuk melihat ke belakang. Dia kembali duduk di tengah lapangan di tengah hujan seperti ini

 

Babo” gumamku pelan. Aku kembali berjalan memasuki gedung, dan ketika sampai, aku terkejut. Karena ada seseorang yang sepertinya sudah menungguku sejak tadi

 

Kyosunim” ujarku pelan saat aku melihat Min Young-kyosunim sudah berdiri di depanku.

 

Dia tersenyum dan memberikan sesuatu padaku, sebuah payung. “Kau ingin kembali kesanalagikan? Pergi dan berikan ini padanya” katanya pelan.

 

Kyosunim, aku…” kata-kataku langsung terputus karena kyosunim langsuung memotongnya

 

“Kalau kau menyukai seseorang, sekalipun orang itu berkata dia tidak akan pernah membalasmu. Apabila dia sedang kesulitan, berada di dekatnya tidaklah salah. sekalipun hanya menjadi bayangan, perasaannya tidak akan sesakit seperti saat kita ditolak. Karena kita masih bisa melindungi orang itu. kau tidak bisa menerimanya begitu saja kan? Melihatnya menyakiti diri sendiri seperti itu, kau pasti tidak tega” kata Min Young- kyosunim

 

Aku menelan ludahku, Min Young-kyosunim di mataku saat ini…terlihat sangat mengerti tentang Kim Bum. Berbeda denganku yang tidak tahu apa-apa, tapi mencemaskannya di saat bersamaan, “Kyosunim…sudah lama menyukai Kim Bum?” tanyaku pelan.

 

Dia tersenyum tipis “Kau cemburu?” tanyanya.

Wajahku merona seketika. Aku langsung mengibas-ngibaskan tanganku “Ani, anieyo. Geunyang….”

 

“Tidak perlu khawatir, dia menyukaiku pun dia tidak akan bisa memilikiku. Dia tidak akan pernah bisa memiliki orang yang disukainya” potong Min Young- kyosunim pelan.

 

Aku tertegun. Kata-katanya barusan seperti menghipnotisku dan membuatku menjadi sangat yakin, bahwa Kyosunim benar-benar pernah menyukai Kim Bum. Sampai bisa mengerti dia, benar-benar berbeda denganku. Apa…aku benar-benar cemburu sekarang?

 

Dia kembali menyodorkan payung itu padaku yang masih tercengang “Berikan ini padanya, dan tolong…” Kyosunim merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu “…bisakah kau menyimpan ini?” pintanya sambil menyodorkan sebuah kotak cincin.

 

Mataku terbelalak, aku tidak bisa menerka apa maksudnya sama sekali. Kenapa dia menyuruhku menyimpan hadiah dari Kim Bum ini? “Kyosunim, inikan…”

 

“Yoochun-ssi melarangku memilikinya. Tapi aku tidak bisa menolaknya dan mengembalikannya” dia memandang ke balik punggungku, mengintip ke tengah lapangan “Anak itu sudah terlalu sedih. Dan aku tidak mau menambahkan bebannya sekalipun aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan” ujarnya pelan.

 

Kalau begitu, kenapa malam itu dia menjatuhkan kotak cincin ini di depan orangnya? Bukannya itu jauh lebih kejam? Pikirku, tapi aku tidak mengatakannya “Kyosunim, aku tidak mengerti masuk anda dari tadi” jawabku.

 

Min Young- kyosunim kembali tersenyum “Bisakah tolong kau simpan ini?” pintanya sekali lagi.

 

Aku masih tidak mengerti, tapi tanganku bergerak untuk mengambil kotak cincin itu. aku memegangnya dengan hati-hati dan menatap kotak cincin itu baik-baik. Ya, kenapa aku mau menerimanya?

“Dan satu lagi, Kim So Eun” kata Min Young-kyosunim, aku mengangkat kepalaku “Eh?”

 

“Lupakan Kim Bum segera” ujar Min Young- kyosunim serius, aku mengernyitkan dahi.

“Kau membuatnya menyukaimu juga percuma, dia tidak akan bisa memilikimu. Sebelum kau merasa lebih sakit, lebih baik kau mengehentikan perasaanmu sendiri sekarang” lanjutnya.

 

Aku memandangnya dengan semakin heran “Aku benar-benar tidak mengerti maksud anda dari tadi. Kenapa Kim Bum-ssi…tidak bisa melakukannya? Bukannya dia berusaha mendapatkan anda? Itu berarti, dia bisa memilikinyakan?” tanyaku bingung

 

“Dia melakukannya untuk melupakanku.” Ujarnya pelan dan terlihat sedih. Sebetulnya apa yang ingin dikatakannya sejak tadi? Yang aku tahu dan maksudnya yang bisa kutangkap adalah, dia menyuruhku memberikan payung ini dan menyimpan cincin ini.

 

“Karena itu, lupakanlah Kim Bum segera. Aku adalah buktinya” ujarnya lagi dan kemudian berbalik lalu berjalan meninggalkanku.

 

Aku menatap kotak cincin yang sedang kupegang. Kim Bum menyukai Min Young- kyosunim, dan sepertinya Kyosunim juga membalasnya. Kalau begitu kenapa masih ada yang tersakiti? Apa mungkin kalau Min Young- kyosunim masih menyukai Kim Bum
? berarti…Yoochun-kyosunim hanya pelarian, begitu?

 

Aku masih tetap tidak mengerti. Aku membalikan badanku, melihat pemandangan di luar pintu kaca. Hujan masih belum berhenti. Kutatap payung yang kini sedang berada di tanganku. Aku menghela nafas. Kumasukkan kotak cincin itu ke dalam tasku, dan kubuka pintu kaca. Ketika berada di luar, aku langsung membuka payung yang sedang kupegang.

 

Aku kembali berjalan ke tempatnya. Babo, padahal tadi aku bilang kalau aku tidak akan pernah menemuinya lagi. kenapa hanya karena seorang profesor menyuruhku melakukan ini untuknya, aku mau saja menurutinya? Ataukah ini benar-benar apa yang ingin kulakukan?

 

Aku kembali duduk di sampingnya, dan memayunginya. Membiarkan diriku sendiri jadi basah kuyup, tapi melindunginya dari hujan.

 

“Bukannya kau bilang kau tidak akan menemuiku lagi?” tanyanya.

 

‘Aku juga tidak tahu kenapa aku datang ke sini lagi’, batinku. Aku menatap lurus ke depan “Aku datang ke sini, bukan sebagai orang yang menyukaimu, tidak seperti tadi” jawabku.

 

Kim Bum menoleh, menatapku dengan tatapan heran. Aku tidak membalasnya dan masih terus menatap lurus ke depan “Aku datang ke sini sebagai ‘teman’” lanjutku.

 

“’Teman’?”

 

aku memutar kepalaku dan kali ini membalas tatapannya, “Kau yang sendirikanyang bilang? Yang punya masalah hidup juga bukan hanya diri kita sendiri, tapi semua orang. Tidak perlu terlalu disembunyikan. Berbagi saja dengan temanmu, karena itu gunanya temankan?” lanjutku lagi dan kembali menatap lurur ke depan.

 

Cukup lama kami berdua duduk terdiam disana. Dan perlahan, perasaan kesal dan marahku seperti berkurang. Memang masih terasa sesak, tapi rasa marahku seperti berkurang. Aku kembali teringat akan kata-kata kyosunim barusan

 

Kalau kau menyukai seseorang, sekalipun orang itu berkata dia tidak akan pernah membalasmu. Apabila dia sedang kesulitan, berada di dekatnya tidaklah salah. sekalipun hanya menjadi bayangan, perasaannya tidak akan sesakit seperti saat kita ditolak. Karena kita masih bisa melindungi orang itu

 

kata-katanya mungkin benar. Perasaanku tidak sesakit barusan. Aku sendiri merasa lega, karena aku bisa melindunginya. Aku bisa menjadi orang pertama yang melihatnya bersedih hari ini. Dan aku masih bisa berada di sampingnya.

 

Pandanganku kembali mengabur, tertutup oleh genangan air mata yang masih menggantung di mataku dan tidak kubiarkan jatuh. Dia tidak tahu itu. Perasaan aneh yang kurasakan menjadi semakin besar, dia pun tidak tahu. Betapa aku merasa kedinginan saat ini, dia juga tidak tahu. Aku pun tidak sadar, karena yang aku tahu sekarang, hanyalah aku harus melindunginya.

 

Kim Bum menarik lenganku tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunan. Dia memaksaku mengikutinya.

 

Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan lenganku dari genggamannya, tapi dia terlalu kuat. Dia terus saja menarikku tanpa memperdulikan usahaku melepaskan diri. Ketika kami berada di depan gedung, dia langsung menarik pintu kacanya dan mendorongku masuk.

 

Aku meringis pelan, ada apa lagi dengannya?

“Kenapa kau mau berada disanaseperti tadi? Kenapa kau terus memayungiku?” tanyanya pelan tapi tajam. Aku diam dan menatap ke bawah, tidak tahu harus menjawab apa.

 

“Teman? ‘Hanya sebagai teman?’” sindirnya “Memuakkan sekali”

 

aku mengangkat kepalaku, masih dengan mataku yang berkaca-kaca “Kalau begitu kenapa Kim Bum-ssi harus berada di sana? Apa begitu caramu melupakan kyosunim? Hanya menyakiti diri sendiri, dan….”

 

“Kenapa kau harus melakukannya demi aku?” potongnya. “Bodoh” desisnya

 

“Apa kau benar-benar bodoh? Siapa sebetulnya yang merasakan sakit? Kenapa kau harus menanggungnya? Ini apa yang kurasakan sendiri, perasaan sakitku sendiri. Apa urusanmu menanggungnya?” lanjutnya.

 

“Yang ingin melupakan Park Min Young itu aku, bukan kau!” teriaknya tiba-tiba, membuatku kepalaku terangkat secara otomatis karena terkejut. Nafasnya tidak beraturan, seolah teriakannya tadi membutuhkan hampir seluruh kekuatannya yang tersisa sekarang. Dan aku? Hanya bisa menatapnya tanpa melakukan apapun.

 

“Yang ditolak itu aku! Bukan kau! Apa kau bodoh? Untuk apa kau dari tadi berada di situ bersamaku?” bentaknya lagi.

 

aku menggigit bibirku pelan, berusaha menahan tangis. “Bukan hanya Kim Bum-ssi saja” kataku pelan. Dia mengernyitkan dahinya bingung, dan menatapku dengan tatapan meminta penjelasan.

 

Kuberanikan diri menatap tepat ke matanya, meskipun mungkin itu akan membuat air mataku benar-benar jatuh, “Bukan hanya Kim Bum-ssi saja yang hari ini ditolak” kataku lagi.

 

“Bukannya aku juga begitu? Bukannya tadi Kim Bum-ssi baru saja menolakku? Jadi, wajarkankalau aku juga berada di situ?” lanjutku

 

“Jangan mencari alasan. Kau bilang kau tidak menyukaikukan? Kenapa tiba-tiba kau bilang begitu?” ujarnya “Atau…kau benar-benar menyukaiku?” lanjutnya pelan.

 

Aku menghela nafasku dan mencoba untuk menatapnya dengan tajam “Kau tidak percaya?” tanyaku “Padahal aku baru menyadarinya ketika Kim Bum-ssi mengatakannya”

 

Dia masih menatapku dengan bingung “Tidak usah berputar-putar. Apa yang sebetulnya ingin kau katakan sejak tadi? Apa maksudmu berada di situ bersamaku? Pertama kau bilang tidak menyukaiku, dan begitu datang lagi, kau bilang kau merasa ditolak. Apa…”

 

“Berhenti melakukannya” potongku, membuatnya bertambah heran

 

Mworago?” ujarnya “Ya, Kim So Eun. Siapa kau sebetulnya? Keluargaku? Pacarku? Kau hanyalah perempuan yang menyukaiku, sama seperti yang lain. Berhenti mengkhawatirkanku dan berhenti membuatku bingung. Pergi dariku dan jangan temui aku lagi, aku sudah mengatakannyakan?”

 

“Ya kalau begitu berhenti melakukannya! Berhenti menyakiti dirimu sendiri, dan kembali! Kalau kau benar-benar ingin membuatku berhenti mengkhawatirkanmu!” bentakku dan kali ini…air mataku jatuh tanpa bisa kutahan

 

“Aku melakukannya untuk melupakannya! Karena itu biarkan aku sendiri untuk sementara dan jangan menemuiku dulu! Apa kau mengerti? Tidak perlu mengkhawatirkanku, dan tidak perlu menanggungnya. Tapi sejak tadi kau…” Kim Bum ikut membentakku juga, tapi aku memotongnya

 

“Kaulah yang sebetulnya membuat orang bingung, Kim Bum-ssi!” potongku “Kau bilang pergi darimu, lalu kau bilang hanya untuk sementara. Kau bilang hanya sebatas guru dan murid, lalu kemudian kau bilang teman. Apa maksudmu sebetulnya?!” teriakku lagi.

 

“Jangan seenaknya mempermainkan perasaan orang! Kau yang seharusnya berpikir siapa kau sebetulnya? Seenaknya membuat orang lain bingung, marah dan cemas. Karena itulah aku menyuruhmu berhenti melakukannya!”

 

Tindakanku tadi sukses membuatnya terdiam. Dia tidak lagi mengatakan apa-apa. Aku memejamkan mataku sesaat dan menarik nafasku perlahan. Aku setidaknya harus bisa menenangkan diriku sendiri saat ini. Ini benar-benar bukan aku, perasaankulah yang membuatku menjadi seperti ini.

 

Setelah beberapa lama kami terdiam, Kim Bum tiba-tiba mengatakan “Miyanh” ujarnya pelan.

 

Dia mengangkat kepalanya dan memandangku dengan tatapan yang tidak kumengerti maksudnya, “Geuligo…” Kim Bum menarik payung yang sedang kupegang “Gomawo

 

Dia segera meninggalkanku dan berjalan keluar. Dia kembali ke tempatnya berada tadi, tengah lapangan yang masih dibasahi oleh hujan yang sampai saat ini belum berhenti. Tapi kali ini, dia memayungi dirinya sendiri. Aku menghela nafas lega melihat pemandangan itu, dan tersenyum tipis. Aku berbalik dan mulai berjalan ke arah berlawanan.

 

**********

 

“Hachimmm!” aku menyedot ingusku pelan. Aku merapatkan selimut yang kugunakan untuk menghangatkan tubuhku. Kutatap keluar jendela kamarku, hujan sudah berhenti sejak beberapa jam yang lalu, tepat ketika aku sampai di rumah. Tapi sekalipun hujan sudah berhenti, awan masih enggan untuk pergi dari langit. Menambah kegelapan malam tanpa adanya cahaya bintang sedikit pun.

 

“Hachimmm!” aku bersin lagi. kuambil beberapa lembar tisu yang kebetulan berada di dekatku. Ketika aku sampai di kamarku, aku tidak bisa sedikit pun berhenti bersin. Meskipun sudah lewat beberapa jam, tapi aku merasa seperti masih berada di bawah hujan deras tadi, kedinginan. Tubuhku tidak bisa berhenti menggigil. Karena itulah aku sampai menggunakan selimut untuk menghangatkan diri. Harapanku satu-satunya hanyalah, semoga aku tidak sampai flu. Itu akan benar-benar merepotkan.

 

Mengingat hujan itu lagi, otakku kembali memikirkan tentang Kim Bum. setelah aku pergi tadi, sampai jam berapa dia berada di situ? Dia tidak akan sakit hanya karena hujan seperti itu kan? apa dia benar-benar menggunakan payung yang diambilnya tadi? Dan sebetulnya ada masalah apa lagi antara dia dan kyosunim?

 

Aku kembali merenung tentangnya dan yang kuingat adalah ekspresinya ketika mengatakan ‘Gomawo’ padaku. Dan anehnya, bibirku langsung otomatis menyunggingkan senyuman. Hanya karena kata-kata ‘Gomawo’-nya saja, aku merasa tersentuh. Anehkan?

 

‘Cklek!’ suara pintu kamarku terbuka, kepalaku secara otomatis langsung menoleh ke arah pintu kamarku. Dan yang masuk adalah, kakakku beserta 2 temannya yang berbadan besar dan berbaju hitam. Aneh, tidak biasanya dia membawa tamu ke dalam kamarku.

 

Aku langsung berdiri, selimutku terlepas begitu saja “Oppa” gumamku.

 

Seperti biasanya, begitu datang ke kamarku, dia langsung melewatiku dan berjalan menuju ke pinggir jendela. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku, dan ekspresi datarnya.

 

Pikiranku kosong, aku tidak bisa menebak untuk apa Oppa datang ke sini. Setahuku aku tidak menimbulkan ‘masalah’ apapun lagi belakangan ini.

 

Kuberanikan diri untuk membuka mulut, karena dia masih saja tetap diam “Oppa…ada apa?”

 

Dia mulai berjalan lagi, mengelilingi kamarku, tanpa mengacuhkanku sama sekali. Dan langkahnya terhenti ketika sampai di meja belajarku. Bahkan sampai detik itu aku masih tidak mengerti apa yang ingin dilakukannya.

 

“Kalian keluar dulu saja dan berjaga di depan pintu kamar. mulai sekarang pastikan So Eun selalu berada di sini. “ ujarnya pada 2 temannya yang dibawanya masuk tadi. Kedua orang berbadan besar itu menunduk dan berjalan keluar kamarku.

 

Aku menatapnya dengan semakin heran “Oppa, apa maksudmu? Kenapa aku tidak bisa keluar kamar? Lalu bagaimana kuliahku?” tanyaku beruntun.

 

Dia menatapku tajam “apa kau masih tidak sadar? Bahkan ketika aku sudah berada sedekat ini. Kau masih tidak mengetahui letak kesalahanmu?” jawabnya balas bertanya.

 

Aku mengernyitkan dahi, berusaha mengartikan maksudnya. Ya, aku benar-benar tidak mengerti. Sampai akhirnya, Oppa-ku itu menarik laciku dan mengambil sesuatu keluar dari situ.

 

Dia mengacungkan benda yang baru saja diambilnya. Itu…map kuning, “Kenapa kau masih menyimpannya?” tuntutnya.

 

Mataku terbelalak. Astaga…kenapa aku tidak menyadarinya? Bahkan setelah Oppa berada sedekat itu. harusnya tadi aku berlari ke meja belajarku dan langsung merebutnya begitu saja. Atau mungkin seharusnya laci meja belajarku itu kukunci. Atau yang paling aman adalah aku tidak menyembunyikan benda itu di kamar. Mungkin di kampus atau di mana, setidaknya di tempat yang tidak mungkin Oppa akan tahu.

 

Otakku membeku seketika “Oppa, aku hanya menyimpannya, tidak…”

 

“Aku sudah mengatakannya dengan jelas berkali-kalikan, setiap kau mulai membuat masalah? kau tidak bisa membohongi darahmu sendiri, So Eun” potongnya.

 

Emosiku kembali memuncak. Kenapa dia harus selalu-selalu-selalu dan selalu mengatakan hal itu? aku tidak mengerti, “Oppa, bisakah kau membuatnya tidak terlalu jelas?” tanyaku.

 

“Aku harus membuatnya jelas, agar kau mengerti”

 

“Aku mengetahuinya pun, aku tidak mau mengerti!” teriakku dan berjalan mendekatinya. Kurebut map kuning itu darinya dengan kasar, dia tidak menahannya sama sekali “Kenapa aku tidak bisa membohonginya? Bukankah hidupku sendiri penuh dengan kebohongan? Sekelilingku dipenuhi dengan orang-orang yang selalu berbohong, Appa, Oppa, apakah kalian berdua pernah melakukan sesuatu tanpa berbohong? Menyembunyikan identitasku, apakah itu bukan kebohongan?” ujarku dengan nada tinggi, karena aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.

 

Oppa diam menatapku, tidak dengan tatapan emosi atau marah atau tersinggung sedikit pun. Hanya menatapku, dengan tatapan biasa “Sepertinya berada di luar rumah benar-benar memberi pengaruh buruk padamu, So Eun” gumamnya pelan.

 

Aku mendengus, “Justru berada di rumahlah yang membuatku menjadi seperti ini”

 

Jaejoong Oppa menghela nafas, lalu melipat tangannya, jauh lebih serius daripada tadi. “Ini peringatan terakhirku, So Eun. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu keluar lagi. 3 bulan Appa pergi sepertinya membuatmu merasa benar-benar bebas ya? aku masih berusaha bersikap baik, tidak sekeras Appa. Tapi kalau kau menginginkannya, aku juga bisa melakukannya” ujarnya tajam

 

“Sekeras inikah Oppa berusaha menekanku? Berusaha menghancurkan harapanku?” kataku menantang, “Atau…sebetulnya Oppa melakukannya hanya karena takut pada Appa?”

 

Dia tersenyum tipis. Dia merebut lagi map kuning yang masih kupegang, dan aku hanya melepaskannya begitu saja. Oppa mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam situ, dan kemudian merobeknya. Merobeknya tepat di depan mataku. Benar-benar tepat, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil dan melemparkannya keluar jendela kamarku. Serpihan-serpihan itu pun pergi dan menghilang ditiup angin.

 

Aku melihatnya. Aku tidak kuat lagi berdiri. Aku merasa seperti seolah harapanku juga sudah dirobek hingga menjadi kecil-kecil seperti kertas itu, dan kemudian ditiup pergi oleh angin malam yang dingin. Benar-benar dingin.

Oppa menatapku dingin, “Sudah jelaskan?”

 

Aku menarik nafasku perlahan, berusaha menahan emosiku dan berusaha menahan air mataku agar tidak keluar sedikit pun. Bahkan mataku berkaca-kaca pun aku tidak mau. Aku balas menatapnya tidak kalah dingin darinya “Hanya itu? hanya itu yang bisa Oppa lakukan?” kataku kembali menantang.

 

Mulutnya sudah terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian handphone di sakunya bergetar. Oppa mengambilnya dan mengangkat telepon itu, berjalan cukup jauh dariku.

 

Ketika Oppa sudah berada cukup jauh dariku, aku menarik nafasku perlahan. Dan air mataku keluar. Kugigit bibirku dan kukepalkan tanganku kuat-kuat. Berusaha agar setidaknya isakanku tidak terdengar sama sekali.

 

Aku kalah, aku tidak pernah bisa menang dari Oppa. Tapi setidaknya walaupun aku sudah mengetahui hasil akhirnya dari awal, walau hanya sekali aku ingin terlihat kuat di hadapannya, agar dia tidak bisa menekanku. Tapi aku benar-benar tidak bisa, aku terlalu lemah. Karena begitu Oppa tidak ada, air mataku langsung turun dengan derasnya.

 

“…Jam 2 pagi nanti. Di tempat barang rongsokan di Daegu. Jangan sampai ada yang mengikuti kalian. Kita tidak bisa melakukannya di pelabuhan hari ini, karena….” Jaejoong Oppa masih sibuk menelpon, memberikan kesempatan untukku mengeluarkan air mata lebih banyak.

 

Ketika dia sudah selesai, Oppa langsung berjalan menjauhiku, menuju pintu kamarku. Dan tiba-tiba, aku mendengar suara langkahnya terhenti ketika hampir sampai di dekat pintu kamarku.

“So Eun” panggilnya.

 

Aku menghapus bekas air mataku lalu berbalik menghadapnya. Untunglah kamarku cukup gelap, karena sebagian lampunya tidak kunyalakan, jadi aku yakin Oppa tidak akan bisa melihat bekas air mataku dengan jelas.

 

Oppaku itu berdiri di dekat pintu kamar, tidak menatapku, badannya membelakangi posisiku berdiri. Dia diam menatap dinding di dekat pintu kamarku, yang dipenuhi oleh foto-fotoku, yang semuanya hanya terdiri dari fotoku bersama Chae Won dan Eomma. Tidak ada satupun dari situ tampak fotoku dengan Appa ataupun Oppa.

 

Oppa menunjuk salah satu gambar fotoku dengan Chae Won, “Apa yang akan terjadi kalau dia tidak ada?” tanyanya pelan.

Perasaanku tidak enak. Dari nada bicaranya, aku yakin Oppa tidak hanya sembarang mengatakannya. “Oppa, apa maksudmu?”

 

“Kudengar keluarganya yang tersisa hanyalah ibunya yang sakit-sakitan. Apa yang akan terjadi pada ibu itu apabila anaknya tiba-tiba menghilang?” lanjutnya lagi.

aku berjalan mendekati Oppa, membalikan badannya dengan paksa menghadapku. Dan menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan.

 

“Kau tidak mau itu terjadikan?” tanyanya.

 

Mataku melebar, aku mengerti apa maksudnya. “Oppa, jangan Chae Won! Dia tidak ada hubungannya. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun selama aku berada di sini!” teriakku emosi.

 

Jaejoong Oppa tersenyum tipis “Itu tidak akan terjadi, kalau kau benar-benar menurutiku dan berjanji untuk tidak meninggalkan kamar ini selangkah pun, sampai Appa pulang. Kalau kau melakukannya,…” dia kembali menunjuk salah satu foto Chae Won “…aku bisa saja melenyapkannya, dariSeoul, dariKorea…atau bahkan dari dunia ini. Dia menyukaikukan? Mudah saja memancingnya” ancamnya.

 

“Tidak boleh! Hanya karena Chae Won menyukai Oppa, Oppa tidak bisa mendekatinya sedikit pun. Dia temanku dan aku akan melindunginya! Oppa tidak boleh menyakitinya sedikit pun!” teriakku lagi.

 

Jaejoong Oppa berjalan menuju tempat tidurku, dan mengambil handphone-ku yang kuletakan disana“Kalau begitu cukup berada di sini, dan jangan berani untuk keluar selangkah pun” Oppa membuka pintu kamarku, dan menguncinya dari luar.

 

Aku langsung jatuh terduduk dengan lemas. Sebetulnya sejak Oppa menyebutkan nama Chae Won tadi, aku sudah tidak kuat. Aku tidak bisa membayangkan kalau Oppa benar-benar melakukannya. Apa yang akan terjadi pada Ahjummoni nanti kalau Chae Won tidak ada? Tapi tidak hanya itu, apa aku sanggup sendiri kalau tidak ada Chae Won? Yang benar saja.

 

Tapi di lain pihak, aku pasti tidak akan tahan berada terus di kamar ini, di rumah ini. Aku benar-benar salah, sangat salah. Seharusnya benda itu tidak kuletakan di kamar ini. Bagaimana bisa aku lupa akan kebiasaan Oppaku itu? Ah, jeongmal…!

 

Aku berusaha berdiri sekalipun itu sangat susah. Kugerakan kakiku untuk melangkah menuju tempat tidurku. Ketika sampai, aku langsung berbaring, tapi mataku tak bisa terpejam sama sekali. Benar-benar tidak bisa. Aku duduk di tepi tempat tidurku, menatap keluar jendela, kembali menatap langit.

 

Awan masih enggan untuk pergi dari situ. Entah sampai kapan kumpulan awan itu akan menyembunyikan cahaya bintang dan bulan malam ini. Sama sepertiku, entah sampai kapan hidupku akan selalu ditutupi awan hitam seperti ini? Tidak ada yang tahu.

 

Perubahan apa yang bisa kuharapkan? Oppaku selalu menutup pintu harapan itu dan menghancurkannya. Appa juga tidak jauh berbeda, malah lebih parah. Kata-kata Oppa memang ada yang benar. Masih lebih baik kalau dia yang mengetahuinya, daripada Appa yang tahu. Tapi bukan berarti itu juga akan jadi lebih baik. itu hanya akan menjadi tidak terlalu buruk. Apa artinya sama? Jelas beda.

 

Kutatap sekeliling kamarku. Untuk beberapa hari ke depan hanya pemandangan inilah yang akan selalu kulihat. Tidak, bukan hanya untuk beberapa hari ke depan. Itu juga akan menjadi tempat tinggal abadiku kalau aku sudah tamat. Aku tidak berani membayangkannya. Membayangkan diriku sendiri membusuk di sini.

 

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, dan mataku tidak bisa tertutup sedikit pun. Pikiranku kosong. Apa hidupku akan selalu seperti ini? Terkurung di kamar ini, di rumah ini. Sendirian, tanpa ada satupun yang bersamaku, melindungiku. Semua orang di rumah ini menghormati dan melindungiku hanya karena dibayar dan mereka takut pada orang tuaku. Yang aku maksud adalah, melindungiku dalam arti sesungguhnya. Karena orang itu menyayangiku atau bagaimana. Yang bisa kulakukan untuk menghabiskan sisa hidupku yang masih banyak hanyalah sendiri-sendiri dan sendiri. Pilihan lain yang mungkin bisa kuambil hanyalah bunuh diri. Tapi aku juga setidaknya ingin merasakan benar-benar hidup sebelum aku mati. Aku belum mau bunuh diri. Sekalipun sulit dan berat, aku masih ingin mencoba sebelum mengambil pilihan terakhir itu.

 

Sekali lagi kutatap sekeliling kamarku. Dan tiba-tiba tatapanku terhenti pada lemari pakaian yang terletak di salah satu sudut kamarku. Tepat di sebelahnya, aku melihat ada sebuah koper kecil yang sudah usang karena sudah terlalu lama kubiarkan tertaruh di situ.

 

Sebuah pemikiran langsung terlintas di kepalaku. Sebutulnya ini rencana lama, tapi aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak berani. Tapi kalau malam ini? Entah kenapa keberanian yang kuat tiba-tiba muncul dari dalam diriku. Kukepalkan tanganku kuat-kuat dan kemudian membulatkan tekad. Kulangkahkan kakiku mendekati lemari pakaianku itu.

 

*******

 

in Dem Sie hinunter, Fräulein? (di mana anda inginn turun, nona?)”

 

“Eng…… der Nähe der Kreuzung, Bitte (di dekat persimpangan itu, tolong)”

 

Seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun yang tadi menanyaiku pertanyaan pertama itu mengangguk dan mengarahkan  mobil menuju tempat yang kutunjuk.

 

Setelah sampai, dia kembali menoleh ke arah jok belakang, tempat aku duduk dan menatapku dengan mata birunya yang sangat khas.

 

erhalten wir (kita sudah sampai). Sie können hier herunter kommen, Fräulein (Anda bisa turun di sini, nona)” ujarnya

 

aku menatap keluar kaca mobil sesaat, lalu membalas tatapan laki-laki Jerman itu “Danke (terima kasih)” ujarku lalu menyodorkan setumpuk uang dolar padanya.

 

Dia mengambil uang dolar yang kusodorkan itu dan menatapnya sesaat “Ein angemessenes Maß (Jumlah yang pantas). Vielen Dank, Fräulein (terima kasih banyak, nona)”

 

Aku membuka pintu mobil dan segera keluar dari mobil Jeep hitam itu. begitu aku turun, mobil Jeep itu pun segera pergi meninggalkanku di sebuah persimpangan tidak jauh dari kampusku. Sekarang masih cukup pagi, tempat ini masih cukup sepi.

 

Karena itulah, tidak ada satupun orang yang merasa heran dengan pakaian yang kukenakan beserta barang bawaan yang kubawa. Baju yang kukenakan hanyalah baju kaos biasa dengan celana jins dan kulapisi dengan jaket hitam. Sedangkan rambutku kuikat asal dan aku juga memakai topi untuk menutupi wajahku. Penampilanku cukup berantakan, karena aku juga tidak terlalu memperdulikannya dan untungnya di sini masih tidak terdapat banyak orang yang mungkin akan mengomentari penampilanku yang berantakan ini apabila mereka melihatnya.

 

Aku membawa sebuah koper yang berukuran sedang, tidak  banyak yang kubawa. Hanya beberapa yang memang kuanggap penting dan kubutuhkan, tak lupa dengan sebuah tas selempang yang berguna  untuk menaruh benda-benda kecil. Dan juga untuk menaruh uang.

 

Kuhirup udara pagi itu sambil memejamkan mata, berusaha menikmatinya. Inilah pertama kalinya aku keluar dari rumah itu tanpa ada yang mengikutiku dan mengawalku. Jujur saja, awalnya aku merasa sedikit ada yang janggal. Tapi kejanggalan itu menarik, karena aku merasa janggal dengan kebebasanku ini.

 

“Hachimm” kusedot ingusku pelan, lalu…”hachimm” aku kembali bersin. Dengan gusar kuambil selembar tisu dari tas selempangku. “Aish…jinja…” ujarku

 

efek dari hujan kemarin ternyata masih bersisa. Aku memutuskan untuk tidak memperdulikan hal itu dulu pertama kali, sekarang aku harus bisa secepatnya mendapatkan tempat tinggal, karena berada di luar terus bukanlah merupakan hal yang aman. Apalagi kalau Oppa sudah menyuruh ‘teman-temannya’ keluar untuk mencariku. Bakal merepotkan.

 

Kuambil sebuah koran iklan yang kudapatkan dari laki-laki Jerman yang tadi memberiku tumpangan. Aku sebetulnya tidak kenal dengan laki-laki itu, aku menemuinya ketika sedang mengendap-ngendap keluar rumah. Dia tampak sedang kebingungan saat itu, karena uang bosnya hilang. Padahal uang itu adalah uang yang akan dipergunakan untuk melakukan sebuah transaksi. Aku mencelos dalam hati ketika mendengarnya, laki-laki Jerman yang lugu. Sudah tahu rumah itu penuh dengan orang-orang yang suka berbohong, bisa-bisanya dia selengah itu hingga uang bosnya hilang.

 

Karena merasa kasihan dengan tampangnya yang sangat memelas, akhirnya aku bersedia mengganti uangnya yang hilang itu, asalkan dia bisa membawaku keluar dari situ. Dia sepertinya masih belum tahu identitasku sebenarnya, dan tentu saja dia bersedia. Dengan satu syarat lagi, dia tidak boleh mengatakan kepada siapapun, bahwa dia sudah memberi tumpangan kepada seorang perempuankoreayang dia temui di rumah itu. orang itu mengangguk setuju.

 

Dan yang kuberikan padanya tadi, adalah uang bonus. Dengan begini persediaan uang dolar-ku sudah habis. Sudahlah, toh aku masih memiliki sejumlah uang yang berlaku di negara ini, Won.

 

Aku mulai membuka koran iklan itu dan mencari-cari apartemen kosong. Mataku langsung menangkap tulisan sebuah apartemen kosong yang tidak jauh dari sini. Aku tersenyum kemudian memasukan koran itu ke dalam tasku dan menarik koperku mengikutiku berjalan menyusuri jalanan yang masih sepi itu.

 

*********

 

“Ah…Jesongeo, ahgassi. Baru saja 2 minggu yang lalu ada seorang karyawan kantoran yang menyewanya”

 

Bahuku melorot, sialnya aku. Aku telat 2 minggu untuk datang ke sini. “Oh, iya. Baiklah, Ahjummeoni, tapi apa masih ada tempat lain yang kosong?” tanyaku masih berharap

 

“Kamar itu adalah satu-satunya kamar yang kosong, sekali lagi jesongeo” ucapnya.

 

Aku menghembuskan nafasku pelan, kemudian mengangguk pasrah. “Ya sudah, kalau begitu….”

 

Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, handphone yang terletak di saku celana Ahjummeoni itu berbunyi. Dia mengangkatnya dengan terburu-buru sambil berjalan menjauhiku.

 

Ahjummeoni itu ribut dan berteriak-teriak ketika sedang bertelponan “Ya! neo jinja babo!!!! Bagaimana bisa kau melakukannya?! Aku tidak punya uang untuk menebusmu dan mengeluarkanmu dari penjara!,…..Ya,ya, tidak peduli kau sengaja atau tidak, tapi kau sudah melakukannyakan? Aih, …..” Ahjummeoni itu memaki-maki orang yang sedang bertelponan dengannya.

 

Karena merasa terasingkan, akhirnya aku keluar dari tempat itu. tepat ketika aku baru saja sampai di depan pagar, ahjummeoni itu berteriak memanggilku “Ahgassi, ahgassi tunggu dulu!” panggilnya

 

Aku menoleh, “Waeyo, ahjummeoni?” tanyaku

 

“Kau bersekolah di mana?” jawabnya balas bertanya sambil terengah-engah

 

“Eng…ByoungMoonUniversityyang ada di dekat sini” jawabku

 

Ahjummeoni itu menepuk tangannya dengan girang “Kau seharusnya mengatakan itu dari tadi! Aku bisa memberikanmu sebuah kamar” ujarnya sambil menepuk-nepuk punggungku

 

“Eh?” gumamku merasa heran

 

Dia berdehem sekali, lalu mulai menjelaskan “Maksudku memang bukan kamar sepenuhnya, tapi di sini juga ada yang kuliah disana. Mungkin saja dia temanmu, tak masalahkankalau misalkan kalian berdua tinggal di dalam satu apartemen?” tawarnya.

 

Aku berpikir sejenak. Memang tidak masalah sih, tapi bagaimana kalau orang itu tidak mau? Kalaupun dia mau, kalau nantinya dia tahu latar belakang-ku, apa dia masih tetap bersedia tinggal satu apartemen denganku? Kutatap ahjummeoni itu dengan ragu “Eng…geunde, ahjummeoni….”

 

Dia langsung memotong “Jangan khawatir! Dia sangat baik! aku yakin dia mau tinggal se-apartemen denganmu. Apalagi dengan Ahgassi muda yang cantik seperti kau ini” ujarnya kembali berusaha meyakinkanku.

 

Pujiannya cukup mematikan, membuatku pipiku merona merah seketika. Antara iya dengan tidak, akhirnya aku menjawab “Eng, baiklah…..”

 

Sekali lagi Ahjummeoni memotong perkataanku. Dia kembali bertepuk tangan sekali “Assa! Kalau begitu, biar kuantarkan kau ke atas. Ke kamarmu” ujarnya mendorong punggungku kembali memasuki gedung apartemen tua itu.

 

 

Sampai di depan kamar yang dimaksud, ahjummeoni itu mengambil segerombol kunci cadangan dari kantung cadangan dan membuka kamar itu. kesan pertamaku ketika memasuki kamar itu adalah,  aku sangat yakin kalau penghuni kamar ini sangat suka belajar sampai tidak mempunyai waktu untuk membereskan apartemennya.

 

Di tempat itu, kertas dan buku-buku bertebaran di mana-mana, piring bekas sarapan-makan malam dan hampir sebagian besar gelas yang berada di situ sudah berada di bak cuci, yang entah sudah berapa lama orang ini tidak mencucinya. Bahkan ada piring yang kotorannya terlihat sudah mengeras, yang artinya bisa saja orang itu sudah lebih dari 1 minggu tidak mencucinya.

 

Aku melepaskan sepatu ku dan memakai sandal yang tersedia di situ dan mulai masuk ke dalam tempat yang berhamburan dengan kertas berserakan ini.

 

“Bagaimana? Tidak  ada masalahkan?” tanya ahjummeoni itu

aku mengangguk-ngangguk menatap sekeliling kamar itu ‘Tidak ada masalah yang mudah untuk diselsaikan, lebih tepatnya’ batinku

 

aku menatap ahjummeoni itu sambil tersenyum kemudian berkata “Gomapseumnida, ahjummeoni” ujarku

 

Entah kenapa, aku melihat di mata ahjummeoni itu tersirat sebuah tatapan merasa bersalah dan sikapnya terlihat seolah dia sedang gelisah “Ah, ne…tentu saja. …..“ ujarnya menggantungkan kalimat selanjutnya.

 

Aku menatapnya penasaran “ada apa ahjummeoni?” tanyaku

 

“Eng….apa Ahgassi bisa memberi uang muka-nya sekarang?” ujarnya ragu-ragu.

 

Aku merogoh tasku dan mengambil sebuah amplop yang berisi sejumlah uang. Kemudian berjalan mendekati ahjummeoni itu dan menyodorkan amplop itu. “ini biaya sewa untuk satu bulan, ahjummeoni”

 

Ahjummeoni itu langsung mengambilnya dengan girang “Ah, gomapseumnida Ahgassi! Kalau begitu silakan beristirahat dulu, kalau ada kesulitan, cukup katakan padaku, nanti aku akan membantumu” ujarnya

 

Aku tersenyum “Nado, gomapseumnida” balasku. Ahjummeoni itu memberikanku sebuah kunci kamar dan berjalan keluar dari kamar ini meninggalkanku sendirian.

 

Aku menatap sekeliling kamar itu sekali lagi. kuputuskan untuk pertama-tama melihat bagaimana keadaan kamar mandinya terlebih dahulu. Aku berjalan memasuki apartemen itu dan mencari-cari dimana letak kamar mandi. Ketika menemukannya, aku langsung membukanya. Kamar mandinya bersih

 

Di sebelah kamar mandi, ada sebuah ruangan lagi. kubuka ruangan itu, ternyata itu adalah kamar tidur. Kamar tidurnya juga rapi, meskipun aku cukup heran, kenapa kamar tidurnya terlihat cukup klasik dengan banyak perabotan yang terbuat dari kayu. Mungkin perempuan yang tinggal di sini suka dengan hal-hal seperti itu.

 

Berarti yang tidak beraturan di sini hanyalah ruang depan, ruang makan dan dapur. Aku berpikir sejenak.Adabaiknya kalau aku membantu calon teman se-apartemenku ini.

Kulepaskan jaket yang sejak tadi masih kukenakan beserta topi dan kubenarkan ikatan rambutku. Kuambil lap yang ada di dapur beserta sapu dan vakum cleaner dan mulai membersihkan tempat itu.

 

 

Menjelang sore, aku sudah selesai membersihkan seluruh apartemen ini. Aku meregangkan badanku sesaat. Sekarang tempat ini baru benar-benar bisa dibilang ‘apartemen’ dengan seluruh piring yang sudah bersih dan tumpukan kertas dan buku yang sudah teratur.

 

“Ah…benar-benar bagus” gumamku senang.

 

Nah…karena semua pekerjaanku sudah selesai, ada baiknya aku mandi terlebih dahulu. Aku berjalan mendekati koperku dan mengambil pakaian, handuk beserta peralatan mandiku. Koperku kuletakan di samping sofa yang ada di ruang tengah. Setelah mengambil semua yang kubutuhkan, aku berjalan menuju kamar mandi dan mandi.

 

Tepat setelah aku selesai memakai bajuku, aku mendengar suara pintu terbuka. Apa mungkin penghuni apartemen ini sudah pulang?

 

Aku keluar kamar mandi dengan buru-buru untuk menyambut orang itu. aku menunduk sambil berkata “Annyeonghaseyo, choneun….” Kataku hormat dan tepat ketika aku melihat orang itu yang kini sudah berada di hadapanku, aku terkejut. Orang itu ternyata….

 

“Kau….” Katanya tidak kalah terkejut

 

“….Kim Bum-ssi?….”

 

To Be Continued

 

 

Yah…inilah part duanya. Bagaimana? Memuaskan, mengecewakan, membosankan? Silakan berkomentar sepuasnya ^^

Sebelumnya author mau ngebenerin, waktu di part pertama kemarin author nulis kalau kemungkinan ff ini 2-3 part. Tapi karena ada beberapa pengembangan cerita dan tambalan di sana-sini, akhirnya author memutuskan untuk mengubahnya. jadi ‘Short Story’ (4-5 part)

 

Don’t forget to leave a comment, critical and suggestion for me, Chingu

See you and Gomawo all!!^^

 

Tags: , , , ,

38 responses to “Can’t I Love You? (2nd)”

  1. rizkyapratiwi says :

    waahh … jadi yg pertama nih
    kereeen bais ceritanya …. lanjut author ceritanya
    kasian banget so eun nya …. ehmm … abis jae oppa juga sih maksa banget
    gmn cerita selanjutnya ….
    di tunggu thor

  2. Yane says :

    Wah jdi mkn pnsran…dtnggu next part

  3. AnnisaHourai says :

    Keren banget dah ceritax😀
    Tpi aku masih bingung tentang hubungan kimbeom ma minyoung, kenapa kimbeom malah ngasih cincin kalo kimbeom ingin melupakan minyoung?
    kata2 minyoung jga bikin aku tambah bingung,.

    Woa kimbeom n soeun satu apartemen? Kira2 nanti ada adegan ncx nggak thor?😛 *plak#otakyadong kumat*

    Part slanjutnya ku tunggu, jangan lama2 😉

  4. Paket Liburan says :

    hihihi… bagus..
    dilanjut dunk.. ^_^

  5. ana says :

    hmm,, kereeeennn…

    ditunggu part selanjutnya…

  6. leuni says :

    keren
    mwo … jd tu kmr kim bum, duh tu ajuma ga bnr deh ms srh skmr ma cwk
    dtgu lanjutannya ya……..

  7. larasrahma says :

    yeay akhirnya ada ff baru lagi😀
    seru seruuuu
    kirain cuma nyampe part ini doang tau taunya continued hehe
    lanjutnya jangan lama lama ya author😀

  8. sugarsoya says :

    Keren ceritanya….
    Jaejong jahat banget ya…

  9. djkyussoloverz says :

    bagus bgt cpat part slnjut x…………..!!!!!

  10. Helda wati says :

    Tambh seru ja neh, cpat dilanjut y

  11. lee_jihyun says :

    wah2… q sampe deg2an n penasaran baca critany…

    next partny dtunggu y chingu… jgn lama2 iia…hehehe🙂

  12. kyuyoung_minji_bumssoshipper says :

    annyeong…. salam kenal.
    sebenarnya bukan reader baru, tapi baru bisa komen. hehe..
    seru ffnya, semangat buat part selanjutnya. fighting!

  13. ambar says :

    Ni slh stu ff yg paling q tgu dcni. .keren bngt,,q suka ma alur critanya. . .penasaran ma ltr blakang khidupan kim bum,,slu dtgu next partnya..

  14. Dear dHiyah says :

    suummpppahhhh , ni tuch keren . keren bgt maLah …

    Lanjuut Lanjjuuttt cpet … g sbar ni bo … ^^

  15. bumssokorea says :

    lebih tepatnya mendebarkan,…….
    deg-deg an bgetss bcanya,…..
    mkin pnasran,…..
    next part mkin panjng n jgn lma” yh,chingu???

  16. nice says :

    bagus…lanjut thor….

  17. beomsso says :

    ini kereeeeen xD
    sekaleeee
    suka menegangkan sedih kumplit lah
    next part ditunggu y dek!
    Ff yg satu lg juga xD

  18. kim sohyun says :

    baguusssssss banget…….

    tpi tdi ud ketebak seh kalo temen seapartemen’a soeun tu Kimbum….
    hyaaaaaa….gmana ya kelanjutannya..

    penasaran abiiiiizzzzzz

  19. syawalia febriani says :

    next part nya ditunggu ya thor

  20. orizafira says :

    wah…3x verry nice
    tp ini tobecontinue kn?? tp ko pas nyari ny part 2-end??

  21. jeviryna safa says :

    waah,,,waah,,,waah,,,
    keren abis daah, gk sbar ne ngeliat gmn aksi kim bum stlh ngelian so eun ny trnyata ad d apatermen ny, psti bkal lucu n lbih seru
    d tunggu ea nextpartnya, jgn klmaan lo author

  22. wertyga says :

    wah,,,wah,,,wah,,, keren abis deeh, bgus bnget
    jd gk sbar ne ngliat reaksi ny kim bum oppa, pasti kaget bnget coz ngeliat so eun ounie yg ad d apatermen ny, psti lucu n seru neeh
    ditunggu ea nextpartnya. jgn klmaan looh

  23. edogawa kim suju says :

    sumpah! ceritanya bagus bangettt…
    lanjutannya mana ? pingin baca ni..

  24. Ipit PoenYa says :

    sumpah ne ff bgus banget,tapi mana kelanjutannya ya???? jadi sedih!!!!

  25. kimhyeeun01 says :

    lnjtin y cpt slesai akk udh pnasarn ending’a

  26. sarah says :

    next part nya udah ada blom chingu??
    penasaran

  27. man says :

    debak banget thor,,, mau dunk lanjutannya bole sy tau dimana sy tau lanjutan episodenya ???

    penasaran ne

  28. Rahmatina Fajaria Bioria says :

    Ini alurnya mundur ya thor, soalnya pas di part 1 pertamanya, so eun itu berada dibawah hujan yang deras dengan pacarnya yang sudah meninggal. Habis itu dia nyeritaan saat2 kenapa dia bisa ketemu sama kekasih nya yang sudah mati disamping nya, yaitu kim bum. Berarti part 2 ini cerita so eun sebelum kekasihnya kim bum meninggal ya thor?

  29. vonnysumali says :

    tdk salah kapan tamatnya nih…… ditunggu ayo author kasihani kami para reader kalo ceritanya digantung tahunan…..

  30. hanina says :

    Aaaaaaak ini serius keren banget! Lanjut dong thor pleaseeeeeeee keren banget banget ceritanyaaaa🙂

  31. Ra!nNy_sallang says :

    part 2 makin bkin penasaran ajah,.. emang smudah itu lari dri rumah, trs bgaimana reaksi oppa nya n bumppa??
    msih ad lanjutnya kan? tpi kya nya dah lama bgt.. penasaran

  32. nadya says :

    ngegantung thor cerita’a bkin penasaran
    di tunggu part selanjut’a thor
    cepet diposting ya ??

  33. Margaretha says :

    Ceritanya bagus,, menarik tp kok ga ada lanjutan part 3-4 nya?? Penasaran kelanjutan kehidupan Bumsso di apartemen

  34. Adiva Tahirah says :

    ceritanya bagus…penasaran gimana kelanjutannya…
    sebenarnya ada apa dg keluarga kim bum? knp kim bum gk bisa bersama dg orang yg di sukainya?

    lanjutin dong ceritanya…(y)

  35. shintiarillyani says :

    Ini seru bgt thorr, lanjutin dong ceritanyaaaaa

  36. rohma says :

    next partnya thor jangan lama” ya😀
    lagi seru”nya ini critanya

  37. aidayohei says :

    Ga ngerti kenapa komen cerita ini sedikut sekali. Padahal menurutku cerita ini layak bgt untuk dijadikan novel. Karena q pernah beli novel dr seorang penulis FF tp cerita, tata bahasa dan kerapian tulisannya masih kalah sm FF ini. Keren bgt author…. sayang ga dilanjutin. Daebak…. Sayang bgt bakatnya kalau tdk dikembangkan. Btw, sukses selalu buat author and thanks for the beautiful story. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: